
Pada akhirnya Rainy mengalah pada bujukan Raka dan tanpa suara, mengikuti tunangannya itu memasuki area Masjid. Rainy kemudian memilih untuk menunggu di teras dan menyuruh Raka untuk meninggalkannya disitu. Setelah memberi Rainy senyum hangatnya, Raka berbalik dan berjalan menuju area wudhu, sementara Rainy berdiri diam di tempatnya, sambil terus mengikuti punggung Raka yang menjauh dan kemudian menghilang di balik dinding Mesjid. Menarik nafas panjang, Rainy menatap berkeliling dengan rikuh. Mesjid yang berdiri di hadapannya itu adalah sebuah masjid yang dibangun khusus untuk digunakan oleh para pegawai rumah sakit, pasien dan tamu di rumah sakit tersebut. Bangunan satu lantai tersebut tidak besar, namun memadai untuk mengakomodasi sekitar 80 orang melakukan sholat secara bersamaan. Bangunannya di cat dalam warna putih bersih dan tiang-tiangnya di buat dari kayu ulin yang di cat dalam warna coklat tua. Lantai terasnya di lapisi keramik dengan motif marmer berwarna putih. Tempat wudhu pria yang terbuka, berada di sisi kanan, sedangkan tempat wudhu wanita yang tertutup, berada di sebelah kiri bangunan Masjid. Di bagian depan yang terbuka luas hanya ada sebuah pohon akasia yang sangat besar dan rumput yang dipotong pendek sehingga terlihat seperti karpet hijau yang terhampar di setiap sudut halaman Masjid. Kapan terakhir ia memasuki area Masjid? Rainy tidak bisa mengingatnya. Yang pasti itu terakhir kali adalah pada masa sekolah dan itu dilakukan untuk mengisi kredit mata pelajaran agama Islam.
Dalam keluarga Rainy, Mesjid atau Musholla, bukanlah tempat wisata, apalagi sebuah tempat yang membawa ketentraman. Jaya Bataguh dan Marleena berasal dari satu-satunya sub suku Dayak yang beragama Islam, yaitu Suku Bakumpai. Budaya Islam sangat kental dalam gaya hidup suku mereka dan tidak bisa dipisahkan dari keseharian mereka. Namun, sejak Lauri memilih untuk menyambut uluran tangan Lilith, Islam nyaris menghilang dari kehidupan keturunannya. Konon katanya ada salah seorang cucu Lauri yang mengambil jalan berbeda dari saudara-saudaranya yang lain dan tumbuh besar menjadi seorang Guru Agama yang disegani. Namun pada suatu hari pria itu menghilang begitu saja tanpa jejak sama sekali. Setelah itu, di generasi berikutnya, beberapa orang juga menunjukan ketertarikan yang kuat pada agama. Namun satu-persatu mereka juga menghilang tanpa jejak. Hal ini menimbulkan rasa takut dalam hati yang lain. Mereka curiga bahwa menghilangnya orang-orang tersebut adalah karena diculik dan dibunuh oleh Iblis yang marah. Sejak itu muncul kepercayaan dalam keluarga bahwa bila ada dari mereka berani beribadah, maka mereka akan diculik oleh Iblis dan dilenyapkan dari muka bumi, tanpa harapan untuk selamat. Itulah sebabnya, agama tidak pernah dirayakan keberadaanya dalam keluarga Jaya Bataguh. Jangankan pergi ke Masjid untuk beribadah 5 kali sehari, sholat Ied yang hanya terjadi 2 kali setahun itu saja tidak pernah dilakukan. Ketika muslim lain menjalankan Ramadhan dengan penuh syukur dan menyambut Ied dengan kebahagiaan, dalam rumah-rumah keturunan Lauri, hari berlalu begitu saja, seperti hari biasa lainnya. Tanpa ritual, tanpa perayaan dan terutama, tanpa doa-doa. Sebagai anak-anak yang tidak pernah diajari maknanya ritual beragama, Rainy dan sepupu-sepupunya tidak memiliki hati untuk memperdulikan ibadah. Namun senja ini, berdiri di depan Mesjid untuk mengantarkan kekasih hatinya menemui Allah, Rainy merasa hatinya bergetar. Tubuhnya terasa dilingkupi oleh suara-suara Iqomah yang melantun indah, membuat Rainy terpaku di tempatnya. Apa ini? Apa yang sedang dirasakannya ini? Rainy tak bisa mengenali ataupun memahaminya.
Seperti dugaan Raka, Rainy melihat 2 orang wanita yang sedang duduk di teras tersebut, yang seperti juga dirinya, mungkin sedang menunggu pasangan mereka beribadah. Salah satu dari wanita tersebut adalah seorang wanita berhijab yang terlihat masih sangat muda dan sedang memeluk seorang anak perempuan mungil yang menggemaskan dalam kedua tangannya. Rainy kemudian memilih untuk duduk di atas tangga pendek, di sebelah pilar Masjid yang kemudian dijadikannya tempat bersandar. Setelah meletakkan tas kertas berisi kotak snacknya, Rainy mengambil telepon genggamnya dan berniat untuk melanjutkan bermain Sudoku untuk mengisi waktunya… atau begitulah rencananya. Namun Rainy tidak bisa berkonsentrasi sama sekali. Saat itu ibadah sholat Maghrib sudah dimulai dan suara bacaan yang dikumandangkan oleh Imam memenuhi telinga Rainy, lalu memasuki otaknya dan memenuhi hatinya. Suara itu kemudian beresonansi dalam darahnya dan membuatnya larut dalam sebuah rasa yang entah apa namanya. Rasa yang sama yang muncul saat ia mendengar lantunan Iqomah barusan. Rainy menurunkan telepon genggam di tangannya, menyandarkan diri ke pilar dan menutup matanya. Rasa itu, Rainy ingin merasakannya lebih jauh lagi. Rainy ingin mengenalinya… ingin menikmatinya…
“Adikku sayang, apa kau suka tempat ini?” Tiba-tiba suara merdu seorang wanita yang diwarnai oleh tawa terdengar di telinga Rainy. Terkesiap, Rainy membuka matanya. Hal pertama yang dilihatnya adalah kobaran api besar berwarna merah yang menyala terang benderang. Suhu udara di sekitarnya juga menjadi sangat panas. Rainy menegakkan tubuhnya dan memandang ke sekelilingnya dengan hati yang dipenuhi oleh rasa takut. Saat itu ia tidak lagi sedang duduk bersandar di atas tangga teras Masjid, namun ia sedang duduk di atas sebuah Rakit kecil di atas sungai yang airnya terbuat dari api yang membara, dengan Lilian sedang berdiri di sebelahnya. Iblis itu sedang berdiri sangat dekat dengannya. Ia memandang ke arah Rainy yang sedang duduk di dekat kakinya, layaknya seorang Ratu sedang memandang ke arah budaknya. Lilian mengenakan gaun mini berwarna merah darah yang memamerkan paha mulusnya dan bagian atas buah dadanya. Kakinya di bungkus sebuah sepatu berwarna merah yang memiliki hak runcing, membuat Rainy bertanya-tanya bagaimana caranya ia bisa berdiri dengan stabil di atas Rakit dengan mengenakan sepatu seperti itu? Tapi kemudian Rainy teringat bahwa sebagai iblis, itu pasti hanya masalah sepele bagi Lilian. Sebelah tangan kanan Lilian yang memegang sebuah Vape berwarna perak, sedang terulur untuk memasukkan ujung benda itu ke dalam mulutnya. Setelah Lilian menghisap Vapenya, segumpal asap putih keluar dari mulutnya, yang lalu melebar dan bergerak menjauh, untuk kemudian bergabung dengan asap yang di keluarkan oleh sungai api di sekitar mereka.
“Hmm… aku sangat suka rasa double mango ini. Ck ck ck... Manusia memang luar biasa. Mereka dengan pintarnya membuat racun dengan rasa yang enak sehingga korbannya tidak bisa untuk tidak mengkonsumsinya.” Komentar Lilian. Ia lalu mengulurkan vape tersebut pada Rainy.
“Kau mau mencoba?” Tawarnya dengan wajah penuh senyum. Rainy menggelengkan kepalanya. Rainy bukan orang yang suka meracuni diri sendiri dengan rokok dan sejenisnya. Ia bahkan memiliki alergi terhadap asap Rokok. Biasanya mencium asap Rokok akan membuatnya mual.
Melihat penolakan Rainy, Lilian hanya mengangkat bahunya.
“Good for you.” Ucapnya dengan suara tak acuh. Lilian melemparkan Vapenya ke dalam sungai api di depannya. “Harus kuakui, Pastry milik Éclair memang lebih enak dari benda beracun ini.” Komentar Lilian kemudian.
“Apakah ini mimpi?” Tanya Rainy lagi.
“Bravo! Akhirnya dia menyadarinya! What took you so long? are you bird brain?” Ejek Lilian sambil memasang ekspresi mengejek yang menyebalkan. Rainy mengabaikannya. Tidak ada perlunya memperdulikan sikap kasar iblis seperti Lilian. Ia adalah iblis. Bersikap kasar dan kurang ajar adalah sesuatu wajar untuknya.
“Mengapa membawaku kemari?” Tanya Rainy.
“Hmm… aku hanya ingin mengenalkanmu pada tempat ini.” Jawab Lilian. “Bagaimana? Bukankah tempat ini sangat indah? Apa kau suka?” Tanya Lilian dengan nada serius. Rainy hanya menatapnya seolah-olah sedang menatap seseorang yang dipandangnya tidak waras. Ekpresi Rainy yang dingin dan tampak meremehkan itu adalah ekspresi yang biasa diterima Lilian dari Rainy, sehingga ia hanya tersenyum melihatnya.
“What? Apa kau tidak suka?” Tanya Lilian, mengangkat kedua alisnya. Senyum yang mengembang di bibirnya terlihat sangat ramah dan manis, memberikan kesan bahwa ia adalah seorang gadis yang baik hati dan penyayang. Dasar iblis! Siapa yang ingin kau bohongi? Pikir Rainy sambil menyipitkan matanya.
“Sayang sekali bila kau tidak suka. Tapi adikku sayang, sebaiknya kau lihat lagi baik-baik, karena tempat ini adalah tempat yang akan kau tinggali, bila kau mati nanti.” Beritahu Lilian sambil memberi Rainy senyum terindahnya.