My Beautiful Blue Rain

My Beautiful Blue Rain
Hallo, Pak Kapolsek…



Raka menatap Arbain, masih dengan senyum palsunya, dan berkata,


“Pak Arbain, kami masih punya hal lain untuk dikerjakan. Karena itu, kami mohon pamit terlebih dahulu.” Ucap Raka. Tanpa memberikan Arbain kesempatan untuk menjawab, Raka memberikan isyarat pada rombongannya untuk meninggalkan tempat itu. Julian, Ivan dan Ace melangkah terlebih dahulu, yang disusul oleh Mr. Jack, dan Batari yang menuntun Bestari untuk melangkah bersamanya.  Baru saja Rainy hendak menyusul dengan Arka berada tepat di belakangnya, suara Arbain terdengar keras,


“Tunggu!”


Seluruh rombongan langsung berhenti melangkah dan menoleh pada Arbain dengan ekspresi bertanya-tanya. Raka menaikkan kedua alisnya dan bertanya,


“Apa masih ada yang ingin dibicarakan, Pak?”


“Pak Raka dan Rombongan silahkan pergi dulu. Tapi kami masih ingin berbicara dengan nenek ini. Jadi tolong tinggalkan beliau disini. Nanti apabila kami sudah selesai, saya pribadi yang akan mengantarkan beliau ke Cattleya Resort.” Ucap Arbain. Raka dan Rainy saling berpandang-pandangan sementara Batari mengulurkan sebelah tangannya untuk merangkul bahu Bestari, berharap bahwa ibunya bisa mengendalikan emosinya dan tidak kehilangan kontrol dirinya sebagaimana yang ia tunjukan ketika Bestari menyadari keberadaan rombongan Rainy di sekitar pondoknya, beberapa saat yang lalu.


Rainy berjalan mendekati Raka. Ia kemudian berdiri di samping Raka, tepat menutupi pandangan penduduk desa Ampari dari sosok Bestari yang mungil, tua dan terkesan rapuh. Sepertinya ini sudah waktunya untuk bermain si baik dan si jahat. Seperti biasa, Raka akan menjadi si baik dan Rainy akan mengambil peran sebagai si jahat. Rainy sangat suka berperan sebagai orang jahat karena itu lebih mudah dan lebih cocok dengan ekspresi wajahnya. Melihat Rainy yang berjalan mendekat memberi Arbain firasat buruk. Wanita ini tidak akan mencoba mempersulitnya lagi kan?


”Jadi anda datang kemari secara berombongan untuk berbicara dengan Ibu Bestari?” Tanya Rainy dengan suara dingin.


“Benar.” Sahut Arbain dengan tenang. Ia tahu bahwa orang-orang yang berada di hadapannya ini tidak akan percaya dengan kata-katanya. Namun ia tidak punya alasan lain yang bisa ia katakan. Lagipula mereka terlalu pintar sehingga alasan apapun tidak akan berguna. Tiba-tiba Arbain merasa kesal karena di desa Ampari, hanya dirinya sendiri yang bisa di kategorikan pintar. Mayoritas warga desa tidak memandang penting pendidikan sehingga desa Ampari hanya dipenuhi oleh orang-orang yang kurang memiliki pengetahuan sehingga tidak mampu membantunya untuk melawan wanita yang ada di depannya ini. Padahal hanya seorang wanita. Mengapa begitu sok kuasa? Sungguh merendahkan kaum pria! Begitu pikir Arbain.


“Anda yakin hanya ingin berbicara?” Tanya Rainy lagi.


“Tentu saja!” Sahut Arbain dengan terlalu cepat.


Rainy mengangkat dagunya dan memandang Arbain dengan mata yang menyipit. Tak lama kemudian ia merogoh kantong celananya untuk mengambil handphonenya dan menekan 1 set angka. Rainy menempelkan handphone tersebut ke telinganya dan menunggu. Selama menunggu, matanya memandang ke seluruh penduduk desa, satu-persatu. Setiap kali matanya menangkap sosok mereka yang sedang memegang senjata tajam, pandangannya akan tinggal  berlama-lama pada orang tersebut. Perilaku Rainy membuat Arbain mulai merasakan firasat buruk menggigiti hatinya.


“Hallo.” Ucap Rainy pada teleponnya, untuk sesaat memindahkan pandangan matanya “Pak Kapolsek, selamat sore.” Kata-katanya ini mengejutkan seluruh penduduk desa. Arbain mengerutkan keningnya. Wanita ini sungguh tak bisa dipandang sebelah mata.


“Saya baik-baik saja, Bapak. Begitu juga Cattleya Resort. Semuanya berkat kerja keras luar biasa Bapak dan rekan-rekan Polisi lainnya sehingga kami bisa bekerja dengan tenang disini….. terimakasih, pak….”


Rainy kembali menoleh pada Arbain dan berkata,


“Saya sedang berada di tengah hutan di pinggiran desa Ampari untuk menjemput salah seorang pegawai saya yang tinggal disini.” Kata-kata Rainy tentu saja membuat semua yang mendengarnya menjadi bingung. Pegawai? Bukankan ia datang untuk mengunjungi Bestari? Mengapa berubah menjadi mengunjungi pegawai? “Tapi kami dihadang oleh penduduk desa Ampari. Ada 33 orang pria, 23 orang diantaranya membawa senjata tajam dan 9 orang membawa tongkat kayu panjang.” Apa? Perempuan ini melaporkan mereka pada polisi? Penduduk desa Ampari tiba-tiba diserang oleh rasa takut. Walaupun mereka belum melakukan apa-apa, tapi mereka memang datang ke hutan ini dengan membawa senjata tajam dengan niat untuk menangkap dan menghakimi Kuyang. Bukan tidak mungkin bila mereka menemukan bahwa wanita tua yang berada dalam perlindungan orang-orang dari Cattleya Resort ini adalah penjelmaan Kuyang, mereka akan membunuhnya tanpa pikir panjang. Tadinya hati mereka dipenuhi oleh ketetapan bahwa mereka akan melakukan apapun untuk bisa menghakimi Kuyang tersebut. Namun mendengar seseorang melaporkan mereka ke Polisi, tak urung nyali penduduk desa Ampari menciut.


“Mereka memaksa agar saya meninggalkan pegawai saya disini karena katanya mereka ingin berbicara dengannya. Anda tahu keadaan desa Ampari belakangan ini kan, pak? Saya khawatir mereka akan menyerang kami, bila kami bersikeras membawa pegawai saya pergi.”


“Tunggu! Kami tidak pernah bermaksud seperti itu!” Bantah Arbain.


“Oh? Lalu apa maksud anda?” Rainy menaikkan alisnya dan menatap Arbain dengan dingin. Ia kemudian melepaskan handphone dari kupingnya dan mengulurkannya ke depan wajahnya sambil berkata,


“Katakan yang jelas pada Bapak Kapolsek. Jangan khawatir, ia akan bisa mendengar anda walaupun anda berbicara dari sana. Teknologi Handphone saya sangat bagus jadi ia tetap akan bisa mendengar suara dari jarak yang cukup jauh. Karena itu beritahu beliau, mengapa anda semua datang kemari dengan membawa senjata tajam dan menghalangi kami membawa pegawai kami yang sudah tua dan sakit-sakitan, untuk pergi dari sini.”


“Kami… kami ke hutan untuk mencari bambu!” teriak Anwar dengan gugup. “Benar kan?” Tanyanya pada teman-temannya. Penduduk Desa Ampari lannya mengangguk-angguk mengiyakan kata-kata Anwar.


“Benar! Kami datang untuk mencari bambu! Kebetulan saja dalam perjalanan kemari, kami mengetahui bahwa ada orang asing yang tinggal di pondok itu. Karena itu kami sekalian mampir untuk memeriksa!” Sambung  Garan dengan cepat. Sesekali matanya berpandangan dengan Anwar dan Arbain.


“Mencari Bambu? Apakah mencari bambu perlu menggunakan batang kayu?” Rainy mengarahkan pandangannya pada batang kayu yang berada di tangan beberapa penduduk desa.  “Apalagi yang sebesar itu. Kalau dipukulkan ke kepala orang, mungkin sudah tak perlu repot-repot ke rumah sakit. Langsung ke kuburan saja!” Komentar Rainy. Mendengar kata-kata Rainy, penduduk desa Ampari yang membawa tongkat tampak panik. Beberapa orang refleks melemparkan tongkat tersebut menjauh sementara yang lainnya berusaha menyembunyikan tongkat tersebut ke belakang punggung mereka. Salah satu di antara mereka cukup kreatif. Ia memberdirikan tongkat tersebut di tanah dan berlagak sedang menggunakan tongkat tersebut untuk membantunya berjalan. Sayangnya tongkatnya terlalu pendek sehingga ketika ia berusaha bersandar pada tongkat tersebut, tubuhnya menjadi terlalu condong ke sisi tongkat dan membuat posenya terlihat aneh. Tingkahnya membuat Julian, Ace dan yang lainnya tersenyum geli. Sementara Rainy menggelengkan kepalanya sambil mencibir dan Arka mendengus jijik. Di sisi Rainy, Raka masih mempertahankan senyum ramahnya yang sejak tadi tidak sedetikpun meninggalkan bibirnya. Rainy menarik tangannya yang terulur dan menempelkan kembali handphonenya ke telinga.


“Mereka pikir kami bodoh dan bisa dibohongi. Saya mohon bapak untuk segera datang kemari karena saya khawatir bila bapak tidak datang, mereka akan mengeroyok kami!” Beritahu Rainy.