
Saat mereka sampai di ruangan VIP tempat Ardi dirawat, mereka bertemu dengan Rini dan Aditya yang datang menjenguk Ardi. Mereka tampak sedang asyik mengobrol dan Ardi terlihat lebih segar. Keberadaan Rini dan Aditya di ruangan itu mempermudah Guru Gilang untuk mulai membahas mengenai pernikahan Rainy dan Raka. Lalu ketika Guru Gilang mengusulkan untuk memajukan tanggal pernikahan menjadi sehari sebelum ulang tahun Rainy yang ke 24, dengan takjub Rainy dan Raka menyaksikan bahwa tidak ada satupun dari 2 pasang orang tua tampak menunjukan keberatan. Entah kharisma apa yang dipancarkan oleh Guru Gilang yang membuat tak ada satupun bisa membantahnya. Tiba-tiba percakapan itu telah selesai dan Guru Gilang serta Lara berpamitan untuk pulang, padahal Rainy masih terpaku di tempat dengan sejuta pertanyaan.
Begitu mudahnya Guru Gilang merubah jadwal pernikahannya membuat Rainy merasa kekhawatirannya sebelum ini sungguh tidak berdasar. Apa? Mengapa? Bagaimana? Apa gunanya memikirkannya? Dengan sentuhan ajaibnya, Guru Gilang telah membuat segala halang rintang menghilang dan jalan terbuka menjadi begitu lebar bagi Rainy dan Raka untuk melaju dalam kecepatan tinggi menuju ke hari pernikahan mereka. Rainy mengakui dengan hati terkagum-kagum bahwa Guru Gilang memang sangat luat biasa.
Kekagumannya pada Guru Gilang untuk sesaat membuat Rainy lupa pada kabar buruk yang telah Lara sampaikan. Namun tidak begitu yang terjadi pada Raka. Ramalan perpisahan antara ia dan Rainy yang disampaikan oleh Lara membuat hati Raka menggigil ketakutan. Itu sebabnya ketika Rainy masih terpukau dan tidak mampu menarik diri dari keterkejutannya, Raka berpamitan untuk keluar sebentar dan segera meninggalkan kamar Ardi. Sampai di luar kamar, ia langsung mengambil telepon genggamnya dan menekan 1 set nomor yang telah tersimpan dalam memory telepon genggamnya sebelumnya.
"Hallo, Lara?.... Saya ingin bertemu sebentar.... Dimana?.... Baik.... Baik. Saya kesana sekarang."
7 menit kemudian ia telah kembali duduk di hadapan Guru Gilang dan Lara yang telah menunggunya di sebuah Kafe mungil yang terletak di depan Rumah Sakit. Hanya dengan memandang wajah mereka Raka menyadari bahwa keduanya telah menduga bahwa ia akan meminta untuk bertemu. Memang hal yang wajar bagi seseorang dengan kemampuan melihat masa depan seperti Lara untuk meramal apa yang akan Raka lakukan, namun entah mengapa hal tersebut justru membuat Raka menjadi bertambah tidak tenang.
Sepengetahuan Raka, kemampuan Lara hanya dibatasi pada membaca hal-hal besar. Meramal masa depan adalah sebuah tindakan yang menguras energi spiritual dengan kecepatan yang jauh lebih rakus daripada Hellfire milik Rainy, sehingga Lara tidak akan menggunakannya hanya untuk memprediksi hal-hal yang tidak terlalu penting. Itu sebabnya Raka tahu bahwa Lara tidak akan menghabiskan energinya untuk meramal permintaannya untuk bertemu kembali setelah tadi mereka baru saja mengadakan pertemuan. Mungkin seperti dugaan Rainy, Guru Gilang memiliki kemampuan untuk membaca pikiran sehingga ia telah membaca pikiran yang berkecamuk dalam kepala Raka selama perjalanan kembali ke kamar Ardi tadi, yang membuat Guru Gilang tahu bahwa Raka akan meminta mereka untuk bertemu. Atau... Ini yang Raka khawatirkan, masalah ini benar-benar sebuah masalah besar sehingga Lara bersedia menggunakan energi spiritualnya hanya untuk meramal reaksi Raka pada kisah yang disampaikannya.
Sekarang, kembali duduk berhadapan dengan keduanya, Raka menatap Lara dengan tajam dan bertanya dengan suara tenang, tak sekalipun memperdengarkan kegelisahan dan rasa takut yang menggelayuti hatinya.
"Lara, bisakah kau memberitahuku apa yang sesungguhnya engkau lihat?" tanya Raka. Pertanyaan ini membuat Lara mengangkat kedua alisnya.
"Apa kau tidak percaya padaku?" tanya Lara sambil tersenyum tenang. Raka menatap Lara lekat-lekat, mencoba membaca isi kepala Lara melalui tindak-tanduknya. Entah mengapa.... Entah mengapa ada sesuatu yang sedikit berbeda dari Lara yang ditemuinya saat ini, dengan Lara yang dijumpainya pada hari-hari sebelumnya.
Raka menilai Lara adalah wanita yang tenang, lembut dan anggun, serta penuh kontrol diri. Ia adalah sosok wanita yang sangat feminin dan mengundang rasa ingin melindungi di hati lawan jenisnya. Saat ini, Lara masih memiliki semua pembawaan itu, namun hilang sudah tampilan rapuh yang mengundang pahlawan agar segera datang untuk menjadi perisainya. Tatapannya menunjukan kepercayaan diri, seolah-olah ia sendiri adalah seorang pahlawan wanita yang akan menerjang siapapun yang berani menghalangi langkahnya untuk melawan keingkaran. Hati Raka bergetar karena terkejut. Ia selalu berpikir bahwa dirinya adalah seorang pembaca karakter yang hebat. Namun bagaimana bisa ia lalai dalam membaca Lara?
"Kau menyembunyikan banyak hal." tuduh Raka dengan mata menyipit.
"Kau hanya manusia biasa. Bila terkadang melakukan suatu kesalahan yang tidak disengaja adalah wajar saja." Sahut Lara. Mata wanita itu berkilat dalam tawa, sementara di sampingnya, Guru Gilang hanya tersenyum tipis.
"Jangan memandangku dengan tatapan waspada begitu." ucap Lara lagi. "Kuyakinkan padamu, apapun yang kusembunyikan, itu bukan untuk mengelabuimu maupun Rainy. Selain itu keberadaanku dan ayahku di sisi kalian hanya akan memberikan kebaikan dan bukan kesulitan."
"Dan kau minta aku untuk percaya begitu saja tanpa penjelasan sama sekali?" tanya Raka dengan dingin. Wajahnya terlihat tanpa ekspresi, namun tubuhnya duduk terlalu tegak dan matanya menyorot dengan tajam, membuat Guru Gilang menggelengkan kepalanya.
"Raka, karena beberapa hal, aku dan Lara tidak bisa mengungkapkan yang sesungguhnya padamu secara langsung. Namun jangan khawatir, aku akan memastikan bahwa kau tahu kau tidak perlu merasa cemas terhadap keberadaan kami." ucap Guru Gilang. Raka mengerutkan kening. Tidak bisa mengungkapkan secara langsung namun akan membuat Raka tidak merasa khawatir? Sebenarnya apa yang sedang 2 orang ini katakan?
"Bagaimana caranya?" tanya Raka.
Tiba-tiba tangan Guru Gilang mengeluarkan sebuah buku bersampul kulit yang entah datang dari mana, beserta sebuah notebook dan pulpen. Setelah itu ia mulai menulis di atas kertas tersebut selama beberapa saat, sebelum kemudian menyerahkannya pada Raka untuk dibaca. Awalnya Raka menerima kertas tersebut dengan ragu-ragu, sambil bertanya-tanya dalam hati mengenai apa yang sedang dilakukan oleh Guru Gilang sebenarnya. Ia kemudian membaca tulisan yang panjang tersebut dengan seksama. Semakin ia membaca, semakin Raka merasa tidak percaya. Pada akhirnya, setelah Raka mengulang kembali membaca tulisan Guru Gilang, Raka memandang Guru Gilang dan Lara dengan tatapan setengah tak percaya.
"Ini... Bagaimana saya bisa percaya begitu saja...?" ucap Raka dengan nada tersendat. Lara kemudian mengambil buku bersampul kulit tersebut dan membukanya dengan hati-hati. Ketika ia sampai di tengah buku, ia menunjuk pada sebuah lukisan yang tercetak pada buku tersebut.
"Ini adalah buktinya." ucapnya dengan penuh percaya diri. Mengikuti arah jari Lara, Raka menatap ke arah buku tersebut. Apa yang dilihatnya membuat nafasnya tercekat di tenggorokan.
"Ini..." Raka tidak tahu bagaimana harus melanjutkan kata. Apa yang diberitahukan padanya oleh Lara dan Guru Gilang telah memutar balikkan pengetahuan Raka tentang banyak hal.