
Keesokan pagi, pelatihan bagi Rainypun dimulai. Datuk Sanja mulai dengan mengajarkan teori-teori dasar kultivasi dan memaksa Rainy mengingatnya diluar kepala, sebelum gadis itu mulai terjun ke dalamnya. Mereka lalu menghabiskan waktu 1 bulan untuk mempelajari semua teori dan melakukan beberapa praktek dasar, sebelum Datuk Sanja menyuruh Rainy untuk menantang lantai dasar. Tantangan yang dimaksud adalah sebuah ujian tulis yang mempertanyakan banyak hal tentang kultivasi. Untungnya, Datuk Sanja sangat hafal dengan isi ujian level dasar tersebut hingga, agar tidak menyia-nyiakan waktu, Datuk Sanja hanya mengajarkan hal-hal yang akan ditanyakan oleh menara kultivasi. Karena inilah, Rainy berhasil menyelesaikan ujiannya dengan gemilang dan berhak untuk naik ke lantai 2.
Pintu menuju ke Lantai 2 membawa mereka ke sebuah kawah gunung berapi. Saat itu kawahnya sedang dipenuhi oleh lava yang menggelegak dan udara di sekitarnya sangat panas sekali. Membuat Rainy yang benci hawa panas merasa sangat tidak nyaman. Di sekitar kawah terdapat gua-gua yang cukup besar dan lapang. Datuk membawa Rainy berkeliling selama beberapa waktu sebelum kemudian memilih sebuah bilik gua untuk mereka gunakan sebagai ruang kultivasi. Gua yang dipilih Datuk Sanja bukanlah Gua yang tertutup rapat. Di atas kepala mereka terdapat lubang terbuka yang membawa udara segar dan cahaya matahari masuk dan menerangi bilik dalam gua. Selama hujan tidak turun, mereka bisa tinggal dengan tenang di sana. Walaupun tebalnya dinding batu gua melindungi isi gua dari panas lava. Namun tetap saja membuat suhu dalam gua terasa hangat sehingga membuat Rainy merasa gerah.
Rainy menatap Datuk Sanja sambil mengerutkan keningnya.
"Apakah kita harus latihan disini, Datuk?" tanya Rainy.
"Benar." Sahut Datuk Sanja pendek.
"Disini sangat tidak nyaman. Saya akan kesulitan untuk berkonsentrasi." protes Rainy.
"Kita kemari untuk berlatih dan bukan mencari kenyamanan. Kalau tempat ini nyaman kau akan jatuh tertidur dan bermalas-malasan. Jadi lokasi ini adalah yang paling tepat." sahut Datuk Sanja lagi. Menyadari bahwa saat itu Datuk Sanja tidak bersedia dibantah, Rainy kemudian menelan protesnya dalam hati dan duduk bersila di depan Datuk Sanja.
"Hari ini kita akan memulai latihan kultivasimu dari dasar. Untuk melakukan itu, kita akan mulai dari mengaktifkan seluruh cakra dalam tubuhmu." Beritahu Datuk Sanja. "Apa kau masih ingat mengenai apa yang dimaksud dengan cakra?" tanya Datuk Sanja. Ini adalah bahan pelajaran yang telah diselesaikan di lantai dasar.
"Cakra adalah kolam energi yang berputar dalam tubuh kita." Sahut Rainy.
"Ada berapa cakra dalam tubuh dan mengapa perlu untuk mengaktifkannya?" tanya Datuk Sanja lagi.
"Terdapat 7 cakra dalam tubuh yang semuanya saling berkaitan. Setiap kolam energi memiliki fungsi dan fungsi ini bisa dihambat sehingga oleh emosi negatif tertentu sehingga tidak bekerja. Mengaktifkan Cakra dilakukan dengan cara membuka semua hambatan pada masing-masing cakra sehingga fungsi cakra bisa berjalan dengan baik." Jawab Rainy.
"Apa cakra pertama dari tujuh cakra tersebut dan dimana letaknya?" tanya Datuk Sanja.
"Cakra pertama adalah cakra tanah. Terletak di pangkal tulang punggung. Berhubungan dengan modus bertahan hidup dan dapat dihambat oleh rasa takut." jawab Rainy. Datuk Sanja mengangguk.
"Rainy, sekali kau mulai mengaktifkan cakra, maka kau tidak boleh berhenti sampai semua cakramu terbuka. Ini akan memberimu pengalaman yang intens dan semua emosi negatif yang menghambat tiap cakra akan menentangmu dengan kekuatan penuh. Ini tidak akan mudah, namun yang perlu kau lakukan adalah bertahan. Apa kau mengerti?" tanya Datuk Sanja lagi.
Rainy mengedipkan kedua matanya dan mengangguk. Mengerti belum tentu ia mampu kan? Berpikir bahwa emosi negatif yang ada dalam diri-sendirilah yang akan menjadi musuh untuk dilawan, Rainy tidak yakin ia akan mampu melakukan hal ini dengan mudah. Namun karena ia telah berada di menara ini, Rainy memaksa diri untuk tenang dan mengabaikan rasa tidak nyamannya karena gerah yang mengganggu, dan memutuskan untuk melakukan apapun yang diperintahkan Datuk Sanja padanya. Karena itu setelah menarik nafas panjang, Rainy kembali mengangguk. Datuk Sanja membalas anggukannya dengan puas.
"Kalau begitu mari dimulai." suruh Datuk Sanja.
"Apa yang terjadi?" tanya Datuk Sanja. Rainy membuka mata dan menggelengkan kepalanya.
"Saya tidak bisa berkonsentrasi." ucap Rainy dengan suara muram dan sudut bibir yang menurun.
"Kau tidak pernah mengalami kesulitan untuk bermeditasi sebelumnya. Mengapa saat ini tidak bisa?" tanya Datuk Sanja lagi.
"Saya tidak bisa menenangkan isi kepala saya." sahut Rainy.
"Coba lagi!" perintah Datuk Sanja. Rainy mengangguk dan kembali memejamkan matanya. Ia mengatur nafasnya dan menjadikan nafasnya sebagai pusat dari konsentrasinya. Tarik.... Tahan.... Buang.... Tarik... Tahan.... Buang.... Rainy berusaha keras untuk mengikuti ritme nafasnya.
"Berhenti berusaha! Lepaskan keinginanmu. Kosongkan pikiranmu. Abaikan pikiran-pikiran yang datang." suara Datuk Sanja menerobos pertahanannya.
"Jangan pikirkan apapun. Nikmati saja irama nafasmu." ucap Datuk Sanja lagi.
Rainy berusaha dan berusaha, namun semakin ia berusaha, semakin ia merasakan emosi negatif menguasai tubuhnya dan membuat otot-ototnya menegang. Melihat ini, Datuk Sanja menarik nafas panjang.
"Gadis kecil, apa sebenarnya yang sedang terjadi?" tanyanya kemudian. Rainy menggelengkan kepalanya. Ia juga tidak tahu apa yang sedang terjadi. Apakah ruangan yang tidak nyaman ini menghalanginya untuk fokus? Ataukah ada hal lain yang membuat otaknya enggan berhenti berputar.
"Rainy, apa kau takut?" Tanya Datuk Sanja tiba-tiba.
'Apakah aku takut?' Pikir Rainy.
Cakra tanah berkaitan dengan rasa takut. Untuk mengaktifkannya maka Rainy harus berhadapan dengan hal yang paling ditakutinya. Tapi apa yang paling Rainy takuti? Bila ditanya mengenai hal ini, Rainy juga kesulitan untuk menemukan jawabannya. Ia pikir ia memiliki rasa takut pada banyak hal tapi karena rasa takutnya itulah, Rainy bersikeras untuk melakukan semua yang bisa ia lakukan agar bisa melawan rasa takutnya.
Contohnya keberadaan Lilith. Jangan berpikir karena Rainy selalu berlidah tajam dan penuh perlawanan pada Iblis tersebut, itu berarti ia tidak takut pada Lilith. Mungkin ia tidak takut pada Lilith, tapi ia takut pada ancaman yang bisa diberikan Lilith pada dirinya dan keluarganya. Namun karena rasa takut inilah, Rainy berusaha keras untuk menjadi kuat agar bisa melindungi dirinya sendiri dan keluarganya dari Lilith. Dan Rainy secara optimis bisa mengatakan, bahwa walaupun Lilith adalah momok terbesar dalam hidupnya, namun iblis tersebut bukanlah hal yang paling ia takuti di dunia ini.
Lalu kalau bukan Lilith, apa yang sesungguhnya paling Rainy takuti?