My Beautiful Blue Rain

My Beautiful Blue Rain
Penglihatan Lara



Raka memandang wanita yang telah menguasai hatinya sejak mereka masih sangat belia itu. Rambut Rainy yang seputih salju tampak berkilauan di bawah cahaya matahari yang masuk menembus kaca jendela. Raka mengulurkan tangan dan mengambil seuntai rambut Rainy, lalu memainkannya di antara jari-jemari tangannya. Mata Raka kemudian bergerak menyusuri setiap jengkal tubuh Rainy yang tanpa busana. Tatapannya yang intim tak urung membuat Rainy merona.


"Mengapa memandangku seperti itu?" tanya Rainy. Ia merasa seluruh wajahnya memanas sampai ke telinga.


"Aku tak percaya bahwa hanya dalam 10 hari, kau akan berubah seperti ini." Bisik Raka dengan suara yang serak.


"Apa kau tidak suka?" tanya Rainy, balas berbisik.


"Hanya orang bodoh yang tidak menyukai apa yang kulihat di depan mataku saat ini." bantah Raka, sambil menggelengkan kepala pelan.


"Benarkah?" Seulas senyum manis mengembang di bibir Rainy. "Memangnya aku terlihat seperti apa?"


Raka mengulurkan sebelah tangannya untuk memeluk pinggang Rainy dan menarik tubuh indah istrinya tersebut mendekati, hingga tubuh mereka menempel satu sama lainnya. Tubuh wanita yang ramping, halus dan lembut, terlihat sangat berbeda dengan tubuh prianya yang keras dan berotot. Kekontrasan itu memperindah keduanya dan membuat darah Raka kembali menggelegak oleh kebutuhan yang terasa mendesak. Raka mengulurkan sebelah tangannya yang bebas dan mengusap wajah Rainy dengan jari-jemarinya.


"Kau terlihat seperti mimpi yang menjadi kenyataan." bisik Raka.


Wajahnya berada sangat dekat dengan wajah Rainy sehingga mereka bisa merasakan hawa hangat nafas satu sama lain.


"Aku menyesal tidak memaksa Datuk untuk mengijinkan ku mengikutimu masuk ke dalam menara kultivasi. Andai saja aku ikut denganmu, pastilah saat ini aku juga bisa berubah sesuai dengan perubahanmu. Menjadi seindah dirimu..." lanjut Raka. Bibirnya mencebik menggemaskan. Membuat Rainy yang melihatnya merasa nyaris meleleh layaknya sepotong coklat di bawah terik matahari yang menyilaukan.


Tanpa bisa menahan diri, Rainy mengangkat wajahnya dan memberikan sepasang bibir yang menawan itu satu kecupan ringan. Menyebabkan Raka terperangah sesaat, sebelum senyum indah menghiasi wajah tampannya. Rainy lalu menatap lurus ke arah kedua mata Raka dan berkata dengan serius,


"Raka, kau telah menjadi impianku yang menjadi kenyataan sejak 100 tahun yang lalu. Kau sudah sangat sempurna. Tak perlu lagi merubah apapun."


Mendengar ini, senyum Raka mengembang semakin lebar. Ia lalu menundukkan wajahnya dan mengecup bibir Rainy dalam ciuman yang panjang dan memabukkan. Benar, kau dan aku telah sempurna begini adanya. Pikirnya dengan hati yang dipenuhi oleh kebahagiaan.


***


Rainy dan Raka menghabiskan siang hari itu dengan saling menumpahkan kerinduan yang terpendam dalam pelukan satu sama lain. Setelah kegiatan yang menguras energi tersebut, Rainy jatuh tertidur dalam pelukan Raka. Bahkan saat telah berpindah ke alam mimpi, lengan Rainy masih memeluk pinggang Raka dengan erat dan senyum puas mengembang manis di bibirnya. Setelah 100 tahun yang penuh dengan kerja keras, Rainy akhirnya bisa tidur dengan sangat damai, dalam pelukan kekasihnya. Hanya suara nafasnya yang halus dan berirama terdengar perlahan. 


Raka berbaring miring di sebelah Rainy dengan satu tangan menyangga sebelah sisi kepalanya. Ia sama sekali tidak merasa mengantuk. Lagipula, daripada tidur, ia lebih suka menghabiskan waktu dengan memandangi wajah terlelap istri yang sangat dirindukannya itu. Wajah yang sangat dikenalnya sekaligus terlihat sangat berbeda. Bagaimana bisa waktu 10 hari Rainy tidak berada disisinya telah berhasil membawa perubahan yang begitu besar bagi wanita miliknya itu? Raka mengulurkan tangan dan mengangkat sejumput rambut Rainy yang jatuh menutupi wajah gadis itu. Helai-helai rambut tersebut terasa begitu halus dan lembut. Walaupun warnanya putih, namun setiap helainya tampak berkilauan, menunjukan bahwa rambut tersebut sangat sehat dan subur. Raka merasa seolah-olah sedang memegang helaian benang sutera. Kultivasi telah menjaga dan memaksimalkan keindahan Rainy walaupun waktu telah berlalu begitu lama. Namun yang membuat Raka merasa sangat bahagia Rainy bukanlah karena menjadi lebih sehat dan sangat jelita, tapi karena semenjak saat ini, Rainy memiliki kemampuan untuk melindungi dirinya sendiri dari iblis-iblis terkutuk yang selama ini selalu meneror hari-hari bahagia mereka. Walaupun mau tidak mau Raka merasa agak tertinggal karena mulai sekarang Rainy mungkin sudah tidak lagi membutuhkan suaminya untuk melindungi diri.


Pemikiran ini mengantarkannya ingatan Raka pada pembicaraan yang dilakukannya beberapa waktu yang lalu dengan Guru Gilang dan Lara, tanpa sepengetahuan Rainy.


***


Waktu itu, Ardi masih dirawat di Rumah Sakit dan mereka semua dengan setia mendampinginya. Rainy sedang menyuapi Ardi makan siang ketika telepon genggam Raka berbunyi. Raka menatap sekilas ke layar telepon sebelum berjalan keluar dari kamar Ardi dan mengangkatnya.


"Hallo." Sapa Raka dengan suara dingin yang biasanya digunakannya saat berbicara dengan orang lain selain keluarganya dan Rainy.


"Pak Raka. Bisakah kau menemui saya dan papa sebentar karena ada sesuatu tangannya penting ingin kami bicarakan denganmu?" suara seorang wanita terdengar dari ujung sambungan telepon.


"Mau bertemu dimana?" tanya Raka.


"Saya kesana sekarang."


10 menit kemudian, Raka sudah duduk berhadapan dengan Lara dan Guru Gilang mengelilingi sebuah meja bundar mungil. Mereka mengambil tempat di sebuah sudut tenang cafe tersebut yang sepi oleh pengunjung. Saat itu, Raka sedang menatap lurus pada keduanya dengan senyum tipis menghiasi wajahnya. Saat itu, ia sama sekali tidak bisa menduga hal penting apa yang ingin dibicarakan oleh kedua ayah dan anak itu dengan dirinya.


"Guru Gilang, Lara, apa yang ingin anda bicarakan dengan saya?" tanya Raka dengan suara tenang. Suaranya beberapa derajat lebih hangat karena ia sedang berbicara dengan Guru Gilang, kepada siapa ia menaruh rasa hormat dan penghargaan. Mendengar ini, untuk sesaat Lara menoleh kepada ayahnya. Guru Gilang mengangguk pelan pada putrinya. Menerima dorongan dari ayahnya, Lara menarik nafas panjang dan kembali menatap ke arah Raka.


"Pak Raka, saya melihat sesuatu yang buruk." ucap Lara tanpa basa-basi. Berbeda dengan keraguan yang ditunjukan oleh sikapnya tadi, kali ini Lara tampak tenang. Terlalu tenang malah. Membuat alarm tanda bahaya berdering dalam kepala Raka.


"Ramalan?" tanya Raka.


"Penglihatan." sahut Lara membenarkan.


"Apa bedanya?" tanya Raka lagi sambil mengerutkan keningnya.


"Ramalan dibuat dengan menyimpulkan beberapa penglihatan sehingga membentuk sebuah pola yang jelas dan saling mengisi satu sama lain. Namun penglihatan hanyalah kilasan gambaran yang kadang tidak lengkap dan tidak cukup jelas, karena hanya berupa potongan-potongan. Terkadang dibutuhkan beberapa penglihatan untuk bisa membuat sebuah ramalan." ucap Lara menjelaskan.


Mendengar ini, Raka mengangguk.


"Saya mengerti." Raka menegakkan tubuhnya dan bertanya,


"Lalu penglihatan apa yang telah kau lihat?"


"Sebelum saya memberitahukan apa yang saya lihat kepada bapak, ijinkan saya bertanya terlebih dahulu; apakah bapak sungguh-sungguh mencintai Rainy?"


Raka mengerjapkan matanya dengan terkejut. Namun selain itu, wajahnya tetap tampak tenang dan datar.


"Kenapa anda bertanya mengenai hal ini?" dan hal sejelas ini, mengapa perlu ditanyakan? Apakah aku tidak cukup mengekspresikan cintaku pada Rainy di depan semua orang? Pikir Raka dengan heran.


"Bisakah bapak menjawabnya?" kejar Lara. Membuat sebelah alis Raka terangkat beberapa milimeter.


"Benar. Di seluruh dunia ini, mungkin tidak ada yang mencintai Rainy sebesar cinta saya padanya." sahut Raka akhirnya.


"Bagaimana bila mencintai Rainy akan menyebabkan bapak kehilangan nyawa bapak, apakah bapak akan tetap mencintainya sangat memilih untuk terus berada disisinya?" Tanya Lara dengan serius. Pertanyaan ini membuat kening Raka berkerut.


"Sebenarnya... Apa yang telah kau lihat?"


Untuk sesaat, Lara kembali menoleh ke arah Ayahnya yang lagi-lagi hanya mengangguk untuk memberinya penguatan. Ketika Lara mencurahkan perhatiannya kembali kepada Raka, Raka bisa melihat ketidak berdayaan melemahkan sorot mata Lara. Membuat alarm tanda bahaya dalam kepala Raka terdengar semakin nyaring dan mendesak. Membuat Raka mengerutkan keningnya semakin dalam.


Setelah kembali menarik nafas panjang, Lara berkata dengan nada yang datar dan tenang,


"Pada hari pernikahan kalian... saya melihat seseorang menembakan pistol ke arah Rainy. Namun kau yang melihat hal itu, melindungi Rainy dengan menjadikan tubuhmu sebagai perisai baginya. Lalu setelah itu, kau terjatuh tak sadarkan diri dengan berlumuran darah dan luka tembak di punggung, tepat di lokasi dimana jantungmu berada." Suara Lara yang lembut dan memiliki kualitasnya yang menenangkan, tak mampu mengurangi efek kejut dari pesan yang disampaikannya. Saat itu Raka merasa bagai sedang disambar petir di tengah hari yang tidak berhujan.