
"Sekarang waktunya Rapat. Seluruh Direksi dan dewan komisaris sudah berkumpul di ruang rapat. Sebaiknya kita segera menuju kesana." ucap Raka mengingatkan. Rainy mengangguk dan bangkit dari kursinya, kemudian berjalan menuju pintu. Arka segera berjalan menuju pintu untuk membukakan pintu tersebut bagi Rainy, namun gerak tubuhnya terpaksa terhenti karena dihalangi oleh Ace yang dengan sengaja memotong jalannya. Dengan sigap Ace berlari untuk membukakan pintu, mendahului Arka. Rainy yang melihat ini hanya menggelengkan kepala pelan dan terus berjalan melalui pintu yang terbuka, dengan Raka dan Ivan mengikuti di belakangnya. Di belakang mereka, Natasha menyusul. Bibir wanita itu menyunggingkan senyum geli. Ketika ia melewati Ace, ia menoleh pada pria itu dan berbisik pelan,
"Childish." ejeknya sambil terus melanjutkan jalannya, mengikuti atasan mereka menuju ruang rapat. Mendengarnya, Ace mengusap ujung hidungnya dan tersenyum malu, sebelum kemudian ia melepaskan gagang pintu yang masih di pegangnya dan berjalan mengejar langkah Natasha. Akibat mekanisme khusus yang terpasang di pintu, pintu yang dilepaskan begitu saja tersebut segera bergerak untuk menutup, sehingga hampir menabrak Arka yang separuh tubuhnya telah hampir keluar dari pintu. Dengan sigap Arka menahan pintu tersebut dan keluar dari sana tanpa menunjukan perubahan emosi yang berarti pada perilaku kekanakan Ace. Ia pun turut menyusul di belakang Ace dan Natasha.
Mereka berjalan melintasi koridor kantor untuk menuju ruang rapat, dipimpin oleh Rainy, diikuti oleh Raka di sebelah kanan dan Ivan di sebelah kiri, lalu Ace, Natasha dan Arka tepat di belakang mereka; membentuk kelompok wanita cantik dan pria tampan berpenampilan modis dan stylist yang menarik perhatian seluruh penghuni kantor yang berpapasan dengan mereka. Semua orang tentu saja sudah mengenal Raka yang tadinya merupakan asisten pribadi Direktur Utama terdahulu dan mengenal Ivan yang sesekali muncul di kantor untuk menemui nenek atau orangtuanya. Namun tidak banyak dari mereka yang mengenal Rainy maupun anggota team lainnya, sehingga kemunculan mereka menimbulkan rasa ingin tahu dari banyak pegawai kantor tersebut. Kehadiran mereka membuat kantor ramai oleh kasak-kusuk para penghuninya.
Ketika mencapai pintu ruang rapat yang tertutup, Raka berjalan mendahului dan berhenti di depan pintu, lalu memandang Rainy yang turut berhenti di hadapannya, sementara anggota teamnya juga ikut menghentikan langkah mereka. Karena insulasi ruangan yang baik, mereka tidak bisa mendengar suara apapun dari balik pintu. Namun mereka tahu, di dalam sana, orang-orang yang memegang posisi teratas dalam perusahaan ini telah duduk menunggu. Rainy memandang Raka yang tersenyum hangat padanya; dengan tenang mencoba memberi Rainy kesempatan untuk mempersiapkan diri sebelum memasuki ruangan. Rainy menutup mata sesaat dan menarik napas panjang. Ketika ia membuka kembali matanya, ekspresi tenang dan dingin telah melapisi wajahnya dan membuat auranya tampak penuh wibawa dan sulit untuk didekati. Ia kemudian mengangguk pelan pada Raka. Raka lalu mendorong pintu terbuka. Begitu pintu terbuka, suara percakapan langsung menerpa indra mereka dengan cukup kencang, namun tiba-tiba langsung terhenti begitu saja.
Rainy berjalan memasuki ruangan dengan dagu terangkat tinggi. Ia berjalan dengan tenang menuju kursi direktur utama. Di belakangnya, semua anggota teamnya turut melangkah masuk. Namun ketika Ace hampir memasuki pintu, Arka menahan tubuh Ace dengan meletakkan sebelah tangan di bahunya dan berkata dengan dingin,
"Supir cukup menunggu di luar saja." lalu menutup pintu di depan hidung Ace tanpa memberi kesempatan pada pria itu untuk bersuara, meninggalkan Ace yang memaki-maki dengan kesal.
Rainy menempati kursinya dengan tenang dibawah tatapan mata sekitar 20 orang yang berada di dalam ruangan tersebut, sementara Raka dan Ivan berdiri tepat di belakang kursinya, layaknya punggawa yang sedang mengawal ratu mereka. Arka dan Natasha segera duduk di kursi-kursi yang berjajar menempel di sepanjang dinding, yang memang disediakan untuk para sekretaris dan para asisten.
Rainy memandang ke seluruh penjuru ruangan dan menemukan beberapa wajah yang ia kenal dengan baik. Di sebelah kirinya duduk 6 anggota dewan direksi, dengan Rosa dan Rudi duduk di kursi ketiga dan kedua yang paling dekat dengan kursi Direktur Utama. Seperti biasa, kursi pertama di sebelah kiri yang berada tepat di samping kursi Direktur Utama dibiarkan tetap kosong. Saat itu Lilith sepertinya enggan menghadiri rapat dan membiarkan kursi itu tetap tak berpenghuni. Diam-diam Rainy menarik nafas lega melihat hal ini. Biar bagaimanapun ia masih belum terbiasa bila harus bertemu dengan Lilith dimanapun ia berada, apalagi bekerja di bawah pengawasan iblis tersebut. Memandang ke arah Bibi dan Pamannya, Rainy mengangguk sopan yang dibalas oleh Rosa dan Rudi dengan balas mengangguk.
Di sebelah kanan Rainy, duduk 4 orang anggota dewan komisaris. Salah satunya adalah Aditya, ayah kandung Raka. Ke empat dewan komisaris adalah orang-orang yang dulunya bekerja langsung dibawah pimpinan Jaya Bataguh dan merupakan orang-orang kepercayaan kakek Rainy tersebut. Sejak kecil Rainy telah mengenal mereka semua dengan baik dan memandang wajah penuh senyum yang mereka tunjukan padanya mengingatkan Rainy pada Jaya Bataguh. Hal ini membuat hati Rainy terasa hangat. Rainy mengangguk dan tersenyum sopan pada mereka sebelum kembali memusatkan perhatiannya untuk memulai Rapat. Ia mengangkat dagu dan memandang ke penjuru ruangan, ke mata setiap orang dengan penuh percaya diri.
"Saya yakin Bapak dan Ibu telah mendengar bahwa sepeninggal Ibu Marlena, posisi sebagai pemilik perusahaan dan Direktur Utama telah diwariskan kepada saya, beserta saham yang sebelumnya dimiliki oleh Bapak Jaya Bataguh, kakek saya, sebanyak 60%. Berdasarkan hal ini, saya memiliki hak suara terbanyak untuk memimpin dan menjalankan perusahaan ini." Rainy kembali menyapu pandangannya ke seluruh penjuru ruangan, memastikan bahwa setiap orang yang duduk bersamanya di sekeliling meja rapat tersebut mendengar kata-katanya dengan seksama. Sebagian dari mereka berwajah tanpa ekspresi. Sebagian lainnya tampak acuh dan setiap kali Rainy bertatapan dengan mereka, ia bisa melihat sorot mata yang meremehkan terpancar disana.
Benar, Rainy masih muda dan tidak berpengalaman dalam memimpin perusahaan. Sebagian dari mereka pasti sudah tak sabar menunggu bagaimana cara Rainy untuk menaklukkan kursi Direktur Utama di Perusahaan tersebut. Dalam hati Rainy mendengus geli. I'll let you see the joke; tapi bukan saya yang akan jadi badutnya!
"Saya mengundang bapak dan ibu untuk hadir pada rapat hari ini untuk menyampaikan beberapa kebijakan yang saya ambil dalam menjalankan perusahaan ini." Rainy melanjutkan dengan tenang.
"Keputusan pertama yang akan saya ambil adalah menyangkut Divisi VII."
Kata-kata Rainy ini membuat beberapa pasang mata menjadi melebar. Divisi VII? Bukankah itu adalah divisi yang berada langsung dibawah pengelolaan Ibu Direktur dan asistennya, Raka? Pikir mereka. Sebenarnya tak banyak yang diketahui oleh para pimpinan kantor mengenai Divisi VII. Bahkan tidak banyak pegawai yang mengetahui bahwa di kantor tersebut ada Bagian yang di kenal dengan sebutan Divisi VII.
Konon kabarnya Divisi VII adalah divisi yang mengurusi hubungan dengan klien VVIP. Yang dikategorikan dengan klien VVIP adalah para pejabat negara, Politikus Besar dan para konglomerat yang jumlahnya hanya mencapai 10% dari jumlah penduduk negeri ini. Yang menarik adalah tugas yang dimiliki oleh Divisi VII harusnya jatuh ke tangan Divisi VI yang mengelola Public Relations secara umum. Namun entah mengapa sejak awal berdirinya perusahaan, pelayanan terhadap Klien VVIP tidak pernah diserahkan kepada Divisi VI. Selain itu selama bertahun-tahun, Divisi VII tidak pernah memiliki Direktur sendiri, melainkan dipimpin oleh Direktur Utama secara langsung dan hanya memiliki sejumlah kecil pegawai. Dan pegawai-pegawai ini, yang jumlahnya biasanya hanya terbatas antara 5 sampai 9 orang, biasanya adalah orang-orang yang memiliki aura mengintimidasi, bahkan berbahaya dan cenderung enggan bergaul dengan pegawai dari divisi yang lain. Itulah sebabnya Divisi VII merupakan Divisi yang paling misterius di perusahaan tersebut. Dan tiba-tiba, Direktur Utama yang masih bau kencur ini mencoba mengarahkan senapannya pada Divisi VII? Apa sebenarnya yang sedang ia rencanakan?
Copyright @FreyaCesare