
Total dibutuhkan waktu 1 jam untuk melakukan proses pemindahan Ardi dari ICCU menuju ruangan VIP, mulai dari proses awal sampai akhirnya Ardi telah berada nyaman di kamar VIP. Ketika kemudian Rainy akhirnya bisa melihat wajah ayahnya yang tersenyum padanya, hati Rainy menjadi sangat terharu. Ia memeluk Ardi dengan erat, membuat Ardi tertawa dan menyuruhnya untuk menjaga wibawanya di hadapannya para pegawainya. Namun Rainy tidak memperdulikannya. Ia sangat bersyukur bahwa dalam 2 hari saja, wajah Ardi tampak lebih segar dibandingkan sebelumnya. Menandakan bahwa kondisinya benar-benar telah semakin membaik.
Setelah puas memeluk ayahnya, Ia menyampaikan niatnya untuk memasang perisai spiritual di otak Ardi. Ketika mengetahui bahwa Lara yang akan melakukannya, Ardy mengangguk dan tersenyum penuh hormat dan rasa terimakasih pada Lara. Lagi-lagi sikap ayahnya ini membuatnya Rainy bertanya-tanya. Mengapa ayahnya terlihat sangat hormat dan penurut pada Guru Gilang dan Lara? Pertanyaan ini telah ada dalam pikiran Rainy selama beberapa waktu, namun ia tidak pernah punya kesempatan untuk menanyakannya pada ayahnya. Namun pemikiran ini sesaat langsung menghilang ketika Lara memandangnya dan mengisyaratkan bahwa ia telah siap. Saat itu, seluruh tim Pandawa, Guru Gilang dan Ratna telah duduk dengan tenang di sofa yang memang tersedia di ruangan VIP tersebut, sementara itu Rainy dan Lara masing-masing berdiri di sisi kiri dan kanan ranjang Ardi. Ruangan sunyi senyap. Hanya beep beep suara monitor jantung yang terdengar mengisi ruangan. Lara menatap ke arah Ardi dan tersenyum lembut.
“Apakah Papa Rainy sudah siap?” Tanya Lara dengan suara lembut. Ardi mengangguk pelan.
“Kalau begitu, Papa Rainy, silahkan matanya ditutup ya.” Suruh Lara. Ardi menutup matanya. Lara lalu meletakkan sebelah tangannya sekitar 5 cm diatas ubun-ubun kepala Ardi, lalu menutup matanya. Sementara itu Rainy turut menutup matanya dan memperhatikan setiap gerak-gerik dan perubahan yang terjadi pada Ardi dan Lara menggunakan cakra Ajnanya. Cakra adalah pusat energi metafisik atau biofisis dalam tubuh manusia. Cakra memiliki hubungan yang sangat erat pada kondisi kesehatan tubuh, ketidaksadaran dan kemampuan spiritual. Cakra Ajna atau cakra mata ketiga adalah cakra utama keenam dari tujuh cakra utama yang ada dalam tubuh. Cakra Ajna yang memiliki kemampuan untuk melihat hal-hal spiritual, termasuk pergerakan energi dalam tubuh. Cakra inilah yang diaktifkannya pada diri Arka ketika Arka meminta untuk diberi kemampuan melihat hal-hal yang tidak kasat mata. Sebagai orang-orang yang dilatih untuk mengelola cakra sejak usia belia, Rainy sudah terbiasa menggunakannya untuk melihat kondisi fisik orang lain ketika dibutuhkan dan itulah yang saat ini dilakukannya. Rainy menggunakannya untuk mendeteksi pergerakan energi yang dilakukan Lara pada tubuh ayahnya. Ia melihat bagaimana energi yang Lara masukkan melalui bagian tengkorak kepala Ardi untuk melindungi otaknya begitu putih bersih dan berkilauan. Walaupun ia sudah menduga bahwa kemampuan spiritual Lara sangat jauh di atas dirinya, namun ia tidak menduga bahwa kemampuan Lara begitu tingginya sehingga Rainy tidak mampu melihat batas dari kemampuan Lara. Mencoba melihat pergerakan metafisik yang datang dari Lara membuat kepala Rainy terasa sangat sakit sehingga pada akhirnya ia terpaksa mundur dan mengistirahatkan cakra Ajnanya. Tubuh Rainy menjadi sempoyongan. Untungnya sebelum ia sempat terjatuh, punggungnya menabrak sebuah tubuh yang berotot sangat keras. Sepasang tangan menangkap pinggangnya dan menahannya agar tidak terjatuh. Rainy menoleh dan bertatapan dengan Raka yang memandangnya khawatir.
“Apa kau tidak apa-apa?” Bisik Raka tepat di telinga Rainy, karena khawatir suaranya akan mengganggu Lara. Rainy mengangguk dan cepat-cepat meletakkan jari telunjuknya ke bibirnya untuk menyuruh Raka agar tidak berbicara. Ia lalu menyandarkan punggungnya pada dada tunangannya tersebut dan kembali mencurahkan perhatiannya pada ayahnya dan Lara, kali ini hanya dengan kedua mata normalnya. Ardi tampak sedang tertidur dengan sangat nyenyak. Ekspresi wajahnya tenang dan tubuhnya sangat rileks, membuat Rainy yang melihatnya merasa tenang. Rainy lalu mengangkat wajahnya dan menatap ke arah Lara, tepat pada saat Lara membuka mata dan menatap balik ke arahnya. Mata Rainy sontak membesar karena terkejut.
“Sudah selesai?” Tanyanya pada Lara dengan terpana. Lara tersenyum dan mengangguk.
“Sudah.”
Rainy mengerutkan keningnya. Ia mengamati wajah Lara dan kerutan di keningnya menjadi bertambah dalam. Bukankah tadi Lara bilang bahwa tugas ini akan sulit dan memakan banyak energi? Mengapa begitu cepat selesai? Lara juga tidak tampak menunjukan ada tanda-tanda kelelahan. Apa tidak salah?
“Apakah benar-benar sudah selesai? Kau baik-baik saja?” Tanya Rainy lagi. Lara mengedipkan matanya perlahan. Sesaat kemudian keningnya berkerut dan tampak seolah ia sedang berusaha memfokuskan penglihatannya. Tak lama kemudian, Lara kembali mengangguk. Ia mengulurkan tangan dan memijat-mijat pelipisnya pelan, lalu berkata,
“Maaf, Boss. Tapi saya merasa sedikit pusing.” Ucap Lara dengan suara lemah. Mendengar ini, Ivan langsung bangkit dan meraih tangan Lara untuk menuntunnya ke arah sofa dan membantunya untuk duduk. Dari atas kepala Rainy, Raka melihat bagaimana Arka mengerutkan keningnya ketika melihat keadaan Lara dan bagaimana Guru Gilang hanya duduk diam di tempatnya, tanpa menunjukan perubahan ekspresi. Sebagai ayahnya, tentu saja Guru Gilang memahami apa yang sedang dilakukan putrinya, namun sebagai orang yang tidak mengetahui apa-apa, Raka mengacungkan jempolnya dalam hati pada Arka. Berulang kali Arka menunjukan bahwa ia sangat jeli dan itu menenangkan hati Raka. Sebab sebagai salah satu pelindung Rainy, tak seorangpun dari mereka boleh lengah dan tidak waspada.
Rainy berjalan menuju sofa dan mengambil tempat duduk di sebelah Lara dan bertanya,
“Apa kau tidak apa-apa?”
Lara menganggukkan kepala.
“Tidak apa-apa, Boss. Hanya sedikit kelelahan saja.” Sahut Lara yang sedang duduk bersandar.
“Rainy,” Ucap Guru Gilang. Rainy langsung menoleh mendengar namanya disebut oleh Guru Gilang.
“Iya, Guru?” sahut Rainy cepat.
“Kondisi Ardi sudah sangat stabil. Lara juga sudah berhasil memasang perisai di sekitar otaknya sehingga iblis tidak akan dapat mempengaruhi pikiran dan mimpinya. Sekarang ia hanya perlu beristirahat dengan tenang dan pulih kembali seperti sedia kala. Iblis sudah tidak akan dapat mengendalikan emosinya lagi, setidaknya selama 2 bulan ke depan.” Beritahu Guru Gilang. Rainy menganggur.
“Syukurlah! Terimakasih, Lara. Terimakasih Guru Gilang.” Ucap Rainy dengan wajah penuh hormat.
“Sekarang bagaimana denganmu? Apakah kira-kira kau akan mampu melawan serangan lain dari iblis?” Tanya Guru Gilang.
“Aku mampu, Guru. Jangan khawatir.” Ucap Rainy, menenangkan Guru Gilang.
“Syukurlah. Beritahu saja aku bila kau membutuhkan bantuan.” Ucap Guru Gilang lagi.
“Baik, Guru. Terimakasih.” Jawab Rainy.
“Oh iya Boss, saya punya sesuatu untuk Boss.” Ucap Lara kemudian. Ia mengambil tas tangannya yang terletak di atas meja kecil disebelah sofa, lalu mengeluarkan sebuah kotak segi empat berwarna merah dan kemudian mengulurkannya pada Rainy. Rainy menunduk dan menatap ke arah kotak tersebut sebelum mengangkat matanya dan memandang ke arah Lara.
“Apa ini?” Tanya Rainy.
“Ini adalah hadiah yang saya dan Papa siapkan untukmu.” Ucap Lara.
“Hadiah?” Rainy menoleh pada Guru Gilang. Guru Gilang mengulurkan tangannya dan mengambil kotak tersebut dari tangan Lara. Guru Gilang lalu membuka kotak tersebut dan mengeluarkan sebuah kalung dengan liontin berbentuk oval berwarna ungu yang cemerlang.