My Beautiful Blue Rain

My Beautiful Blue Rain
Master Of Manipulation



“Kau sendiri yang bilang bahwa aku tidur seperti Koala, selalu memperlakukanmu layaknya sebuah guling. Aku yakin di tengah malam, tanpa sadar aku pasti berguling ke arahmu dan… dan memelukmu dengan erat…membuat kau terpaksa harus menahan diri sekuat tenaga.” Ucap Rainy. Tanpa sadar Raka mengangguk pelan. “Tuh! Benar kan! Setiap malam aku tanpa sadar menggodamu dan melakukan ini dan itu yang membuatmu terbangun. Kalau kau terus tidur bersamaku, aku khawatir aku akan memaksamu untuk lepas kontrol sehingga menodai kesucianmu.” Ucap Rainy lagi. Mendengar ini mulut Raka terbuka lebar, sementara Ivan menggelengkan kepalanya sambil mendengus geli.


“Hei, apa kau yakin gadis ini sudah menyelesaikan sarjananya di bidang Psikologi? Mengapa logikanya begitu terbalik-balik?” Ivan menyikut Raka yang duduk di sebelahnya.


“Diam!” perintah Rainy dan Raka bersamaan pada Ivan. Ivan mengangkat kedua tangannya ke kedua sisi wajahnya dengan telapak tangan menghadap ke depan, masih dengan senyum nakal menghiasi bibirnya. Ia lalu mengambil sebuah pisang, mengupas kulitnya dan makan dengan tenang sambil menunggu pertunjukan selanjutnya dimulai.


“Dengar Rain, aku baik-baik saja. Apakah kau tidak tahu bahwa aku adalah orang yang memiliki kontrol diri yang paling kuat? Aku sudah berjanji untuk menjagamu sebaik-baiknya, maka aku pasti akan melakukannya. Aku tidak akan menodai kesucianku sendiri dan merusak kepercayaan yang diberikan oleh orangtua kita hanya karena godaan darimu. Jadi kau tidak perlu khawatir.” Ucapan Raka membuat mulut Ivan terbuka lebar. Pisang yang telah dikupasnya dan hampir ia suapkan ke dalam mulutnya, terhenti di tengah jalan. Bro, kau seharusnya memperbaiki logika Rainy yang terbalik. Mengapa kau malah memperkuatnya sih?


“Tapi aku tidak bisa berhenti untuk khawatir!” Tolak Rainy. “Tidak bisa begini. Ayo kita mempercepat pernikahan kita.” Ucap Rainy. Mendengar ini, untuk pertama kalinya dalam beberapa hari ini, senyum Raka akhirnya mengembang dengan indah.


“Kalau begitu apakah sebaiknya kita pulang sekarang?” Tanya Raka.


“Emm. Ayo pulang dan bicara pada Papa, Mama, Tante Rini dan Oom Aditya.” Ucap Rainy sambil mengangguk.


“Emm! Kalau begitu segera habiskan sarapanmu.” Suruh Raka, masih sambil tersenyum. Rainy mengangguk dan melanjutkan makan paginya.


Ivan memandang keduanya dengan mulut terbuka. Ini… waaaah… Bro, jadi begini caranya kau mengendalikan sepupu kecilku? Terdengarnya seperti kau selalu berkorban dan mengalah untuk mengikuti semua keinginannya, padahal sesungguhnya kau memanipulasinya sedemikian rupa sehingga Rainy akhirnya memiliki keinginan yang sesuai dengan harapanmu. Bukan isi kepala Rainy yang bermasalah sehingga logikanya terbalik, tapi kaulah yang sengaja membuat logika Rainy terbalik dan sepupu kecilku ini terlalu percaya padamu untuk menyadarinya. Master of manipulation! Kau sungguh master of manipulation! Apakah aku perlu membongkar kedokmu di depan sepupuku tersayang? Pikir Ivan. Namun melihat wajah datar Rainy yang tampak berseri, Ivan membatalkan niatnya. Menikah lebih cepat dari waktu yang seharusnya bukanlah hal yang buruk bagi mereka berdua. Jadi sebaiknya biarkan saja. Tapi awas saja kalau kau berani memanipulasi sepupuku untuk hal yang buruk! Aku akan menyunatmu hingga tidak tersisa! Ancam Ivan dalam hati sambil menyipitkan matanya dan memandang dengan tatapan mengancam ke arah Raka. Sayangnya Raka sama sekali tidak menyadari ancaman dalam tatapan Ivan karena ia sedang memandangi wajah cantik tunangannya yang asyik mengunyah buah-buahan di hadapannya.


Suara pintu terbuka membuat mereka bertiga mengangkat kepala. Arka keluar dari dalam kamar dan berjalan mendekat dengan ekspresi dinginnya. Ia kemudian berdiri di samping meja makan dan berkata dengan nada datar,


“Aku akan menyingkirkan perempuan itu dari suite  ini,” Ucapnya. Wajah Raka langsung bercahaya mendengarnya. Namun Kata-kata Arka selanjutnya meredupkannya kembali. “Dengan syarat.” Raka menyipitkan matanya dan menatap Arka curiga. Jangan bilang bahwa kau akan tidur di kamar yang sama dengan kami. Pikirnya dalam hati.


“Mulai hari ini, kita bertiga: Rainy, Raka dan aku, akan tidur di kamar yang sama.” Ucap Arka. Raka menutup matanya dan mengatupkan bibirnya. Tentu saja! Tentu saja itu yang akan diucapkan Arka! Ivan langsung menoleh ke arah Raka dan begitu melihat ekspresinya, Ivan langsung tergelak. Raka yang malang. Begitu Lara tenggelam, maka Arka langsung terbit. What a joke!


“Deal!” Sahut Rainy, yang disambut oleh pelototan mata Raka, tapi Rainy mengabaikannya. Rainy mengulurkan tangan dan menarik tangan Arka.


“Sarapan dulu.” Suruhnya. Sepupunya ini belum sembuh benar dari luka-lukanya. Ia perlu makan tepat waktu agar bisa minum obat tepat waktu. Arka mengangguk dan mengambil tempat duduk di sebelah Rainy, yang berada tepat di hadapan Ivan.


“Waaah, kalian berdua hanya sepupu 2 kali, mengapa begitu mirip satu sama lain?” Tanya Ivan sambil memandangi kedua manusia yang duduk dihadapannya tersebut. Wajah mereka mungkin tidak mirip. Namun keduanya sama-sama rupawan, sama-sama selalu memasang ekspresi datar dan sama-sama memiliki aura yang mengintimidasi. Keduanya juga sama-sama memiliki cara berpikir yang unik. Mungkin hanya Raka yang bisa memahami mereka berdua. Eh, tidak! Itu salah. Raka sangat memahami Rainy. Tapi hanya Rainy yang bisa memahami Arka. Tiba-tiba Ivan merasa bersimpati pada Raka yang harus mentolerir keposesifan Arka yang memiliki level tak kalah tinggi dengan level keposesifan Raka sendiri. Eh, tapi ini juga salah! Daripada mengasihani Raka, bukankah ia seharusnya mengasihani Rainy? Gadis itu harus terjepit diantara keduanya. Tapi saat memandang wajah puas Rainy, Ivan jadi merasa bahwa dirinyalah yang terlalu banyak berpikir. Yang manapun boleh-boleh saja asalkan mereka semua bahagia, sehingga mereka bertiga, ditambah dirinya sendiri, bisa terus hidup bersama dengan penuh suka cita!


Ivan mengangkat kepalanya dan menemukan Natasha, Julian dan Ace yang sedang berjalan mendekat.


“Boss,” Sapa Natasha. Rainy, Raka dan Arka menoleh ke arah Natasha. “Kami menemukannya.”


***


Selama 4 hari ini, mayoritas pegawai Divisi VII mencurahkan konsentrasinya untuk menemukan jejak Kuyang. Mereka terbagi ke dalam 3 kelompok yang masing-masing kelompoknya terdiri dari 3 orang. Natasha, Ace dan Julian menghabiskan 4 hari yang panjang untuk menelusuri jalan-jalan kecil di Desa Ampari; dimulai dari rumah korban yang terakhir menuju ke arah timur. Bukan hal mudah bagi Julian, sang Relic reader, untuk menemukan kepingan ingatan tentang Kuyang di bawah tumpukan ingatan lainnya yang tersimpan dalam benda-benda yang disentuhnya. Itu sebabnya diperlukan banyak waktu untuk bisa menemukan jejak sang Kuyang. Untungnya kemampuan Julian, walaupun tidak sehebat Raka, masih sangat mencukupi apabila hanya digunakan untuk mencari jejak. Julian kemudian memimpin Ace dan Natasha untuk menyusuri jalan hingga membawa mereka sampai ke tengah hutan yang berada di pinggir desa. Di tengah hutan itu, mereka menemukan sebuah pondok berburu kecil yang dari luar nampak tidak terawat, namun ketika mereka memasukinya, mereka bisa melihat bahwa bagian dalamnya nampak bersih dan berisi benda-benda yang menunjukan bahwa pondok tersebut ditinggal oleh seseorang. Ketika menyentuh pohon yang berada tepat di depan pondok, Julian melihat Kuyang keluar masuk pondok tersebut beberapa kali dalam ingatan si pohon. Karena itu ketiganya kemudian memutuskan untuk bersembunyi di antara pepohonan, menunggu penghuni pondok muncul.


Setelah menunggu selama beberapa jam, melewati malam di tengah hutan dalam diam dan menderita bentol-bentol akibat gigitan Agas yang mengerubuti mereka dengan kejam, di pagi harinya, ketiganya melihat seorang wanita tua berjalan menuju pondok sambil memanggul kayu bakar di punggungnya. Wanita itu mungkin berusia sekitar 70 tahun, namun memiliki tubuhnya yang tegap dan apabila menilik dari jumlah kayu bakar yang di bawanya, memiliki tubuh yang kuat. Mereka bertiga sama-sama telah melihat wajah Kuyang yang hampir menyerang tamu beberapa hari yang lalu, dan walaupun rambut nenek tersebut tersanggul cukup rapi di tengkuknya dan ekspresinya terlihat normal, mereka bisa melihat kemiripan antara si Kuyang dan sang nenek.


Ace, Natasha dan Julian saling berpandangan tanpa suara. Mereka sedapat mungkin berusaha agar keberadaan mereka tidak diketahui oleh sang nenek. Lalu ketika nenek tersebut memasuki pondok setelah melemparkan kayu bakar yang dipanggulnya begitu saja ke teras pondok, ketiganya berjalan perlahan dan tanpa suara, meninggalkan hutan tersebut. Tanpa memberitahukan kepada rekan-rekannya yang lain, Ace, Natasha dan Julian memutuskan untuk langsung kembali ke resort dan melaporkan penemuan mereka terlebih dahulu kepada Rainy. Itulah sebabnya mengapa mereka hanya muncul bertiga ke hadapan Rainy. Mendengar cerita mereka, Rainy memutuskan untuk memanggil Batari dan membawanya serta untuk mendatangi rumah tersebut. Rainy, Raka, Arka, Ivan, Batari, dan tentu saja Mr. Jack kemudian berangkat bersama Ace dan Julian, menuju ke rumah di tengah hutan tersebut.