My Beautiful Blue Rain

My Beautiful Blue Rain
Kisah Cinta Ardi & Ratna II



“Sebenarnya sejak awal Papa berubah sikap, mama sudah merasa sangat aneh. Orang tidak begitu saja berubah tanpa sebab sehingga mama yakin pasti telah terjadi sesuatu. Karena itu mama diam-diam menemui nini dan menanyakan hal ini pada beliau.” Ucap Ratna, melanjutkan ceritanya. “Awalnya Nini sangat terkejut. Namun beliau segera berjanji bahwa beliau akan memcari tahu sebab dari perubahan papa. Nini kemudian memberitahukan masalah ini pada Niwe. Begitu niwe tahu, beliau langsung marah besar.” Ratna menoleh kembali ke arah Ardi sambil mengerutkan wajahnya dalam senyum malu. “Mama menyadari sekarang bahwa seharusnya mama tidak melibatkan orangtua dalam masalah kami berdua. Namun waktu itu mama masih sangat muda. Sejak kecil papamu selalu memanjakan mama dan tidak pernah membuat mama terluka. Itu sebabnya ketika papamu berubah sikap, mama menjadi sangat impulsif dan tanpa pikir panjang berniat mencari tahu penyebabnya dari siapapun yang bisa memberi tahu mama. Mama sama sekali tidak menyadari bahwa perbuatan mama mengakibatkan papa mengalami masalah besar di rumahnya.”


“Tak lama kemudian, papa mendatangi rumah mama dan ingin bertemu mama. Pada saat itu mama sangat senang. Mama pikir akhirnya papa menyadari kesalahannya dan kembali pada mama, tapi siapa sangka, hal pertama yang papa lakukan saat bertemu mama adalah mengatakan bahwa mulai hari itu semua hubungan antara mama dan papa berakhir dan papa akan bersikap seolah-olah ia tidak pernah mengenal mama sebelumnya.”


“Papa jahaaaat! Mengapa sok tsundere banget siiiiih!” Protes Rainy dengan penuh semangat, membuat Ratna dan Ardi tertawa.


“Setelah berkata begitu, papa langsung berbalik dan pergi. Mama yang sangat terkejut tentu saja tidak terima diperlakukan seperti itu. Tanpa berpikir panjang, mama langsung mengejar papa. Entah apa sebabnya, papamu yang biasanya diperlakukan bak seorang pangeran dalam keluarganya ini, datang ke rumah mama dengan berjalan kaki. Berjalan kaki! Padahal jarak antara rumah Niwe dan rumah kakek sekitar 5 km!” Cerita Ratna.


“Papa baru saja dimarahi Niwe dan dipaksa untuk bersama Mama. Saat itu Papa sangat marah sekali. Papa marah pada Niwe yang mematuhi iblis. Marah pada iblis yang menggunakan waktu senggangnya untuk mempermainkan papa. Marah pada mama yang begitu impulsif. Tapi terutama papa marah pada diri sendiri yang begitu lemah dan tidak memiliki kemampuan untuk mengatur hidup papa sendiri. Tahu-tahu tanpa papa sadari, papa telah sampai di depan rumah mama.” Lanjut Ardi.


“Wow! Memang katanya disaat sedang terluka atau berduka, secara otomatis hati kita akan membawa kita pada orang yang paling kita cintai!” Komentar Rainy.


“Benar. Sepertinya itulah yang terjadi.” Sahut Ardi. “Saat memandang ke arah jendela kamar mama, papa berpikir; walaupun papa tidak mampu untuk melindungi diri sendiri, papa akan memastikan bahwa mama akan hidup bahagia, aman dan terlindungi dari iblis. Karena itu papa menguatkan hati dan memutuskan untuk mengakhiri semuanya dengan tegas. Siapa sangka, mamamu sangat keras kepala.” Ardi menggelengkan kepalanya sambil tersenyum. Matanya melayang jauh pada peristiwa masa lalu yang masih terekam jelas dalam ingatannya. Melihat ekspresi suaminya, Ratna turut tersenyum dan membayangkan kenangannya sendiri.


“Saat papa berjalan cepat menyeberang jalan yang saat papa lewat, sedang dalam keadaan sepi, sebuah suara decit ban dan klakson berbunyi keras di belakang papa. Papa langsung menoleh dan menemukan bahwa mamamu sudah terkapar di atas aspal karena di tabrak oleh sebuah mobil. Malam itu juga mama di operasi. Dokter mengatakan bahwa mama mengalami gegar otak ringan dan cedera tulang belakang yang akan menyebabkan mama terpaksa duduk di atas kursi roda untuk sementara waktu.”


“Haaaah? Mama lumpuh?” Tanya Rainy dengan terkejut.


“Tidak lumpuh.” Sanggah Ratna. “Hanya saja diperlukan waktu untuk menyembuhkan cedera di tulang belakang dan diperlukan terapi yang panjang untuk membantu mama bisa berjalan kembali. Itu suatu peristiwa yang sangat menyakitkan hati. Tapi kejadian itu mengembalikan papa pada mama. Semenjak itu papa menjadi sangat patuh dan selalu berada di samping mama untuk merawat dan menemani mama. Papamu bahkan meminta ijin pada kakek dan niwe untuk pindah ke rumah mama agar bisa mengurus mama. Jadi walaupun mama seringkali merasa frustasi karena terikat dengan kursi roda, mama tidak pernah menyesali kecelakaan yang terjadi malam itu. Kalau bisa mengulang, mama pasti akan melakukannya kembali.”


“Kau bisa berkata begitu karena Dokter sudah memastikan bahwa kau tidak lumpuh!” Bantah Ardi. “Seandainya waktu itu vonismu adalah lumpuh seumur hidup, kau mungkin akan membenciku.”


“Tidak akan! Di atas dunia ini, hanya aku yang paling mencintaimu! Lagipula sampai bisa mengalami kecelakaan tersebut adalah salahku sendiri!” Tukas Ratna.


“Bukankan itu terjadi di masa lalu yang telah lama lewat? Mengapa sekarang mama dan papa berbantahan soal itu?” Tanya Rainy dengan heran.


Mendengar ini, Ratna bangkit dari sofa dan berjalan mendekati suaminya. Ia lalu memeluk Ardi dengan hangat membuat Rainy yang melihat mereka, tanpa sadar tersenyum. Bahkan Arka turut tersenyum tipis. Keduanya sangat mengagumi cinta terjalin antara Ardi dan Ratna yang telah melampaui ujian waktu dan problema. Memberikan mereka inspirasi mengenai bagaimana seharusnya sepasang suami istri menjalani hidup bersama.


“Arka, kelak kalau kau menikah dengan Lara, kau harus bersikap baik pada istrimu atau bila tidak, aku akan menghukummu!” Ancam Rainy dengan nada bercanda, tanpa mengalihkan tatapannya dari kedua orangtuanya. Mendengar ini, Arka mengerutkan keningnya dan menoleh pada Rainy.


“Siapa yang bilang kalau aku mau menikahi Lara?” Tanya Arka heran. Rainy langsung menoleh pada Arka dengan kening yang berkerut tak senang. Ia mengulurkan kedua tangannya dan mencubit kedua pipi Arka kuat-kuat. Rainy menarik pipi tersebut ke segala arah sehingga membuat wajah Arka terdistorsi sehingga terlihat lucu.


“Kau pikir dengan wajah bekumu ini, akan ada wanita lain yang mau menikahimu selain Lara?” Tanya Rainy dengan gemas.


“Hm? Apakah Arka menyukai Lara?” Tanya Ratna dengan terkejut. Arka menarik lepas tangan Rainy dari wajahnya dan  mengusap-usap pipinya dengan wajah berkerut.


“Tidak…” Arka hendak menjawab, namun kata-katanya dipotong Rainy.


“Arka bodoh, ma! Seorang gadis seluar biasa Lara menyukainya, tapi ia bahkan tidak mau berbicara dengannya. Putramu ini adalah tsundere sejati!” Cibir Rainy kesal.


“Apakah Lara menyukai Arka?” Tanya Ardi dengan mata terbuka lebar. “Apakah Lara mengatakannya padamu, Rain?”


Rainy menggeleng.


“Tanpa perlu mengatakan apapun, kami semua bisa melihatnya. Sikap Lara sangat berbeda bila di hadapan Arka. Gadis sepintar itu bersikap layaknya pelayan kecil yang siap melakukan apapun untuk Arka, padahal Arka selalu mengabaikannya. Kasihan sekali! Itu semua karena wajah cantiknya ini!” Rainy kembali mengulurkan sebelah tangannya untuk mencubit wajah Arka, namun dengan gesit Arka menghindar.


“Apakah Lara benar-benar melakukan itu?” Tanya Ardi dengan tak yakin.