
Pada akhirnya pidato yang diucapkan oleh Rainy dengan hati yang gonjang-ganjing itu berhasil memenangkan persidangan pagi ini. Tepat setelahnya, seseorang datang memberitahukan bahwa Dr. Batari telah datang untuk memeriksa kondisi kesehatan Rainy, sehingga Rainy yang tiba-tiba memperoleh alasan yang sah untuk melarikan diri dari persidangan Ibunya, kabur secepat yang dimungkinkan oleh langkah kakinya, meninggalkan Ratna yang hanya bisa memandang kelebat punggung putrinya menghilang dari balik pintu yang tertutup di belakangnya dengan mulut menganga.
“Anak iniiiii!!!” geram Ratna kesal. Emosi yang tadi mulai mereda berkat pidato Rainy, saat ini, naik kembali ke titik kulminasi tertinggi dan membuatnya mengertakan giginya dengan kesal. Melihat ini, Raka yang tertinggal di antara para orang tua, menundukkan kepala dengan hormat kepada semuanya dan pamit untuk menyusul Rainy. Namun tentu saja para orang tua tidak akan tinggal diam. Dengan sigap mereka bangkit berdiri dan mengikuti Raka untuk menemui Dr. Batari. Barusan gadis kecil itu mengklaim bahwa dirinya sangat sehat dan tidak kekurangan satu apapun kecuali energi spiritual. Awas saja kalau Dokternya menyatakan hal yang berbeda! Rupanya tidak ada satupun yang ingat bahwa yang memberikan pernyataan tersebut bukanlah Rainy, namun sang ksatria pujaan semua orangtua, Raka.
Rainy memandangi Dr. Batari dengan penuh rasa ingin tahu. Dr. Batari memiliki wajah yang daripada cantik, lebih tepat bila disebut manis dan menggemaskan. Wajahnya berbentuk hati dengan rambut yang dipotong pixie, kulit berwarna kuning langsat dan tubuh yang ramping. Matanya bulat dan besar, hidungnya memiliki ujung yang agak mencuat dan bibirnya mungil. Wajahnya mengingatkan Rainy pada artis Christina Ricci yang pernah terkenal di era tahun sembilanpuluhan, sangat baby face! Sulit dipercaya kalau usianya sudah sekitar 42 atau 43 tahun karena ia lebih mirip wanita yang berusia akhir duapuluhan. Dr. Batari adalah seorang Dokter termungil dan terimut yang pernah Rainy temui. Tingginya mungkin hanya mencapai 155 cm. Kalau mengingat Mr. Jack yang proporsi tubuhnya bisa disandingkan dengan Ace, sulit rasanya melihat Mr. Jack dan Dr. Batari sebagai pasangan kekasih. Mereka lebih cocok jadi pasangan ayah dan anak. Untung saja saat ia bicara, Dr. Batari tidak mengeluarkan suara lembut dan manja atau Rainy akan semakin tidak tertarik menjodohkan Mr. Jack dengan Dr. Batari. Rainy takut bila mereka jadi menikah, Oom Jacknya akan dikira seorang pedofil! Suara Dr. Batari terdengar dewasa, tenang, penuh percaya diri dan memiliki sedikit nada tawa yang menandakan dirinya sebagai pribadi yang suka bercanda. Dr. Batari juga sangat ramah dan mudah tersenyum. Sekali melihatnya, Rainy langsung menyukainya.
DR. Batari bekerja dengan sangat telaten. Ia teliti dan sangat sabar dalam menjelaskan dan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan oleh orangtua Rainy dan orangtua Raka sampai mereka merasa puas. Barulah setelah merasa puas, kedua pasang orang tua ini meninggalkan Paviliun Rainy untuk bersantai di pantai, membuat Rainy mengerutkan bibirnya dengan kesal. Mereka bilang mereka datang karena mengkhawatirkanku. Tapi bukannya terus menemaniku, mereka langsung pergi bermain dengan senang begitu mereka tahu aku baik-baik saja. Hmph! Memang hanya Raka yang paling menyayangiku! Protes Rainy dalam hati.
Setelah meletakkan ketidak puasannya pada orangtuanya jauh ke dasar pikirannya, Rainy kemudian kembali mencurahkan perhatiannya pada Dr. Batari. Semakin ia memandang wanita yang sedang duduk dengan anggun di hadapannya tersebut, semakin Rainy merasa sangat penasaran.
“Apakah ada sesuatu di wajah saya?” Tanya Dr. Batari tiba-tiba. Rainy yang tidak menyangka akan memperoleh pertanyaan ini, menggeleng pelan.
“Lalu mengapa memandangi saya seperti itu? Apakah ada yang aneh?” Tanya Dr. Batari lagi. Rainy menggeleng lagi. Namun setelah berpikir sesaat, Rainy kemudian bertanya,
“Dokter, apakah benar Dokter adalah teman SMAnya paman Jack?” Tanya Rainy.
“paman Jack?” Dr. Batari mengerutkan keningnya sesaat sebelum kemudian ekspresinya kembali santai. “Apakah yang Rainy maksud, Chef Zakaria?” Tanya Dr. Batari. Rainy mengangguk. Melihat ini, Dr. Batari tersenyum. Untuk sesaat mata dan senyumnya memunculkan perasaan nostalgia yang membuat rasa ingin tahu Rainy semakin menjadi-jadi.
“Chef Zakaria adalah kakak kelas saya di SMA. Waktu itu saya masih kelas 1 dan beliau sudah kelas 3.” Beritahu Dr. Batari.
“Apakah sejak SMA beliau sudah setinggi besar sekarang?” Tanya Rainy lagi. Dr. Batari menggelengkan kepalanya.
“Chef Zakaria dari dulu sudah tinggi, namun kurus kering.” Cerita Dr. Batari.
“Paman Jack kurus kering?” Rainy mencoba membayangkan Mr. Jack tanpa otot dan lemak di perutnya. Hmmm… “Saya tidak bisa membayangkannya.” Ucap Rainy, membuat Dr. Batari tersenyum geli.
“Ah. Apakah ia tidak setampan dulu?” Tanya Rainy, ingin tahu bagaimana pendapat Dr. Batari mengenai penampilan Mr. Jack saat ini.
“Dia hanya terlihat berbeda. Tapi sangat pantas untuk usianya.” Sahut Dr. Batari, membuat Rainy menggerutu dalam hati. Please say more! Suruhnya dalam hati. Tapi Dr. Batari sepertinya mampu melihat niat di belakang pertanyaan Rainy sehingga bertanya lebih jauh mungkin hanya akan membuat Dr. Batari menjadi waspada. Tahu bahwa dirinya tak akan memperoleh gosip dari mulut Dr. Batari sendiri, Rainy dengan bijak mengganti topik pembicaraannya.
“Dr. Batari, apakah kolega saya telah menghubungi Dokter mengenai niat kami membuka Poliklinik di Cattleya Resort?” Tanya Rainy dengan nada resmi. Dr. Batari mengangguk.
“Ibu Meyliana menghubungi saya langsung pagi ini.” Sahut Dr. Batari.
“Bagaimana menurut pendapat Dokter?" Tanya Rainy lagi.
“Itu adalah ide yang sangat bagus.” Sahut Dr. Batari.
“Apakah Dokter bersedia menjadi Dokter di Poliklinik tersebut?”
“Selama waktu kerjanya tidak bentrok dengan waktu kerja saya di Puskesmas, saya tidak keberatan.” Jawab Dr. Batari sambil mengangguk-angguk.
“Sepertinya tidak menjadi masalah. Namun mungkin kadang-kadang, ada saat ketika kami membutuhkan bantuan Dokter diluar jam praktek yang umum.” Ucap Rainy. “Sebagaimana Dokter ketahui, Resort ini jauh dari kota dan Puskesmas hanya buka di siang hari, padahal tamu kami bisa saja mengalami gangguan kesehatan secara tiba-tiba kapan saja. Itu sebabnya kami mungkin dapat mengganggu waktu istirahat Dokter sewaktu-waktu.”
“Saya paham. Menemui pasien di luar jam kerja adalah keseharian yang sudah biasa bagi Dokter yang tinggal di desa seperti saya. Jadi Kak Rainy tak perlu merasa sungkan.” Jawab Dr. Batari sambil tersenyum.
“Panggil saja saya Rainy, Dokter. Oom Jack sudah saya anggap sebagai Oom saya sendiri. Karena Dokter adalah teman Oom Jack, maka seharusnya Dokter cukup memanggil saya dengan nama saya saja.” Ucap Rainy. Kata katanya terkesan akrab namun karena diucapkan dengan wajah datar, membuat keseluruhannya sikap Rainy agak terkesan aneh di mata Dr. Batari. Tidak adakah yang mengajari gadis ini bagaimana caranya tersenyum?
Copyright @FreyaCesare