
"Siapa kalian? Apa yang kalian inginkan?" tanya pria itu.
"Apa yang aku inginkan?" Senyum bengis yang mendirikan bulu roma, perlahan-lahan mengembang di wajah Rainy.
"Sungguh kau mau tahu?" tanya Rainy. Auranya yang dingin membuatnya tampak seperti jelmaan malaikat maut. Masih sambil mencengkeram leher si iblis yang terus meronta dalam upayanya untuk melepaskan diri, Rainy mengulurkan sebelah tangannya yang bebas kepada Arka, dalam keadaan telapak tangan mengarah ke langit-langit. Arka hanya menatap tangan itu sekilas, untuk kemudian, tanpa bertanya, ia meletakkan belati di tangannya ke atas telapak tangan Rainy. Raka mengenali belati tersebut sebagai belati antik yang diberikan Jaya Bataguh sebagai hadiah ulang tahun Rainy yang ke 10. Well, tidak perlu lagi menduga-duga dari mana sisi brutal Rainy berasal kan? Kakek mana yang menghadiahi anak perempuan berusia 10 tahun sebilah belati? Mungkin hanya Jaya Bataguh seorang yang terpikir untuk melakukannya.
Rainy memutar belati tersebut di tangannya dengan luwes. Ia lalu meletakkan ujung jari telunjuknya ke atas sisi tajam belati tersebut. Darah segar langsung menetes dari luka yang terbuka, mengalir menodai sisi belati yang tajam. Saat darah mulai mengalir keluar dari luka Rainy, tubuh si iblis tiba-tiba menegang. Matanya terbuka lebar dan ekspresi teror tergambar jelas di wajahnya. Sesaat kemudian si iblis meronta lebih keras dari sebelumnya. Rainy memandangnya dengan ekspresi yang menyatakan bahwa ia sedang menatap seseorang yang sedang berbuat kebodohan sehingga membuatnya sangat bosan.
"Laura," ucapnya tanpa menoleh. Laura yang bersembunyi dalam pelukan Sutrisno, mengangkat kepalanya. "Aku akan mewakilimu untuk membalas dendam kepada yang satu ini. Tapi untuk yang satunya lagi, kau harus melakukannya sendiri." Rainy menoleh pada Laura dan bertanya pelan,
"Apa kau akan bisa melakukannya?"
Laura memandang Rainy dengan mata terbuka lebar. Wajahnya tampak pucat dan tubuhnya bergetar akibat rasa takut. Namun bibirnya mengatup rapat, membentuk sebuah garis lurus, menandai ketetapan hatinya.
"Bi..." nafas Laura tercekat, membuat suaranya menghilang. Gadis itu menarik nafas panjang. Ia keluar dari perlindungan tangan-tangan Sutrisno dan duduk dengan tegak. Kedua tangannya terkepal kuat di pangkuannya. Dagunya terangkat, menunjukan ketetapan hatinya.
"Aku bisa!" Ucap Laura dengan suara tegas. Mendengarnya, sebelah bibir Rainy terangkat naik. Dengan menyipitkan matanya, Rainy memutar belati di tangannya dan menghunjamkannya sekuat tenaga, ke dada si iblis. Tubuh si Iblis langsung menegang dan matanya terbelalak lebar. Rainy melepaskan cengkeraman tangannya dari leher si iblis dan membiarkan tubuh iblis tersebut jatuh ke lantai.
Raka mengulurkan sehelai sapu tangan katun ke tangan Rainy, yang digunakan Oleh Rainy untuk mengelap belatinya. Hal ini membuat Raka mengernyitkan alisnya dengan kesal. Rainy menyerahkan belati yang telah bersih dari noda darah itu kepada Arka. Ia menunduk dan memandang si iblis yang meringkuk tak berdaya di bawah kakinya. Dari sudut matanya, ia bisa melihat Lilian sedang berdiri bersandar di dinding, tepat di belakang punggung pasangan yang semenjak tadi masih memandang bingung dari depan pintu kamar Laura.
Lilian melipat tangannya di depan dada. Wajahnya menunjukan ekspresi jemu, seolah-olah ia sama sekali tidak terpengaruh dengan apa yang telah di lakukan Rainy. Tak terpengaruh? Hmph! Siapa yang mau kau bohongi? Kau tak akan muncul disitu apabila kau benar-benar tidak menganggap penting kejadian ini! Pikir Rainy. Menatap lurus pada Lilian, Rainy mengangkat sebelah kakinya dan menendang perut si iblis. Iblis tersebut mengerang lemah, namun tampaknya sudah tak berdaya untuk melakukan apapun. Melihat hal ini, mata Lilian menyipit, membuat senyum jahat Rainy kembali mengembang. Gotcha!
Rainy mengalihkan pandangannya ke arah pasangan di depan pintu kamar Laura. Sambil membersihkan telapak tangannya dengan sapu tangan, Rainy melangkahkan kaki untuk berjalan mendekati pasangan tersebut. Dengan sengaja memastikan sebelah kakinya menginjak tubuh si iblis.
"Anda pasti ibunya Laura." kata Rainy pada Sinta, masih memamerkan senyum kejamnya. "Hallo, nama saya Rainy. Saya datang atas permintaan Laura, untuk melakukan apa yang tidak bisa engkau, sebagai ibunya, lakukan; yaitu melindungi Laura." Secara teknis, Sutrisno lah yang mengajukan permintaan tersebut pada Rainy. Namun Rainy tak keberatan untuk merekayasa fakta tersebut guna memperkuat efek dari kalimatnya. Apabila mereka tahu bahwa Sutrisno yang telah memanggilnya untuk datang ke rumah ini, Sutrisno bisa kehilangan pekerjaannya. Hal itu akan menyebabkan Laura kehilangan satu lagi pelindungnya. Namun bila Laura yang memanggilnya ke rumah ini, Orangtua Laura tidak akan bisa berkata apa-apa.
Kata-kata Rainy yang tanpa filter tentu saja membuat Sinta merasa marah.
"Apa maksudmu?"
"Maksudku? Hmmm... Kalau tidak melihat, memang akan sulit untuk memahami ya." Cetus Rainy. "Apakah kau sungguh-sungguh ingin tahu?" Tanya Rainy lagi. Senyumnya membuat bulu kuduk Sinta meremang. Namun Sinta bukanlah orang yang mudah mengalah pada rasa takut. Perilaku Rainy yang aneh dan respon Laura yang untuk pertama kalinya selama berbulan-bulan, menunjukan tanda-tanda kewarasan, membuat Sinta penasaran.
"Beritahu aku apa kau lakukan disini... Apa yang kau lakukan pada putriku." ucapnya tidak gentar. Rainy mengangguk.
"Kalau begitu... kemarilah." perintah Rainy. Sinta melangkah maju, namun tangan Brata menahan tangannya.
"Jangan kesana!" perintah Brata. Sesungguhnya Brata juga tidak memahami apa yang sedang terjadi. Namun tingkah aneh Rainy dan kekejaman yang mewarnai wajahnya, mendirikan bulu roma Brata. Memberikannya firasat bahwa akan ada sesuatu yang buruk akan terjadi.
Sinta melepaskan tangan Brata dari pergelangan tangannya dan kembali melangkah maju. Ketika sampai di hadapan Rainy, yang sebenarnya hanyalah berjarak beberapa langkah saja, ia memandang gadis itu lurus-lurus dan berkata.
"Beritahu aku."
"Kenapa aku harus menutup mata?" tanya Sinta waspada.
"Setelah kau menutup mata, saat matamu membuka kembali, kau akan mengetahui apa yang ingin kau ketahui." jelas Rainy dengan sabar. Bulu mata Sinta bergetar. Ia merasa takut dan curiga, namun ia juga sangat penasaran. Akhirnya rasa penasaranlah yang menang. Menguatkan hatinya, Sinta menutup matanya.
Setelah Sinta menutup matanya, Rainy mengulurkan sebelah tangannya dan menutupi kedua mata Sinta dengan telapak tangannya. 3 detik kemudian, Rainy menarik kembali tangannya dan berkata,
"Sekarang bukalah matamu dan lihatlah."
Sinta membuka matanya dengan perlahan. Hal pertama yang dilihatnya adalah tubuh seorang pria berkulit hitam legam, yang tergeletak di lantai dengan kondisi tubuh yang meringkuk dan tidak bergerak, dengan punggung menghadap ke arah Sinta. Sinta menjerit karena terkejut. Bagaimana bisa ada seorang pria asing tergeletak di atas lantai kamar putrinya? Tapi dari mana pria itu berasal? Mengapa ia tiba-tiba ada disitu? Memahami berbagai pertanyaan yang berkecamuk di pikiran Sinta, dengan murah hati Rainy menjelaskan.
"Sejak tadi dia sudah ada di sana, hanya saja kau tidak bisa melihatnya."
"Tidak.. bisa melihatnya...?" ulang Sinta bingung.
"Saat kau menutup mata, aku membuka mata batinmu, dan memberimu kemampuan untuk melihat yang tidak terlihat." ucap Rainy lagi.
"Yang tidak terlihat...? Bagaimana manusia bisa tidak terlihat?" tanya Sinta, terbata-bata.
"Apakah kau tidak melihat tanduk di kepalanya ini? Memangnya ada ya, manusia yang memiliki tanduk?" Rainy menunjuk pada kepala si Iblis yang tersembunyi dari pandangan Sinta yang berdiri di belakang punggung si iblis.
"Tanduk?" Sinta berjalan mendekati tubuh tersebut agar ia bisa melihat dengan lebih baik. Dan benar saja, Sinta melihat 2 buah tanduk mencuat dari kepala pria itu, membuat Sinta melangkah mundur ketakutan.
"Apakah... dia... bukan manusia...?" tanya Sinta terbata.
"Emm. Dia Iblis level terendah. Biasanya sangat lemah. Kemampuannya biasanya hanyalah menyesatkan manusia dengan mengobarkan nafsu mereka. Manusia yang disesatkannya akan mengeluarkan energi negatif yang menjadi makanan bagi iblis ini. Semakin buruk perilaku manusia tersebut, maka semakin meningkat kekuatan dan kemampuan si iblis." jelas Rainy.
"Apakah iblis ini yang mengganggu Laura dan menyebabkannya sakit?" tanya Sinta lagi.
"Benar... Iblis ini yang menyerang Laura setiap malam. Memberinya mimpi buruk, bahkan menyerangnya secara fisik. Tapi, bukan iblis ini yang menyebabkan Laura sakit." Rainy menggerakan sebelah kakinya dan menggunakannya untuk mendorong dagu si iblis sehingga wajahnya terangkat dan dapat dilihat dengan jelas. Melihat wajah si iblis, mata Sinta langsung terbuka lebar.
"Sinta," Suara Brata memanggil dari depan pintu kamar. Sejak tadi ia diliputi oleh rasa takut yang mencekam. Ia merasa apabila ia berani memasuki kamar Laura, maka sesuatu yang buruk akan terjadi pada dirinya. Itulah sebabnya Brata masih berdiri di depan pintu kamar Laura dengan canggung; tak tahu apa yang sedang terjadi, dan tidak bisa memahami percakapan yang sedang berlangsung. Itu sebabnya ia memanggil istrinya untuk meminta penjelasan. "Sinta, apa yang sedang kau bicarakan? Siapa orang-orang ini? Beritahu aku, ada apa sebenarnya?" tuntutnya.
Tubuh Sinta gemetar dengan hebat. Sejak melihat wajah iblis itu, firasat buruk menekan hatinya dengan begitu menyakitkan, membuatnya kesulitan untuk bernafas. Ia menoleh pada Brata dan berkata pada suaminya tersebut dengan suara bergetar.
"Brata, mengapa wajah iblis ini... mirip dengan wajahmu?"
Copyright @FreyaCesare