
Malam itu Raka dan Rainy tidak tidur. Mereka hanya berbaring berpelukan di atas ranjang dan mengobrol sampai adzan subuh terdengar. Saat Raka sedang sholat subuh, Rainy yang berbaring diam sambil memandangi Raka, akhirnya pelan-pelan jatuh tertidur. Ketika Raka kembali ke ranjang dan menemukan bahwa istrinya telah meninggalkannya ke alam mimpi, Raka tersenyum. Ia lalu berbaring di sisi Rainy dan menarik gadis itu masuk ke dalam pelukannya, kemudian menghabiskan waktu menunggu pagi tiba dengan memandangi wajah Rainy dan membelai kepalanya. Sesekali Raka mendaratkan kecupan lembut atau menempelkan hidungnya ke tubuh Rainy dan menghirup wangi tubuh gadis itu. Ia memandangi setiap jengkal kulit Rainy dan mencoba mengingat semua detail yang ada disana. Semua detail yang dicintainya.
Saat Jam 7 pagi tiba, suara ketukan terdengar di pintu. Raka menarik nafas panjang dan melepaskan diri dari Rainy. Ia lalu berjalan dengan hati-hati menuju pintu, namun sebuah gerakan di tempat tidur menghentikan langkah Raka. Raka menoleh dan menemukan bahwa Rainy telah duduk di atas ranjang sambil mengucek-ngucek matanya.
"Raka?" panggil Rainy.
"Emm." sahut Raka.
"Apakah waktunya sudah tiba?" tanya Rainy.
"Emm." Raka mengangguk.
"Baiklah. Aku akan bersiap-siap." ucap Rainy yang dengan tenang bangkit dari ranjang dan masuk ke dalam toilet mungil untuk membersihkan diri, sementara Raka kembali menuju pintu. Saat Raka membuka pintu tersebut, ia tidak merasa terkejut melihat Ungu telah berdiri di depan pintu.
"Sudah saatnya." beritahu Ungu.
"Saya tahu." Raka mengangguk. "Kami akan turun sebentar lagi." Ungu mengangguk, lalu berbalik meninggalkan Raka.
Satu jam kemudian, Rainy, Raka, Datuk Sanja dan hampir semua leluhur yang ada di dunia kecil ini, serta kedua orangtua Rainy sedang berdiri di depan sebuah menara yang tinggi menjulang. Menara Kultivasi adalah tempat bagi setiap orang yang ingin meningkatkan kultivasinya. Semua leluhur di dunia kecil tersebut telah terbiasa untuk berlatih di dalam menara kultivasi. Namun biasanya waktu yang berlalu tidak pernah diatur hingga sampai selama seperti sekarang ini. 100 tahun. Bahkan para leluhur yang telah hidup beberapa ratus tahunpun merasa waktu 100 tahun untuk terkurung dalam menara kultivasi adalah sangat berlebihan. Salah satu leluhur berpikir bahwa Rainy hanya akan mati kebosanan sebelum 100 tahun tersebut berlalu. Namun karena ini sudah menjadi keputusan Datuk, tak ada yang berani bersuara. Pada akhirnya, setelah berpamitan pada Raka, orang tua dan semua leluhur yang mengantarkannya, Rainy mengikuti Datuk Sanja memasuki menara kultivasi.
Awalnya ruangan yang Rainy dan Datuk Sanja masuki tampak sangat gelap. Namun setelah pintu tertutup di belakang mereka, cahaya berangsur-angsur muncul dan menerangi ruangan. Namun dengan terkejut Rainy melihat bahwa mereka tidak sedang berada dalam sebuah ruangan. Saat itu mereka sedang berdiri di sebuah gurun pasir yang sangat luas. Kemana mata memandang, yang terlihat hanyalah bukit pasir yang meliuk-liuk naik dan turun. Lalu pelan-pelan suhu udara mulai meningkat semakin lama semakin tinggi hingga mencapai sekitar 35°c. Membuat Rainy mulai merasa tidak nyaman.
"Datuk, bukankah seharusnya ini adalah lantai dasar menara?" tanya Rainy dengan heran.
Binatang gurun? Kalajengking? Hiiii! Rainy langsung bergidik mendengarnya.
"Lalu apa yang saya harus lakukan disini?" tanya Rainy.
"Pertama-tama kau harus belajar mengenai pengenalan terhadap kultivasi terlebih dahulu." Datuk mendongak dan menatap ke langit. Tak lama kemudian ia berjalan menuju ke suatu arah dengan langkah yang tegas dan pasti.
"Ikuti aku." suruhnya. Rainy mengangguk tanpa suara dan langsung berjalan mengikuti Datuk Sanja.
Mereka kemudian berjalan melintasi gurun selama beberapa jam. Apabila bukan karena ia adalah orang yang tekun berolahraga setiap harinya, mungkin saat ini kaki Rainy sudah terasa mau putus dan tak bisa digerakan lagi. Namun Rainy terus bertahan dan berjalan di belakang Datuk Sanja dengan tanpa suara. Sepanjang perjalan itu, Rainy tidak melihat apapun kecuali gundukan pasir disana-sini. Karena bentuk gundukan pasir yang serupa, Rainy sampai curiga bahwa jangan-jangan Datuk telah membawa mereka berjalan berputar-putar di tempat yang sama karena tersesat. Namun setelah berjalan selama 5 jam lamanya, Rainy melihat sebuah oase muncul di kejauhan. Rainy sampai melompat-lompat karena girang.
"Datuk, oase! Oase!" tunjuknya sambil menarik-narik sebelah lengan baju Datuk Sanja. Datuk Sanja hanya mengangguk dan tanpa suara, terus melangkah maju menuju oase, sementara Rainy terseok-seok mengikutinya. Mereka terus berjalan tanpa henti. Tahu-tahu mereka sudah berjalan selama 1 jam, tapi walaupun oase tersebut terlihat jelas, mengapa bukan hanya belum berhasil mencapainya, jarak antara mereka dan Oase tersebut tidak juga memendek? Bukankah seharusnya semakin mereka berjalan mendekat, semakin Oase tersebut terlihat membesar yang menandakan bahwa jarak di antara mereka semakin dekat? Tapi mengapa hal tersebut tidak terjadi? Rainy memandang Oase di kejauhan sana dengan bingung dan mulai berpikir keras. Apakah oase tersebut hanyalah sebuah fantasi?
Rainy pernah mendengar bahwa saat seseorang sedang merasa sangat kelelahan dan kehausan di gurun, seringkali sebua oase akan terlihat di kejauhan. Namun ketika didatangi, Oase tersebut tidak juga mendekat atau malah menghilang begitu saja. Hal ini terjadi karena oase tersebut sebenarnya tidak pernah ada dan hanyalah halusinasi yang muncul karena orang tersebut sangat berharap untuk bisa menemukan oase yang merupakan harapan bahwa ia akhirnya bisa menyelamatkan diri. Harapan yang dipenuhi keputus asaan menghasilkan halusinasi kejam yang bukan saja menipu mata, namun berpotensi membuat orang yang bersangkutan tersesat makin jauh ke dalam gurun. Apakah saat ini mereka sedang mengalami hal tersebut? Rainy berpikir keras sambil mengedip-ngedipkan matanya. Namun tak lama kemudian ia menggeleng kuat-kuat dan membantah kecurigaannya tersebut. Tidak mungkin! Bukankah Datuk Sanja juga melihat Oase yang sama? Bila 2 orang melihat sesuatu yang sama, di tempat yang sama dan pada waktu yang bersamaan, itu tidak mungkin halusinasi! Pikir Rainy.
"Datuk, mengapa kita belum sampai di oase itu juga?" tanya Rainy pada Datuk Sanja. Datuk Sanja menoleh pada Rainy yang seluruh tubuhnya sudah basah oleh keringat dan kulit wajahnya memerah karena terbakar terik matahari.
"Bersabarlah. Oase tersebut memang ada, namun jarak antara kita dengan Oase tersebut hanyalah halusinasi." Sahut Datuk Sanja.
"Eh?" Rainy terperangah. Apa maksud dari kata-kata tersebut? Mengapa Rainy tak bisa memahaminya?