
“Kalung?” Batari mencibir dengan jijik. Ia mengulurkan tangannya dan menarik lepas kalung yang menggantung di lehernya. Tanpa berpikir panjang, Batari melemparkan kalung tersebut ke arah Arbain. Namun karena jaraknya yang terlalu jauh, kalung tersebut hanya berhasil menempuh setengah perjalanannya saja. Melihat ini, Mr. Jack melangkah maju, lalu membungkuk untuk mengambil kalung tersebut. Setelah itu ia berjalan mendekati Arbain. Wajahnya yang tampan terlihat dingin dan matanya menyorot tajam. Tubuhnya mengeluarkan aura kemarahan tertahan yang membuat sosok Mr. Jack yang tinggi besar, bukan saja terlihat mengintimidasi, namun juga agak menakutkan. Apabila dibandingkan dengan Mr. Jack yang tingginya mencapai 190 cm, para penduduk Desa Ampari terlihat seperti kurcaci-kurcaci yang menyedihkan. Hal ini membuat beberapa penduduk desa tanpa sadar melangkah mundur saat melihat Mr. Jack mendekat. Mr. Jack kemudian berhenti tepat di depan Arbain dan mengulurkan kalung Batari yang tergantung di genggaman tangannya ke depan wajah Arbain. Arbain sampai harus memundurkan kepalanya karena kepalan tangan Mr. Jack berada terlalu dekat dengan wajahnya.
“Lihat baik-baik!” Geram Mr. Jack dengan nada rendah yang mengancam. Menelan ludahnya, Arbain mencurahkan perhatiannya ke arah liontin kalung yang menggantung tepat di depan hidungnya. Selain dirinya, Garan dan Anwar, serta beberapa penduduk desa lainnya, dengan takut-takut, berjalan mendekat untuk bisa turut melihat kalung tersebut. Betapa terkejutnya mereka ketika melihat bahwa liontin yang menggantung di kalung tersebut sama persis dengan liontin kalung yang ditemukan di bawah tubuh bayi yang menjadi korban Kuyang. Arbain meraba kantung celananya, lalu mengeluarkan handphonenya. Ia kemudian membuka galeri dan mencari foto liontin kalung tersebut. Setelah menemukannya, ia langsung membandingkan keduanya. Setelah memandang dengan seksama selama beberapa menit, ia terpaksa mengakui bahwa kedua liontin tersebut adalah identik. Namun bagaimana mungkin liontin kalung tersebut masih tergantung di leher Batari padahal jelas-jelas mereka sudah menyerahkannya kepada Polisi? Bukankah itu berarti kalung tersebut bukanlah milik Dokter Batari, tapi hanya sebuah kalung yang kebetulan memiliki liontin yang sama persis dengan liontin yang terpasang di kalung kesayangan Dokter Batari? Pemikiran ini membuat Arbain merasa malu. Ia tidak seharusnya membiarkan penduduk desa bersikap sewenang-wenang terhadap Dokter Batari yang telah begitu berjasa pada Desa Ampari, sebelum mengetahui fakta-faktanya.
“Apakah kau sudah cukup melihatnya?” Geram Mr. Jack kembali. Arbain mengangguk dengan gugup. Ia sudah beberapa kali melihat Mr. Jack saat pria ini mengunjungi Dokter Batari di Desa. Namun baru kali ini ia berdiri begitu dekat dengannya dan menerima langsung ekspresi kemarahannya. Di matanya, Mr. Jack terlihat sangat berbahaya. Bagaimana bisa Dokter Batari yang bertubuh mungil dan berpenampilan menggemaskan menjalin hubungan dengan pria yang lebih mirip anggota mafia daripada seorang chef itu? Begitu pertanyaan yang saat ini berputaran di kepala Arbain. Puas pada jawaban Arbain, Mr. Jack menurunkan tangannya dan menaikkan salah satu sudut bibirnya hingga membentuk senyum sinis sambil memandang ke arah penduduk desa, satu-persatu. Tatapannya yang garang membuat penduduk desa Ampari menelan ludah dan gemetar ketakutan. Merasa puas pada reaksi yang mereka tunjukan, Mr. Jack berbalik dan berjalan menuju ke sisi Batari. Namun baru setengah jalan, salah satu penduduk desa bertanya dengan keras.
“Apakah kau mencurinya dari kantor polisi?” tuduh pria tersebut. Mendengar ini, perlahan-lahan, Mr. Jack memutar tubuhnya hingga kembali menghadap ke arah penduduk desa Ampari. Ia mengerutkan keningnya dan bertanya dengan dingin.
“Siapa tadi yang bertanya?”
Seorang pria muda dengan wajah yang dipenuhi jerawat dan gigi yang tonggos, mengangkat wajahnya dan menatap ke arah Mr. Jack dengan berani, walaupun tangannya terlihat sedikit gemetar.
“Aku!” Mendengar ini, Mr. Jack langsung mengarahkan tatapannya pada pria tersebut dan tersenyum, yang sayangnya daripada sebuah senyum, lebih terlihat sebagai sebuah seringai yang menyeramkan.
“Apa kau tidak punya otak? Berani-beraninya kau menghina polisi dengan mengatakan bahwa barang bukti yang mereka simpan bisa dengan mudah dicuri. Tunggu saja sampai aku melaporkanmu pada mereka dan kita lihat, apakah mereka akan menangkap dan menuntutmu atau tidak.” Ancam Mr. Jack dengan suaranya yang penuh nada penghinaan. Mendengar ini, pria itu menelan ludahnya. Namun dengan nekat ia berkata,
“Apa kau mau bertaruh denganku? Kalau aku menang, siap-siap untuk kehilangan seluruh gigimu!” Tantang Mr. Jack dengan nada mengancam. Ia hendak berjalan mendekat, namun Arbain menahannya dengan berkata,
“Pak Zakaria, tolong maafkan dia. Ia tidak bermaksud menantang Pak Zakaria. Ia hanya sedang emosi dan tidak tahu apa yang ia katakan.” Ucap Arbain mencoba melerai. Mr. Jack menyipitkan matanya dengan tatapan tidak senang.
“Suruh anak buahmu untuk menjaga mulutnya atau bila tidak, aku tidak keberatan merapikan giginya tanpa dipungut biaya.” Ancam Mr. Jack sambil melirik ke arah pria yang dimaksud dengan tatapan jijik. Setelah itu Mr. Jack kembali berbalik dan berjalan pelan menuju ke sisi Batari. Begitu ia berbalik memunggungi penduduk desa Ampari, wajah penuh kemarahannya yang mengintimidasi, langsung berganti dengan senyum lebar khas Mr. Jack yang terlihat menyenangkan di mata Rainy cs. Sayangnya, para penduduk desa tidak bisa melihatnya. Andai saja mereka melihatnya, pasti citra menyeramkan yang barusan ditunjukan oleh Mr. Jack di hadapan mereka akan langsung menguap bersama angin yang berlalu. Memiliki tubuh tinggi dan besar memang sangat berguna untuk menakuti orang, pikir Rainy dengan geli.
“Pak Kepala Desa, anda sudah melihat sendiri bahwa kalung yang kalian temukan tidak ada hubungannya dengan kalung yang dimiliki oleh Dokter Batari.” Ucap Raka dengan suara yang menyenangkan. Arbain mengangguk. Ia lalu menoleh pada Batari dan berkata,
“Dokter Batari, sebagai Kepala Desa Ampari, saya telah melanggar hak-hak Dokter dan gagal untuk melindungi Dokter dari tindakan warga kami yang sangat tidak adil pada Dokter. Untuk itu saya memohon maaf yang sebesar-besarnya. Saya akan memastikan untuk menyebarkan fakta ini pada semua warga agar mereka mengetahui bahwa Dokter Batari tidak bersalah.” Batari hanya mengangguk, namun menolak untuk menjawab. Ia sudah tidak memiliki minat untuk tinggal dan bergaul dengan warga Desa Ampari. Bahkan walaupun kemalangan yang dialami penduduk desa Ampari disebabkan oleh ibu kandungnya sendiri, itu tidak hubungannya dengan dirinya. Bisa-bisanya mereka tidak menghargai kebaikannya selama ini dan mencoba membunuhnya begitu mereka menemukan sebuah alasan untuk melakukannya. Sikap mereka yang mencoba main hakim sendiri pada dirinya tanpa mencari tahu kebenarannya terlebih dahulu sungguh sangat melukai hati Batari, sehingga ia merasa muak pada warga desa
Ampari. Andai saja waktu itu Tuhan tidak mengasihinya, ia pasti telah kehilangan nyawanya di tangan penduduk desa. Batari tidak bisa membayangkan bagaimana jadinya bila mati akibat sabetan Mandau dan pukulan kayu yang dilakukan beramai-ramai. Mayatnya pasti sudah tidak berbentuk lagi. Setiap membayangkan ini, Batari menjadi sangat marah dan membenci seluruh penduduk desa Ampari. Kalau bukan karena hatinya yang baik, ia pasti sudah mengutuki seluruh penduduk Desa Ampari untuk jadi makanan Kuyang.