My Beautiful Blue Rain

My Beautiful Blue Rain
Kasus Kedua



2 minggu berlalu dengan tenang. Sesuai dugaan Rainy, bukan hanya Octagon Cage yang menarik perhatian tamu resort, namun kegiatan latihan pagi mereka berubah menjadi atraksi baru yang mengundang penonton. Bagaimana tidak, sulit untuk tidak tertarik memandang 6 manusia berpenampilan superior tersebut, apalagi ketika mereka berenam melakukan atraksi seni bela diri yang mengundang decak kagum banyak orang. Itulah sebabnya, walaupun masih sangat pagi, beberapa tamu biasanya akan mampir dan duduk di atas pasir, di sekitar octagon cage atau di sekitar matras untuk menonton mereka berlatih. Beberapa orang malah datang dan memperkenalkan diri, atau bertindak lebih jauh lagi, yaitu meminta untuk diajari seni bela diri. Beberapa pria muda dengan berani meminta no telepon Rainy yang tentu saja membuat Ace dan Natasha melongo ngeri. Apa orang-orang ini tidak bisa merasakan aura dingin yang terpancar dari tubuh Boss? Sungguh pemberani! Begitu pikir Ace dan Natasha.


Awalnya perilaku mereka ini sangat mengganggu Rainy. Namun setelah 2 minggu, dengan luwes Rainy mengabaikan para penonton dan penggemarnya tersebut. Setiap kali seorang pria datang dan mengajaknya berkenalan, ia akan menatap orang tersebut dengan dingin dan berkata,


"Saya sudah menikah." lalu berlalu pergi tanpa menunggu reaksi orang tersebut lebih jauh lagi. Meskipun begitu, penggemarnya tidak juga berkurang. Mungkin bagi mereka, sikap Rainy tidak cukup dingin atau tidak cukup meyakinkan untuk bisa dipercaya.


Di antara mereka berenam, yang menarik benefit paling besar dari popularitas baru ini tentu saja adalah Ace dan Ivan. Karena sikap mereka yang ramah dan penuh senyum, mereka menjadi target ketertarikan banyak wanita. Keduanya bahkan kerap berkompetisi siapa di antara mereka yang memperoleh penggemar paling banyak, yang dipandang Natasha dengan tatapan merendahkan setiap kalinya. Raka sendiri punya penggemar yang cukup banyak. Namun meniru sikap Rainy, pria itu malah bertindak lebih jauh dengan menunjuk pada Rainy dan memberitahukan bahwa Rainy adalah istrinya, setiap kali seorang wanita mencoba mendekatinya. Sikapnya itu tentu saja membuat para wanita menatap Rainy dengan tatapan yang berbeda. Sebagian mengagumi kecantikannya. Namun sebagian lagi merasa iri dan cemburu serta mengutuk Rainy untuk mati saat itu juga. Satu-satunya yang bisa melenggang tanpa gangguan adalah Arka.


Walaupun Arka adalah pria yang paling tampan diantara mereka, namun aura gelap yang melingkupinya membuat wanita-wanita yang memandangnya, secara intuitif merasa takut. Hal ini mengundang decak kagum Rainy dan membuat gadis itu memutuskan untuk meniru pembawaan Arka. Mendengar niatnya ini membuat hati Raka terasa kecut. Dengan tegas Raka memaksa untuk menepis keinginan gadis itu. Ia tidak mau bila harus melihat Arka ada dalam setiap gerak-gerik Rainy. That's not cute at all!


Pagi itu mereka berkumpul mengelilingi meja rapat. Raka membuka rapat dengan memberitahukan bahwa hasil laporan forensik dari kepolisian telah keluar. Pernyataannya ini memperoleh tatapan bingung dari Rainy yang rupanya telah lupa pada roh tamu yang tersesat di depan kantor mereka 2 minggu sebelumnya, sehingga ia harus diingatkan terlebih dahulu.


"Apa hasil autopsinya?" tanya Rainy kemudian.


"Henti jantung mendadak atau Sudden cardiac arrest." jawab Raka.


"Penyakit jantung?" tanya Rainy. Raka menggeleng.


"Henti jantung mendadak atau sudden cardiac arrest adalah kondisi ketika jantung berhenti berdetak secara tiba-tiba. Kondisi ini menyebabkan penderitanya hilang kesadaran dan bahkan berhenti bernapas. Ini berbeda dari penyakit jantung. Apabila penyakit jantung disebabkan oleh penyumbatan pembuluh darah, maka henti jantung disebabkan oleh ventrikel fibrilasi."


"In indonesia, please. I don't get it." protes Ivan yang merasa pusing mendengar istilah-istilah yang tidak dipahaminya.


"Singkatnya, it's a sudden death yang sebabnya adalah murni alamiah." jelaa Raka.


"Jadi masalah ini sudah selesai?" Tanya Rainy.


"Emm. Seharusnya begitu." Raka mengangguk.


"Syukurlah."


"Lalu," Raka menghidupkan layar monitor yang membuat semua mata secara otomatis tertuju kesana. "Kita punya kasus baru."


Pada layar monitor muncul foto sebuah rumah berwarna putih bergaya klasik yunani yang indah dan megah. Rumah tersebut sangat besar, dengan pagar besi setinggi 3 meter dan halaman depan yang sangat luas dan terbagi menjadi carport dan taman bunga. Taman bunganya terlihat indah dan terawat.


"Apa yang salah dengan rumah ini?" tanya Ivan.


"Menurut pemiliknya, dalam 2 bulan belakangan ini rumah ini menunjukan adanya aktivitas poltergeist yang cukup mengganggu." Jawab Raka.


"Poltergeist?" Natasha dan Ace berkata berbarengan. Mata keduanya berkilau karena merasa tertarik.


"Emm." Raka memencet tombol di tangannya dan gambar di layar berganti dengan wajah seorang pria muda berwajah tampan yang sedang tersenyum pada kamera.


"Ini adalah Ananda Saputra, putra tunggal si pemilik rumah. Usianya 27 tahun dan bekerja sebagai salah direktur di perusahaan milik ayahnya." Ucap Raka. Raka kemudian memencet tombol kembali dan gambar di monitor kembali berganti. Kali ini adalah foto orang yang sama namun dengan 2 baris luka jahitan besar terentang dari tulang pipi sebelah kiri, terus naik sampai sekitar 1 cm di atas alis sebelah kiri, mengotori wajah tampannya. Foto itu tampaknya dibuat segera setelah luka-lukanya dijahit dan dibersihkan karena daerah di sekitar luka masih bengkak dan sebagian berwarna merah keunguan. "Ini adalah fotonya beberapa hari yang lalu, setelah 6 buah piring keramik melesat langsung menghantam wajahnya tanpa ada yang melihat pelaku pelemparannya."


Rainy mengerutkan bibirnya. Poltergeist biasanya adalah fenomena psikokinesis yang merupakan ekspresi fisik dari trauma psikologis dari orang yang mengalaminya. Namun melihat wajah subjek mereka kali ini, firasat Rainy mengatakan bahwa ini adalah sesuatu yang berbeda.


"Apakah ini pertama kalinya ia mengalami serangan poltergeist?" tanya Rainy.


"I see. Siapa saja yang tinggal di rumah itu?" Tanya Rainy.


"Subjek tinggal bersama kedua orangtuanya dan sepasang suami istri tua yang bekerja sebagai pengurus rumah tangga dan tukang kebun."


"Bagaimana dengan asisten rumah tangga?"


"Mereka punya 10 orang asisten rumah tangga, namun semuanya tidak menginap. Mereka datang di pagi hari dan pulang di malam hari."


"Ada lagi?"


Raka menggeleng. "Sementara hanya itu info yang aku punya."


"Siapa yang merekomendasikan kasus ini?"


"Ibu Rosa." jawab Raka.


"Guluku, Rosa?" tanya Rainy memastikan.


"Emm." Raka memutar tombolnya kembali dan gambar di monitor berganti menjadi gambar sepasang pria dan wanita yang sedang berpose khusus untuk kamera. Keduanya tampak berusia setengah baya. Yang pria bertubuh tinggi besar dan mengenakan seragam militer berwarna hijau tua. Wajahnya terlihat garang dan posenya terlihat kaku. Wanita di sampingnya mengenakan kebaya berwarna merah. Ia sebenarnya cukup menarik, namun wajahnya tidak kalah garangnya dari wajah suaminya. Keduanya memiliki wajah dan aura yang sangat berbeda dengan putra mereka.


"Wanita itu, Ibu Kartini adalah teman kuliah Ibu Rosa."


"Uggh. Aku jadi tak tahan ingin bernyanyi." keluh Ivan, membuat Ace dan Natasha tersenyum geli. Memang sulit untuk tidak mengingat lagu kebangsaan terkenal itu ketika mendengar Raka menyebut namanya; Ibu Kartini.


"Apakah Ananda itu anak angkat?" cetus Ace.


"Tidak. Ia adalah anak kandung mereka." Jawab Raka.


" Ananda terlihat tampan dan mudah didekati. Tapi kedua orangtuanya ini terlihat sangat kaku dan galak. Sama sekali tidak mirip." komentar Natasha.


"Bisa saja mereka adalah orang-orang yang sama sifatnya dengan putra mereka. Hanya saja mereka tidak pandai berpose dan tidak suka berada di depan kamera, jadi foto mereka terlihat seperti itu." Sahut Ivan.


"Bisa jadi." Natasha dan Ace mengangguk.


"Kapan kita pergi kesana?" Tanya Rainy.


"Siang ini sehabis makan siang."


Copyright @FreyaCesare


Author note:


Teman-teman, maaf ya. Tapi chapter ke 2 untuk malam ini bakal terlambat. Mungkin tengah malam nanti, atau mungkin akan di up besok pagi. Author memohon maaf yang sebesar-besar. Sampai jumpa besok! 😊