My Beautiful Blue Rain

My Beautiful Blue Rain
Pertanyaan Batari



“Apakah itu pondoknya?” Tanya Rainy. Saat itu mereka sudah berada di tengah hutan, sekitar 10 meter jauhnya dari pondok yang di duga sebagai tempat tinggal nenek Kuyang.


Julian mengangguk.


“Benar, Boss. Kami melihat seorang nenek yang berwajah mirip dengan Kuyang kemarin, memasuki pondok itu pagi tadi sambil mengangkat setumpuk kayu bakar.” Cerita Julian.


Rainy memandang pondok tersebut dengan seksama. Saat ini pondok itu sedang tertutup rapat. Seluruh bangunannya tampak tua dan tidak terurus. Selain setumpuk kayu bakar yang diletakkan di depan bangunan, tidak ada tanda-tanda bahwa ada orang yang menempati pondok tersebut. Rainy menoleh ke langit dan memandang ke arah matahari yang sedang berada di atas kepala.


Gelapnya malam belum akan datang sehingga bila benar pondok itu adalah tempat tinggal si Kuyang, Kuyang tersebut pasti masih bersembunyi di dalam pondok. Pikirnya.


Rainy menoleh pada Batari. Wanita itu berdiri diam. Tubuh mungilnya tegak dan kaku, layaknya sebuah busur yang direntangkan. Wajahnya tanpa ekspresi, namun tangannya yang terlihat sedikit gemetar. Berdasarkan pembicaraan sebelumnya diputuskan bahwa Batari akan mengetuk pintu pondok itu sendiri agar tidak menakuti si Kuyang.


“Kak Tari, apa kakak sudah siap?” Tanya Rainy. Batari menoleh dan menatap Rainy dengan pupil mata yang tampak bergetar. Dadanya turun naik akibat nafasnya yang pendek-pendek.


“Apakah kakak gugup?” Tanya Rainy kembali. Batari mengangguk pelan.


Mr. Jack yang berdiri di sebelah Batari, mengulurkan tangan dan meraih telapak tangan Batari, membuat wanita itu mengangkat kedua alisnya dan menatap ke arah Mr. Jack.


“Apakah kau mau aku temani?” Tanya Mr. Jack. Batari menunduk sesaat, tampak berpikir. Lalu kemudian ia mengangkat wajahnya untuk balas menatap Mr. Jack dan menggeleng.


“Aku akan pergi sendiri.” Ucapnya dengan suara serak.  Mr. Jack mengangguk.


“Baiklah. Kalau begitu aku akan menunggumu disini.” Ucapnya lagi. Batari balas mengangguk. Batari menoleh kepada Rainy yang disambut oleh anggukan oleh gadis itu, untuk memberikan penguatan. Batari balik mengangguk pada Rainy, lalu memutar tubuhnya untuk berdiri menghadap ke pondok tersebut.


Batari memandang lurus ke arah pondok, menarik nafas panjang dan berusaha meneguhkan hati. Tak lama kemudian  Batari berjalan pelan menuju ke arah pondok sementara Rainy dan yang lainnya bersembunyi di balik pepohonan dan mengamati Batari dari kejauhan. Batari berjalan maju selangkah demi selangkah. Semakin ia mendekati pondok, debar hatinya terasa semakin kencang. Batari berusaha mengosongkan pikirannya dan berkonsentrasi untuk mengatur nafasnya. Ini adalah hal yang cepat atau lambat harus ia hadapi, dan lebih baik ia menghadapinya sekarang selagi ia masih memiliki kesempatan.  Karena bila penduduk mengetahui bahwa pondok tersebut dihuni oleh Kuyang yang selama ini meneror seluruh desa, mereka akan segera menghancurkan pondok tersebut beserta isinya. Bila itu terjadi maka Batari tak akan lagi memiliki kesempatan untuk bertemu dengan ibu kandungnya. Berpikir begitu, Batari mempercepat langkahnya.


Batari menelan ludahnya dan menarik nafas panjang sesaat sebelum memanggil nyaring,


“Ibu, ini aku, Batari.” Tak ada yang menjawab. Batari mengangkat tangan dan mengetuk dengan lebih keras lagi.


“Ibu, bukalah pintunya! Aku ingin bertemu denganmu!” Panggil Batari lagi. Sayangnya, masih tidak terdengar jawaban maupun gerakan dari dalam pondok. Dalam hati, Batari mulai meragukan keberadaan Ibu kandungnya di pondok tersebut. Mungkin saja ia sedang berada di luar rumah. Namun enggan menyerah, Batari kembali mengangkat tangannya dan mengetuk dengan lebih keras.


“Ibu, ini aku, Batari! Keluarlah! Apakah kau tidak mau bertemu denganku?” Panggilnya dengan lebih keras lagi. Namun tetap saja tidak ada yang membukakan pintu untuknya.


Batari menarik nafas panjang. Ia kemudian berbalik, berniat untuk kembali ke tempat Rainy dan yang lainnya menunggu. Namun ia baru berjalan selangkah, ketika suara benda jatuh terdengar dari dalam pondok. Batari spontan berbalik, kembali menghadap ke arah pintu. Batari kemudian menempelkan kupingnya ke pintu, mencoba mendengar suara sekecil apapun yang menandakan bahwa ada sesuatu yang bergerak di dalam pondok. Ia yakin bahwa ia tidak salah mendengar. Tadi memang ada suara benda jatuh yang datang dari dalam pondok tersebut. Batari memukulkan kedua kepalan tangannya ke pintu pondok dan memanggil dengan suara keras.


“Ibu, buka pintunya, bu! Aku tahu kau ada di dalam! Aku bisa mendengarnya. Bukalah pintunya! Apakah kau benar-benar tidak ingin bertemu denganku?” Panggil Batari lagi dengan suara mendesak.


“Ibu, tolong buka pintunya, Bu. Apakah Ibu takut? Ibu tidak perlu takut! Aku tidak akan mencelakakan Ibu! Aku hanya ingin bertemu dan berbicara dengan Ibu. Tolong Bu, buka pintunya untukku!” desak Batari nyaring. Namun pintu itu tetap tidak bergeming.


Batari menurunkan kedua tangannya dan membiarkannya tergantung di sisi tubuhnya. Ia menundukkan kepalanya dan berdiri diam. Bahunya merosot turun membuat tubuh yang mungil dan ramping tampak rapuh dan merana. Mr. Jack yang sejak tadi sudah menunggu dengan gelisah, melihat Batari tampak seperti itu, tak lagi mampu menahan dirinya dan segera melangkahkan kaki untuk berlari ke tempat Batari berada. Namun Raka dan Ace mengulurkan tangan dan menghentikan langkah Mr. Jack dengan menangkap dan memegang erat lengan-lengan Mr. Jack. Batari masih menunduk dan tubuhnya yang masih berdiri diam, terlihat bagai sebatang pohon kecil yang rapuh dan merana.


“Ibu, aku hidup dengan baik. Aku memiliki orangtua angkat yang sangat mencintaiku layaknya anak kandung mereka sendiri. Mereka memberiku semua yang tidak kau berikan. Mereka bukan orang yang kaya raya, namun mereka tidak segan untuk berjuang menyekolahkan aku, sehingga aku bisa menjadi seorang Dokter. Aku sangat berterimakasih pada mereka.” Ucap Batari pelan, namun dengan suara yang jelas. Ia tidak yakin apakah wanita yang ada dalam pondok itu akan mendengarkan, namun bila ia sedang mendengarkan, Batari ingin menggunakan kesempatan tersebut untuk mengungkapkan isi hatinya.


“Tapi tetap saja, ketika aku berada dalam pelukan ibuku, aku teringat padamu, dan bertanya-tanya, apakah pelukanmu sama hangatnya dengan pelukan ibuku? Dan setiap kali ayahku tersenyum kepadaku dan aku melihat wajahku tercermin di bola matanya, aku bertanya-tanya, apakah senyum ayah kandungku akan sama hangatnya dengan senyumnya? Apakah wajahku yang tercermin dalam bola mata ayah kandungku akan terlihat sama bahagianya?” Batari menarik nafas panjang dan melanjutkan.


“Aku tidak mengharapkan banyak hal darimu. Aku hanya ingin tahu siapa kau… siapa ayah kandungku…. dan siapa sesungguhnya aku… Aku hanya ingin tahu, mengapa aku bisa terpisah dari kalian... dan mengapa engkau muncul di hadapanku dalam keadaan yang begitu menakutkan. Ibu, Maukah kau memberitahuku?”