
Melihat adiknya terkapar tidak berdaya rupanya memberi suntikan tenaga kepada Maharati yang tadinya telah sangat kelelahan untuk melakukan perlawanan. Gadis itu mengangkat sebelah kakinya dengan cepat dan menendang daerah di antara 2 kaki Mamut dengan sangat keras sehingga membuat tubuh Mamut terbungkuk dan membeku akibat terjangan rasa sakit yang tidak tertahankan. Tangan Mamut yang menahan tubuh Maharati menjadi longgar. Maharati menggunakan kesempatan tersebut untuk berlari ke arah Lauri. Rainy menoleh ke arah Datuk Sanja dan menunjuk pada Maharati dengan wajah penuh ketakjuban. Apakah Datuk lihat itu? Begitu kira-kira pertanyaan tanpa kata yang ditampilkan oleh ekspresi Rainy saat itu.
Dalam perjalanannya menuju adiknya yang terkapar tidak berdaya di tengah pukulan dan tendangan 6 orang pria di sekitarnya, Maharati mengambil sebuah batu yang cukup besar dan menghantamkannya dengan sangat keras ke atas kepala orang yang berada paling dekat dengannya. Walaupun sempat menyadari bahwa ada bahaya yang mendekatinya, pria itu bahkan tak sempat menoleh sebelum batu besar di tangan Maharati menghantam tepat di belakang kepalanya dan membuatnya tersungkur di atas tubuh Lauri dengan kepala berlumuran darah. Tak berhenti sampai disitu, tanpa menunggu korbannya jatuh, Maharati telah menerjang laki-laki yang ada di sebelah korban pertamanya. Pria itu hanya sempat menoleh dengan heran melihat kawannya terjatuh saat tahu-tahu siku tangan kanan Maharati menghantam hidungnya dan saat pria tersebut mendongak ke atas karena hantaman tersebut, Maharati mengakhirinya dengan menendang lututnya ke arah k3m4lu4n laki-laki tersebut. Trik yang sama yang digunakannya pada Mamut. Rainy melompat girang. Dia tak pernah menyangka bahwa ia memiliki leluhur setara Lara Tomb Raider. Wajahnya yang berseri-seri membuat Datuk Sanja menggelengkan kepalanya.
Keempat pengeroyok Lauri saat itu telah menyadari bahwa ada seekor induk beruang yang datang menyerang dengan membabi buta karena mereka menganiaya anak beruang kesayangannya. Pria-pria itu langsung mengabaikan Lauri dan bergerak untuk mengepung Maharati. Namun tanpa gentar, Maharati memasang kuda-kuda, siap untuk melawan.
"BERHENTI!" Suara Mamut menggelegar marah. Ia rupanya telah berhasil mengatasi masalah rasa sakitnya... Er... Atau belum? Karena ia tampak belum bisa berdiri dengan tegak. Hmmm...
"Biarkan dia!" perintah Mamut pada anak buahnya, membuat pria-pria yang mengepung Maharati, melonggarkan kesiagaan mereka. Setelah mendapat kesempatan untuk sesaat terlepas dari ancaman pria-pria itu, Maharati langsung berlari ke arah Lauri yang masih terkapar di tanah. Wajah dan tubuh adiknya itu telah babak belur. Darah mengalir dari hidung, mulut dan sebuah robekan di pelipisnya, sementara matanya tertutup rapat dan tidak bergerak.
"Lauri? Lauri? Apa kau dengar aku? Lauri? Bangunlah!" panggil Maharati dengan panik. Kelopak mata Lauri bergetar sesaat, sebelum akhirnya kepalanya bergerak pelan dan matanya terbuka.
"Kakak..." panggilnya dengan suara lemah.
"Lauri, apa kau masih bisa bertahan?" tanya Maharati.
"Kakak... Apa kau... baik-baik saja?" tanya Lauri dengan susah payah. Kata-katanya membuat Tangis Maharati tercekik di tenggorokannya. Adiknya itu sudah dalam kondisi yang sangat lemah. Namun tanpa memikirkan dirinya sendiri, ia malah menanyakan keadaan Kakaknya.
"Aku baik-baik saja. Mawinei juga baik-baik saja. Tapi kau jadi begini gara-gara kami! Anak bodoh! Kau seharusnya jangan kemari!" protes Maharati sambil menangis dengan keras. Hilang sudah aura pejuang yang tadi melingkupi seluruh tubuhnya dan dalam seketika ia berubah kembali menjadi gadis remaja seperti pertama kali Rainy melihatnya.
"Kau dan Mawinei adalah kakakku... Sudah seharusnya..." ucap Lauri. "Tolong bantu aku bangun." pintanya kemudian.
"Apa kau bisa bangun?" tanya Maharati dengan penuh rasa khawatir karena dari tampilannya saat itu, Lauri tidak terlihat seperti orang yang bisa bangun dan melakukan sesuatu.
"Tolong bantu aku!" pinta Lauri dengan suara yang lebih tegas. Melihat Lauri mencoba untuk mengangkat punggungnya sendiri dari atas tanah, Maharati langsung membantu untuk menopang sebagian besar berat tubuh Lauri dan berhasil untuk membuatnya duduk. Namun saat itu Lauri menyadari bahwa ada yang salah dengan salah satu mata kakinya yang membuatnya menggeretakkan giginya karena rasa sakit. Maharati langsung bergerak untuk memeriksa kaki Lauri dan menemukan bahwa ada sesuatu yang salah pada persendian tumitnya.
"Persendiannya bergeser. Tahan sedikit ya!" ucap Maharati yang tanpa ragu-ragu langsung menarik bagian tumit Lauri untuk memperbaiki posisinya. Sebagai putri seorang Tabib dan anak yang dibesarkan di tengah rimba, Maharati sangat ahli dalam bidang pengobatan, termasuk memperbaiki anggota tubuh yang patah atau bergeser. Hanya dengan sekali tarik, diiringi oleh pekikan terkejut dan kesakitan dari Lauri, Maharati mengembalikan sendi kaki Lauri yang bergeser ke posisinya semula.
"Apa berhasil?" tanya Maharati. Lauri mengangguk. Tumitnya masih terasa sakit, namun tidak lagi menyiksa. Karena itu ia meneguhkan hati dan mengangguk pada Maharati. Membuat gadis itu menangis dan tersenyum secara bersamaan.
"Bagus sekali! Tak salah bila aku memilihmu. Wanitaku memang luar biasa." suara Mamut mengembalikan perhatian Maharati dan Lauri kepada prajurit Iban tersebut. Membuat dirinya memperoleh tatapan penuh kebencian yang berkobar-kobar dari Maharati dan Lauri.
"Sekarang, karena kau tahu saudara laki-lakimu masih baik-baik saja, segera kembali kemari! Atau bila tidak," seorang prajurit iban menjambak rambut Mawinei dan menariknya untuk maju ke sisi Mamut.
"Adikmu yang cantik dan akan segera melahirkan ini, akan jadi korban berikutnya!" ancam Mamut dengan bengis.
Mawinei bukan wanita cengeng. Ia, Maharati dan Lauri dibentuk dari cetakan yang sama. Ia tidak akan pernah mengijinkan dirinya menjadi alasan kehancuran saudara-saudaranya. Karena itulah, walau berada dalam keadaan tidak berdaya di tangan musuh, matanya berkilat tanpa rasa takut.
"Jangan kemari! Jangan dengarkan dia!" bantah Mawinei dengan keras. Ia memandang kedua saudaranya dan menggelengkan kepalanya dengan penuh tekad. Alarm tanda bahaya di kepala Lauri dan Maharati langsung bergema dengan nyaring. Di antara mereka bertiga, Mawinei adalah yang paling keras kepala!
"Pergilah! Selamatkan diri kalian!" suruhnya sambil tersenyum. Mendengar ini, Mamut meraung murka. Ia mengangkat sebelah tangannya dan menampar wajah Mawinei dengan keras.
"Diam!" hardiknya geram. Tamparan itu membuat darah mengalir di salah satu sudut bibir Mawinei, tapi gadis itu sama sekali tidak mengeluarkan suara. Saat melihat Mawinei menjadi korban kekasaran Mamut, secara otomatis Maharati melepaskan tangan-tangannya yang sedang menyangga tubuh Lauri dan langsung bangkit berdiri. Matanya kembali digenangi oleh air mata, bukan karena melihat kekerasan yang dilakukan oleh Mamut pada Mawinei, namun pada tekad yang tergambar jelas di mata adik kembarnya itu.
Mamut menoleh kembali pada Maharati dan berkata dengan suara membujuk yang mendirikan bulu roma.
"Kembalilah kepadaku, Maharati. Kembalilah kepadaku dan aku berjanji bila kau melakukannya, aku akan membiarkan saudara kembarmu hidup." di telinga Rainy suaranya terdengar bagaikan suara serigala jahat yang sedang membujuk mangsanya.
Maharati mengambil langkah maju, namun terhenti begitu melihat sinar mata Mawinei yang terus menggelengkan kepalanya kepada Maharati. Dengan suara tenang, ia berkata,
"Kakak, aku sudah kehilangan suamiku. Dan aku tidak sudi membiarkan anakku terlahir sebagai budak. Karena itu, relakan aku!" dari balik bajunya, Mawinei menarik sebilah belati kecil yang langsung ia hunuskan kepada Mamut, membuat mata semua orang yang sejak tadi terus memperhatikan gerak-gerik Mawinei, jadi membelalakan mata mereka. Namun karena bagian atas rambut Mawinei masih berada dalam cengkeraman salah satu anak buah Mamut, gerakan Mawinei menjadi terhambat sehingga Mamut bisa menghindari serangan belati tersebut dengan mudah. Mamut kemudian menendang belati tersebut hingga terjatuh ke tanah. Setelah itu ia membungkuk untuk mengambilnya dan menghujamkannya ke atas dada kiri Mawinei.