
Rainy terus berjalan pelan menyusuri jalan setapak bertabur bunga tersebut, menuju ke arah panggung berada. Di ujung jalan setapak, Rainy berhenti melangkah dan mengangkat kepalanya. Ia bertatapan dengan Raka yang juga sedang memandang ke arahnya dengan senyum lebar menghiasi wajahnya. Raka mengenakan kemeja batik sutra berwarna ice blue yang membuatnya terlihat semakin tampan. Pria itu segera menuruni panggung untuk menjemput Rainy dengan senyum penuh pujian pada kecantikan gadis itu. Raka mengulurkan tangannya dan menuntun Rainy menaiki panggung, sementara itu kedua pasang orang tua mereka turut naik keatas panggung dan berdiri di sisi kiri dan kanan panggung, menghadap pada Rainy dan Raka yang berdiri di tengah. Rainy memandang pria di hadapannya, tak dapat memahami mengapa tiba-tiba ia merasa diliputi perasaan malu. Jantungnya berdetak sangat kencang dan wajahnya memerah, membuat kecantikannya semakin terpancar dengan indah. Raka meremas tangan gadis tersebut yang masih berada dalam genggamannya dan memandangi gadis pujaan hatinya dengan penuh kebanggaan. Rainy begitu cantik, dan gadis cantik di hadapannya ini mulai hari ini adalah miliknya. Raka merasa kakinya tidak menjejak tanah karena begitu bahagia. Sepasang muda-mudi ini begitu larut dalam perasaan dan pikiran mereka sendiri sampai tidak mendengar apapun yang tengah terjadi di sekitarnya.
Setelah menyampaikan beberapa sambutan dan ucapan terimakasih pada para tamu atas kesediaan mereka untuk datang ke tempat yang cukup jauh walaupun hanya diundang lewat pesan pendek dan di waktu yang terlalu singkat, Aditya dan Ardi secara bergantian memperkenalkan Raka dan Rainy pada para tamu. Namun Raka dan Rainy yang terlalu terpesona pada satu sama lain, sama sekali tidak merespon panggilan ayah-ayah mereka, bahkan ketika Aditya dan Ardi mengejek mereka berkali-kali, sehingga mengundang gelak dan tawa para tamu. Pada akhirnya keduanya menyerah. Aditya menepuk bahu putranya pelan dan membangunkan Raka dan Rainy dari mantra cinta mereka. Keduanya tampak salah tingkah, yang membuat para tamu tersenyum geli. Aditya menggelengkan kepalanya dengan maklum dan menyerahkan microphone ke tangan Raka.
“Lakukan apa yang sangat ingin kau lakukan, nak. Ayah berjanji kami akan pura-pura tidak melihat.” Kelakar Aditya, mengisyaratkan bahwa Raka boleh bersikap lebih mesra lagi pada Rainy tanpa perlu takut pada pandangan orang lain, sebab semua orang akan pura-pura bahwa hal itu tidak sedang terjadi. Kalimatnya ini tentu saja disambut derai tawa para tamu, sehingga membuat wajah Raka dan Rainy bertambah merah dan hanya bisa tersenyum.
Raka memegang microphone di tangannya dan memandang Rainy lekat-lekat. Tiba-tiba ia merasa gugup. Raka bukanlah orang yang mudah merasa gugup. Ia dibesarkan dengan kesadaran bahwa dalam status sosial, ia berada di atas banyak orang, dan dalam inteligensi serta bakat, ia memimpin di depan banyak orang. Raka adalah orang yang ditakdirkan berada di puncak dunia dan ia sudah menyadari ini sejak ia masih belia. Hal ini memberikan Raka kepercayaan diri yang besar dan membuatnya nyaris tidak pernah merasa gugup. Satu-satunya yang bisa membuatnya merasa gugup adalah Rainy. Gadis itu selalu menjadi sumber dari kegelisahannya, penyebab ketakutannya, dan alasan dari jatuhnya air matanya. Dan di atas segalanya, Rainy adalah kebahagiaannya. Raka perlahan menarik nafas panjang untuk menenangkan diri. Ia mengeluarkan sebuah kotak mungil dari kantong celananya, lalu berlutut dengan sebelah kakinya. Raka kemudian membuka kotak mungil tersebut dan menunjukan pada Rainy benda yang ada di dalamnya, yaitu sebuah cincin platina mungil yang seluruh permukaannya tertutup dengan berlian-berlian mungil yang berkilauan. Raka mengambil sebelah tangan Rainy dan mengangkat wajahnya untuk memandang mata gadis itu.
“Rain, pertama kali aku melihatmu adalah saat kau masih berusia beberapa bulan dan masih selalu berada dalam pelukan tangan-tangan ibumu. Saat itu aku sudah terpesona dengan tatapan matamu dan senyummu yang menggemaskan. Lalu saat kau untuk pertama kalinya menangkap jari telunjukku dalam genggaman tanganmu, saat itu aku tahu bahwa aku ingin setiap hari bisa bersamamu. Aku bahkan menyuruh mama untuk memintamu dari tante Ratna, dan kalau tante Ratna tidak setuju, merencanakan untuk menculikmu.” Mendengar kata-kata Raka, Rini mendengus geli sementara yang lainnya, termasuk para tamu, tertawa.
“Well, walaupun waktu itu mama menolak mentah-mentah keinginanku, namun aku berhasil mewujudkan harapanku untuk selalu berada di sampingmu. Kita tumbuh besar bersama. Dalam hidupku tak pernah ada gadis lain selain dirimu. Aku ingat pertama kalinya aku menyadari bahwa yang kurasakan padamu ini adalah cinta, adalah pada saat kau memuji-muji Mr. Jack karena menurutmu ia telah membuat pastry terenak sedunia dan membuatmu tersenyum begitu lebar padanya. Saat itu aku menyadari apa yang namanya cemburu. Dan bila itu cemburu, aku menyadari bahwa itu artinya aku mencintaimu. Saat itu aku masih berusia 13 tahun dan kau masih 9 tahun.” Lagi-lagi kalimat ini disambut dengan gelak tawa oleh para tamu, sementara kedua pasang orang tua mereka menggeleng-gelengkan kepalanya. Namun Raka mengabaikan mereka semua dan melanjutkan,
“Lalu ketika kau duduk di bangku SMA kelas 3 dan mulai menjaga jarak dariku, aku merasa sangat terluka. Kau tidak memperlakukanku dengan buruk. Hanya saja kau tidak lagi mengijinkan aku untuk menuntunmu saat kau tidak bisa berjalan dengan benar dan hampir terjatuh. Kau tidak membiarkan aku melindungimu ketika sepupu-sepupumu mengganggumu. Dan kau tidak mengijinkan aku mengambilkan air untukmu ketika kau sedang haus, atau kau tidak bersedia menyentuhku ketika kita sedang berlatih… hatiku sangat terluka.”
“Hari ini, akhirnya, berbekal restu kedua orang tua kita, aku ingin mengakhiri semua rasa itu dengan sesuatu yang indah, yaitu dengan memulai kehidupanku bersamamu. Rain, Aku sangat mencintaimu dan ingin menghabiskan sisa hidupku bersamamu, dan hanya bersamamu saja. Maukah kau menikah denganku?”
Suara tepukan tangan dan siulan langsung bergema dari tempat tamu berada, membuat Rainy tersipu malu. Sementara Raka yang merasa baru saja menyelesaikan tugas terberatnya, menarik nafas lega. Ia memberikan senyum terindahnya pada Rainy, menunggu Rainy memberikan jawabannya. Raka menyadari bahwa ini adalah kali pertama baginya melihat Rainy begitu malu-malu dan tidak bisa mengendalikan ekspresi wajahnya. Ternyata, walaupun sudah mengenal gadis itu nyaris sepanjang hidupnya, akan selalu ada hal pertama bagi mereka berdua yang menjadi alasan bagi jantungnya untuk berdebar dengan kencang dan untuk wajahnya menjadi memerah karena malu. Membuat cinta terus bersemi dan bersemi kembali, bahkan sampai saat seluruh rambut mereka memutih dan tubuh mereka merenta. Aku mencintaimu, bisik Raka dalam hati, mencoba mendorong gadis itu untuk segera memberikan jawabannya dengan tatapan matanya.
Saat itu Rainy merasa kesulitan untuk mengendalikan diri, Jantungnya berdetak kencang dan wajahnya terasa panas terbakar, karena malu. Ia merasa ingin berlari dan bersembunyi di balik punggung Raka untuk melindunginya dari tatapan banyak orang. Ini adalah pertama kalinya Rainy merasa seperti ini. Rainy mencoba mengatur nafasnya dengan menarik nafas selambat mungkin, namun tubuhnya terlalu dipenuhi oleh perasaan-perasaan yang aneh yang tak mampu Rainy jelaskan. Rainy ingin tertawa, tapi Rainy juga ingin menangis. Rainy ingin menarik Raka dalam pelukannya, namun juga ingin bersembunyi dari tatapan Raka yang terasa membakar wajahnya. Pada akhirnya Rainy menggigit bibirnya dan berkata pelan,
“Ya, aku mau menikahimu.” Sorak sorai dan tepuk tangan langsung terdengar dari segala penjuru sementara Raka memasangkan cincin pertunangan mereka di jari Rainy dan langsung berdiri untuk memeluk Rainy. Sebelah tangan Raka memegang pipi Rainy dan memberikan kecupan singkat di pipi gadis itu. Rainy kemudian mengambil cincin yang disodorkan oleh Ratna kepadanya, lalu memasangkannya di jari Raka. Mereka saling memandang dengan dada yang dipenuhi oleh kebahagiaan. Sementara itu tak jauh dari panggung, Ivan, Ace, Natasha dan Arka berdiri berdampingan sambil bertepuk tangan. Mata Natasha dan Ace tampak berkaca-kaca, sedangkan Arka yang terlihat sangat tampan dalam balutan batik sutera warna hitam dan emas, memandang kedua pasangan di atas panggung dengan senyum tipis di bibirnya.
Copyright @FreyaCesare