My Beautiful Blue Rain

My Beautiful Blue Rain
Baby, Biarkan Aku Tidur Sebentar Lagi



Ketika Rainy membuka mata keesokan harinya, yang pertama dilihatnya adalah dada Raka yang bidang, yang dipamerkan oleh bagian atas piyamanya yang dibiarkan terbuka. Lagi-lagi pria tidak tahu malu ini naik ke atas ranjangnya. Rainy bertanya-tanya apa yang Raka lakukan hingga berhasil mengusir Lara pergi? Rainy mengangkat dagunya dan memundurkan kepalanya sehingga ia bisa melihat wajah Raka. Bulu matanya yang panjang membentuk bayangan hitam di bawah matanya. Hidungnya yang tinggi dan angkuh membuat wajahnya menyerupai bayangan Rainy mengenai bagaimana wajah aristrokrat yang sesungguhnya. Dan bibirnya yang merah muda itu sedikit membuka, seolah mengundang Rainy untuk mencuri sebuah ciuman. Raka masih tidur dengan sangat nyenyak. Sebelah tangannya terulur di bawah leher Rainy dan menjadi bantalnya. Sementara itu tangannya yang lain memeluk pinggang Rainy. Sebelah kaki Raka melintang di atas kakinya, mengurung Rainy dalam pelukannya.


Bagaimana mungkin orang yang sedang tidur bisa memeluk dengan seerat ini? Pikir Rainy, saat ia merasakan telapak tangan Raka mendorong punggungnya agar tubuhnya semakin menempel dengan tubuh Raka, ketika Rainy bergerak sedikit untuk melonggarkan pelukan Raka. Bukankah biasanya Rainy yang menjadi Koala bila sedang tidur bersamanya? Mengapa hari ini ganti Raka yang menempel erat dan enggan melepaskan dekapannya? Namun tubuh Rainy terasa begitu lemah dan lelah. Mungkin itu sebabnya malam ini ia tidak tidur dengan banyak tingkah. Terdapat beberapa bagian di tubuhnya yang terasa sangat pegal hingga Rainy berpikir untuk pergi ke spa yang ada di resort dan memanjakan dirinya dengan 2 jam massage yang menyegarkan.


Rainy menggerakkan pinggulnya untuk memperbaiki posisinya yang tidak nyaman. Namun gerakannya nampaknya mengusik tidur Raka karena pria itu kemudian mengerutkan keningnya dan menarik nafas panjang. Raka menarik tubuh Rainy semakin dekat dan menyurukkan kepalanya ke dalam relung leher Rainy. Nafasnya yang hangat menggelitik leher Rainy dan membuat tubuh gadis itu menegang. Rainy pikir Raka akan bangun. Namun ternyata nafas Raka kembali melambat, menandakan bahwa pria itu sudah kembali ke alam mimpi. Rainy menarik nafas panjang saat menyadari bahwa ia telah terkunci dalam pelukan Raka dan tidak bisa melepaskan diri. Ia kemudian memejamkan matanya dan memerintahkan dirinya sendiri untuk kembali tidur. Namun gerakan di lehernya, membuat mata Rainy membuka kembali. Rainy merasa kulitnya panas ketika sesuatu yang hangat dan lembut menempel disana. Tak lama kemudian kehangatan itu bergerak naik seinchi demi seinchi menuju titik nadi yang berada di bawah telinganya. Setiap kali benda hangat itu menempel di kulitnya, bulu kuduk Rainy langsung meremang dengan hebat. Tanpa disadarinya, nafas Rainy berubah menjadi lebih berat.


Tangan Rainy bergerak menuju pinggang Raka dan dengan kejam, menggelitikinya kuat-kuat. Pria itu langsung menggelinjang. Sebelah tangannya segera melepaskan pinggang Rainy dan berusaha untuk menangkap tangan Rainy yang menggelitiki pinggangnya. Suara tawanya yang berat dan serak membuat kuping Rainy serasa dibelai dengan penuh godaan. Suara Raka biasanya selalu membuat Rainy mendengarkan dengan hati puas. Namun suara Raka yang baru terbangun dari tidur membuat Rainy ingin menguasai pria itu dan membuat Raka terus mendesah di telinganya sampai Rainy puas mendengarkannya. Menyadari bahwa pikirannya mulai melenceng dari jalur gadis perawan polos yang seharusnya, Rainy menggelengkan kepalanya dan menghentikan siksaannya pada pinggang Raka. Rainy lalu mengangkat dagunya sehingga ia bisa melihat ke arah wajah tampan calon suaminya. Raka balas menatapnya dengan setengah mata yang masih tertutup oleh kantuk.


“Good morning, Raka.” Sapa Rainy lembut. Salamnya dihadiahi oleh senyum sexy Raka.


“Good morning, baby.” Balas Raka.


“Apakah kau sudah bangun sepenuhnya?” Tanya Rainy.


“Hanya satu dari diriku yang sudah terbangun sepenuhnya.” Sahut Raka dengan suara serak. Apa maksud dari kata-katanya itu? Hanya satu dari diriku? Memangnya diri Raka ada berapa? Pikir Rainy heran. Namun tak lama kemudian ekspresi herannya berubah sepenuhnya. Mata  Rainy menyipit dan bibirnya terkatup rapat. Tangannya terulur ke wajah Raka dan mencubit pipi pria itu kuat-kuat dengan kesal.


“Dasar tidak tahu malu!” Celanya.


“Ah! Aku kan hanya berkata jujur.” Ucap Raka membela diri. “Lagipula itu adalah hal yang alami bagi seorang pria yang sedang berada dalam masa emasnya. Itu bukti kalau aku sehat.”


Dengan kejam Rainy menarik pipi Raka semakin keras. Membuat pria itu mengaduh keras.


“Jangan pernah berkata seperti itu pada wanita yang belum menikah! Itu memalukan!” Protes Rainy keras.


“Aku tidak akan pernah mengatakannya pada wanita lain. Aku hanya mengatakannya padamu!” Sahut Raka dengan mata berbinar-binar.


“Dasar mulut manis.” Gerutu Rainy.


“Em! Aku adalah mulut manismu. Dan mulut manismu adalah milikku.” Seloroh Raka sambil menunduk memandangi bibir Rainy dengan tatapan penuh arti. Rainy sampai membuka mulutnya dengan tidak percaya. Sejak kapan Rakanya yang dingin dan penuh martabat berubah menjadi serigala? Namun Rainy tak diberi waktu untuk berpikir lebih lama karena tiba-tiba bibir Raka telah menguasai bibrnya dan membuat Rainy seketika kehilangan kemampuan untuk berpikir. Bibir Raka hangat dan lembut. Nafasnya panas menyapu wajah Rainy dan membuat gadis itu merasa nyaman dan seketika lupa untuk bersikap waspada. Ia membiarkan Raka menciuminya sampai puas. Ketika akhirnya pria itu melepaskannya, Rainy mendesah lega. Mereka berbaring diam dalam pelukan masing-masing, menikmati keberadaan kekasih tercinta yang berbaring disisi. Berharap waktu tidak akan pernah merampas kebahagiaan ini sampai kapanpun.


“Berapa lama aku tidur kali ini?” Tanya Rainy setelah puas bermanja-manja.


“Hanya beberapa jam, seperti jam tidur orang normal biasanya.” Sahut Raka. Sebelah tangannya memainkan seuntai rambut panjang Rainy, mengagumi kelembutan dan kehalusan rasa rambut tersebut di tangannya.


“Benarkah? Syukurlah. Aku sudah takut bahwa saat terbangun ternyata 10 hari telah berlalu.” Ucap Rainy.


“Emm. Aku juga tadinya berpikir begitu. Untunglah itu tidak terjadi. Mungkin karena kau memperoleh tambahan energi dari Lara sebagai supportmu semalam.” Sahut Raka.


“Lara… dia sangat kuat.” Renung Rainy. “Energi yang dia kirimkan padaku sangat besar dan murni. Energi itu bahkan mampu meningkatkan level Hellfire menjadi lebih tinggi dari sebelumnya. Sungguh luar biasa.”


“Emm. Semalam warna Hellfire terlihat lebih pekat. Jadi itu karena energi yang ditransfer Lara padamu?” Tanya


Raka.


“Benar. Tanpa Lara, aku pasti sudah kehabisan energi sebelum pembersihan itu selesai.” Beritahu rainy.


“Syukurlah.” Sahut Raka sambil merapikan alis Rainy dengan ujung jarinya.


“Emm. Syukurlah. Tidak heran juga sih karena dia adalah putri Guru Gilang. Mungkin Guru Gilang sudah mengajarkannya berbagai teknik spiritual sejak ia masih sangat belia.”


“Emm. Bagaimana keadaan Ibu Bestari?” Tanya Rainy lagi.


“Dia hidup, namun tubuhnya saat ini sangat lemah. Saat ini Dokter Batari sedang merawatnya di poliklinik. Rencananya mereka akan membawanya ke Rumah Sakit besok untuk memeriksakan kondisinya. Guru Gilang sudah memastikan bahwa tidak ada lagi energi gelap yang tersisa dalam tubuhnya. Jadi saat ini ia sudah bebas. Yang perlu Ibu Bestari lakukan tinggal memperbaiki kesehatannya saja.” Jawab Raka. Rainy mengangguk. Tanpa sadar tangannya terulur dan hinggap di tangan Raka. Ujung-ujung jarinya kemudian menggambar lingkaran-lingkaran yang tak terlihat di atas tangan pria itu, menyukai rasa kulit Raka di ujung jarinya. Sama sekali tidak menyadari bahwa setiap gerakan yang dibuat tanpa sadar itu mulai membangunkan singa yang sudah lama kelaparan.


“Aku sungguh tidak mengerti. Kuyang seharusnya adalah mahluk yang awet muda dan kuat. Mengapa Ibu Bestari begitu lemah?” Tanya Rainy lagi.


“Kukira itu ada hubungannya dengan gaya hidup ibu Bestari.” Sahut Raka sambil mengatur nafas dan menenangkan rasa hangat yang bergejolak di perutnya.


“Gaya hidup? Apakah ia sempat untuk memiliki Gaya Hidup?” Tanya Rainy bingung. Dalam persepsi Rainy, gaya hidup mengarah pada kebiasaan yang dilakukan seseorang sehari-hari, mulai dari cara berpakaian, cara makan dan cara mencari kesenangan. Tapi gaya hidup Kuyang itu seperti apa? Melepas kepala dan minum darah?


“Tentu saja. Kau tahu pasti gaya hidupnya; Percobaan bunuh diri yang terjadi berkali-kali dan tidak mau makan apapun karena merasa bahwa ia tidak memerlukannya. Aku pikir pada suatu saat, ia mungkin pernah mengurung diri agar saat berubah menjadi Kuyang, ia tidak bisa keluar dan tidak bisa memburu mangsa, yang menyebabkan ia tidak memiliki satu-satunya sumber makanan yang diinginkan Kuyang. Itu sebabnya ia juga tidak memiliki semua kelebihan yang dijanjikan oleh ilmu Kuyang kepada pemiliknya.” Ucap Raka menduga-duga.


“Ah! Itu masuk akal.” Sahut Rainy memperoleh pencerahan. “Bu Bestari bersikeras untuk menolak menjadi Kuyang sehingga ia melakukan apapun yang bisa ia lakukan untuk berhenti menjadi Kuyang. Hal itu menyebabkan fisiknya menjadi lemah sementara disaat yang sama membuatnya tidak memperoleh keuntungan yang dimiliki oleh Kuyang.”


“Begitulah dugaanku.”


“Ia sangat malang. Aku harap ia akan bertahan hidup cukup lama untuk memberi kesempatan bagi Kak Riri untuk menikmati saat hidup bersamanya.”


Mendengar cara Rainy memanggil Batari membuat Raka tersenyum.


“Kau berganti panggilan dengan begitu luwes.” Goda Raka, yang membuat Rainy mengangkat bahu.


“Itu adalah namanya yang sesungguhnya dan karena aku lihat bahwa Kak Riri menyukainya, maka aku tak bisa melakukan apapun selain memenuhi keinginannya.”


Raka mengulurkan tangan dan mengusap kepala Rainy dengan penuh sayang.


“Sayangku memang bijaksana.” Puji Raka.


“Aku sangat lelah.” Keluh Rainy sambil merenggangkan tubuhnya sambil mendesah dengan nikmat. “Kapan kita akan pulang?” Tanya Rainy kemudian. Sama sekali tidak menyadari bahwa gerakan dan desahannya membuat Raka yang sejak tadi harus menahan diri akibat kenakalan jari-jemari Rainy, terancam tidak mampu mempertahankan kewarasannya lagi.


“Setelah memastikan bahwa tidak ada lagi masalah yang berarti, kita bisa pulang.” Sahut Raka. Setelah menarik nafas panjang dan memerintahkan dirinya sendiri untuk tenang,  Raka kemudian menarik tubuh Rainy kembali ke dalam pelukannya.


“Baby, biarkan aku puas memelukmu dulu pagi ini.” Ucapnya.


“Eh? Kau mau tidur lagi?” Tanya Rainy begitu melihat Raka menutup matanya.


“Emm. Aku masih mengantuk. Ini bahkan belum jam 6 pagi.”


“Tapi…”


“Ssst! Tidurlah! Jadilah guling yang baik, jangan bergerak dan biarkan aku memelukmu sebentar lagi.” Rainy memutar bola matanya dengan kesal. Ia meronta keras dan berusaha melepaskan diri.


“Gadis kecil, diriku yang satu lagi sedang sehat-sehatnya. Kalau kau berani bergerak aku akan menganggap bahwa kau telah memberikan ijin kepadanya untuk memakanmu!” Kata-kata Raka ini praktis menghentikan gerakan Rainy. Ia bahkan tak berani untuk bernafas dengan keras, karena takut membangunkan macan yang sedang tidur. Asem!


Berani benar dia menakutiku! Pikir Rainy dengan kesal. Tapi ancaman itu berhasil karena Rainy memang takut. Ia takut karena bila Raka berniat melakukan ancamannya, Rainy akan membiarkan Raka memakan dirinya. Rainy menarik nafas panjang. Sungguh tidak bijaksana menyiksa diri sendiri dengan saling memeluk begini setiap hari. Apakah kamu masokis, Beb? Tanya Rainy pada Raka dalam hatinya. Namun karena ia sendiri masih merasa lelah, Rainy memutuskan untuk balas memeluk Raka dan turut memejamkan mata. Tak lama kemudian mereka kembali tertidur dengan nyenyak.