
"Selamat datang, tim Baladewa." ucap Rainy ketika didaulat untuk memberikan sambutan.
"Bisakah kita mengganti nama timnya, boss?" tanya Musa. Beberapa anggota tim kedua tampak tidak puas dengan nama yang diberikan oleh Rainy. Baladewa bermakna bala tentara dewa. Mengapa mereka disebut bala tentara dewa, sementara tim pertama disebut Pandawa, yang bermakna anak-anak dewa. Sungguh perbandingan yang tidak adil! Namun tentu saja tidak ada yang berani protes kecuali Musa. Oh ayolah, anak-anak! Jangan berpikir terlalu berlebihan dengan mengira boss kalian memahami perbedaan antara kedua kata tersebut. Boss kalian tidak sebegitu penuh pemikirannya. Ejek Ivan dalam hati sambil tersenyum geli.
Rainy menyipitkan mata dengan kesal ke arah Musa.
"Boleh saja. Bagaimana kalau diganti Kurawa?" tanya Rainy. Spontan seluruh anggota tim baladewa menggeleng. Mereka lebih rela menjadi bala tentara dewa ketimbang disamakan dengan 100 keturunan Raja Kuru yang penuh rasa iri dan dengki tersebut.
"So, Baladewa it is." tegas Rainy bangga. "Selamat datang di Divisi VII yang baru. Aku akan memberikan kalian waktu 1 hari untuk membiasakan diri dengan kegiatan dan kehidupan disini. Lusa kalian akan mulai bekerja sebagai tim yang sesungguhnya. Apakah kalian sudah siap?" tanya Rainy.
"Siap, Boss!" jawab Baladewa berbarengan.
"Bagus! Untuk pembagian tugas silahkan tanyakan pada Wakil Direktur. Malam ini mari kita berpesta sepuasnya!" ucap Rainy lagi, yang disambut oleh teriakan penuh semangat dari anak-anak buahnya. Setelahnya, ia kembali duduk di kursinya dan menyesap minumannya dengan tenang. Anak buah barunya memandang Rainy dengan mulut terbuka. Cuma itu boss? Apakah tidak ada lagi? Kami diberitahu bahwa anda sangat pelit suara, tapi bisa nggak sih kalau memberikan sedikit kasih sayang pada kami? Keluh tim kedua dalam hati.
Namun begitulah, tanpa banyak basa-basi, perjamuan makan malam itu berlangsung dengan santai. Awalnya karena sungkan, Baladewa menjaga sikap dan bicara dengan hati-hati. Namun sikap Ace, Natasha dan Ivan yang terbuka dan akrab, membuat mereka pelan-pelan melonggarkan kewaspadaannya. Pada akhir malam, Rainy memahami bahwa Ghana dan Sekar adalah pelawak, Julian sangat pemalu, dan sebaliknya Musa sangat tidak tahu malu.
Jam 10 malam, Rainy, Raka dan Arka meninggalkan perjamuan untuk beristirahat duluan. Sementara anggota tim lainnya terus berpesta dan baru pulang ke asrama setelah tengah malam. Keesokan paginya semua orang dibebaskan dari kewajiban latihan pagi sehingga selain Arka, Julian dan Raka yang tak bersedia meninggalkan rutinitas paginya, semua orang masih berada di atas ranjangnya masing-masing, termasuk si boss pemalas, Rainy. Rainy menolak untuk meninggalkan kamarnya sepanjang hari. Membuat Raka terpaksa mengantarkan makan siang dan makan malamnya, karena apabila dibiarkan begitu saja, Rainy tidak akan makan dan hanya menggulung diri dalan selimut layaknya lemper dan tidur sampai keesokan harinya lagi. Yang jelas, hari itu adalah hari paling santai sepanjang sejarah Rainy memimpin Divisi VII.
Saat mendengar kericuhan ini, Raka memerintahkan Rainy untuk tetap tinggal di dalam paviliun, sementara ia Dan Arka keluar untuk memeriksa. Mereka berpapasan dengan Meyliana dan tim keamanan yang sedang berusaha menghentikan para penduduk. Dari salah seorang penduduk yang berhasil Raka tanyai, akhirnya diketahui bahwa para penduduk tersebut sedang mengejar kuyang yang baru saja memangsa seorang bayi dan wanita yang baru melahirkan saat dipergoki oleh seorang dukun beranak yang langsung berteriak minta tolong. Warga kemudian mengejar kuyang tersebut sampai memasuki area resort. Mendengar ini, Raka langsung memerintahkan Arka untuk kembali dan melindungi Rainy, sementara Raka, Meyliana dan tim keamanan resort menyusul warga yang marah untuk memastikan bahwa mereka tidak menyebabkan masalah bagi penghuni resort dan property di dalamnya. Sayangnya tak ada satupun yang menyadari bahwa saat itu, yang sedang mereka cari telah menyelinap memasuki paviliun Rainy.
Saat itu Rainy sedang merebus air untuk membuat 1 poci wedang jahe merah. Karena hari sudah malam dan area pantai sangat berangin, Rainy mengkhawatirkan bahwa tunangan dan sepupunya akan masuk angin, sehingga memutuskan untuk menghidangkan wedang jahe merah tersebut sebagai antisipasi. Rainy sedang bersandar pada konter, menunggu teko berbunyi yang menandakan air panas telah mendidih, ketika ia melihat sekelebat benda hitam melayang dari sudut matanya. Rainy langsung berbalik untuk memeriksa apa yang tadi dilihatnya, namun walaupun sudah mencari ke segala penjuru ruangan, Rainy tidak melihat apapun.
Tak lama kemudian teko bersiul nyaring. Rainy langsung kembali ke depan kompor untuk mematikan kompor dan mengangkat teko. Rainy berbalik dan dengan hati-hati menumpahkan air panas dari teko, ke dalam poci keramik berisi wedang jahe merah instant yang sudah dipersiapkannya. Setelah meletakkan teko kembali ke atas kompor, Rainy memindahkan poci ke atas nampan yang sudah berisikan 3 cangkir keramik, lalu mengangkat nampan tersebut dan meletakkannya ke atas meja makan. Rainy lalu duduk di salah satu kursi dan menuangkan wedang jahe merah ke dalam cangkir untuk dinikmatinya, sambil menunggu Arka dan Raka kembali.
Namun belum sempat Rainy menyesap wedang jahe merahnya, sesuatu berkelebat cepat tepat di hadapannya. Rainy mengangkat kepala dan mengerutkan keningnya. Ia meletakkan cangkir wedang jahenya ke atas meja dan bangkit dari kursi. Rainy merasa yakin bahwa apa yang dilihatnya tadi bukanlah sekedar tipuan mata belaka, tapi benar-benar ada sesuatu yang terbang melintas dengan cepat di hadapannya. Sesuatu itu bergerak dari sudut yang tersembunyi di depan pintu paviliun dan melintasi ruang tamu, menuju sudut tersembunyi yang menuju kamar Raka.
Walaupun mungil, namun Paviliun tersebut terdiri dari 2 lantai. Lantai pertama terdiri dari 2 kamar tidur, sebuah dapur mungil yang dilengkapi dengan meja makan mungil, yang bersambung langsung dengan sebuah ruang tamu. Di lantai kedua terdapat sebuah Loft yang digunakan Arka sebagai kamar dan sebuah teras kecil untuk bersantai dan memandang bintang di langit malam. Kamar Raka berada tepat dibawa tangga menuju loft, sehingga posisinya agak tersembunyi apabila dilihat dari ruang tamu. Di tempat itulah benda yang dilihat Rainy tadi bersembunyi.
Rainy berjalan menuju dapur dan mengambil sebilah pisau daging yang cukup besar dari dalam laci. Paviliun tersebut memang dilengkapi dengan peralatan yang cukup lengkap untuk memastikan penghuninya bisa merasakan bagaikan sedang tinggal di rumah sendiri. Itulah sebabnya berbagai jenis pisau tersedia di laci dapur. Rainy tentu saja akan mengambil yang paling besar dan paling terlihat mengancam untuk melindungi diri.
Dengan penuh kewaspadaan, Rainy berjalan menuju kamar Raka. Ia berjalan dengan langkah lambat, sambil menggenggam erat pisau di tangan kirinya. Jarak antara dapur dan kamar Raka hanya berjarak beberapa meter saja, namun terasa begitu jauh. Waktu serasa berhenti bergerak dan dunia di sekitarnya terasa sunyi sepi. Rainy bahkan bisa mendengar detak jantungnya sendiri yang berdetak sedikit lebih cepat dari biasanya. Instingnya mengatakan bahwa sesuatu yang berbahaya sedang mengamatinya dari sudut tersembunyi di depan kamar Raka. Menguatkan genggaman tangannya pada pisau dapur tersebut, Rainy terus melangkah maju menuju tempat benda itu bersembunyi.
Copyright @FreyaCesare