My Beautiful Blue Rain

My Beautiful Blue Rain
Kamar Baru Rainy



Melihat interaksi antara Raka dan Rainy, Lara tersenyum puas. Ia sangat menyukai cara Raka memanjakan Rainy. Benar-benar calon menantu idaman! Lara yakin bila semua orang di rumah bertemu dengan Raka, mereka juga akan menyukainya. Lara kemudian menoleh pada Arka yang sedang memperhatikan Rainy dan Raka dengan serius. Wajah pria itu masih tanpa emosi seperti biasanya, namun sorot matanya tampak meredup, menandai sesuatu sedang membuat emosinya bergerak.


Dengan sengaja Lara bergerak maju dan menghalangi arah pandangan mata Arka dengan tubuhnya. Arka mengerutkan kening dan mengangkat kepalanya untuk menatap Lara. Ekspresi tak suka yang terpancar dari matanya membuat hati Lara terasa disayat sembilu. Namun hal itu tidak terlihat di wajahnya. Lara tersenyum dan mengulurkan Termos berisi bubur dan sebuah Sendok kepada Arka.


“Makanlah. Kakak pasti lapar.” Ucap Lara. Arka menatap Termos berisi bubur tersebut dengan tatapan tidak suka. Keningnya berkerut-kerut dan tampak sangat terganggu oleh keberadaan termos tersebut di hadapannya.


“Kenapa, Kak? Apakah Kakak mau aku suapi?” Tanya Lara dengan berani. Dalam hati ia berkata, jangan melihat pada mereka. Lihatlah padaku saja!


Mendengar kata-kata Lara, Arka kembali mengangkat kepalanya dan memberi Lara tatapan kesal. Ia lalu mengambil Termos dan Sendok tersebut dari tangan Lara, lalu mulai makan tanpa suara. Lara menarik nafas panjang. Melihat Arka merasa kesal padanya jauh lebih baik daripada mengetahui bahwa ia sama sekali tidak terlihat di mata Arka. Setidaknya Arka akan menyadari bahwa ada seorang Lara disekitarnya.


“Bagaimana, Arka? Apakah kau tetap ingin pulang?” Tanya Batari pada Arka. Mendengar ini Arka mengangguk. Tangannya menyuapkan bubur dengan cepat ke dalam mulutnya.


Bro, kau sedang lapar atau sedang marah? Memangnya bubur itu tidak panas ya? Hati-hati lidahmu terbakar! Pikir Batari dalam hati. Namun ia memutuskan untuk tidak menyuarakannya. Beberapa hal sebaiknya akan lebih baik bila ia bersikap pura-pura tidak tahu.


“Jadi kau bersedia untuk tinggal di Poliklinik sampai sembuh kan?” Tanya Batari lagi. Lagi-lagi Arka mengangguk.


“Baiklah. Kalau begitu aku akan membicarakannya dengan Dokter yang merawatmu sekaligus mengurus surat-surat untuk kepulangan kalian.” Ucap Batari.


Batari kemudian berjalan menuju nurse station untuk berbicara dengan perawat jaga, dengan Mr. Jack mengekor di belakangnya. Mr. Jack pasti sangat tidak tenang begitu mengetahui bahwa Batari memiliki hubungan dengan Kuyang sehingga ada kemungkinan bahwa kuyang tersebut akan mencari Batari. Mr. Jack takut hal ini akan membahayakan nyawa Batari. Itulah sebabnya tanpa sadar, ia terus mengekori Batari. Seorang pria bertubuh tinggi besar dengan patuh mengikuti seorang wanita bertubuh mungil kemana-mana. Sungguh pemandangan yang membuat orang-orang yang mengenal mereka tersenyum.


2 jam kemudian Akhirnya Rainy dan Arka diijinkan pulang. Sesampainya di Resort, Arka langsung digiring ke poliklinik, sementara Rainy di seret Raka untuk masuk ke dalam kamar barunya. Kali ini mereka pindah ke suite room yang terletak tepat di sebelah kantor Divisi VII. Rainy memandang kamar barunya dengan hati merana. Nyaris semua barang pribadinya sudah habis terbakar. Pakaian yang tersisa hanyalah pakaian yang baru kembali dari laundry. Laptop dan Handphonenya juga hanya tinggal seonggok rongsokan. Tak ada barang yang bisa dibawanya pindah ke kamar tersebut.


"Ah! Gaunku!" keluh Rainy ketika teringat gaun pertunangannya. Ia ingin menangis tapi tak ada air mata yang keluar. Rainy terlalu marah untuk bisa mengeluarkan air mata! Raka yang melihat Rainy seperti ini membawa Rainy masuk ke dalam pelukannya. Raka menyandarkan kepalanya ke bahu Rainy.


"Aku sangat ketakutan hari ini." cerita Raka pelan. Mendengarnya, ekspresi Rainy melembut. Ia balas memeluk Raka dan mengusap-usapkan telapak tangannya ke punggung Raka.


"Maafkan aku karena sudah membuatmu takut." ucap Rainy.


Raka melepaskan Rainy dan ganti menarik tangannya dan membawanya menuju di sofa tunggal yang berada di dekat ranjang. Raka menduduki sofa tersebut, lalu menarik Rainy untuk duduk di atas pangkuannya. Secara otomatis Rainy mengulurkan kedua tangannya dan mengalungkannya ke leher Raka.


"Bagaimana pendapatmu tentang kamar barumu?" tanya Raka.


Rainy memandang ke sekeliling ruangan lalu kemudian berkata,


"Kamar ini terasa kosong."


"Kosong?" Raka menaikkan kedua alisnya dan turut memandang ke sekeliling ruangan dengan kening berkerut. Ruangan ini cukup panjang dan besar. Kamar ini merupakan master bedroom di suite ini. Sebuah tempat tidur dalam ukuran king size terletak di tengah-tengah ruangan, yang di dampingi oleh bedside table di kedua sisinya. Lalu ada sebuah lemari besar yang menutupi salah satu dinding yang di bagian tengahnya terdapat sebuah pintu yang mengarah ke kamar mandi. Sebuah meja rias beserta kursinya dan sepasang sofa tunggal beserta sebuah coffee table yang terletak di antaranya, juga mengisi ruangan tersebut. Lalu beberapa lukisan menghiasi dinding dan membuat ruangan terlihat chic sekaligus elegan. Lalu terdapat sebuah LCD TV berukuran besar yang terpasang di dinding tepat di kaki tempat tidur. Kosong? Baby, apa matamu tidak salah melihat?


"Aku suka kalimat yang mengatakan bahwa aku adalah satu-satunya yang merupakan milikmu pribadi." seloroh Raka.


"Bukankah itu benar?" tanya Rainy.


"Benar! Benar! Tentu saja itu benar!" Jawab Raka. Senyumnya yang lebar menggambarkan dengan jelas rasa bahagia yang sedang memenuhi hatinya. Melihat senyum Raka, bibir Rainy turut tersenyum.


"Soal pakaianmu, aku sudah menghubungi Jasmine dan memintanya untuk mengirimkan busana pengganti yang kau butuhkan sehari-hari." Jasmine adalah pemilik butik yang telah mempersiapkan gaun pertunangan Rainy.


"Kau memang hebat!" puji Rainy tanpa sungkan, membuat senyum Raka tampak semakin lebar.


"Bagaimana dengan Handphone dan Laptopku?" tanya Rainy.


"Well, besok kita bisa pergi ke Kota B untuk membeli yang baru sambil menjenguk kedua orangtua kita." usul Raka.


"Emm. Aku setuju!" sahut Rainy dengan kepala mengangguk kuat-kuat.


Raka mengusap wajah Rainy dengan ujung-ujung jarinya dan bertanya.


"Apa sebenarnya yang terjadi? Mengapa Lilian menyerangmu?" tanya Raka pelan.


"Lilith meminta aku untuk menyediakan kamar baginya disini." ucap Rainy sambil mendengus karena tidak suka.


"Apa kau setuju?" tanya Raka.


"Tentu saja tidak!" sahut Rainy dengan berapi-api. "Hanya orang bodoh yang bersedia mengalah dibawah tekanan seperti itu. Aku tidak akan mengalah semudah itu!"


"Tapi kali ini terlalu berbahaya. Bagaimana bisa Lilian menggunakan cara itu untuk menakutimu? Apa kau yakin dia tidak ingin membunuhmu?" Ucap Raka cemas.


"Lilian tidak akan berani. Walaupun ia sangat membenciku, namun ia sangat takut pada Lilith sehingga ia tidak akan berani membunuhku." sahut Rainy dengan yakin.


"Tidak adakah cara untuk membuat iblis itu tidak mendekatimu lagi?" tanya Raka.


"Tidak ada. Kita yang manusia biasa ini mana punya kemampuan untuk menghindar dari iblis sekuat mereka. Tapi biarpun begitu, aku akan tetap pada pendirianku. Sampai kapanpun aku tidak akan mau melakukan apapun untuk Lilith!"