My Beautiful Blue Rain

My Beautiful Blue Rain
The Devil Wears Alexander McQueen



"Jadi kau menyingkirkan aku dari perusahaan?" tanya Lilith pelan.


"Couldn't I?" Rainy mengangkat sebelah alisnya dan menantang Lilith dengan berani, membuat Lilith tertawa.


"Beraninya!" walaupun kata-katanya merupakan sebuah teguran, namun nada santai yang digunakan Lilith membuatnya terdengar sebagai sebuah ejekan. Well, tentu saja itu sebuah ejekan. Hanya Rainy seorang, wanita muda yang tak punya banyak pengalaman, bagaimana mungkin bisa menyingkirkan iblis seperti Lilith tanpa ijin dari Lilith sendiri!


"I wish." cetus Rainy jujur. "Well, kalau aku punya kemampuan untuk menyingkirkan dirimu, kau tidak akan ada disini," Rainy memandang setelan hitam yang dikenakan oleh Lilith. Iblis itu mengenakan sebuah jas pendek berpotongan asimetris berwarna hitam yang dipadu dengan rok span hitam yang panjang bagian sebelah kanannya mencapai betis, namun bagian sebelah kirinya hanya mencapai bagian atas paha, sehingga memamerkan kaki indahnya yang berbalut sepatu hak tinggi rancangan Manolo Blahnik berwarna senada. Rainy mengenali setelan yang dikenakan Lilith sebagai salah satu koleksi ready to wear untuk spring tahun 2022 yang baru saja diluncurkan oleh Rumah Mode Alexander McQueen. Lilith sangat mencintai drama dan koleksi McQueen yang penuh drama selalu menjadi pilihan favoritnya. Rainy telah beberapa kali melihatnya mengenakan koleksi rumah mode ternama tersebut. The Devil wearing Alexander McQueen! What a treat to the eye. Sayangnya tak banyak yang bisa melihatnya.


"duduk dengan manis mengenakan designer clothes," lanjut Rainy, hanya menatap dengan bosan ketika Lilith mengulurkan tangannya dan mengambil sebuah cangkir porselen yang terletak di atas piring kecil dan berisi teh yang mengepulkan asap panas, dari ketiadaan.


"sambil minum teh dengan santai." komentar Rainy, mengakhiri kalimatnya. Mendengarnya, Lilith mengangkat kepalanya dari teh yang sedang dinikmatinya dan tersenyum meminta maaf.


"Kau tidak keberatan bila aku minum teh disini kan?" mendengar pertanyaan Lilith, Rainy hanya menggelengkan kepalanya pelan.


"Kau sungguh tuan rumah yang buruk karena tidak menyediakan apapun untuk tamumu. Aku sampai harus menyediakan tehku sendiri." protes Lilith dengan penuh senyum. Nada suaranya bisa membuat orang yang tidak mengenalnya berpikir bahwa ia adalah wanita yang paling baik dan paling pengertian yang pernah mereka temui.


Rainy hanya mengangkat bahunya dengan tak acuh. Ia tak sudi untuk memberikan apapun untuk Iblis, bahkan walaupun hanya secangkir teh!


Lilith menghirup tehnya dengan nikmat beberapa kali sebelum kemudian meletakkan cangkirnya ke atas meja, lalu kembali memusatkan perhatiannya pada Rainy.


"Nah, sekarang katakan padaku mengapa kau memisahkan Divisi VII dari perusahaan ini dan mencopot jabatanku." Perintah Lilith.


"Aku tidak lagi bekerja di perusahaan ini jadi untuk apa kau tetap disini? Tidak ada yang bisa melihat atau mendengarmu. Bukankah itu hanya akan membuatmu bosan?" Kilah Rainy.


"Pembohong kecil. Katakan saja bahwa kau mencoba menjauhkan keluargamu dariku." tuduh Lilith santai.


"It's a win-win solution, so why not?!" Kilah Rainy lagi, sama sekali tak mencoba menyangkal.


"Apa yang sedang kau rencanakan?" tanya Lilith lagi.


"Can't you just read my mind?" tanya Rainy dengan malas.


"Can. Tapi aku lebih suka tidak melakukannya agar aku tidak dituduh mencoba merebut hakmu untuk memiliki free will." Sahut Lilith, masih dengan senyuman yang mengembang indah.


"Lucu. Last time I check, kau telah merebut kebebasan kami selama berabad-abad." sindir Rainy sinis.


"Itu adalah pilihan yang dibuat oleh leluhurmu secara bebas. Aku hanya membantu mereka sedikit dengan memberikan insentif." kilah Lilith.


"Iblis!" maki Rainy pelan, membuat Lilith tertawa mendengarnya.


"Yes, it's me. Bukankah kau sudah tau itu." godanya. Rainy bangkit dari bersandarnya, lalu membungkuk dan meletakkan dagunya di atas telapak tangan kirinya yang bertumpu pada tangan kursi untuk bisa memandang ekspresi wajah Lilith dengan lebih seksama.


"Apakah ada cara untuk membuatmu melepaskan keluargaku dari perjanjian terkutuk itu?" Tanya Rainy dengan berani. Ia terus mencoba menangkap perubahan ekspresi di wajah Lilith. Seberapapun kecilnya perubahan itu dapat menjadi petunjuk mengenai apa yang melintas di pikirannya sebagai respon dari pertanyaan yang Rainy ajukan. Namun ekspresi Lilith tidak memberikan sedikitpun petunjuk. Malah senyum Lilith menjadi semakin lebar.


"None!" Sahut Lilith dengan penuh percaya diri. mereka saling berpandang-pandangan untuk beberapa detik sebelum kemudian Rainy mengangkat kedua bahunya dan kembali duduk bersandar di Sofa sambil memasang topeng acuh tak acuh yang apabila Adnan yang berada dihadapannya, pasti sudah menganggapnya kurang ajar dan akan membuat pria itu ingin menamparnya. Namun Lilith hanya tersenyum dengan tatapan mata penuh kasih sayang dan kekaguman, tatapan mata yang paling sering Iblis tersebut gunakan saat memandang Rainy. Lilith layaknya seorang ibu yang sedang berhadapan dengan anak kesayangannya. Apapun yang dilakukan oleh anak tersebut tidak akan membuatnya marah. Seberapapun kurang ajarnya akan terus ia toleransi. Seberapun buruknya sikap Rainy, tidak akan mengurangi cinta dan kasih sayangnya. Hal ini membuat Rainy bergidik karena ngeri. Kasih sayang dari Iblis? Ia sungguh tidak sudi menerimanya! Rainy menarik nafas panjang dengan kecewa dan mengalihkan pandangannya dan menatap langit-langit ruangan dengan bosan.


"Kakekmu akan sangat sedih bila mendengar perkataanmu ini." komentar Lilith.


"Tidak. Dia akan mengerti." sanggah Rainy. Bibirnya tersenyum ketika wajah bijak penuh senyum pria tua itu terbayang di dalam pikirannya. "Atau lebih tepatnya, orang yang telah mati tak lagi perduli pada urusan duniawi."


"Well, you are always a decisive one." Lilith turut menyandarkan tubuhnya ke punggung sofa. Matanya terus menatap Rainy dengan intensitas yang mendirikan bulu roma. Rainy merasa bagai seekor hewan ternak yang sedang dinilai kelayakannya untuk dipotong dan dihidangkan. "Lalu?" tanya Lilith lagi, memberi isyarat pada Rainy untuk meneruskan penjelasannya.


"What do you want to know?" Rainy memiringkan kepalanya untuk bisa memandang Lilith dalam posisi yang lebih nyaman.


"Bagaimana kau akan mengoperasikan Divisi VII? Apakah kau akan membuka praktek cenayang?" tanya Lilith. Mendengarnya mata Rainy berkedip pelan, sebelum ia berkata dengan nada malas,


"Tidak bisakah kau hanya duduk di tempatmu dan melihat saja? Untuk apa kau mau mengetahui semuanya? Tugas kalian para iblis hanyalah untuk menggoda manusia. Mengapa repot-repot turut mengurusi pekerjaan manusia?"


"Such a daring mouth. Apa kau tak takut bahwa suatu saat kelak, bila kau terus bersikap kurang ajar, aku akan membuatmu tak lagi bisa berbicara?" Ucap Lilith, masih dengan wajah yang tersenyum indah dan tubuh yang bersandar dengan malas di punggung Sofa. Namun suhu dalam ruangan itu berubah dingin dengan sangat cepat, menandakan perubahan suasana hati Lilith. Senyum puas mengembang di wajah Rainy dengan indahnya.


"Tentu saja tidak. Apa gunanya aku yang bisu untukmu." ucapnya dengan berani.


"Setidaknya aku bisa melihat air mata penyesalanmu." ucap Lilith beralasan. Terhadap alasan ini, senyum Rainy bertambah lebar. Ia menyurukkan tubuhnya ke sofa sampai memperoleh posisi yang paling nyaman. Mulutnya mendesah dengan puas, membuat Lilith menaikkan sebelah alisnya. Di dunia ini mungkin hanya Rainy satu-satunya yang berani bersikap sangat santai dan seenaknya di hadapannya. Mungkin Rainy mengira sikap kurang ajarnya akan membuat Lilith marah dan kehilangan minatnya pada Rainy. Tapi bagi Lilith yang sudah ada sejak ribuan tahun, tak banyak yang bisa membuatnya marah. Persistensi yang ditunjukan Rainy justru membuat gadis itu menjadi semakin menarik di mata Lilith. Saat ini Rainy tampak mirip seekor kucing yang sedang kekenyangan, menggoda untuk dibelai. Terlihat sangat menggemaskan.


"Apabila kehilangan suara akan membuat kau meninggalkanku sendiri, aku tidak keberatan." ucap Rainy.


"Jangan menantangku." balas Lilith.


Mendengarnya, Rainy tersenyum manis.


"Aku akan melakukan apapun... untuk membuatmu meninggalkanku sendiri." tambah Rainy.


"Easy peasy." sahut Lilith.


"How?" Rainy menaikkan sebelah alisnya dengan penuh minat.


"Bersumpah setialah padaku. Setelah itu aku janji aku tidak akan pernah mengganggu lagi selama hidupmu." seloroh Lilith. Selama hidup? Right! Bagaimana dengan setelah mati?


"Cih. Dream on!" Rainy memasang ekspresi jijik. "Lagipula, bukankah leluhurku sudah melakukannya. Untuk apa kau memerlukan sumpah setiaku lagi?" tanya Rainy ingin tahu.


"Sudah kukatakan bahwa aku tak suka memaksa. Perlawananmu hanya membuatku semakin ingin memperoleh kesetiaanmu." Sahut Lilith tenang.


"Never." Ucap Rainy tegas.


"We'll see, my darling. We'll see." seulas senyum indah kembali menghiasi bibir Lilith. Keduanya kemudian saling memandang dalam keheningan.


Copyright @FreyaCesare