My Beautiful Blue Rain

My Beautiful Blue Rain
Serangan Kuyang



Rainy, Raka dan Arka adalah yang pertama mencapai lift. tanpa menunggu, Arka menutup pintu lift yang mengantarkan mereka langsung ke lantai 3. Mereka yang terlambat mencapai lift, terpaksa harus berlari menaiki tangga menuju lantai 3. Untung gedung Asrama Divisi VII hanya memiliki 3 lantai. Kalau tidak, bahkan orang-orang yang biasa berolahraga seperti merekapun akan merasa kesulitan untuk berlari secepat mungkin menaiki tangga berlantai-lantai. Begitu pintu lift terbuka, Rainy, Raka dan Arka langsung berlari ke kamar 304. Tanpa basa-basi, Arka langsung membuka pintu kamar yang kedap suara tersebut hingga menimbulkan suara keras karena  menghantam tembok. Segera setelahnya mereka memperoleh view langsung ke kamar. Saat itu seorang wanita tampak sedang merangkak dengan menyedihkan di lantai. Tampaknya ia telah terjatuh ketika menghindar dari penyerangnya dan sekarang sedang mencoba melarikan diri dengan merangkak di lantai. Di belakangnya, sebuah kepala dengan rambut awut-awutan dan organ dalam tubuh manusia yang menggantung-gantung, melayang rendah. Ketika mendengar suara pintu terbuka, si Kuyang menoleh dan wajah tuanya yang masih bersih tanpa noda darah, menyeringai menyeramkan. Rainy menarik nafas lega begitu mengetahui bahwa si Kuyang belum sempat menyakiti siapapun.


Entah dari mana munculnya, tahu-tahu Arka sudah menggenggam belati milik Rainy di tangannya. Rainy ingat bahwa ia telah kehilangan jejak belati tersebut sejak mereka berhadapan dengan Kuyang itu untuk pertama kalinya. Ternyata Arka yang telah menyimpannya. Tanpa ragu, Arka melemparkan belati tersebut ke arah si Kuyang dengan maksud menjauhkannya dari Regina. Dengan gesit si Kuyang menghindar. Rupanya ia masih ingat betapa jitunya lemparan pisau Arka, sehingga melarikan diri adalah insting pertamanya begitu ia melihat mereka muncul di depan pintu. Tak lama kemudian para pegawai Divisi VII berdatangan dan memenuhi pintu.


Memahami bahwa pintu bukanlah tempat yang mudah untuk dilewati karena banyak orang yang berkerumun disana, Kuyang tersebut kembali berusaha menerjang kaca jendela. Sayangnya kali ini kaca yang terpasang di jendela bukanlah sekedar kaca yang biasanya. Seluruh jendela di asrama Divisi VII di lengkapi oleh kaca dengan ketebalan 19mm yang memiliki kemampuan untuk meredam suara di dalam ruangan agar tidak keluar dan melewati dinding asrama. Kaca-kaca jendela tersebut nyaris anti peluru. Kau bisa menembakkan peluru untuk memecahkannya, namun tidak cukup sekali tembakan saja. Dibutuhkan beberapa tembakan di tempat yang sama untuk bisa memecahkan kaca jendela. Bila peluru saja tidak mampu, apalagi hanya benda tumpul sejenis kepala manusia; sudah pasti tidak ada gunanya! Jadi bisa dibayangkan yang terjadi. Begitu si Kuyang merasakan dorongan kuat untuk melarikan diri, ia langsung menerjang kaca jendela yang mengarah ke beranda. Namun kepala yang menghantam kaca dengan kecepatan yang sangat tinggi itu, menjadi terpental ke belakang karena daya dorong yang dihasilkan gerakannya sendiri tersebut. Kuyang tersebut tampak sangat terkejut. Ia bahkan terlihat menggeleng-gelengkan kepalanya sesaat, mungkin karena terasa sakit atau membuat kesadarannya sesaat berhamburan keluar. Namun setelah itu si Kuyang memutuskan untuk mencoba kembali.


ketika melihat si Kuyang gagal memecahkan kaca jendela untuk melarikan diri, Rainy dan krunya sempat berpikir menggunakan kesempatan tersebut untuk menangkapnya. mempertimbangkan kemungkinan bahwa Kuyang tersebut mungkin adalah ibu kandung Batari, Rainy memutuskan untuk tidak buru-buru membakarnya sebelum mengetahui dengan pasti identitas si Kuyang. Itulah sebabnya, ia memberikan isyarat kepada anak-anak buahnya untuk menangkap Kuyang tersebut. Mereka bergerak melebar, mencoba mengepung si Kuyang dan memojokkannya ke salah satu sudut ruangan. Belum sempat mereka bergerak jauh, mereka melihat si Kuyang kembali melemparkan dirinya sendiri ke kaca jendela. Dengan perasaan tertarik, mereka melihat si Kuyang menghantam jendela sehingga menimbulkan suara benturan yang keras, yang bahkan tidak menyebabkan kaca tersebut bergetar. wajah si Kuyang menempel erat di kaca, lalu tak lama kemudian melorot turun ke lantai dengan suara sruk bruk yang tidak terlalu ramai. Rainy mengangkat kedua alisnya, sementara pegawai Divisi VII yang berada di sekitarnya, satu-persatu mulai tersenyum geli. Kuyang kan seharusnya menyeramkan ya? Mengapa yang satu ini malah berakting menggelikan?


Saat itu Miranda telah mendekati Regina dan membantunya untuk bangkit dari lantai. Wanita itu tampak menggigil ketakutan. Sedikit saja Rainy dan grupnya datang terlambat, mungkin  Regina sudah terkapar tak bernyawa. Terhadap wanita itu, Rainy hanya mengamatinya sesaat. Begitu memastikan bahwa selain ketakutan, ia tidak terluka sedikitpun, Rainy kemudian mengabaikannya. Ia memiliki hal yang lebih penting untuk diperhatikan. Misalnya mengenai bagaimana cara menangkap kuyang ini hidup-hidup.


Di lain pihak, si Kuyang nampak masih belum bersedia menyerahkan diri pada rombongan manusia di sekitarnya itu. Walaupun pikiranya berkabut, insting membantunya untuk menyadari bahwa ia tidak akan pernah bisa memecahkan jendela untuk melarikan diri, ketika akhirnya ia mampu bangun setelah beberapa kali melemparkan tubuh ke jendela dan terbanting ke lantai, si Kuyang langsung melesat cepat dan melayang tinggi ke langit-langit kamar yang berjarak 3 m dari lantai.


“Tutup pintunya!” Perintah Rainy. Anak buahnya segera menutup pintu kamar rapat-rapat. Sebagian dari mereka berjaga di depan pintu, dan sebagian lagi menunggu di luar. Kuyang tersebut berputar-putar di langit-langit. Tubuhnya yang mengeluarkan pendar warna kemerahan yang redup tampak sangat menyeramkan. kepala tersebut terus berputar-putar dan matanya terus bergerak-gerak untuk mencari jalan keluar. Dengan penuh kewaspadaan, Arka berjalan melintasi ruangan, menuju ke dinding di mana belati yang tadi di lemparkannya tertancap. Mata si Kuyang mengikuti gerakan Arka dengan waspada. Nampaknya ia berpikir bahwa dalam ruangan tersebut, Arka adalah sosok yang paling berbahaya. Setelah mengambil belati tersebut dari dinding, Arka melambai-lambaikan belati tersebut ke arah si Kuyang dengan ekspresi mengancam. Melihat ini, si Kuyang menggeram dan menyeringai pada Arka dengan penuh kemarahan. Ia mungkin kesulitan untuk berpikir dengan normal, namun ia masih ingat bagaimana Arka telah melemparkan pisau dapur hingga menancap di keningnya. Si Kuyang merasa sangat marah.