
“Tapi Bagaimana melakukannya? Kita tidak boleh memasuki ruang ICCU kan?” Tanya Lara. “Apa harus menunggu sampai Pak Ardi keluar dari ICCU terlebih dahulu?”
“Tidak! Kita tidak boleh menunggu atau Rainy akan ambruk karena kelelahan!” tolak Raka. “Aku akan mengurusnya.” Ucap Raka kemudian. Rainy menoleh pada Raka. Melihat tatapan tunangannya yang penuh rasa percaya, Raka tersenyum. Ia mengulurkan tangan dan mengusap kepala Rainy lalu berkata, “Kau tunggu disini dulu ya.” Rainy mengangguk. Raka kemudian berjalan pergi meninggalkan ruang tunggu, sementara itu Rainy mempersilahkan Guru Gilang dan Lara untuk duduk. Rainy sendiri memilih untuk duduk di sebelah kanan Ratna, sementara kursi di sebelah kiri Ratna telah ditempati oleh Arka. Mata Rainy tertambat pada 3 orang yang sedang duduk di hadapannya. 3 wajah yang sudah sangat akrab dengan dalam beberapa bulan ini, balas menatapnya dengan senyum terukir di bibir mereka.
“Apakah semuanya baik-baik saja?” Tanya Rainy, menatap bergantian pada Ivan, Natasha dan Ace. Ketiganya tersenyum dan mengangguk.
“Semua lancar, Boss. Tenang saja!” Sahut Ace dengan yakin sambil memamerkan senyum tengilnya. Mendengar kata-katanya, kening Natasha berkerut. Ia menyikut pinggang Ace dengan keras, hingga membuat Ace mengaduh.
“Ada Guru Gilang dan Boss kecil, tapi mengapa kau yang menjawab?” Tegur Natasha. Ace mengusap pinggangnya yang sakit. Untuk sesaat Ace mengerutkan keningnya namun tak lama kemudian ia tersenyum dan memandang Natasha dengan ekspresi merayu.
“Kelepasan.” Ucap Ace sambil tersenyum malu. Ia mengulurkan tangannya dan menarik-narik lengan Natasha, sambil tersenyum. Merayunya untuk tidak marah padanya. Ekspresinya mirip seorang anak yang takut diabaikan oleh ibunya. Membuat kening Rainy berkerut.
“Apakah kalian berdua sedang pacaran?” Tanya Rainy menduga-duga.
“Tidak, Boss!” Ucap Natasha dengan ekspresi tegang dan wajah memerah. Namun di saat sama Ace memberikan respon berbeda.
“Benar, Boss!” Ucap pria itu dengan senyum lebar. Rainy langsung mengangkat kedua alisnya sementara di sebelah Natasha, Ivan tersenyum geli.
“Mereka pacaran, Rain!” Seloroh Ivan, membuat wajah Natasha bertambah merah. Ia merengut pada Ivan dan kemudian memberi tatapan kesal pada Ace. Ivan yang sedang duduk menyilangkan kaki dengan lagak seorang pangeran, hanya mengedipkan sebelah matanya pada Natasha. Ia tampaknya tahu bahwa Natasha tidak akan berani menghukumnya karena telah membuat gadis itu malu. Namun Ace yang tidak sebegitu beruntungnya. Ia harus merelakan ketika ujung sepatunya diinjak sekuat-kuatnya oleh ujung hak sepatu boots Doc Martens yang membalut kaki-kaki mungil Natasha.
“ADUH! Sayang, mengapa kau menginjakku?” Protes Ace dengan wajah sedih.
“Bisa tidak kalau tidak membuatku malu di depan Bossku?” Protes Natasha.
“Tapi Boss Rainy adalah bossku juga dan aku kan cuma menjawab pertanyaannya!” Protes Ace. Rainy menatap ke arah Ivan dengan ekspresi heran.
“Kapan ini terjadi?” Tanya Rainy.
“Sejak kau pergi dan mereka jadi tak punya pekerjaan.” Sahut Ivan yang dengan murah hati mengadukan tingkah Ace dan Natasha pada Rainy. “Setiap hari yang dilakukan Ace adalah merayu Natasha dari pagi sampai pagi lagi!”
“Boss kecil tukang gossip!” Cela Natasha dengan wajah yang semakin memerah. Ivan tersenyum dan mengangguk.
“Emm. Apa kau baru menyadarinya?” Goda Ivan, membuat Natasha menggertakkan giginya dengan kesal, sementara di sampingnya, Ace terlihat berseri-seri. Senyum lebarnya sangat menyilaukan mata. Membuat Rainy, untuk pertama kalinya dalam beberapa hari ini, merasa ingin tersenyum.
“So Nat, are you in love?” Goda Rainy.
“Boss, tolong jangan mengolok-olok saya!” Pinta Natasha dengan ekspresi memelas.
“Memangnya kenapa nggak boleh?” Tanya Rainy. “Apakah kau merasa malu?”
“Boooss!” rengek Natasha sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangan, membuat semua orang yang mendengarkan obrolan mereka menjadi tersenyum.
“Jadi ternyata kau bisa terlihat seperti anak usia 18 tahun pada umumnya juga.” Komentar Rainy.
“Booooss!” Rengek Natasha lagi.
“Terimakasih, Boss.” Ucap Natasha.
“Kau!” Rainy menunjuk ke arah Ace yang sejak tadi tidak mampu menahan senyum lebar di bibirnya.
“Iya, Boss?” Tanya Ace sedikit terkejut karena perhatian Rainy tiba-tiba pindah dan ditujukan ke arahnya, membuat senyumnya langsung surut.
“Apa kau bahagia?” Tanya Rainy lagi. Sontak pertanyaan itu membuat senyum Ace kembali dengan kekuatan penuh.
“Tentu saja, Boss!” Sahut Ace. “Sangat, sangat bahagia!” Wajahnya yang berseri-seri sungguh membuat yang melihatnya ingin tersenyum bersamanya. Rainy yang sejak awal mengenal mereka, sudah melihat sendiri bagaimana sukanya Ace pada Natasha, turut merasa senang bahwa akhirnya harapan Ace bisa terwujud. Scooby Doo, kau sangat beruntung! Adalah hal yang sangat indah dan luar biasa ketika orang yang kita cintai, juga mencintai kita. Karena banyak sekali orang yang menderita karena cinta yang tidak terbalas. Pikir Rainy dalam hati.
“Emm. Baguslah. Jangan lupa mengundangku ke pernikahan kalian ya.” Sambung Rainy dengan ekspresi datarnya yang biasa sehingga membuat yang mendengarnya tertawa, sementara itu Natasha sudah kembali menutupi wajahnya dengan malu.
“katakan saja bila kalian ingin menikah. Aku akan membayar semua biaya pernikahan kalian.” Sambung Rainy lagi.
“Yang benar, Boss?” Ucap Ace, setengah tak percaya. Sementara Natasha menurunkan tangannya dari wajahnya dan menatap Rainy dengan mulut terbuka.
“Tentu saja.” Sahut Rainy.
“Waaah! Terimakasih, Boss!” Ucap Ace girang. Ia mengulurkan tangan dan menarik Natasha ke dalam pelukannya, sementara yang dipeluk masih tampak belum sadarkan diri dari keterkejutannya.
“Nat, kita tidak perlu menunggu uang terkumpul untuk bisa menikah! Boss yang akan membiayainya!” Beritahu Ace, tak bisa menahan kegembiraannya. Kata-katanya tampak membangunkan Natasha. Ia lalu melepaskan diri dari tangan-tangan Ace dan mulai memukuli pria itu dengan kesal.
“Memangnya Siapa yang mau menikah denganmu?! Dasar, Scooby Doo! Aku masih 18 tahun. Aku tidak mau menikah sampai umur 30!” tolak Natasha. Mulutnya berkata-kata kejam dan tangannya memukuli Ace walaupun tidak kuat. Namun wajahnya yang memerah mengkhianati kata-kata yang diucapkannya. Sesungguhnya ia hanya merasa sangat malu karena masalah percintaan dan pernikahannya menjadi bahan tertawaan rekan-rekannya. Di sekitar mereka, lagi-lagi semuanya tertawa melihat keantikan pasangan berbeda ukuran ini. Percakapan itu mungkin akan berlanjut semakin panjang seandainya Rainy tidak melihat Raka muncul bersama Dr. Kemal, dokter Ahli Jantung yang merawat ayahnya. Rainy langsung bangkit berdiri dan yang lain ikut berdiri bersamanya.
Dokter Kemal adalah seorang pria berusia 50 tahun yang bertubuh tinggi kurus dan ramah. Rainy sudah lama mengenal Dokter Kemal karena beliau adalah Dokter yang merawat Jaya Bataguh semasa hidupnya. Selain itu, ibunya Dokter Kemal adalah salah satu klien VIP Divisi VII saat Jaya Bataguh masih memimpin, sehingga Rainy sudah mengenal Dokter Kemal sejak dirinya masih sangat belia. Rainy menganggukkan kepala pada Dokter Kemal untuk memberi salam.
“Selamat pagi, Dokter.” Sapa Rainy. Di sebelahnya, Ratna juga mengucapkan salamnya pada Dokter Kemal.
“Selamat pagi, Ibu Ratna, Rainy.” Jawab Dokter Kemal sambil tersenyum. Rainy memandang ke arah Raka dan ketika ia melihat Raka tersenyum dan mengangguk padanya, Rainy menarik nafas lega.
“Dokter, bagaimana keadaan suami saya?” Tanya Ratna.
“Alhamdulillah, kondisi pak Ardi sudah stabil, Bu Ratna.” Jawab Dokter Kemal.
“Apakah ayah saya sudah bisa pindah ke ruangan, Dokter?” Tanya Rainy.
“Biasanya diperlukan waktu 3 hari untuk observasi. Namun melihat kondisi bapak sudah bagus, saya sudah menyampaikan agar bapak segera dipindahkan. Pesan saya, tolong bapak jangan diberi beban pikiran terlebih dahulu. Biarkan bapak beristirahat dengan tenang. Yang menjenguk tolong hanya keluarga saja ya, karena bapak butuh istirahat lebih banyak.” Pesan Dokter Kemal.
“Baik, Dokter.” Sahut Rainy. Dokter Kemal kemudian berpamitan dan berjalan memasuki ruang ICCU, sementara Rainy menoleh pada Guru Gilang dan Lara.
“Apakah ada hal lain yang harus saya siapkan, Lara?” Tanya Rainy kemudian. Lara menggeleng.
“Tidak ada. Begitu Pak Ardi sudah nyaman di ruangan, kita bisa langsung melakukannya.” Ucap Lara. Rainy mengangguk.