My Beautiful Blue Rain

My Beautiful Blue Rain
Buku Perjanjian



Ketika membuka mata, hal pertama yang Ardi lihat adalah wajah cantik Arka. Ardi sampai mengedip-ngedipkan matanya untuk memastikan bahwa yang duduk di kursi di samping ranjangnya itu adalah manusia, dan bukannya mahluk tak kasat mata yang berwujud manusia berwajah androgini. Namun setelah beberapa saat ia menyadari bahwa pemuda itu adalah putra angkatnya, Arka. Melihat Ayah angkatnya membuka mata, Arka mendekatkan wajahnya dan bertanya dengan suara pelan,


“Papa, apakah papa lapar?”


Ardi mengangguk mengiyakan.


“Arka bawakan bubur ikan gabus untuk papa. Papa mau?” Tanya Arka lagi.


“Bubur ikan Gabus? Memangnya ada yang jual ya?” Tanya Ratna yang baru saja menutup teleponnya dengan Meyliana.


“Arka tadi minta pada bibi, Ma. Kata Dokter, ikan Gabus baik untuk membantu penyembuhan luka Papa. Makanya Arka berpesan pada Bibi untuk membuatkannya untuk Papa.” Beritahu Arka. Ia mengambil termos berisi bubur dan sendok dari atas meja. Ratna tersenyum dan berjalan mendekat ke ranjang. Ia menatap pada suaminya yang juga sedang tersenyum.


“Coba lihat putramu ini. Tidak sia-sia kita menyayanginya! Ia sangat berbakti pada orangtua.” Puji Ratna. Ardi mengangguk pelan. Ratna kemudian mengulurkan tangan pada Arka. “Sini, biar mama yang menyuapi Papa. Kau makanlah dulu. Pasti kalian semua sudah lapar.” Suruh Ratna. Arka menyerahkan termos dan sendok di tangannya pada Ratna dan dengan patuh berjalan menuju sofa untuk makan. Rainy sudah mengeluarkan box makanannya dan membagikannya pada Arka dan Raka.


“Sushi!” Ucap Rainy dengan girang ketika melihat sederet Sushi yang tertata cantik dalam box makanan berwarna hitam yang dihiasi dengan sebuah pita kertas berwarna hitam bergambar bunga sakura dan logo restaurant tempat Arka membelinya. Arka selalu tahu untuk memilihkan sesuatu yang disukainya. Rainy sangat bersyukur pada kakak angkatnya itu. Mereka makan dengan tenang dan tanpa suara. 30 menit kemudian, semua Sushi di boxnya telah menghilang.


“Aaaah, perutku penuh!” Ucapnya sambil menepuk-nepuk perutnya yang masih setipis biasanya. Rainy bersandar di sofa dengan puas.


“Sudah kenyang?” Tanya Arka yang sushinya masih tersisa setengahnya. Rainy biasanya makan seperti burung, sangat sedikit. Tapi bila ia bertemu Sushi dan Pastry, Rainy bisa berubah menjadi setan yang kelaparan, tidak ada kenyangnya. Itulah sebabnya bila mood gadis itu sedang tidak baik, Raka dan Arka selalu membelikan Sushi dan Pastry untuk memastikan bahwa Rainy makan dengan lahap. Mendengar pertanyaan Arka, Rainy mengangguk.


“Benarkah?” Tanya Arka lagi. Rainy kembali mengangguk. Arka membungkuk dan mengeluarkan sesuatu dari dalam tas belanjanya.


“Apa kau yakin?” Tanya Arka sambil memamerkan kotak snack berlogo Éclair di tangannya. Mata Rainy langsung membesar. Ia melompat berdiri dan langsung menyambar kotak tersebut, kemudian langsung membuka dan menikmati pastrynya, lupa bahwa tadi ia baru saja merasa kenyang. Membuat semua orang yang ada melihatnya tersenyum karena terhibur oleh tingkahnya.


***


Keesokan paginya kondisi Ardi menjadi lebih baik. Ia masih kesulitan untuk duduk tegak, namun Ardi tidak lagi menghabiskan waktu dengan tidur. Warna wajahnyapun tidak lagi sepucat sebelumnya dan ia bisa berbicara dengan mudah. Jam 10 pagi, Guru Gilang, Lara, Batari dan Mr. Jack muncul untuk menjenguk Ardi. Melihat Guru Gilang datang menjenguknya, Ardi otomatis hendak turun dari ranjang untuk menyambutnya namun tentu saja tak seorangpun akan membiarkannya. Sehingga membuat Ardi, dengan bersungut-sungut pada istri dan anak-anaknya, mengangguk penuh hormat pada Guru Gilang dan Lara.


Rainy memperhatikan dengan sedikit terkejut ketika melihat ayahnya ternyata begitu menaruh hormat bukan hanya pada Guru Gilang, namun juga Lara. Hal ini membuat Rainy menjadi bertanya-tanya mengenai latar belakang Guru Gilang dan Lara yang sesungguhnya. Rainy berniat untuk menanyakannya pada ayahnya kelak namun untuk sementara ini ia hanya akan menyimpannya dalam hati dulu.


Mr. Jack dan Batari datang menjenguk sekalian mengantarkan Bestari untuk berobat di Rumah Sakit tersebut. Bestari kemudian diperintahkan untuk di rawat, sehingga ke depannya, Rainy akan sering bertemu dengan mereka.


Guru Gilang dan Ardi bercakap-cakap dengan akrab sampai jam 12 siang tiba dan Ardi harus menyantap makan siangnya. Saat Guru Gilang hendak berpamitan, Ardi menyuruh Rainy untuk menjamu Guru Gilang dan Lara. Dengan senang hati, Rainy, bersama Raka dan Arka tentu saja, membawa Guru Gilang dan Lara untuk makan siang di sebuah Hotel berbintang yang masakannya merupakan #favorit Ardi dan juga Jaya Bataguh. Mereka menempati sebuah privat room dan menikmati makan seang dengsn tenang. Sambil makan, mereka bercakap ini dan itu, sebelum akhirnya lompat ke seputar Divisi VII yang saat Rainy dan Raka tiada, dipimpin oleh Natasha dan Guru Gilang.


Guru Gilang menceritakan bahwa mereka sudah menerima beberapa kausus kecil yang berakhir mengesankan. Lara memimpin timnya dengan baik dan bisa beroperasi secara lancar walaupun hanya berani menerima tugas-tugas yang lebih sederhana dan mudah dipecahkan. Ketika kemudian Rainy bertanya mengenai Meyliana, barulah senyum di bibir Guru Gilang sedikit memudar.


"Apakah guru sudah memeriksa keadaan tante Meyliana?" Tanya Rainy.


"Sudah." jawab Guru Gilang.


" Lalu bolehkah Guru Gilang menceritakan apa yang sedang dialami tante Mey?" Tanya Rany lagi.


"Ibu Meyliana mengalami migrain hebat dan terus-menerus dihantui oleh mimpi buruk. Berdasarkan observasi saya, Ibu Meyliana memperoleh kiriman ilmu pengasih." jelas Guru Gilang.


"Hah? Pengasih? Apa maksud Guru, Tante Mey dipelet?" Tanya Rainy dengan terkejut.


Guru Gilang mengangguk.


"Saya tidak menemukan petunjuk ke arah sana. Namun menurut cerita Ibu Meyliana, sekitar 1 bulan yang lalu ia menerima pernyataan cinta dari salah seorang pemuda yang bekerja sebagai tukang kebun." Cerita Guru Gilang. Cerita ini membuat Rainy melongo heran.


"Tu... Tukang kebun?" ulang Rainy terbata. Rainy tak bermaksud merendahkan pekerjaan tukang kebun, namun besar sekali nyali pemuda itu mencoba merayu atasan tertingginya hanya berbekal pekerjaannya?


"Benar." Jawab Guru Gilang, sangat maklum pada respon yang ditunjukan oleh Rainy.


"Lalu apa yang terjadi?" tanya Raka.


"Ibu Meyliana menolaknya. Lalu orang tersebut langsung berhenti saat itu juga. Ketika saya tanya mengenai siapa saja yang mungkin menjadi pengirim ilmu pengasihan tersebut, hanya orang ini yang terpikir oleh Bu Meyliana." Lanjut Guru Gilang. "Bu Meyliana bilang, apabila dilihat dari wajahnya, kuat dugaan ia adalah salah satu warga native."


"Apakah Guru Gilang berhasil mengobati Tante Mey?" tanya Rainy.


Sambil menghela nafas panjang, Guru Gilang menggelengkan kepalanya.


"Bukannya tidak bisa mengobati. Hanya saja setiap kali saya berhasil mengobati dan memutus kontak antara Ibu Mey dengan ilmu pengasihan ini, setiap kali juga ilmu baru akan dikirimkan. Pelakunya sangat tekun dan ilmu hitam yang dimilikinya cukup kuat. Bahkan Dehen dan Sangkala tak berkutik menghadapinya." beritahu Guru Gilang.


"Lalu apa yang akan Guru lakukan?" tanya Raka lagi.


"Saya akan mengirim Baladewa untuk melacak jejak sang pengirim ilmu pengasihan ini. Saya pikir hanya dengan bertemu dengannya secara langsung kita bisa menghentikan serangan-serangan ini." jawab Guru Gilang.


"Kalau Guru Gilang membutuhkan kami, jangan ragu untuk menghubungi saya ya, Guru." tawar Rainy. Namun Guru Gilang menggelengkan kepalanya.


"Tidak perlu! Kami bisa mengatasinya. Lagipula Divisi VII harus belajar untuk bekerja tanpa dirimu. Hanya dengan begitu kami bisa mengurangi beban yang engkau hadapi setiap kalinya." tolak Guru Gilang.


Mendengar ini hati Rainy terasa hangat. Ia mengangguk penuh rasa syukur.


"Terimakasih, Guru." ucapnya manis. Guru Gilang hanya mengangguk dan melanjutkan,


"Lagipula ada hal lain yang lebih penting untuk kau selesaikan kan." ucap Guru Gilang mengingatkan. Rainy dan Raka saling berpandangan.


"Apa itu, Guru?" tanya Rainy kemudian.


"Memajukan tanggal pernikahan?" tebak Raka. Guru Gilang mengangguk.


"Sebentar lagi kau berusia 24 tahun. Dalam keluargamu, usia 24 tahun merupakan masa ketika Lilith akan menasbihkanmu sebagai pengikutnya dengan memaksamu menanda tangani buku perjanjian yang telah diwariskan secara turun temurun. Apa kau ingat?" tanya Guru Gilang. Rainy mengangguk. Ia ingat bahwa kakeknya pernah memberitahunya mengenai hal ini. Tapi Rainy tidak berniat untuk melakukannya.


"Aku tahu kau tidak berniat untuk melakukannya." sergah Guru Gilang, menjawab isi pikiran Rainy. Rainy mengangkat kepalanya dan menatap guru Gilang dengan tercengang. "Namun iblis itu akan melakukan segala cara untuk memaksamu melakukannya. Bila tidak dengan cara halus, tentu dengan kekerasan." Tiba-tiba jantung Rainy berdetak kencang mendengar kata-kata Guru Gilang. Firasat buruk menerpa hatinya bagai tsunami.


"Bila tidak dengan mengancam nyawamu...." kata-kata Guru Gilang terhenti. Ia menatap Rainy dengan tatapan mata yang penuh teguran.


"Dia akan mengancam nyawa orang-orang yang kucintai?" lanjut Rainy pelan.


"Bukankah itu sudah jelas?" sahut Guru Gilang dengan tegas.