
“Boss, mereka sudah dekat.” Beritahu Julian yang sejak tadi terus memonitor gerakan penduduk desa. Mereka mulai bisa mendengar suara-suara orang banyak yang datang mendekat. Batari memandang Bastari dengan khawatir. Ia takut penduduk desa akan menyakiti ibunya.
“Bersikap tenanglah. Mereka tidak punya bukti.” Ucap Raka pada Batari. Itu benar! Penduduk desa tidak punya bukti bahwa ibunya adalah Kuyang. Selama Bestari tidak berubah wujud di hadapan mereka, penduduk desa tidak punya alasan untuk menyerangnya. Tapi Batari juga tahu betapa tidak masuk akalnya sekelompok orang bisa berperilaku bila pemikiran mereka sudah dipenuhi kecurigaan. Mereka sangat mudah terprovokasi. Melihat wajah khawatir kekasihnya, Mr. Jack berjalan ke hadapan Bestari dan menutupi keberadaannya dengan tubuhnya yang tinggi besar, membuat Rainy mengacungkan jempolnya. Mr. Jack tahu caranya menjadi gentleman. Sungguh membanggakan!
Tak lama kemudian satu persatu penduduk Desa bermunculan dari antara pepohonan di tengah hutan tersebut. Berdiri paling depan adalah Kepala Desa Ampari, Arbain. Di kiri dan kanannya berdiri Anwar dan Garan. Di belakang mereka, sekitar 30 orang penduduk desa yang semuanya adalah pria berusia antara 18 sampai 40 tahun berdiri sambil memegang berbagai macam senjata pilihan mereka di tangan masing-masing, layaknya para prajurit yang siap untuk berperang. Melihat ini, Rainy mengangkat kedua alisnya. Apa yang ingin orang-orang ini lakukan? Apa mereka mau main hakim sendiri? Apakah mereka sudah lupa pada ancaman yang ia berikan? Bila mereka memang lupa, Rainy tidak segan untuk mewujudkannya menjadi kenyataan tanpa rasa iba sama sekali!
Setelah mengamati perilaku rombongan penduduk desa tersebut, Raka melangkah maju dan berdiri di depan rombongannya. Raka memasang topeng CEOnya yang penuh senyum sosial serta aura ramah dan hangat yang sangat dikenali karyawannya itu.
“Pak Kepala Desa, ada yang bisa kami bantu?” Tanyanya pada Arbain. Arbain menatap ke arah Raka sambil menarik nafas lega. Ini adalah pria yang dikenalnya sebagai pimpinan Cattleya Resort. Seseorang yang telah memberikan begitu banyak keuntungan bagi Desa Ampari melalui kontrak peminjaman Sapi, yang telah dimanipulasi oleh wanita yang berdiri di belakangnya itu untuk kepentingannya sendiri. Arbain merasa lebih bisa berbicara dengan Raka ketimbang dengan Rainy. Ia sama sekali tidak menyadari bahwa orang yang memanipulasinya selama ini adalah Raka. Sementara yang Rainy lakukan hanyalah menggunakan senjata yang telah Raka siapkan dengan sebaik-baiknya.
“Saya mendengar dari warga saya, bahwa ada orang asing yang tidak dikenal tinggal di pondok itu. Karena itu saya dan penduduk desa datang untuk memeriksanya.” Ucap Arbain dengan suara tenang. Rainy menaikkan alisnya dan mengangguk pelan. Apa perlu datang memeriksa dengan membawa begitu banyak orang yang bersenjata? Siapa yang ingin kalian bohongi? Pikirnya Rainy.
“Orang asing yang tidak dikenal yang tinggal di pondok ini? Apakah maksud bapak adalah ibu Bestari?” Raka mengerutkan keningnya dan bertanya heran. Arbain mengangguk. Raka menoleh pada Bestari dan bertanya,
“Ibu Bestari, apakah anda bukan penduduk desa ini?”
Mendengar namanya disebut oleh Raka, Bestari melangkah ke samping, dan keluar dari perlindungan tubuh Mr. Jack. Saat ia muncul, suara kasak-kusuk langsung terdengar ketika penduduk desa saling berbisik dengan nyaring di antara sesama mereka sendiri sambil menunjuk ke arah Bestari. Perilaku mereka membuat tubuh Bestari menegang. Namun Batari mengulurkan tangan dan menggenggam telapak tangan Bestari dengan erat sambil membisikan sesuatu di telinganya. Tak lama kemudian ketegangan tersebut sedikit mengendur.
“Saat ini aku memang tidak tercatat sebagai penduduk desa ini. Namun 55 tahun yang lalu, Desa Ampari adalah rumahku, dan pondok ini adalah milik orangtuaku.” Sahut Bestari dengan tenang. Kata-katanya tentu saja mengejutkan semua yang mendengarnya, termasuk Batari dan Rainy cs. Mereka berpikir bahwa keberadaan Bestari di desa itu semata-mata adalah demi Batari. Siapa sangka bahwa tempat ini adalah kampung halamannya.
“Apa hubungan nenek dengan Pak Amirullah?” Tanya Arbain, menyebut nama orang yang saat ini tercatat sebagai pemilik pondok tersebut.
“Amirullah? Kalau tidak salah mengenali, ia seharusnya adalah anak dari sepupuku, Asnawi.” Sahut Bestari.
“Kalau boleh tahu, sudah berapa lama nenek tinggal disini?” Tanya Arbain dengan sopan.
“Berapa lama?” Bestari tampak berpikir sebelum kemudian menjawab. “Aku datang sekitar 8 bulan yang lalu.”
Penduduk desa saling berpandangan. Sudah selama itu? Mengapa tidak ada yang menyadarinya?
“Kalau nenek memang warga desa ini, mengapa nenek menyembunyikan diri di sini dan tidak memberitahukan pada siapapun bahwa nenek telah kembali?” Tanya Anwar dengan wajah dan suara keras. Wajahnya berkerut membentuk ekspresi yang garang. Pria ini sangat siap untuk berkelahi.
“Aku hanya pulang ke rumahku sendiri. Mengapa aku harus memberitahukannya padamu?” Sahut Bestari dengan dingin. Anwar sudah hendak membuka mulut untuk menjawabnya, namun Arbain mengangkat tangannya untuk menghentikan Anwar.
“Tolong maafkan teman saya, nek. Ia cuma khawatir karena tiba-tiba ada orang asing yang tinggal di desa kami tanpa sepengetahuan kami. Memang seharusnya nenek mengabarkan kedatangan nenek ketika pertama kali sampai di desa ini agar kami tidak mengkhawatirkan nenek.”
“Aku sudah tua. Apa kau suruh badan tuaku ini berjalan kaki menuju desa? Sungguh anak-anak muda yang tidak punya perasaan! Begitu tega pada orangtua sepertiku!” Ucap Bestari dengan ekspresi kesal. Kata-katanya membuat para penduduk desa meradang. Nenek tua ini sungguh membuat emosi. Tak ada satupun dari kata-katanya maupun nada bicaranya yang enak di dengar.
“Saya sering bolak-balik memasuki hutan dan melewati pondok ini. Tapi saya tidak pernah melihat nenek. Apakah nenek sengaja bersembunyi dari orang lain?” Tanya Anwar, masih dengan nada suara yang kasar dan tidak sopan.
“Eh, anak bau kencur, apa kau pikir pekerjaanku hanya duduk diam di dalam pondok sepanjang hari dan tidak melakukan apa-apa, sehingga aku bisa melihat saat kau lewat? Kau tidak pernah melihatku, mungkin saja karena setiap kali kau lewat di depan pondokku, aku sedang mencari kayu bakar atau bahan makanan di hutan. Aku selalu pergi pagi-pagi dan pulang di sore hari. Kalau kau datang di antara waktu itu, maka wajar saja bila kau tidak pernah bertemu denganku!” Sahut Bestari, tak lupa memasang wajah tidak sukanya pada Anwar.
“Kalau kau memang tinggal di pondok itu dan tidak bersembunyi dari kami, seharusnya walaupun kau tidak ada di rumah, kami bisa melihat tanda-tanda bahwa ada orang yang tinggal di pondok itu. Tapi mengapa tidak ada sama sekali? Apakah itu berarti bahwa kau sengaja menyembunyikan diri agar tidak ada yang tahu keberadaanmu?” Tanya Garan dengan cara bicara yang tidak berbeda dengan Anwar. Mendengar kata-katanya, Bestari mendengus geli. Ia lalu menunjuk ke arah tumpukan kayu bakar yang berada di depan pondok. Batari dan Mr. Jack harus bergeser dari tempat mereka berdiri, agar tidak menutupi tumpukan kayu bakar yang ditunjuk oleh Bestari dari pandangan mata warga desa.
“Setiap kali sehabis mencari kayu bakar, aku selalu menaruh kayu bakarku disini. Kalau matamu ada di tempatnya, harusnya ini cukup memberitahumu bahwa ada orang yang tinggal disini!” Ucapnya dengan nada sinis.