My Beautiful Blue Rain

My Beautiful Blue Rain
Apa Yang Sudah Kau Lakukan?



Rumah besar milik Jaya Bataguh, sedang sedang dalam keadaan sepi. Seluruh penghuninya sedang tidur nyenyak di kamar masing-masing. Para pegawai juga sudah kembali ke kamar mereka karena pekerjaan telah lama selesai. Waktu sudah menunjukan pukul 2 dini hari, ketika sesosok manusia mengenakan pakaian hitam-hitam dan masker wajah yang juga berwarna hitam, berjalan perlahan menyusuri koridor belakang di lantai 2 rumah besar tersebut. Pria itu adalah penjahat kambuhan yang biasa menyatroni rumah-rumah besar di sekitar pemukiman kelas atas tersebut. Kali ini ia telah mengabiskan 1 bulan penuh mengobservasi rumah itu dan akhirnya memutuskan untuk melancarkan aksinya saat ini. Ia melompati pagar belakang dan masuk ke dalam rumah utama melalui pintu belakang yang biasanya digunakan oleh para pegawai. Tujuan utamanya adalah sebuah kamar di lantai 2 yang konon kabarnya merupakan kamar penyimpanan barang berharga milik keluarga tersebut yang banyak di antaranya sudah berumur beberapa generasi. Membayangkan akan memperoleh banyak barang antik yang mahal membuat maling tersebut merasa senang.


Entah nasib baik sedang memihaknya atau bagaimana, ia berhasil memasuki rumah besar tersebut tanpa kesulitan sama sekali. Ia bahkan menemukan pintu belakang rumah utama sama sekali tidak terkunci. Si maling bergerak tanpa suara memasuki kawasan lantai 2 lebih dalam lagi. Tak berapa lama kemudian, ia sampai di depan sebuah pintu besar yang tertutup rapat. Ini adalah kamar yang dirumorkan sebagai ruang penyimpanan harta karun tersebut. Dari bagian bawah pintu tidak terlihat ada cahaya sama sekali. Untuk memastikan, maling tersebut menempelkan kupingnya pada daun pintu. Namun ia juga tidak mendengar ada suara yang datang dari dalam kamar sama sekali. Karena itu, si maling mulai beraksi.


Menggunakan beberapa alat yang sederhana, maling tersebut berhasil membuka pintu besar di hadapannya itu. Setelah itu, dengan sangat perlahan, ia mulai memasuki kamar. Sesuai dugaannya, kamar itu gelap gulita. Hanya ada sedikit cahaya yang masuk melalui pintu yang terbuka. Maling tersebut mengeluarkan sebuah senter dari dalam tas pinggang yang dibawanya dan setelah menutup kembali pintu kamar, ia menyalakan Senter. Cahaya senternya kemudian bergerak secara sistematis ke area di sekitarnya. Setelah beberapa saat, pencuri tersebut menyadari bahwa ia bukan berada di ruang penyimpanan, namun sebuah kamar yang memiliki dekorasi yang feminin yang bernuansa Eropa. Ia bisa melihat berbagai perabotan antik yang pasti berharga sangat mahal, namun ia tidak berminat membawa pulang bedside table dari abad ke 18 atau buffet dari abad ke 15 karena itu adalah tugas yang mustahil. Jadi sambil mendesah dalam hati dengan kecewa, si maling berniat untuk berbalik dan meninggalkan ruangan tersebut tepat ketika cahaya senternya mencapai ke sebuah tempat tidur. Itu adalah sebuah tempat tidur yang terbuat dari kayu berukir berwarna gelap yang memiliki tiang-tiang di ke empat penjurunya. Di antara tiang yang satu dengan tiang yang lain dihubungkan dengan sebuah kayu panjang yang bundar dan ramping. Pada kayu -kayu itulah, kain tipis yang berfungsi sebagai kelambu, digantungkan dengan manis. Namun bukan itu yang membuat si maling tersentak kaget. Bukan! Ia tersentak kaget karena melihat tubuh seorang wanita sedang tergolek dengan manis di atas ranjang tersebut.


Seharusnya ketika menyadari bahwa ia memasuki kamar yang berpenghuni, maling tersebut akan langsung keluar secepat mungkin sebelum keberadaannya membangunkan pemilik kamar. Ia bukan jenis maling yang suka mengambil resiko yang tidak perlu. Ia juga bukan maling yang suka menyerang dan menyakiti orang lain. Namun entah mengapa, saat melihat wanita yang sedang tertidur di atas ranjang itu, maling tersebut tidak dapat mengendalikan diri dan berjalan mendekat.


Maling tersebut mematikan senter dan mengganti penerangannya dengan menggunakan lampu led yang bercahaya redup. Ia kemudian melangkah mengendap-endap mendekati sisi ranjang tempat wanita tersebut berbaring. Begitu ia mencapai sisi ranjang, maling tersebut menahan nafasnya dan hampir saja mengeluarkan suara karena sangat terkejut. Wanita yang sedang tertidur itu luar biasa cantik. Ia bahkan lebih cantik dari artis-artis yang ada di tv. Menurut si maling, wanita itu adalah wanita paling cantik yang pernah ia lihat seumur hidupnya.


Si maling berdiri tak bergerak dengan mata yang berpesta di wajah si wanita. Ia begitu terpesona sehingga tidak bisa berpikir maupun melakukan sesuatu. Bagaimana bisa ada wanita secantik ini di dunia? Apakah benar ia manusia? Apa jangan-jangan ia bidadari? Namun bidadari seharusnya terlihat lembut, baik hati dan suci. Namun wanita ini, ia terlihat sangat seksi dan sangat menggoda. Bentuk tubuhnya yang terlihat jelas di balik gaun sutera tipis berwarna merah yang dikenakannya terlihat begitu berlekuk liku, sementara itu rambut hitamnya yang tebal bergelombang membingkai wajah rampingnya yang seindah lukisan. Membuat si maling sampai menelan ludah karena rasa 'lapar' yang tiba-tiba menghinggapi tubuhnya.


Ini.... Tidak seharusnya ia berdiri di situ dan memandangi si wanita dengan penuh nafsu seperti itu, si maling menyadarinya. Namun ia tidak punya kemampuan untuk memaksa diri sendiri berpaling dan pergi. Ia malah merasakan dorongan yang sangat kuat untuk naik ke atas ranjang dan mencicipi wanita tersebut! Si maling mendekat dengan perlahan. Ia mengulurkan tangan dan menyentuh pipi si wanita. Kulitnya terasa begitu lembut dan kenyal. Jari si maling kemudian bergerak pelan menuruni pipi si wanita hingga mencapai bibirnya. Bibir wanita tersebut tidak tipis, namun juga tidak tebal. Ukurannya sangat sempurna. Si maling membelai lembut bibir si wanita dengan nafsu yang mulai mencapai ubun-ubunnya. Namun si maling masih menahan diri. Ia tidak ingin menakuti wanita tersebut, sama sekali lupa kalau normalnya, begitu menemukan ada orang asing memasuki kamarnya, siapapun akan sangat ketakutan. Namun sepertinya logika si maling sudah menghilang bersama bangkitnya hawa nafsunya.


Tiba-tiba si wanita mendesah pelan dan bibirnya menjadi sedikit terbuka. Si maling menatapnya dengan penuh pemujaan, sangat ingin tahu apakah bila wanita itu membuka matanya, mata wanita itu akan secantik bagian wajahnya yang lain? Si maling mendekatkan wajahnya ke wajah si wanita. Tiba-tiba mata si wanita terbuka lebar. Si maling tertegun di tempatnya. Hal terakhir yang terlintas dalam kepalanya sebelum tubuh si maling langsung terlempar jauh dan menghantam dinding dengan sangat keras adalah bahwa walaupun mata si wanita indah, namun terlihat begitu dingin, tak sesuai dengan penampilan tubuhnya yang aduhai. Karena hantaman yang begitu keras, si maling sempat kehilangan kesadaran sesaat. Namun kemudian ia terbangun dan mengerang kesakitan. Ia lalu berusaha bangkit dan kemudian duduk menyandarkan diri di dinding. Setelah merasakan bahwa duduknya telah stabil, si maling nenarik nafas lega, karena prosesnya dari berbaring menjadi duduk tadi sungguh sangat menyakitkan. Namun baru saja ia melepaskan tarikan nafas panjangnya, sebuah garpu melesat kencang dan menancap dengan dalam, tepat di tenggorokannya dan tembus sampai ke dinding.


Lilith bangkit dari ranjang dan menjentikkan jari tangannya. Cahaya lampu yang lembut langsung menerangi seluruh penjuru ruangan. Ia mengulurkan sebelah tangannya dan mengambil kimono merah yang tersampir di atas kaki ranjang, lalu mengenakannya. Lilith bangkit berdiri dan berjalan gemulai di atas lantai yang dingin tanpa mengenakan alas kaki. Ia kemudian memilih untuk duduk di atas sofa besar sambil menyilangkan kaki dan melipat kedua tangan di dada.


Bragh!!! Suara benda terbanting di lantai terdengar nyaring. Tiba-tiba, Lilian telah muncul di hadapannya. Iblis itu masih mengenakan gaun ala Yunani yang dipakainya saat ia menyiksa Rainy barusan. Namun bila di hadapan Rainy, ia berlagak layaknya penguasa yang angkuh, di hadapan Lilith, ia tampak seperti budak wanita yang sangat malang. Saat itu Lilian masih terduduk di lantai dengan ekspresi hampir menangis.


"Ibu," sapa Lilian dengan bibir gemetar.


"Apa yang sudah kau lakukan?" Tanya Lilian dingin.


"Aku sedang mengerjakan apa yang Mama perintahkan." sahut Lilian.


"Dengan membuat Ardi terkena serangan jantung?" tanya Lilith sambil menyipitkan mata. Melihat ekspresinya, Lilian menyadari bahwa ia sedang berada dalam masalah besar.