
Tiba-tiba Rainy telah berada di pinggir hutan tropis yang terlihat sangat lebat. Di hadapannya berdiri sebuah kawasan pemukiman kecil yang mayoritas bangunannya adalah Betang, yaitu rumah khas suku Dayak yang merupakan rumah panggung berbentuk panjang dan besar. Ia melihat beberapa anak kecil yang bertelanjang dada sedang bermain dengan gembira. Sayup-sayup di kejauhan, Rainy bisa mendengar suara air yang mengalir.
"Datuk, kau membawa saya kemana ini?" tanya Rainy pada Datuk Sanja.
"Aku tidak membawamu kemana-mana. Kita masih berada di gerbang ungu." sahut Datuk Sanja.
"Ah? Tapi itu..." Rainy menunjuk ke arah pemukiman.
"Ini hanyalah sebuah ilusi yang kuciptakan dengan menggunakan batu ungu. Ini adalah salah satu kelebihan yang dimilikinya sehingga gerbang ungu, selain berfungsi sebagai pintu gerbang Little Realm ini, ia juga berfungsi sebagai study center." ucap Datuk Sanja menjelaskan.
"Ah, jadi ini hanya sebuah ilusi. Sungguh batu permata yang luar biasa." komentar Rainy.
"Emm." Datuk Sanja mengangguk. "Kudengar di duniamu ia dihargai dengan sangat mahal?"
Ah, jadi Datuk Sanja tahu!
"Benar." Rainy mengangguk. "Lavender Quartz dihargai 100 US dollar untuk setiap karatnya."
Mendengar ini, Datuk Sanja menggelengkan kepalanya.
"Terkadang aku merasa kasihan pada kalian yang buta dan sama sekali tidak mengetahui apapun. Bagi kami, batu ungu adalah harta tidak ternilai harganya karena itu ketika seseorang memilikinya, mereka tidak akan sudi menjualnya. Itulah sebabnya tidak pernah ada yang mengetahui berapa nilai Batu ungu yang sesungguhnya."
"Kalau Lavender Quartz sebegitu berharganya mengapa namanya hanyalah batu ungu? Lalu mengapa Datuk hanya meletakkannya di pintu gerbang dalam bangunan terbuka seperti itu? Apa Datuk tidak takut bahwa seseorang akan mencurinya?" tanya Rainy, mengungkapkan rasa penasaran yang sejak tadi memenuhi kepalanya.
Datuk Sanja tersenyum.
"Apa kau pikir little realm ini begitu mudah dimasuki? Hanya orang-orang yang memiliki potongan dari batu ungu di tangannya yang bisa memasuki dunia ini."
"Bagaimana kalau seseorang mencurinya dari tanganku?"
"Sekali potongan batu ungu mengakui seseorang sebagai pemiliknya, ia tidak akan bisa dipindah tangankan. Bila kau kehilangan ia di suatu tempat, ia bisa kembali sendiri padamu. Bila ia dicuri, orang mencurinya tidak akan bisa menggunakannya. Bagi orang lain, batu itu akan menjadi sebuah batu permata biasa saja."
"Bagaimana dengan kalung dan cincin yang belum bertuan? Bagaimana bila ada yang mencurinya dari Datuk?"
Mendengar ini, Datuk Sanja tertawa.
"Aku ingin lihat bagaimana seseorang bisa mencuri sesuatu dariku. Hahahaha!"
Sungguh orangtua yang sombong! Pikir Rainy sambil mencibir. Datuk Sanja melangkah maju dan tangannya terangkat untuk menyentuh sesuatu. Tiba-tiba batu ungu tersebut muncul di hadapan Rainy dengan tangan Datuk Sanja sedang mengelus-elusnya. Baru ungu tersebut muncul di tengah-tengah alam terbuka dimana Rainy sedang berada saat ini. Rainy mengedip-ngedipkan matanya saat mencoba memproses semua itu. Ini hanya sebuah ilusi, Rainy! Mereka sebenarnya masih berada di dalam gerbang ungu. Cobalah untuk segera membiasakan diri dengan semua ini! Tegur Rainy pada dirinya sendiri.
"Di duniaku, batu ini namanya juga Lavender Quartz. Aku menyebutnya batu ungu, bukan karena warnanya ungu. Namun karena entitas yang mendiaminya bernama Ungu." ucap Datuk Menjelaskan. Tangannya masih mengusap-usap batu ungu dengan penuh penghargaan.
"Entitas? Apa batu ini berpenghuni?" tanya Rainy. Biasanya apabila suatu benda diperlakukan secara istimewa atau dikeramatkan akan mungkin menyebabkan jin tertarik untuk menghuninya. Contohnya seperti keris atau tombak yang dikeramatkan, atau boneka-boneka Arwah. Kalau yang terakhir ini sih, jinnya memang sengaja diundang dan dimasukkan ke dalamnya.
"Ungu, apakah kau tidak mau berkenalan dengan cicitku?"
Mendengar ini kening Rainy langsung berkerut dengan waspada. Tak lama kemudian seorang wanita muncul begitu saja di hadapan mereka. Wanita tersebut memiliki wajah yang sangat cantik, dengan tubuh tinggi semampai dan mengenakan gaun panjang berwarna lavender. Mata phoenixnya menatap Rainy dengan hangat dan bibir mungilnya tersenyum lembut pada Rainy. Rainy berpikir bahwa ia baru saja bertemu dengan seorang dewi!
"Rainy, ini adalah Ungu."
Ungu mengangguk dengan sopan kepada Rainy dan Rainy membalasnya, masih dengan terpana. Ia tidak pernah bertemu dengan jin secantik ini sebelumnya.
"Batu ini disebut batu ungu, karena ia adalah rumah tempat dia berdiam dan bukan karena warnanya ungu." kata Datuk Sanja sambil menepuk-nepuk batu ungu. Rainy mengangguk paham.
"Jin?" tanya Rainy pendek. Ungu mengangguk membenarkan.
"Ia adalah Qorin yang lahir bersama istriku. Ketika istriku meninggalkan dunia ini, Ungu memilih untuk tinggal di dalam Lavender Quartz ini. Itu sebabnya burung-burung Lazuardi itu memilih untuk tinggal disini karena Ungu adalah refleksi sempurna dari istriku." ucap Datuk Sanja lagi.
"Ah, jadi begitu." Rainy mengangguk mengerti. Ia kemudian berjalan mendekati Datuk Sanja, berjinjit, mengangkat sebelah tangannya menutupi mulut dan berbisik pada Datuk Sanja. "Tapi Datuk, bukankah katanya Qorin adalah setan yang dilahirkan untuk menyesatkan manusia yang lahir bersamanya?"
"Itu benar. Namun saya telah masuk Islam. Maka saya tidak lagi mengganggu hati manusia yang saya dampingi, tapi malah mendorongnya untuk menguatkan ibadahnya." suara Ungu terdengar begitu indah di telinga, membuat Rainy terpana. Tak lama kemudian, Rainy kembali berbisik pada Datuk Sanja.
"Datuk, apakah suara Datuk Bawi juga seperti ini?" tanya Rainy. Datuk Sanja mengangguk.
"Waaah!" ucap Rainy sambil mengangkat kedua jempolnya ke depan dada. Datuk, kau sangat hebat karena bisa menikahi seorang dewi! Pikir Rainy. Melihat tingkahnya, Datuk Sanja dan Ungu tersenyum geli.
"Ungu, kau boleh kembali." ucap Datuk Sanja. Ungu mengangguk. Tak lama kemudian ia dan batu ungu menghilang dari pandangan mata. Rainy menggelengkan kepala. Ia merasa otaknya nyaris terbakar karena terus menerus di bombardir oleh informasi.
"Apakah kau merasa lelah?" tanya Datuk Sanja. Rainy menggelengkan kepalanya. Ia hanya merasa sedikit kewalahan.
"Baguslah. Kalau begitu, lihatlah kesana." suruh Datuk Sanja sambil menunjuk dengan dagunya.
Rainy mengikuti arah pandangan Datuk Sanja yang mengembalikan perhatiannya ke desa kecil di depan hutan itu.
"Dimana ini, Datuk?" tanya Rainy.
"Ini adalah salah satu desa tempat tinggal suku Bakumpai, yang terletak di hulu sungai Barito, pada tanggal 7 Juli tahun 1777. 255 tahun yang lalu." Sahut Datuk Sanja.
"Mengapa kau menunjukan ini pada saya?" tanya Rainy.
"Karena mereka." lagi-lagi Datuk Sanja menunjuk ke arah desa dengan dagunya.
Rainy menoleh mengikuti petunjuk Datuk dan melihat sepasang muda mudi muncul di ujung jalan setapak. Yang perempuan tampaknya masih berusia sekitar 16 tahun. Warna kulitnya terang dan matanya sedikit sipit, khas orang dayak. Hidungnya mancung dan bibirnya sangat mungil. Wajahnya berbentuk oval dengan tulang pipi yang tinggi, terlihat sangat cantik. Rambutnya yang panjang dikepang menjadi satu yang ujungnya diikat dengan sebuah tali kulit berwarna tan. Gadis itu mengenakan baju kebaya ala melayu berwarna putih yang dipadu dengan rok tenun khas dayak, membuatnya terlihat semakin manis dan sangat muda.
Pemuda di sampingnya tampaknya berusia lebih muda lagi, mungkin masih 14 tahun. Ia memiliki warna kulit dan penampilan yang sangat mirip dengan si gadis, yang menunjukkan bahwa mereka memiliki hubungan darah. Tubuhnya yang belum tumbuh sempurna karena usianya yang masih sangat muda, nampak ramping namun berotot. Ia mengenakan sebuah celana panjang dan kemeja tangan panjang dari bahan tenun berwarna krem, yang merupakan pakaian yang biasa dikenakan masyarakat bakumpai sehari-hari pada saat itu. Yang membuat Rainy terpana adalah wajahnya. Wajah pemuda itu merupakan versi muda dari wajah Datuk Sanja, dan tentu saja wajah Jaya Bataguh.