
Ketika asap kelabu memudar, dari baliknya, sosok seorang wanita cantik muncul di hadapan Rainy. Tidak! Bukan wanita cantik. Tapi iblis! Dari terpana, ekspresi Rainy menggelap dan tubuhnya menegang. Hawa membunuh terpancar dari tubuhnya dan membuat Datuk Sanja yang berdiri tepat di sebelahnya sampai mengerutkan kening.
"Cobalah untuk selalu bersikap tenang." Ucap Datuk Sanja. "Dia cuma NPC. Gunakan kesempatan ini untuk belajar mengendalikan emosimu saat berada di dekatnya. Bila kau selalu kehilangan kendali saat berhadapan dengannya, itu akan sangat merugikanmu."
"Bila saya sungguh-sungguh berhadapan dengannya, sudah pasti dia akan mati." tukas Rainy dingin. Tanpa menunggu lagi, Rainy melesat ke arah NPC tersebut dan menerjangnya. Jari-jari tangan kirinya terangkat dan mengarah langsung ke leher sang NPC. Sementara lutut kaki kanannya yang terlipat, terarah langsung ke bagian perut NPC yang terbuka tanpa perlindungan. Tahu-tahu NPC tersebut telah terkapar di lantai yang dingin dan keras dengan Rainy menindih tubuhnya. Jari-jemari tangan Rainy yang lentik dan indah itu digunakan untuk mencengkeram leher ramping sang iblis dengan sekuat-kuatnya. Namun bukannya merasa terancam, NPC tersebut malah tersenyum geli.
"Aku tahu bahwa kita memang telah lama tidak berjumpa. Tapi tidak kusangka kau akan menyambutku seantusias ini, adikku tersayang. Apakah kau merindukanku?" sebuah senyum menggoda terukir di bibir mungil yang indah milik iblis tersebut. Wajahnya yang cantik adalah jelmaan sempurna dari wajah Lilian, iblis yang paling dibenci Rainy.
"Iblis, matilah untukku!" geram Rainy.
"Tidak semudah itu!" NPC Lilian mengulurkan kedua tangannya dan melemparkan Rainy dari atas tubuhnya. Tubuh Rainy langsung terlempar ke belakang, namun saat kembali menyentuh lantai, Rainy masih berdiri di atas kedua kakinya sendiri. Senyum bengis terukir di wajahnya yang cantik dan membuat wajah itu terlihat sangat kejam. Tubuhnya terasa ringan, lentur dan sangat kuat. Membuat Rainy merasa sangat puas. Sesaat kemudian, Rainy kembali menerjang ke arah NPC Lilian, namun kali ini Lilian bertahan di atas kedua kakinya. Ia menyambut tangan-tangan Rainy yang mengarah ke tubuhnya dan menepiskannya dengan tangannya sendiri. Mereka kemudian bertukar tinju dan tendangan namun tak ada satupun pukulan sedang tendangan tersebut berhasil menyentuh tubuh lawannya. Menyadari bahwa pertarungan tangan kosong tersebut akan terus saja berlangsung seri, Rainy menyeringai dengan geram. Melihat responnya ini, NPC Lilian tersenyum geli.
"Bagaimana ini?" Tanyanya dengan nada penuh ejekan. "Bahkan setelah berlatih selama 100 tahun, kau masih saja tidak bisa mengalahkanku. Apakah kau sangat kecewa?" Menara Kultivasi benar-benar mensimulasikan karakter Lilian dengan kemiripan yang mencapai 99 %, sampai ke lidahnya yang suka memancing di air keruh.
Mendengar ini, Rainy langsung menyipitkan matanya. Tiba-tiba, tubuhnya yang sedang berada sangat dekat dengan NPC Lilian, menyala. Api yang berkobar berasal dari dalam urat nadi Rainy, yang lalu membungkus seluruh tubuhnya dengan api yang berwarna merah oranye menyala dalam sekejap mata. Rainy tampak bagaikan obor raksasa, mengancam untuk membakar siapapun yang mendekat. rambutnya yang panjang berkibaran di belakangnya, membingkai wajah cantiknya yang dingin. Melihat ini, NPC Lilian segera berusaha melepaskan diri. Ia melesat mundur meninggalkan Rainy dan mengambil jarak sejauh 10 meter dari tempat gadis tersebut berdiri.
"Mengapa menjauh?" Kali ini Rainy yang bertanya dengan nada mengejek. "Bukankah kau sangat merindukan aku?"
Mendengar ini, NPC Lilian tersenyum manis. Walaupun telah adu tinju selama beberapa waktu, tidak terlihat ada rasa lelah maupun keringat yang membasahi tubuhnya. Membuat Rainy semakin ingin membunuhnya.
"Walaupun aku sangat merindukanmu, tapi aku lebih suka bila kita sedikit menjaga jarak. Siapa yang tahu kalau kau menderita Covid atau tidak. Aku tidak pernah di vaksin jadi aku harus selalu waspada." Seloroh NPC Lilian dengan santai.
Tingkahnya ini membuat Rainy tersenyum dengan senyum yang sama sekali tidak mirip senyuman karena aura membunuh yang terpancar dari tubuhnya terasa begitu menekan.
"Kau terlalu banyak bicara!" Tukas Rainy dengan ekspresi menghina. "Pergi saja sana, ke neraka!"
Rainy kembali mengibaskan sebelah tangannya ke arah Lilian. Api dari tubuh Rainy kemudian dilontarkan ke arah tubuh NPC iblis tersebut dan membuatnya menjerit kesakitan. Ketika mendengar jeritan tersebut, Rainy sampai terbelalak. Ia memang berharap bahwa setelah berlatih selama 98 tahun, ia pada akhirnya akan mampu menyakiti Lilian dan Lilith. Namun meskipun berharap, Rainy tidak menduga bahwa harapannya bisa terwujud. Bahwa kekuatannya dipandang mampu untuk melukai Iblis level atas seperti Lilian dan Lilith. Mata Rainy terbelalak memandang Lilian yang dengan segera tenggelam di dalam api yang membara sangat besar, menutupi seluruh tubuh NPC iblis tersebut. NPC Iblis tersebut menjerit dengan sangat keras, sebuah jeritan yang tidak pernah Rainy dengar sebelumnya. Tak butuh waktu 5 menit untuk NPC Lilian terbakar habis sebelum kemudian memudar dan menghilang.
Lama Rainy terdiam dan tak mampu berkata-kata. Ia hanya berdiri mematung dengan mulut terbuka lebar. Datuk Sanja yang memperhatikan dari sebelahnya hanya tersenyum dan membiarkan gadis itu menemukan kembali isi kepalanya yang tampaknya rontok berhamburan ke lantai karena terlalu terlalu shock melihat kekalahan Lilian. Untungnya tak lama kemudian Rainy mengedip-ngedipkan matanya dan terbangun dari ketertegunannya. Ia menoleh pada Datuk Sanja dan bertanya dengan terbata-bata,
"Apakah saya... benar-benar... telah mengalahkannya?"
Kata-kata Datuk Sanja bagai siraman air es di atas kepala Rainy. Emosinya yang mulai mengembang layaknya balon yang sedang diisi dengan helium, langsung mengempis dengan sangat cepat. Datuk Sanja benar. Berhasil mengalahkan NPC bukan berarti ia akan berhasil mengalahkan Lilian yang sesungguhnya. Rainy memaksa dirinya untuk berhenti bermimpi dan terus memperkuat diri.
"Lagi!" Perintah Rainy keras pada Menara Kultivasi.
"Tingkatkan kekuatan NPC hingga sepuluh kali lipat!" Ucap Datuk Sanja, turut memberikan perintah pada Menara Kultivasi.
Mendengar perintah ini, Rainy bahkan tidak mengernyitkan keningnya. 10 kali lipat, 100 kali lipat atau bahkan 1000 kali lipat sekalipun, Rainy tidak keberatan. Bagi Rainy, ini bukan ujian, tapi perpanjangan latihan seni bela dirinya dengan menggunakan NPC iblis sebagai lawan tanding. Ketika kemudian NPC Lilian muncul kembali dari balik asap kelabu, tanpa ragu Rainy kembali menyerangnya dengan membabi buta.
Tantangan Menara Kultivasi yang terakhir itu pada akhirnya berlangsung tepat 1,5 tahun. Rainy melewati hari-hari dengan memukuli NPC Lilian dari ujung rambut sampai ke ujung kaki. Ujian yang seharusnya hanya berlangsung 1 kali saja, berubah menjadi seri ujian yang terus diulangi dan ditingkatkan kesulitannya guna memastikan bahwa murid yang mempelajarinya akan mampu menguasainya dengan sepenuh hati. Di tengah-tengah ujian tersebut, Rainy memutuskan bahwa ia akan berhenti bergantung pada hellfire, dan mencoba melawan Lilian hanya dengan tangan kosong saja. Akibatnya, setiap pertempuran menjadi berlangsung semakin lama, membuat Datuk Sanja menghardik dengan kesal.
"Berhenti! Kalau kau mau bermain-main, tunggu saat kau bertemu dengan iblis tersebut secara langsung! Sekarang saatnya mendorong Hellfiremu untuk bisa melampaui data tahan iblis level atas!"
Mendengar suara Datuk Sanja, Rainy mencibir kesal ke arah NPC Lilian. Ia lalu mengibaskan lengannya sehingga membuat NPC Lilian terlempar jauh darinya. Setelah itu, Rainy melontarkan Hellfire ke arah Lilian dan membakar NPC iblis tersebut tanpa rasa kasihan.
"Dasar kecoak!" Maki Rainy kesal.
"Memangnya apa salah kecoak padamu hingga kau menyamakannya dengan iblis?" Tanya Datuk Sanja dengan seulas senyum geli terukir di wajahnya.
"Mereka memiliki kemampuan untuk bertahan hidup di tempat yang sangat buruk, yang sama. mereka juga sama menjijikkannya " cetus Rainy dengan geram.
"Baiklah " Datuk Sanja menganggukkan kepala. "Terserah kau saja."
Mendengar ini ekspresi wajah dan sorot mata Rainy, menjadi lebih lembut.
"Apakah sudah waktunya makan, Datuk?" Tanya Rainy. Kali ini Datuk Sanja yang tersenyum. Sebelah tangannya terangkat naik dan sebuah tas kosmos muncul di atas telapak tangan yang di arahkan untuk menghadap ke atas.
"Ungu baru mengirimkan tas kosmos baru. Mari kita makan." Ajak Datuk Sanja. Rainy mengangguk dan melangkahkan kaki untuk mengikuti Datuk Sanja yang berniat untuk duduk di depan tenda darurat yang ia berdirikan sebagai tempat istirahat sementara mereka. Namun baru saja ia berjalan satu langkah, Rasa panas yang tidak tertahannya muncul dari arah kundalininya, sehingga membuat Rainy terbungkuk karena menahan serangan rasa sakit yang terlalu tiba-tiba.
"Aduh!"