My Beautiful Blue Rain

My Beautiful Blue Rain
Ancaman Rainy



Kepala Desa Ampari adalah seorang pria bernama Arbain yang berusia 31 tahun dan tadinya berprofesi sebagai guru. Arbain dipilih secara aklamasi oleh penduduk desa karena ia adalah satu-satunya pemuda terpelajar yang masih mau tinggal di desa tersebut untuk membaktikan dirinya mengajar anak-anak Desa. Mayoritas pemuda yang terpelajar sudah meninggalkan Desa untuk mencari pekerjaan di kota, meninggalkan orangtua mereka yang hidup dari mengurus sawah dan kebun yang tidak seberapa, dan beberapa pemuda tidak berpendidikan yang tidak suka melakukan banyak hal kecuali membuat keonaran.


Saat masa-masa awal berdirinya Cattleya Resort, pemuda-pemuda ini sering datang untuk mengganggu para pegawai dan tamu. Untuk menghadapi mereka, selain menempatkan sejumlah petugas keamanan dan meminta bantuan Polisi, Raka juga meminjamkan 50 ekor Sapi dan sejumlah uang untuk membangun kandang di Desa Ampari untuk merawat Sapi-Sapi tersebut, dengan syarat bahwa yang merawat Sapi-Sapi tersebut haruslah para pemuda pengangguran yang ada di Desa, agar mereka memiliki pekerjaan. Sebab bila mereka sibuk bekerja, pemuda-pemuda ini tidak akan lagi berkeliaran dan mengganggu petugas serta tamu resort. Apabila mereka tidak mau melakukannya, maka Raka akan mengambil kembali Sapi-Sapi tersebut. Keberadaan Sapi-Sapi tersebut tentu saja merupakan sebuah anugerah bagi para penduduk. Walaupun status Sapi-Sapi tersebut adalah pinjaman, namun mereka bisa mengembangbiakannya  dan anak-anak Sapi akan menjadi milik mereka sepenuhnya. Sudah begitu air susu yang dihasilkan oleh Sapi-Sapi tersebut bisa dijual kembali ke Resort maupun ke tempat lain, atau bisa juga mereka gunakan sendiri. Para orang tua yang tidak mau kehilangan kesempatan meraih keuntungan dari Sapi-Sapi pinjaman Cattleya Resort, kemudian bekerja sama untuk membuat anak-anak berandalan mereka bekerja keras mengurus para sapi tersebut. Terdapat sekitar 7 atau 8 orang pemuda pengangguran tak berguna di Desa Ampari. Bagi mereka semua, mungkin tidak sulit untuk mengurus 1 atau 10 sapi. Namun 50 ekor sapi? Bahkan walaupun mereka sudah bangun pagi-pagi untuk mengurus sapi-sapi


tersebut, mereka baru bisa menyelesaikan semua pekerjaan tersebut di senja hari dan pulang ke rumah dengan tubuh kelelahan sehingga tidak lagi memiliki energi untuk membuat kericuhan. Sejak itu Desa Ampari menjadi lebih tenang dan penduduknya menjadi sedikit lebih makmur dari sebelumnya.


Kepala Desa Arbain telah bertemu dengan Ace dan Natasha sebelumnya, namun ini adalah pertama kalinya baginya bertemu dengan Rainy dan Arka. Untungnya sebagai orang yang pernah lama tinggal di Kota besar untuk menyelesaikan pendidikan, Arbain sudah terbiasa melihat orang-orang dengan paras rupawan, sehingga walaupun sempat terpana saat melihat keduanya, Arbain segera mampu mengendalikan diri dan kemudian menerima mereka dengan sikap yang wajar.


“Kalau boleh tahu, kakak-kakak ini datang kemari dalam rangka apa ya?” Tanya Arbain. Ia dengan cepat dapat menilai bahwa Rainy adalah pemimpin rombongan pemuda rupawan ini, sehingga walaupun ia menyapa dengan sebutan ‘kakak-kakak’, tapi matanya mengarah pada Rainy. Rainy yang memang tidak memiliki pemahaman mengenai mengapa basa-basi adalah sebuah teknik yang sangat penting dalam sebuah percakapan; langsung mengungkapkan tujuannya.


“Bapak Kepala Desa Arbain, nama saya Rainy dan saya datang sehubungan dengan apa yang terjadi pada Dr. Batari hari ini. Saya mendengar bahwa terjadi kasus kematian baru lagi hari ini dan penduduk menuduh Dr. Batari


sebagai pelakunya.” Ucap Rainy dengan wajah datar dan suara dinginnya yang khas. Ucapannya ini, lengkap dengan ekspresi datar dan wajah dinginnya, membuat sang Kepala Desa tertegun. Namun Arbain segera mengendalikan diri dan mengangguk membenarkan.


“Benar. Sangat disayangkan itulah yang terjadi hari ini.” Ucap Arbain dengan wajah serius. “Namun kasus ini sudah kami serahkan kepada polisi dan penduduk Desa sekarang sudah sedikit lebih tenang.”


“Apakah itu berarti Pak Kepala Desa bisa menjamin keselamatan Dr. Batari apabila ia kembali ke rumah?” Tanya Rainy. Mendengar ini, Arbain menarik nafas panjang dan mengerutkan bibirnya.


“Saya sudah menganggap Dr. Batari sebagai kakak saya sendiri.” Sahut Rainy.


“Oh, begitu. Maaf sekali tapi sehubungan dengan pertanyaan kak Rainy tadi, saya terpaksa menjawab: tidak, saya tidak memiliki kemampuan untuk memberikan jaminan tersebut.” Ucap Arbain dengan serius. “Itulah sebabnya saya menyarankan kepada Dr. Batari untuk meminta perlindungan Polisi. Untuk sementara ini, sampai masalah ini diketahui kejelasannya, sebaiknya Dr. Batari tidak usah kembali kemari dulu.” Ucap Arbain lagi. Untuk sesaat Rainy menatap Arbain dengan kening berkerut. Walaupun wajahnya tanpa ekspresi, Arbain bisa menangkap dengan jelas rasa tidak suka yang terpancar dari sorot mata wanita cantik dihadapannya ini. Setelah beberapa saat hanya diam, Rainy kemudian berkata,


“Dr. Batari ada disini untuk bekerja sebagai satu-satunya dokter yang memberikan pelayanan kesehatan bagi masyarakat. Mengapa ia harus menerima perlakuan seperti ini hanya karena dugaan yang belum terbukti? Tidak bisakah anda menjelaskan kepada masyarakat Desa anda, alasan mengapa mereka tidak boleh main hakim sendiri?”


“Kak Rainy, saya memahami ketidak puasan kakak pada perilaku warga kami. Namun mohon kak Rainy memahami bahwa tidak semua warga kami memiliki pendidikan yang tinggi dan banyak diantara mereka sangat mudah dipengaruhi. Cukup satu orang saja yang mengucapkan hal buruk sudah mampu menyulut banyak orang. Apalagi bila banyak orang terus menyebarkan tuduhan-tuduhan yang tidak benar ini, penduduk yang mendengarnya akan dengan mudah mempercayainya. Dibutuhkan waktu dan kesabaran untuk menenangkan penduduk dan mengendalikan semua ini.” Ucap Kepala Desa Arbain, mencoba menjelaskan.


Rainy memandang Kepala Desa Arbain dengan tatapan menyelidik. Sesungguhnya Rainy sedang merasa sangat kesal pada penduduk Desa Ampari yang telah mencoba main hakim sendiri terhadap Batari. Hal ini membuat Rainy tidak bersedia memaklumi kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh Arbain selaku Kepala Desa dalam mengendalikan masyarakatnya.


“Bapak Kepala Desa, saya telah memberitahu pada anda bahwa saya telah menganggap Dr. Batari sebagai kakak saya sendiri. Karena itu bila sesuatu sampai terjadi pada dirinya, saya akan merasa sangat sedih. Asal bapak


tahu, saya adalah pemilik Sapi-Sapi yang sudah dipinjamkan Cattleya Resort kepada penduduk Desa Ampari. Selama hati saya senang, saya tidak keberatan untuk terus meminjamkan Sapi-Sapi saya pada Desa Ampari. Namun bila ada perilaku penduduk Desa Ampari yang membuat saya tidak senang, saya tidak akan segan untuk mengambil kembali semua sapi yang sudah saya pinjamkan kepada Desa Ampari, beserta bunganya.” Ancam Rainy. Mendengar ini, bukan hanya  Arbain saja yang merasa terkejut, bahkan anggota timnya juga merasa sangat terkejut. Dr. Batari adalah orang yang baru dikenal oleh Rainy beberapa hari yang lalu. Mengapa Rainy sudah membelanya sampai seperti ini? Namun walaupun mereka bertanya-tanya, Natasha, Ace dan Arka adalah orang-orang professional yang tidak akan menunjukan emosinya di depan klien, apalagi di depan lawan bossnya.


Copyright @FreyaCesare