My Beautiful Blue Rain

My Beautiful Blue Rain
Berubah Perangai II



Rainy menggelengkan kepalanya dengan tegas.


“Emm. Tidak pernah. Sejak hari Papa terkena serangan jantung itu, Rainy tidak pernah bermimpi buruk  lagi.” Mendengar ini, Ardi menarik nafas lega. Sesungguhnya ia tidak bisa melupakan mimpi buruknya dimana ia melihat bagaimana Lilian menyiksa Rainy dengan melemparkan putri kesayangannya itu ke dalam api neraka berulang kali. Saat ini ia berusaha keras untuk tidak mengingat mimpi tersebut. Namun ketika melihat senyum Rainy, mau tidak mau ia dipaksa untuk mengenang bagaimana putrinya menjadi pucat pasi, dan kemudian tubuhnya rusak lalu meleleh dalam api, untuk kemudian utuh kembali dalam keadaan bersimbah air mata dan semangat hidup yang semakin lama semakin memudar setiap kalinya. Mendengar Rainy mengatakan bahwa ia tidak pernah lagi mengalami mimpi tersebut sungguh sangat melegakan bagi Ardi. Walaupun begitu, tetap saja Ardi merasa butuh diyakinkan.


“Benarkah? Kau berkata begitu bukan karena kau ingin agar papa tidak khawatir kan?” Tanya Ardi. Rainy membuka matanya dan mengangguk kuat-kuat.


“Itu benar, Pa! Papa bisa percaya pada Rainy! Bukankah Papa lihat sendiri bahwa Rainy tidur begitu lama dan tidak bergerak seharian tadi?” Ucap Rainy, mencoba meyakinkan Ardi. Ardi mengangguk. Benar, Rainy tidak terlihat sedang bermimpi saat tidur tadi. Yang ada ia terlihat seperti sebatang kayu yang tidak bernyawa! Tetap dalam satu posisi dan tidak bergerak sama sekali, tak perduli bagaimanapun mereka mencoba membangunkannya! Ardi tidak menyadari bahwa ia menyuarakan pikirannya sehingga membuat Rainy membelalakkan matanya.


“Batang kayu? Mana ada batang kayu bertubuh hangat dan cantik seperti Rainy?” Protes Rainy tidak terima. Sebuah jari nakal menusuk-nusuk lengannya. Rainy menoleh pada si pemilik jari lalu mengerutkan kening dan menurunkan ujung-ujung bibirnya dengan kesal ke arah Arka.


“Tubuhmu keras, konstitusimu biasanya dingin, dan bila berada di luar sana, wajahmu nyaris selalu beku, tanpa ekspresi. Bila kau tidur tanpa bergerak sama sekali, memang agak mirip dengan sebatang kayu sih.” Ucap Arka informatif.


“Apakah kau tahu mengapa ketika menunjukkan jari telunjuk kepada orang lain, empat jari lainnya terlipat ke dalam seperti ini?” Tanya Rainy sambil memperagakan maksudnya dengan tangan Arka yang tadi menusuk lengannya. “Itu karena ke empat jari lainnya menunjuk kepada diri sendiri!” Beritahu Rainy. “Ngaca dong! Wajahmu itu 10 kali lipat lebih dingin daripada wajahku. Apalagi kepribadianmu! 100 kali lipat lebih suram daripada kepribadianku!”


“Emm. Itu sebabnya kita memiliki hubungan darah. Karena kalau aku tidak ada, setiap orang akan bertanya-tanya, mengapa dari papa yang penyayang dan mama yang lembut, bisa lahir anak yang mirip es batu seperti dirimu.” Balas Arka tanpa emosi.


“Waaaah!” ucap Rainy dengan heran. Sambil mengerutkan keningnya, Rainy mengulurkan kedua tangannya dan menguncang bahu Arka dengan kuat. “Hei es batu, kau benar-benar belum akan mati besok kan? Jangan membuatku takut dong!” Sejak kapan? Sejak kapan sepupunya ini tahu caranya mengejek? Mengapa setelah sekian lama hanya berdiri diam dalam bayang-bayang, ia memutuskan untuk keluar dan menunjukkan keberadaannya? Apakah Arka benar-benar sedang membuang perangainya?


“Rainy, jangan mengatai kakakmu begitu!” Tegur Ratna, merasa ngeri pada pilihan kata yang digunakan Rainy, sementara itu Ardi hanya tersenyum geli.


“Rainy, papa mau bertanya.” Ucap Ardi. Mendengar ini, Rainy berhenti menganiaya Arka dan menoleh ke arah Papanya dengan ekspresi bertanya.


“Papa mau bertanya apa?” Tanyanya.


“Apakah sebelum ini, kau pernah mengalami mimpi buruk seperti itu?” Tanya Ardi. Rainy terdiam. Ia dan Arka saling berpandangan. Rainy tahu bahwa Ardi sedang menanyakan sola mimpi buruknya yang telah menyeret Ardi ke dalamnya, namun Rainy tak yakin apakah membicarakan soal mimpi buruk adalah hal yang baik untuk dilakukan. Rainy kembali menoleh ke arah Ardi dan berkata,


“Pa, siapa sih yang tidak pernah mimpi buruk?! Namun mimpi buruk seperti yang Lilian berikan padaku baru kali itu Rainy alami.” Ucapnya jujur.


“Bagaimana dengan Lilith? Apakah ia pernah menemuimu dalam mimpi?” Tanya Ardi lagi. Rainy mengangguk.


“Apakah ia memberimu mimpi buruk juga?” Tanya Ardi lagi.


“Daripada disebut sebagai mimpi buruk, bisa dibilang dia selalu memberi Rainy perasaan yang tidak menyenangkan. Tapi itu mungkin karena Rainy tidak menyukainya.” Jawab Rainy.


“Apa yang dia lakukan dalam mimpimu?” Tanya Ardi ingin tahu.


“Biasanya dia bilang bahwa dia datang ke dalam mimpi Rainy karena dia merindukan Rainy. Lalu kami akan mengobrol ini dan itu. Papa tahulah apa yang selalu dilakukan iblis setiap ia memiliki kesempatan.” Ucap Rainy sambil mencibir saat mengenang rayuan-rayuan Lilith padanya.


“Apa saja yang pernah ia katakan padamu?” Tanya Ardi lagi.


“Hmm… Biasanya ia bercerita soal Niwe atau soal Lauri.” Ucap Rainy hati-hati. Tentu saja ada banyak hal yang telah diceritakan Lilith padanya dan sebagian besar bukan sesuatu yang ingin dibaginya pada kedua orangtuanya.


“Apa ia pernah bercerita soal papa dan mama?” Kejar Ardi. Rainy mulai bisa merasakan bahwa Ardi memiliki sesuatu yang ingin diketahuinya secara khusus dan Rainy merasa bahwa ia mengetahui apa yang ingin ayahnya tanyakan. Namun Rainy tidak yakin apakah itu adalah hal yang layak untuk dibicarakan, terutama di hadapan Ratna dan Arka. Rainy menatap ayahnya sambil berpikir. Matanya yang besar berkedip pelan. Mengenal baik kebiasaan putrinya, Ardi menoleh pada istrinya. Menyadari apa yang diketahui oleh suaminya, Ratna bertanya,


“Apakah ia mengatakan padamu bahwa kau adalah putrinya?”


Mendengar pertanyaan ini, mata Rainy terbelalak lebar. Ia menatap ibunya terpana, setengah tak percaya pada apa yang telah didengarnya. Di sebelah Ratna, Arka beringsut untuk bangkit, namun Ratna menangkap tangannya dan menariknya untuk duduk kembali.


“Jangan pergi!” Tahannya. “Mama dan Papa tak ingin merahasiakan apapun darimu karena kami telah benar-benar menganggapmu sebagai putra kandung kami. Karena itu tinggallah dan dengarkanlah.”


Arka terdiam sesaat lalu mengangguk dan kembali bersandar di sofa. Ia meremas tangan Ratna dengan penuh rasa terimakasih. Ia tidak pernah menduga bahwa walaupun ia telah kehilangan seluruh anggota keluarganya, ia akan memperoleh keluarga baru yang tak kalah berharganya dengan orangtua saudara kandungnya dan itu membuat Arka merasa sangat terharu.


“Terimakasih, Ma.” Bisik Arka pelan. Ratna tersenyum dan menepuk sebelah pipi Arka dengan penuh kasih sayang sebelum kemudian kembali memandang ke arah Rainy. Sementara itu Rainy yang sejak tadi sibuk berpikir, tampak sedikit tersentak ketika menyadari semua mata kembali terarah kepadanya.


“Rainy, katakanlah. Apakah Lilith pernah memberitahumu bahwa kau adalah putrinya?” Ucap Ratna mengulang pertanyaannya. Rainy menoleh ke arah Ardi dengan panik. Ia tidak dapat memutuskan bagaimana cara yang tepat untuk menjawab pertanyaan ibunya karena ia tidak mengetahui sejauh mana Ratna mendengar tentang klaim Lilith atas diri Rainy.