My Beautiful Blue Rain

My Beautiful Blue Rain
Liontin Untuk Rainy



Liontin itu adalah sebuah batu permata berwarna lavender yang cemerlang berukuran cukup besar, dan dipotong dalam bentuk oval serta diikat oleh platinum dengan cara yang unik. Liontin tersebut tergantung di sebuah rantai platinum yang cukup panjang dan terlihat kokoh. Rainy menyukai perhiasan namun hanya sekedar karena benda-benda itu terlihat cantik. Ia sendiri tidak pernah perduli pada nilai bendanya. Sehari-harinya, Rainy biasanya hanya mengenakan seuntai gelang perak pemberian temannya yang telah tiada, sebuah jam tangan emas yang tipis dan mungil pemberian ayahnya, dan 3 pasang anting berlian mungil berbentuk paku dalam 3 desain berbeda yang dibelikan oleh ibunya, yang memberikan inspirasi bagi Rainy untuk menindik 2 lubang tambahan di masing-masing telinganya, yang terletak di atas lubang tindik yang umumnya dibuat oleh orang lain, dalam jarak sekitar 1 cm antar


setiap lubang, menghasilkan kilau gemerlap setiap kali telinganya terkena cahaya. Itu semua adalah perhiasan yang jarang Rainy lepaskan dan ia cintai karena nilai sentimental di baliknya. Selain semua perhiasan tersebut, Rainy memiliki sejumlah perhiasan mewah yang semuanya adalah hadiah baik dari keluarga, teman, kerabat atau kolega, yang nilainya sangat mahal. Namun biasanya Rainy hanya mengenakannya dalam event-event penting, sementara biasanya Rainy membiarkannya hanya tersimpan dalam lemari besi di bank. Itulah sebabnya ketika melihat kalung yang ditunjukkan oleh Guru Gilang kepadanya, reaksi Rainy terpesona di wajah Rainy bukan karena ia mengenali bahwa batu permata besar yang terikat di liontin itu adalah Lavender Quartz yang langka dengan harga mentah sekitar 100 US dollar perkaratnya, tapi lebih karena ada sesuatu pada batu permata itu yang membuatnya tidak bisa memalingkan matanya. Rainy merasa permata tersebut sedang memanggil-manggilnya dan merayu Rainy untuk menyentuhnya. Rainy mengulurkan tangannya dan menerima liontin kalung tersebut dari tangan Guru Gilang. Saat kulit Rainy bersentuhan dengan permata tersebut, Rainy bisa merasakan sebuah gelombang yang lembut dan sejuk membelai kulitnya, yang datang dari dalam batu permata tersebut. Rainy mengangkat wajahnya dan menatap Guru Gilang dengan terpana.


“Guru, ini…. Apakah ini untukku?” Tanya Rainy. Ekspresi wajahnya membuat Guru Gilang dan Lara, terutama Lara tersenyum senang. Gadis itu mengambil liontin tersebut dari tangan Rainy dan memasangkannya ke leher Rainy.


“Ini adalah hadiah ulang tahun yang kami siapkan untukmu. Namun karena kami pikir kau lebih membutuhkannya saat ini, makanya kami berikan padamu sebelum hari ulang tahunmu tiba.” Beritahu Lara.


“Membutuhkannya? Mengapa menurutmu aku sedang membutuhkan seuntai kalung saat ini?” Tanya Rainy heran.


“Bukankah kau sudah merasakan gelombang yang dihasilkannya?” Tanya Lara. Rainy menunduk dan menyentuh liontin kalung yang sekarang tergantung di dadanya tersebut dengan ujung jarinya. Lagi-lagi gelombang lembut tersebut menyentuhnya dan memberinya rasa nyaman.


“Emm. Apakah ada sesuatu dalam liontin ini?” Tanya Rainy.


“Batu permata itu memiliki kemampuan untuk menenangkan emosi dan meningkatkan kemampuan spiritual. Dalam ukuran sebesar itu, ia akan membantu meningkatkan kemampuan spiritualmu sebesar 50 % sehingga memberimu waktu tambahan dalam pertempuran.” Beritahu Guru Gilang. Rainy dan rekan-rekannya yang memahami maknanya


meningkatkan spiritual bagi seseorang dengan kemampuan spiritual seperti Rainy membuka mata mereka lebar-lebar. 50%? Itu sama saja dengan memiliki waktu lebih dalam masa injury sehingga bisa memberi kesempatan untuk menyelamatkan diri sebelum tubuhnya menjadi tidak berguna karena kehabisan tenaga. Contohnya, apabila kemarin Rainy membutuhkan bantuan Guru Gilang untuk membakar habis ilmu Kuyang dalam tubuh Bestari, dengan adanya batu tersebut, mungkin bantuan Guru Gilang tidak lagi diperlukan! What a cheat!


Ivan mendekat dan memandang ke arah batu itu dengan seksama.


“Ini lavender quartz?” tanyanya pada Lara. Lara mengangguk.


“At least 39 carats?” Tanya Ivan lagi. Lara menggeleng.


"Nilai batu ini bukan pada harganya, namun pada kemampuannya. Semakin tinggi karatnya maka semakin tinggi kemampuannya." Beritahu Lara. "Tanpa khasiatnya itu, Lavender Quartz tidak akan berharga bagi orang-orang seperti kita."


“Terimakasih, Lara. Terimakasih, Guru Gilang.” Ucap Rainy penuh rasa syukur. Hadiah yang mereka berikan sungguh sangat berharga. Membuat Rainy menjadi semakin penasaran dengan latar belakang keduanya. Rainy berpikir akan menyuruh Natasha untuk menggali lebih dalam tentang Guru Gilang dan Lara. Ia bukannya menuduh Guru Gilang dan Lara sebagai orang yang memiliki motif buruk pada dirinya karena terus terang saja, Rainy memiliki perasaan keakraban yang hangat pada keduanya. Namun lebih baik berhati-hati daripada celaka di kemudian hari.


***


Siang itu, Raka membawa para pegawai Divisi VII untuk makan siang, meninggalkan Rainy yang tanpa malu-malu, naik ke atas ranjang ayahnya dan tidur di samping Ardi yang masih belum juga bangun sejak diterapi oleh Lara beberapa jam sebelumnya. Saat semua orang sedang asyik menikmati makan siang mereka, Raka keluar dari private room di restaurant dan menghubungi Lara lewat telepon genggamnya untuk menyuruh gadis itu menemuinya di ruangan yang terletak di sebelah ruangan yang mereka tempati. Ketika Lara memasuki ruangan tersebut, Raka telah duduk menunggu dengan 2 cangkir teh tersedia dihadapannya. Lara mengambil tempat duduk di seberang Raka dan menatap pria tersebut sambil menyunggingkan seulas senyum tipis penuh percaya diri. Hilang sudah aura kekanakan dan tidak berdosa yang selalu ditampilkannya selama ini, berganti dengan aura seorang wanita dominan yang memiliki seluruh dunia di atas kakinya. Raka menatapnya dengan kening berkerut. Walaupun ia mengetahui siapa Lara sesungguhnya, namun sulit bagi Raka untuk membiasakan diri pada sisi Lara yang ditampilkannya saat ini.


“Aku sudah ada disini. Tanyakanlah apa yang ingin kau tanyakan.” Ucap Lara. Ia mengulurkan tangannya dan mengangkat cangkir tehnya dengan anggun.


“Apa yang sesungguhnya sedang kau rencanakan?” Tanya Raka. Lara mengangkat sebelah alisnya dan menunduk untuk menghirup tehnya. Senyum masih menghiasi bibirnya. Setelah menghirup teh panasnya, Lara meletakkan cangkirnya kembali atas meja dengan keanggunan seorang putri bangsawan yang dibesarkan dengan aturan tata krama yang ketat. Ia lalu mengangkat wajahnya dan menatap ke arah Raka.


“Mengapa kau bertanya? Apa kau takut?”


“Apakah aku perlu untuk merasa takut?”


“Padaku?” Lara menggelengkan kepalanya. “Kalau itu tentang Rainy, kau tidak perlu bersikap waspada padaku. Aku dan Papaku tidak akan pernah menyakiti Rainy. Seharusnya kau tahu hal itu.” Ucap Lara dengan tenang.


“Kalau begitu mengapa kau bersandiwara seperti itu saat di rumah sakit tadi?” Tanya Raka dengan kening berkerut.