
“Kau terlihat merah. Persis seperti kepiting yang baru direbus. Lucu sekali.” Komentar Mr. Jack.
“What is it, Rain? Apa kau sedang demam?” Tanya Raka, pura-pura tidak tahu.
“No!” Tukas Rainy cepat. “Aku cuma agak kepanasan. Bisakah kita fokus membicarakan masalah kak Tari?”
“Emm.” Raka mengangguk. Raka lalu mengulurkan tangan dan mengambil kalung tersebut dari atas meja. Itu adalah sebuah kalung emas yang berbentuk rantai pendek dan berhias sebuah liontin berbentuk koin. Di atas koin tersebut hanya tercetak sebuah huruf B, dan tidak memiliki tulisan apapun lagi.
“Kak Tari, bisakah kakak menceritakan tentang kalung ini?” Pinta Raka. Karena Rainy menyapa Batari dengan panggilan kak Tari, dengan luwes Raka ikut menggunakan nama yang sama.
“Kalung itu? Ah… mmm..” Batari memandang Mr. Jack dengan tatapan tak yakin. Melihat sikap Batari, Mr. Jack tersenyum padanya dan mengangguk.
“Ceritakan saja, Tari. Kalau ada orang yang bisa membantumu, mungkin hanya Rainy dan Rakalah orangnya.” Beritahu Mr. Jack. Kalimat ini tentu saja membuat Rainy menjadi menduga, bahwa ada sebuah kisah yang mengikuti keberadaan kalung tersebut. Hal ini membuatnya menunggu dengan penuh antisipasi. Tanpa sadar Rainy mengangguk-angguk, membenarkan kata-kata Mr. Jack.
Batari menarik nafas panjang dan mulai bercerita,
“Saya adalah anak yang dibesarkan tanpa mengenal siapa orangtua kandung saya. Saat masih bayi, Polisi menemukan saya di sebuah rumah kecil tak berpenghuni di tengah hutan dan menduga bahwa saya adalah korban penculikan. Saat ditemukan, saya mengenakan sebuah kalung dari tali yang terbuat dari kulit di leher saya, dan liontin itu tergantung di kalung tersebut." Batari menunjuk ke arah liontin kalung itu dengan gerakan dagunya.
"Setelah sekian lama mencari dan menunggu, polisi tidak berhasil menemukan orangtua saya yang sesungguhnya. Mereka kemudian menyerahkan saya untuk di adopsi oleh orang lain.” Batari *******-***** kedua tangannya dengan gelisah. Melihat ini, tanpa pikir panjang, Mr. jack mengulurkan tangan untuk mengambil tangan Batari dan menggenggamnya. Tangan Batari yang mungil tampak tenggelam dalam genggaman tangan Mr. Jack yang besar. Hal ini membuat Batari terkejut dan langsung mengangkat wajahnya untu memandang ke arah Mr. Jack. Melihat ekspresi terkejut Batari, Mr. Jack hanya tersenyum dan mengangguk. Tanpa kata, berusaha memberi semangat pada Batari, membuat hati Batari terasa hangat. Bataripun balas tersenyum. Rainy yang melihat ini, mengangguk senang. Go, paman Jack! Go, get the girl!
“Kedua orangtua yang mengadopsi saya adalah orang-orang yang sangat baik.” Batari melanjutkan ceritanya. Mereka sangat menyayangi saya dan memperlakukan saya seperti anak kandung mereka sendiri. Mereka tidak memiliki anak dan saya adalah satu-satunya anak yang mereka adopsi. Namun meskipun begitu, mereka tidak mau menyembunyikan fakta bahwa saya adalah anak adopsi. Mereka selalu mengingat dengan iba bahwa di suatu tempat, mungkin orangtua kandung saya terus mencari-cari anaknya yang telah lama menghilang, sehingga mereka ingin saya tidak pernah melupakan akar saya.. Saat saya tumbuh besar, orangtua adopsi saya mengganti tali tersebut dengan rantai emas dan menyuruh saya untuk terus mengenakannya, berharap kalung itu suatu saat nanti akan mempertemukan saya dengan orangtua saya.”
Walaupun Batari menghentikan ceritanya disitu, tapi Rainy bisa melihat bahwa masih ada hal yang ingin ia ungkapkan, namun belum menemukan cara untuk mengungkapkannya. Untuk mendorongnya, Rainy bertanya,
“Lalu, apakah Kak Tari berhasil menemukan mereka?”
“Bukan saya yang menemukan mereka… tapi merekalah yang menemukan saya. Lebih tepatnya, ibu kandung saya yang menemukan saya.” Batari menarik nafas panjang terlebih dahulu sebelum melanjutkan.
“Saat saya duduk di bangku SMA, seorang wanita datang menemui saya. Ia memberitahu kepada saya bahwa ia adalah ibu kandung saya. Katanya ia telah lama mencari-cari saya dan akhirnya berhasil menemukan saya karena melihat liontin kalung tersebut. Menurut wanita itu, liontin kalung itu adalah liontin kalung yang dibuat khusus oleh suaminya sebagai hadiah kelahiran saya. Huruf yang tercetak di liontin kalung itu merupakan inisial dari nama saya. Ayah kandung saya menamai saya Bintang.” Batari kembali terdiam. Karena Batari terdiam dalam waktu yang cukup panjang, Rainy mengira bahwa Batari telah mengakhiri ceritanya. Namun beberapa saat kemudian, Batari berkata lagi,
“Saya masih sangat muda saat itu. Saya dibesarkan di keluarga yang cukup mapan dan tidak pernah hidup dalam kekurangan. Saya tahu bahwa saya mungkin memiliki orangtua kandung yang belum tentu hidup senyaman orangtua adopsi saya. Tapi apa yang saya lihat pada wanita itu membuat saya, pada saat itu, tidak mau mengakuinya. Wanita itu bukan hanya tampak miskin. Ia juga tampak agak tidak waras. Ada sesuatu dalam caranya bicara dan caranya menatap yang membuat saya ketakutan. Ia berniat merampas saya dari orangtua adopsi saya dan membawa saya pergi dari kota tersebut, tapi saya menolaknya. Beberapa bulan kemudian, ayah angkat saya dipindah tugaskan ke kota lain. Saya lalu mengikuti kedua orangtua saya untuk pindah ke kota lain, tanpa memberitahu wanita itu. Saya dengar ia menimbulkan masalah di sekolah karena hal itu.”
“Benar.” Mr. Jack tiba-tiba angkat suara. “Aku tahu karena saat itu aku ada disana dan melihat langsung kejadiannya. Sehari setelah Batari pindah, seorang wanita datang untuk mencari-cari Batari. Ia mengamuk dan memaki-maki Batari sebagai anak durhaka yang tidak mau mengakui ibu kandungnya sendiri. Ia bahkan memecahkan kaca-kaca jendela di kelas-kelas, dengan melemparkan kursi dan barang-barang lain yang ditemukannya ke jendela. Pihak sekolah kemudian memanggil polisi yang datang lalu membawanya pergi. Setelah itu aku tidak pernah mendengar lagi, baik berita tentang wanita tersebut, maupun kabar tentang Tari.” Ketika mengucapkan kalimatnya yang terakhir, Mr. Jack tampak sedikit kesal dan sedih. Ia memandang Batari dengan tatapan penuh tuduhan, membuat Batari mau tidak mau tersenyum rikuh. Tampaknya Batari tidak menduga bahwa kepergiannya meninggalkan setidaknya, sebongkah rasa kecewa di hati Mr. Jack.
“Jadi liontin kalung ini adalah liontin kalung yang khusus dibuat untuk kak Tari?” Tanya Raka. Batari mengangguk. Hal ini membuat Raka, Rainy dan Arka saling berpandangan. Menemukan sebuah liontin kalung yang sama di lokasi kejahatan bukanlah hal yang besar, bila liontin kalung tersebut adalah sebuah produk yang diproduksi secara massal dan mudah ditemukan di pasaran. Namun akan berbeda halnya bila liontin kalung tersebut dibuat secara khusus berdasarkan order.
“Apakah liontin kalung yang ditemukan di lokasi kejadian memang sama persis dengan liontin kalung ini?” Tanya Raka, sambil memandangi liontin kalung ditangannya dengan seksama.
“Saya tidak tahu.” Sahut Batari. “Tapi saya tahu bahwa masih ada satu orang lagi yang memiliki liontin kalung yang sama dengan liontin kalung saya itu.”
Pernyataan ini sontak membuat semua orang yang ada dalam ruangan itu mengangkat wajah dan memandang Batari dengan terkejut.
“Liontin kalung yang sama? Bukankah ini liontin kalung yang dibuat khusus untukmu?” Tanya Mr. Jack dengan bingung. Batari mengangguk. Seseorang yang memiliki liontin kalung yang sama persis padahal liontin kalung tersebut adalah barang custom. Yang bisa melakukan hal ini hanyalah…
“Apakah pemilik liontin kalung yang sama itu adalah ibu kandung kak Tari?” Tebak Rainy. Dengan wajah serius, Batari mengangguk.
Copyright @FreyaCesare