My Beautiful Blue Rain

My Beautiful Blue Rain
Mimpi Buruk III



“Kak? Kak? Bangun Kak?” Sebuah suara asing seorang wanita terdengar di telinga Rainy. Dunia di sekitar gadis itu tiba-tiba terlihat berubah bentuk menjadi tidak nyata; kabur dan bergelombang. Rainy mengerutkan kening dan mengedip-ngedipkan matanya yang tidak nyaman.


“Kak? Kak? Apa Kakak baik-baik saja?” Suara wanita tersebut kembali terdengar. Rainy menatap ke arah Lilian yang tiba-tiba menyatu dengan latar belakang; berubah menjadi skema yang kabur dan tidak berbentuk. Sangat mengganggu penglihatan Rainy. Rainy kembali menutup matanya.


“Kak? Kak? Bangun, Kak?” Suara wanita itu kembali terdengar, kali ini lebih jelas dan dalam jarak yang lebih dekat, seperti sedang berada di depannya. Rainy membuka matanya dan menemukan bahwa ia telah kembali duduk di teras Masjid. Saat itu seorang wanita muda yang mengenakan jilbab berwarna biru muda sedang berjongkok di sampingnya dan berusaha membangunkan Rainy. Wanita itu memandang Rainy dengan ekspresi khawatir. Dalam pelukan wanita tersebut bersandar seorang gadis kecil yang mungkin baru berusia 4 tahun, yang mengenakan jilbab mungil dengan warna yang seragam dengan wanita tersebut, dan sedang memandang Rainy dengan ekspresi khawatir yang sama dengan si wanita. Rainy mencoba mengendalikan dirinya. Terror yang ia rasakan akibat dilemparkan oleh Lilian ke dalam api tadi masih menguasai seluruh jiwanya, membuatnya nafasnya tersengal dan tubuhnya sedikit gemetar.


“Apa Kakak tidak apa-apa?” Tanya wanita itu dengan khawatir. Rainy mengangkat kepalanya dan menatap si wanita, lalu mengangguk.


“Kakak yakin? Apakah Kakak sedang sakit?” Tanya wanita itu lagi. Masih tak sanggup bersuara, Rainy mengangguk pelan.


Gadis kecil di depannya itu berjongkok dan mengambil sebotol air mineral berukuran 600 ml dari dalam tas kresek bening yang tergeletak di lantai, lalu setelah berdiri kembali, ia maju 2 langkah sambil mengulurkan botol tersebut pada Rainy. “Kakak, minumlah.” Suruhnya dalam suaranya yang kekanak-kanakan. Melihat perilaku gadis kecilnya, wanita itu tersenyum.


“Nayla benar, sebaiknya kakak minum dulu. Terimalah, kak.” Ucap si wanita kemudian. Rainy mengulurkan tangannya yang masih sedikit gemetar dan menerima botol air mineral tersebut. Ia menatap ke arah si gadis kecil dan mengangguk pelan.


“Terimakasih, Nayla.” Ucap Rainy dengan suara pelan. Si wanita mengulurkan tangan dan memutar tutup botol air mineral tersebut untuk membukakannya bagi Rainy. Sikapnya yang penuh perhatian tampak begitu luwes dan tidak berlebihan, seolah-olah Rainy bukanlah orang asing yang baru ditemuinya sore ini.


“Minumlah, kak.” Suruhnya. Dengan patuh, Rainy mengangkat botol tersebut dan menempelkan ujungnya yang terbuka ke bibirnya. Rainy lalu meminumnya dalam 2 tegukan kecil dengan perlahan, sebelum kemudian menurunkan botol tersebut.


“Apakah kakak tidak apa-apa?” Tanya si wanita lagi. Rainy menggelengkan kepalanya.


“Saya tidak apa-apa. Maaf sudah merepotkan.” Sahut Rainy pelan. Suaranya terdengar serak dan lemah, membuat wanita di hadapannya tersebut mengerutkan keningnya.


“Tapi kakak tidak terlihat baik, lho. Wajah kakak sangat pucat dan berkeringat. Apa kakak tidak sedang kesakitan?” Tanya si wanita lagi. Rainy menggeleng.


“Kakak tadi bergerak-gerak gelisah dan tampak tidak nyaman. Saya kira kakak tadi sedang sakit hingga tak sadarkan diri.  Apa kakak tadi tertidur?” Tanya si wanita. Rainy mengangguk.


“Sepertinya tanpa sadar tadi saya tertidur dan bermimpi buruk.” Sahut Rainy.


“Ah, begitu. Syukurlah kalau kakak baik-baik saja.”


“Terimakasih karena sudah membangunkan saya.” Ucap Rainy dengan tulus. Bila wanita di hadapannya itu tidak membangunkannya, Rainy tidak tahu berapa lama lagi ia akan berada di bawah siksaan Lilian. Mendengar ini, si wanita hanya menggeleng.


“Kata Papa, apabila sudah Maghrib, sebaiknya jangan tidur. Karena saat Maghrib banyak iblis yang berkeliaran untuk mengganggu manusia.” Ucap Nayla dalam suara kekanakannya yangmenggemaskan. Rainy mengangguk.


“Emm. Papa Nayla benar. Gara-gara tertidur, kakak bertemu dengan iblis di dalam mimpi.” Sahut Rainy membenarkan.


“Aaah?” Gadis kecil itu berjalan mendekat dan berjongkok di hadapan Rainy. “Apakah iblisnya menakutkan?” Tanyanya dengan ekspresi yang ingin mengajak bergosip. Rainy menggeleng.


“Aaah? Tempat yang menyeramkan?” Tanya si gadis kecil lagi. Rainy mengangguk. “Seperti apa tempatnya?”


“Kakak tidak berani memberitahu Nayla karena nanti Nayla bisa takut.” Sahut Rainy dengan ekspresi khawatir. Namun gadis kecil itu menggelengkan kepalanya kuat-kuat.


“Tidak takut!” Tolaknya dengan keras kepala. “Nayla sudah besar! Tidak gampang takut.” Mendengar ini, tak urung kedua sudut bibir Rainy sedikit terangkat. Melihat Nayla yang penuh rasa ingin tahu, si wanita menarik nafas panjang dan menggelengkan kepalanya.


“Ayo Nayla, kakaknya masih tidak enak badan, sebaiknya jangan diganggu!” Wanita itu mengulurkan tangan ke arah Nayla dan menariknya kembali ke dalam pelukannya.


“Kakaknya habis bermimpi buruk, bukan sedang sakit, mama!” Protes Nayla dengan kening berkerut.


“Nayla ingat tidak apa yang akan Nayla lakukan setiap kali Nayla habis bermimpi buruk?” Tanya Wanita itu. Nayla menatap ibunya sesaat, tampak sedang berpikir. Tak lama kemudian kepala mungilnya menggeleng.


“Setiap kali habis bermimpi buruk, Nayla akan menangis karena ketakutan atau karena tubuh Nayla terasa tidak nyaman.” Beritahu ibunya. Nayla menoleh pada Rainy dan berkata,


“Ooh, jadi kakak merasa takut dan tidak nyaman? Kakak apabila mau menangis, menangis saja! Jangan takut, Nayla tidak akan tertawa kok.” Ucap Nayla dengan baik hati.


“Kakaknya bukan ingin menangis, tapi hanya sedang tidak enak badan karena mimpi buruk tersebut.” Beritahu ibunya. Bibir Nayla membentuk huruf O yang menggemaskan.


“Menangis saja! Nanti tidak enak badannya hilang!” Seloroh Nayla dengan yakin. Kata-katanya membuat si wanita menggelengkan kepala dengan geli, sementara Rainy memandang gadis kecil tersebut dengan tatapan yang hangat. Betapa mungil, betapa menggemaskannya! Nayla masih sangat kecil namun sudah penuh perhatian pada orang lain. Ia pasti dibesarkan oleh orangtua yang penuh dengan kasih sayang dan sangat perhatian.


Suara-suara langkah kaki keluar dari Masjid mengalihkan perhatian mereka. Ibadah Sholat Maghrib telah selesai dan para jama’ah telah berjalan untuk keluar dari ruangan sholat. Rainy melihat Raka berjalan dengan langkah lebar menuju ke arah masih dengan senyum yang menghiasi bibirnya. Begitu melihat bahwa Rainy tidak sedang sendirian, Raka mengangguk pada ibu Nayla yang segera berdiri untuk memberi Raka tempat sambil menarik Nayla ke dalam pelukannya. Sesaat kemudian perhatian Raka kembali tercurah pada Rainy dengan hangat. Namun begitu ia melihat ke arah Rainy dengan lebih seksama, Raka menjadi terkejut melihat wajah pucat gadis itu dan ekspresi lelah yang masih terlihat di tubuhnya.


“Rain, ada apa? Mengapa kau terlihat seperti ini?” Tanya Raka dengan khawatir. Rainy hanya menggelengkan kepalanya dan menatap Raka dengan ekspresi yang tanpa disadarinya terlihat seperti hendak menangis.


“Kakak mau menangis karena badannya tidak enak, Oom.” Beritahu Nayla dengan baik hati. Ibunya sampai merasa perlu untuk menutup mulut Nayla dengan telapak tangannya karena malu sekaligus geli pada tingkah putrinya. Ia menatap Raka dengan ekspresi meminta maaf.


“Sepertinya tadi kakaknya bermimpi buruk dan mungkin sekarang masih sedikit shock karena mimpi buruknya. Tolong, maafkan putri saya. Ia memang sangat cerewet.” Beritahu si wanita. Raka uanya menggelengkan kepalanya pelan dan kembali menatap ke arah Rainy, Tapi Rainy hanya menggeleng. Mencoba memberitahu Raka tanpa menggunakan kata-kata, bahwa ia baik-baik saja. Raka menoleh kembali ke arah Nayla yang sekarang sudah berada dalam gendongan ibunya.


“Kau memanggilnya kakak, tapi memanggilku Oom? Mengapa begitu?” Tanya Raka pada Nayla sambil membantu Rainy bangkit dari duduknya.


“Mmmm…”Nayla tampak berpikir keras. Lalu kemudian ia menjawab dengan yakin. “Karena Oom seperti Oom!” kata-katanya membuat Raka tersenyum geli.


“Jadi Rainy terlihat seperti seorang kakak dan aku terlihat seperti Oom-Oom? Apakah begitu maksudmu?” Tanya Raka sambil tersenyum lebar. Gadis kecil itu mengangguk tegas, membuat Raka tersenyum kecut sementara ibu Nayla kembali mengulurkan telapak tangannya untuk menutup mulut mungil Nayla, membuat tawa terlihat berbinar di mata Rainy, walaupun wajahnya tetap tanpa ekspresi.