My Beautiful Blue Rain

My Beautiful Blue Rain
Tapi Kau Memang Putriku!



“Begitulah kisah mama dan papa.” Ucap Ratna. “Jadi Rainy, bisakah sekarang kau memberitahu mama, apakah Lilith pernah mengatakan sesuatu padamu mengenai siapa dirimu?” Tanya Ratna kemudian. Karena ia telah mendengar semuanya dengan jelas, Rainy tidak lagi merasa khawatir sehingga ia mengangguk.


“Beberapa waktu lalu Lilith pernah menemui Rainy dalam mimpi dan berkata bahwa Rainy adalah putrinya.” Cerita Rainy. Mendengar ini, Ratna dan Ardi mengangguk, sementara itu, disebelahnya, Arka mengerutkan keningnya.


“Tapi kau memang putriku!” Sebuah suara merdu yang mirip suara lonceng angin terdengar lembut ke seluruh penjuru ruangan. Kali ini, bukan hanya Rainy, namun Ardi, Ratna dan Arka juga bisa mendengar suara tersebut. Mereka semua menoleh ke arah suara tersebut berasal dan melihat Lilith, dalam balutan gaun berwarna hitam buatan desainer kelas dunianya, berdiri di depan pintu. Iblis itu melangkah maju dengan anggun. Kakinya yang dibalut sepatu berhak tinggi berwarna hitam dengan sol berwarna merah terlihat begitu jenjang, mengintip dari balik belahan gaun panjangnya, setiap kali ia berjalan. Rainy langsung menarik Arka ke belakang dan dengan berani, berdiri di hadapan pria itu. Sebuah gerakan otomatis yang Rainy lakukan tanpa sadar. Hal ini tentu saja membuat Arka mengerutkan keningnya dengan kesal. Gadis ini mengapa selalu melakukan hal ini setiap kali ia merasa bahwa mereka sedang berhadapan dengan bahaya? Arka berpikir bahwa Rainy terlalu berlebihan dalam melindunginya. Namun Arka tidak tahu bahwa dalam pemikiran Rainy, kemunculan Lilith kali ini berbeda dengan biasanya, karena biasanya Lilith hanya menunjukan dirinya pada Rainy. Namun kali ini ia dengan sengaja muncul di hadapan semua orang yang berada dalam ruangan tersebut, membuat Rainy dihantam oleh firasat buruk.


“Untuk apa kau kemari?” Hardik Rainy kasar. Rasa takut yang menyusupi hatinya membuat Rainy tidak mampu mempertahankan wajah tanpa ekspresi yang biasanya selalu ia pasang bila berhadapan dengan Lilith. Iblis itu menatap Rainy dengan ekspresi terluka.


“Mengapa kau kasar sekali padaku? Aku kan datang untuk menjenguk papamu.” Tanya Lilith dengan nada sedih yang membuat Rainy merasa mual.


“Menjenguk? Bukankah kau dan anak buahmu yang telah membuat Papa harus dirawat di rumah sakit ini? Mengapa sekarang sok perduli? Apa kau datang untuk memeriksa apakah papaku sudah mati atau belum?” Sahut Rainy keras.


“Kau memfitnahku! Aku sama sekali tidak ada hubungannya dengan penyerangan padamu, pada ayahmu atau pada mimpi buruk yang menyebabkan ayahmu mengalami serangan jantung!” Tolak Lilith, masih dengan nada terluka. “Itu semua perbuatan Lilian! Tapi jangan khawatir, aku sudah menghukum Lilian. Mulai saat ini ia tidak akan berani menyakitimu atau ayahmu lagi.” Beritahu Lilith sambil tersenyum manis.


“Aku tidak akan pernah percaya pada janjimu, iblis!” Sahut Rainy dingin. “Tidak bisakah kau tinggal dengan tenang di rumah niwe dan tidak menggangguku dan keluargaku?” Tanya Rainy dingin. Lilith menggelengkan kepalanya sambil tersenyum manis.


“Tentu saja itu tidak mungkin! Kau tidak pernah menjengukku padahal aku sangat merindukanmu. Jadi mau tidak mau aku harus mengunjungimu kalau tidak, kapan aku bisa melihat putri kesayanganku, padahal aku sangat merindukanmu?!” sahut Lilith dengan tenang.


“Aku bukan putrimu!” Bantah Rainy keras. Lilith mengibaskan tangannya sambil berjalan mendekat.


“Ya, ya! Aku juga sudah dengar kisah Ardi dan Ratna tadi dan tahu bagaimana pandangan kalian tentang masalah itu.” dengan anggun Lilith duduk di atas sofa tunggal yang terletak di hadapan Rainy, dibawah tatapan waspada semua orang dalam ruangan tersebut. “Tapi tak perduli bagaimanapun kalian menolaknya, kalian tidak bisa menyangkal bahwa tanpa campur tanganku, Rainy, kau… tidak akan pernah terlahir ke dunia ini.” Ucap Lilith dengan penuh percaya diri.


“Aku tidak akan berterimakasih!” Sahut Rainy dingin. Lagi-lagi Lilith menatapnya dengan tatapan terluka.


“Sungguh anak yang tahu terimakasih.” Lilith menarik nafas panjang. “Aku menyesal mengapa tidak mengambilmu dari Ratna saat kau masih bayi. Seandainya aku melakukannya, kau pasti tidak salah jalan seperti ini.” Keluhnya.


“Salah jalan? Hah!” Tukas Rainy keras. “Aku berterimakasih karena kau tidak melakukannya, sebab bila kau yang membesarkanku, aku pasti akan memiliki kepribadian semenjijikan Lilian! Aku lebih baik membunuh diriku sendiri bila aku jadi seperti dia!”


Melihat perlawanannya, Lilith menggelengkan kepalanya dengan penuh sesal.


“Mengapa semakin lama kau semakin tidak manis? Aku merindukan Rainy yang selalu bercanda denganku sambil tersenyum.” Kata-kata Lilith membuat mata Rainy terbuka lebar. Dia bilang aku dulu selalu bercanda dan tersenyum padanya? Apa iblis juga bisa mengidap delusi sehingga berpikir bahwa kalimat-kalimat penuh sindiran dan senyum mengejek yang kutunjukan padanya setiap kali kami bertemu, adalah sebuah candaan dan senyum penerimaan? Pikir Rainy dengan heran.


“Aku tidak punya waktu untuk memperdulikan perasaanmu. Sekarang katakan, mengapa kau datang kemari?” Tanya Rainy dingin. Sebelah tangannya meraih pergelangan tangan Arka dan semakin menutupi pria itu dengan tubuhnya, sama sekali tidak mengindahkan penolakan dari Arka. Lilith memandang ke arah Arka dengan dengan ekspresi tertarik.


“Dia kakakku!” bantah Rainy.


“Emm. Dia sangat menarik. Apakah kau tahu bahwa jiwanya tidak utuh?” beritahu Lilith dengan mata yang terus terarah pada Arka, membuat bulu kuduk pria tersebut meremang.


“Apa maksudmu?” Tanya Rainy sambil mengerutkan keningnya.


“Jiwanya ada, namun tidak lengkap. Sebagian dari jiwanya hanyalah terbuat dari ruang hampa yang tidak berbentuk dan tidak berwarna, seolah-olah sesuatu pernah melukai jiwanya dengan sangat parah sehingga menyebabkan jiwanya tidak lagi utuh. Membuatnya mengalami kesulitan untuk merasakan emosi secara normal atau berpikir dengan normal. Namun responnya padamu sangat kuat dan kalian memiliki getaran yang serupa, seolah-olah, kalian adalah saudara kembar yang lahir, hidup dan mati bersama. Sungguh menarik sekali!” Beritahu Lilith lagi. Kata-katanya membuat Rainy mengerutkan keningnya. Rainy menoleh pada Arka dan menemukan bahwa pria itu juga sedang mengerutkan keningnya dan balas memandang Rainy dengan bingung.


“Jangan dengarkan dia, Arka! Dia adalah iblis dan mulutnya penuh dengan tipu daya! Aku tidak tahu apa maksud dan tujuannya mengatakan hal itu, namun apapun itu, kau sama sekali tidak boleh mempercayai satupun kata-katanya!” Beritahu Rainy pada Arka. Mendengar ini, Arka mengangguk dengan patuh. Pertukaran keduanya membuat Lilith tersenyum.


“Terserah kalian mau percaya atau tidak. Aku kan cuma mengatakan yang sebenarnya.” Ucap Lilith kemudian. Iblis itu mengetukkan kukunya ke atas tangan sofa sehingga meninggalkan bunyi mengetuk samar, sebuah kebiasaan yang sengaja ditirunya dari Rainy untuk membuat Rainy kesal. “Sebenarnya aku datang untuk mengingatkanmu, bahwa ulang tahunmu yang ke 24 akan segera tiba. Kau tahu bahwa kau harus menjalani upacara penanda tanganan buku perjanjian pada hari itu kan?” Tanya Lilith. Senyum indah kembali menghiasi wajahnya.


“Haha! Bermimpilah! Aku lebih baik mati daripada harus menandatangani buku terkutuk tersebut!” jawab Rainy dengan tegas. Lilith kembali menghela nafas panjang.


“Tsk! Sudah kukira kau akan berkata begitu.” Ucap iblis tersebut dengan wajah berkerut dan sudut-sudut bibir yang menurun. “Itu sebabnya aku akan mengambil jaminan darimu.”


Mendengar kata-katanya, jantung Rainy mulai berdetak kencang dan firasat buruk dalam hatinya menjadi semakin kuat. Tangannya yang menggandeng tangan Arka, mengencang tanpa Rainy sadari, membuat Arka mengernyitkan kepalanya karena kesakitan. Namun pria itu tidak menarik tangannya. Arka membiarkan Rainy memegang tangannya erat-erat, menyadari sepenuhnya bahwa Rainy membutuhkan itu untuk mengendalikan emosinya.


“Jaminan? Memangnya kau pikir aku berhutang padamu?” Tanya Rainy dengan nada mengejek.


“Benar! Dan bukan hanya kau. Kau,” Lilith melirik ke arah Ardi dan Ratna. “Orangtuamu, dan seluruh keluarga besarmu berutang kesetiaan kalian padaku!”


“Cih! Teruslah bermimpi, iblis! Kami tak berutang apapun padamu!” Bantah Rainy dengan senyum mengejek. Lilith menggelengkan kepalanya untuk menunjukan ketidak setujuannya, baik pada keyakinan Rainy maupun pada sikapnya yang kasar.


“Tak perduli bagaimanapun kau menolaknya, kau tidak akan pernah bisa mengingkari hutangmu padaku.” Ucap Lilith dengan tenang. “Tapi karena kau masih keras kepala, aku akan mengajarimu agar kau tahu bahwa tidak ada gunanya untuk melawanku!” Begitu Lilith selesai berbicara, Rainy merasakan bahwa tangan Arka yang tengah digenggamnya dengan erat, tiba-tiba menghilang dari dalam genggamannya. Rainy langsung menoleh ke belakang dan menemukan bahwa Arka telah menghilang dari tempatnya berdiri. Dengan panik Rainy menoleh pada Lilith.


“Iblis, apa yang kau lakukan? Kemana kau sembunyikan Arka?” jerit Rainy dengan panik. Tak jauh dari mereka, Ardi dan Ratna yang melihat langsung bagaimana putra angkat mereka tiba-tiba menghilang begitu saja tanpa jejak, menjadi sama paniknya.


“Bila menginginkan kakak angkatmu kembali, kau harus menuruti perintahku.” Lalu Lilith turut menghilang dari kursi yang didudukinya dan hanya meninggalkan tawanya yang berdenting indah namun menyeramkan, ke seluruh penjuru ruangan.