My Beautiful Blue Rain

My Beautiful Blue Rain
Keputusan Bestari



Batari melepaskan diri dari tangan-tangan Mr. Jack dan kembali ke sisi ibunya.


“Ibu,” ucapnya di sela-sela air matanya. “Aku takut kehilangan dirimu!”


Bestari memandang putrinya dengan ekspresi tak berdaya. Ia mengulurkan tangan dan mengusap wajah Batari yang basah oleh air mata.


“Emm. Aku sendiri juga takut kehilangan diriku.” Selorohnya. “Tapi aku lebih takut lagi bila aku mencelakakan dirimu suatu saat kelak. Kau adalah putriku satu-satunya. Aku akan melakukan semua yang bisa kulakukan untuk melindungimu. Bahkan walau itu harus dibayar dengan nyawaku sekalipun!” Beritahu Bestari pada putrinya. “Karena itu, bahkan walau kau menangis sampai menyebabkan lantai bawah tanah ini dibanjiri air matamu, aku akan tetap melakukannya. Tidak ada tawar-menawar!” Bukannya berhenti menangis saat mendengar kata-kata ibunya itu, air mata Batari tampaknya malah tumpah semakin deras. Perilakunya ini membuat Bestari tampak tidak tahu harus melakukan apa untuk menenangkan putrinya. Ia membiarkan kedua tangannya dicengkeram Batari kuat-kuat sementara wanita itu menangis tersedu-sedu. Di belakangnya, Mr. Jack yang berusaha membujuk Batari, sepenuhnya diabaikan. Hingga akhirnya Mr. Jack hanya bisa berdiri di belakang Batari sambil menepuk-nepuk punggungnya dengan perlahan.


Batari menangis selama hampir 30 menit. Saat ia selesai, wajahnya sudah berubah bengkak dan memerah sehingga membuat penampilannya terlihat sangat lucu. Bestari mengusap kepalanya sambil mendengus geli.


“Coba lihat dirimu! Sudah setua itu masih menangis hingga wajahmu sulit untuk dikenali lagi . Sebaiknya segera tutupi wajahmu dan jangan biarkan Jaka melihatnya! Bisa-bisa ia ketakutan nanti.” Goda Bestari dengan geli.


“Tidak! Tidak!” Bantah Mr. Jack yang masih dengan setia berdiri di belakang Batari sambil menepuk-nepuk punggungnya. “Tidak perduli bagaimanapun penampilanmu, pasti akan tetap terlihat cantik. Mana mungkin bisa membuatku merasa ketakutan.” Mendengar ini Batari menoleh pada Mr. Jack sambil tersenyum malu, sehingga membuat Mr. Jack akhirnya bisa melihat wajah yang membuat Bestari berkomentar geli tadi.


“Waduh!” Pekiknya dengan terkejut. “Mengapa wajah cantikmu berubah menjadi bantal?” Mendengar ini, Batari mengangkat sebelah tangannya dan memukul dada Mr. Jack pelan dengan kesal, membuat Mr. Jack dan Bestari tertawa karenanya.


Rainy mengamati mereka bertiga dari tempatnya berdiri dengan tenang. Ia ingin membiarkan Batari tenang terlebih dahulu sebelum mereka melakukan apapun yang bisa membahayakan nyawa Bestari. Berharap walaupun singkat, tapi momen tersebut dapat menjadi salah satu kenangan berharga bagi Batari di masa depannya. Rainy akan berusaha yang terbaik untuk menyelamatkan Bestari, namun ia tetap ingin agar Batari menyiapkan hati untuk menerima yang terburuk. Lagipula Rainy sangat mengagumi sikap tegas Bestari. Ia merasa Bestari memiliki sifat yang sedikit mirip dengan dirinya. Tegas, berlidah tajam dan keras kepala. Rainy merasa bahwa Bestari adalah wanita tua yang sangat keren. Itu sebabnya Rainy berpendapat bahwa Bestari layak untuk diselamatkan.


“Ace.” Panggil Rainy. Mendengar namanya disebut, Ace berjalan mendekat.


“Iya, Boss?” Tanyanya.


“Tolong temui Guru Gilang dan beritahu keadaannya disini. Sampaikan pada Guru Gilang bahwa aku membutuhnya nasihat beliau untuk mengatasi kasus ini.” Perintahnya.


“Siap, Boss!” Sahut Ace. Tak lama kemudian ia telah melesat pergi untuk mengerjakan tugasnya. Di tangga menuju lantai atas, ia berpapasan dengan Arka yang sejak tadi, bersama-sama dengan Tim Baladewa, mengadakan pertemuan dengan para petugas keamanan untuk memperkuat keamanan Resort. Arka kemudian berjalan cepat menuju Rainy dan berkata.


“Kepala Desa Ampari dan 2 orang penduduk baru saja mencapai Resort.” Beritahu Arka. “Dia meminta untuk bisa bertemu dengan Ibu Bestari.”


“Apa mereka memaksa untuk menunggu?” Tanya Rainy. Arka menggeleng.


“Tidak. Aku menolak mereka. Aku mengatakan pada mereka bawa Ibu Bestari sedang dibawa ke rumah sakit di kota B, untuk pemeriksaan karena kondisi fisiknya yang kurang baik, dan meminta mereka datang lagi minggu depan.” Sahut Arka dengan nada datar.


“Mereka tidak punya alasan untuk tidak percaya.” Sahut Arka tanpa nada jumawa, namun seolah-olah keyakinannya itu adalah sesuatu yang sudah tidak perlu diragukan lagi kebenarannya.


“Good Job, Cousin!” Puji Rainy sambil mengacungkan sebelah jempolnya tanpa ekspresi. Perilakunya membuat bibir yang melihatnya tersenyum geli. Bagaimana bisa ekspresi wajah dan perilakunya sama sekali tidak terhubung? Siapa yang memberikan pujian tanpa ekspresi seperti yang Rainy lakukan? Mereka sungguh penasaran bagaimana cara orangtua Rainy membesarkannya hingga ia tubuh dewasa sebagai wanita yang pelit ekspresi seperti itu. Well, kalau saja Ratna dan Ardi mengetahui apa yang dipikirkan oleh orang-orang yang berada di sekitar putri mereka, mereka pasti akan protes dengan keras karena saat belia, Rainy sangat mudah tertawa dan kaya akan ekspresi. Hanya saja setelah mengalami begitu banyak hal, tampaknya Rainy diyakinkan bahwa memasang wajah tanpa ekspresi adalah hal yang paling mudah dilakukan ketika menghadapi banyak masalah di dunia ini, sehingga terciptalah Rainy yang sekarang.


Waktu telah menunjukan pukul 10 malam. Batari telah berhenti menangis, namun wajahnya masih sembab dan memerah. Bestari sudah kembali duduk di atas ranjang sambil makan kacang mede dengan lahap. Dia terlihat tenang, santai dan… gembira? Ketika Rainy menyampaikan komentarnya ini pada Raka, pria itu berkata bahwa setelah Bestari mengalami begitu banyak penderitaan, akhirnya Bestari memiliki kesempatan untuk hidup layaknya orang normal dan bisa berkumpul kembali dengan putrinya. Selama ini ia hidup terasing dari dunia luar dan selalu sendirian, tapi sekarang ia memiliki anaknya yang memperlakukannya dengan penuh kasih sayang. Wajar saja kalau ia bahagia. Seandainya Rainy tidak memiliki rencana untuk menghancurkan ilmu Kuyang dari tubuhnya, mungkin Bestari akan menyarankan agar anaknya membiarkannya menghabiskan hidup di dalam kerangkeng seperti itu sampai akhir hayatnya. Tidak ada yang bisa meragukan ketangguhan wanita itu.


Beberapa saat kemudian Guru Gilang dan Lara memasuki ruang bawah tanah bersama Ace. Setelah memberikan salam pada Guru Gilang, Raka kemudian memperkenalkan Guru Gilang pada Bestari. Guru Gilang menghabiskan 5 menit untuk memeriksa Bestari menggunakan mata batinnya. Dipandangi oleh seorang pria tampan yang usianya sedikit lebih muda darinya, selama 5 menit tanpa berkedip, membuat Bestari tak urung merasa rikuh. Namun Demi ketenangan hati putrinya, Bestari menahannya. Setelah 5 menit berlalu, Guru Gilang berkedip dan membalikkan tubuhnya untuk berbicara pada Rainy dan Batari.


“Energi kegelapan yang dibawa oleh ilmu Kuyang dalam tubuh Ibu Bestari sudah mengisi seluruh bagian tubuh dan menguasai vitalitasnya. Ibu Bestari sudah sangat tergantung pada energi kegelapan tersebut untuk bertahan hidup. Bila kau membersihkannya, maka kondisi kesehatannya akan menurun dan mungkin vitalitasnya hanya akan tersisa sekitar 30% saja.” Ucap Guru Gilang, menyampaikan diagnosanya.


“30%? Apa maksudnya dengan 30%\, Guru? Bisakah guru menjelaskannya dengan lebih mudah?” Tanya Batari dengan suara pecah. Ia merem**-**mas sebelah tangannya dan alisnya terangkat tinggi. Seluruh perhatian tercurah pada Guru Gilang.


“Setelah energi kegelapan dibersihkan dari tubuhnya, Ibu Bestari mungkin akan kesulitan untuk berjalan, mengalami kerusakan sendi, mengalami masalah ginjal atau bahkan masalah jantung. Ia akan menjadi sangat lemah dan mungkin tidak akan bisa pulih seperti sedia kala.” Jawab Guru Gilang.


“Seburuk itu?” Wajah Batari berubah pias. Ia ingin ibunya terbebas dari kutukan Kuyang. Namun apabila kebebasannya itu membuat ibunya menjadi seorang yang sebelah kakinya sudah berada di dalam kubur, Batari tak yakin ia sanggup melihatnya.


“Apakah kondisi ini bisa diperbaiki, Guru?” Tanya Rainy.


“Apabila Ibu Bestari masih muda, tentu saja akan lebih muda untuk diobati. Namun karena Ibu Bestari juga sudah lanjut. Maka ini akan cukup sulit.” Jawab Guru Gilang lagi.


“Bagaimana kalau seusia saya, Guru?” Tanya Batari kemudian. Guru Gilang memandang Batari dengan seksama sebelum kemudian bertanya,


“Berapa usiamu?”


“Saya 43 tahun, Guru.” Jawab Batari.


“Aku melihat bahwa terdapat energi hitam yang sama dengan milik ibumu, bersembunyi dalam otakmu. Tampaknya energi hitam ini adalah energi yang ditinggalkan oleh Ilmu Kuyang pada semua keturunannya, agar lebih mudah dikenali. Walaupun kelak ibumu telah bersih dari energi gelap dan ilmu Kuyang telah dihancurkan, kau harus menjalani pembersihan yang sama, untuk membersihkan energi gelap ini, karena kita tidak tahu apa dampaknya bila energi hitam tersebut dibiarkan saja. Namun untukmu yang masih muda, pembersihan dari energi hitam, walau sama menyakitkannya, tidak akan berpengaruh banyak pada kesehatanmu.” Beritahu Guru Gilang. Batari menunduk sesaat, tampak sedang berpikir. Tak lama kemudian ia mengangkat kepala dan berkata,


“Bagaimana kalau kita membiarkan ilmu Kuyang itu tetap di tubuh ibu sehingga ia bisa tetap sehat, dan  baru memusnahkannya ilmu itu, saat ilmu tersebut sudah berpindah ke dalam tubuhku?” Tawar Batari.