
Datuk Sanja memandang Rainy dengan kening berkerut. Gilang dan Lara selalu memuji Rainy sebagai pribadi yang tenang, poker face dan berkepala dingin. Tapi hanya dengan melihat matanya yang agak menyipit, Datuk Sanja bisa membaca pikirannya dengan baik. Anak ini, mengapa tidak berubah sedikitpun! Pikir Datuk Sanja. Datuk Sanja mengangkat sebelah tangannya dan menepuk kepala Rainy dengan kesal.
“Jangan berpikir macam-macam! Beraninya kau mencurigaiku, Datukmu sendiri!” Protes Datuk Sanja. Rainy memegangi kepalanya yang dipukul oleh Datuk dengan kesal.
“Aku kan tidak bilang apa-apa!” Protesnya.
“Kau tidak perlu mengatakan apapun! Hanya dengan melihat ekspresimu saja, aku bisa membaca apa yang sedang kau pikirkan!” tuding Datuk Sanja.
“Benarkah?” Rainy memegang kedua pipinya dengan terkejut. “Aku selalu berpikir bahwa wajahku sangat poker face. Bagaimana Datuk bisa membacanya?”
“Kalau kau hidup selama diriku, kau juga akan dapat membacanya dengan mudah.” Ucap Datuk Sanja.
“Ah, skill orang tua.” Ucap Rainy sambil menganggukkan kepalanya. Ia merasa bahwa kata-kata Datuk Sanja sangat masuk akal. Selama hidup, orang akan bertemu dengan banyak hal. Setelah sekian lama hidup, beberapa hal tersebut menjadi lebih sering dilihat, sehingga hukum kausalitas di baliknya jadi bisa dipahami dengan baik dan mudah. Ini adalah keuntungan yang diperoleh lewat pendewasaan diri, yang hanya bisa diberikan oleh waktu yang berlalu. Menjadi tua memiliki keuntungannya sendiri. Melihat Rainy yang terdiam membuat Datuk mencurigai bahwa gadis itu lagi-lagi mengatai dirinya dalam hati.
“Hei! Berhenti berpikir macam-macam! Kau jadi menolong Arka atau tidak?” Tanya Datuk Sanja.
“Ya jadi dong!” Tegas Rainy. “Oke. Datuk, tolong beritahu saya apa yang harus saya lakukan sekarang.” Pinta Rainy sambil memasang wajah serius. Datuk Sanja menarik nafas panjang. Ia hampir lupa bagaimana dimasa lalu, bahkan saat masih sangat belia, Rainy selalu berhasil membuat tekanan darahnya naik.
“Hal pertama yang harus kamu lakukan adalah menelan obat itu.” Datuk Sanja menunjuk ke arah botol obat yang Rainy letakkan di atas pangkuannya. “Setelah itu aku akan mengirimkanmu langsung menuju ke dunia iblis, langsung ke dalam istana tempat iblis wanita itu tinggal. Saat kau sampai disana, kau harus langsung mencari Arka dengan menggunakan koneksi yang kau miliki dengannya dan pencarian itu harus selesai sebelum 1 jam. Begitu kau menemukan dia, suruh dia menelan antidote itu. Tapi bila ia tidak dalam kondisi bisa menelan antidote tersebut, pegang dia dengan sebelah tanganmu dan sebelah tanganmu yang lain, pegang kalungmu, lalu imajinasikan bahwa kau saat itu berada di sini bersamaku. Inginkan itu untuk terjadi dan yakinilah bahwa itu akan terjadi. Kalung itu akan membawamu dan Arka kepadaku saat itu juga.” Beritahu Datuk Sanja. “Bahkan bila Arka dalam kondisi terbelenggu rantai besi yang di kaitkan ke dinding sekalipun, biarkan saja belenggunya, cukup pegang dia. Pastikan kau menyentuh kulitnya ya! Kita tidak mau bila yang terbawa hanya pakaiannya. Itu akan sangat memalukan!” gerutu Datuk Sanja. Rainy menaikkan alisnya. Terbawa hanya pakaiannya? Bukankah itu berarti yang ditinggalkan akan berada dalam keadaan telanjang? Membayangkannya saja membuat Rainy merasa geli.
“Sekarang, kau harus meneteskan setetes darahmu di atas batu liontinmu agar ia dapat mengenali tuannya.” Ucap Datuk Sanja. Kening Rainy berkerut. Mengenali tuannya? Mengapa Datuk Sanja berbicara seolah-olah batu tersebut adalah mahluk hidup? Perubahan ekspresinya yang hanya sedikit itu tak lepas dari penglihatan Datuk Sanja.
“Jangan dipikirkan! Sekarang bukanlah saatnya untuk berpikir! Cepat lakukan!” Perintah Datuk Sanja dengan tidak sabar. Dengan patuh Rainy mengambil pisau lipat dari dalam tas pinggang yang diberikan oleh Datuk sebelumnya dan menggunakannya untuk menggores ujung jarinya. Setelah itu Rainy menekan ujung jarinya dan meneteskannya ke atas batu liontinnya. Begitu darahnya menyentuh permukaan batu, Batu tersebut tiba-tiba mengeluarkan cahaya keunguan sesaat. Begitu cahaya tersebut menghilang, darah yang tadinya menyebar di atas permukaan batu itu telah menghilang tanpa jejak. Mata Rainy langsung terbelalak lebar. Namun Datuk Sanja mengabaikan keterkejutannya dan memaksanya untuk memakan antidot racun yang telah disodorkannya ke depan wajah Rainy. Obat itu berbentuk bola berwarna hitam kecoklatan dengan sebuahn garis berwarna emas yang membelahnya menjadi 2. Seumur hidupnya Rainy tidak pernah melihat obat herbal yang memiliki garis lurus yang membelahnya jadi 2 seperti itu. Dari apa warna emasnya dibuat? Kertas emas?
“Mengapa hanya kau pandangi saja? Cepat dimakan!” Desak Datuk Sanja. Rainy mencibir kesal namun dengan patuh memasukkan obat tersebut ke mulutnya. Karena diameternya yang besar, Rainy memutuskan untuk mengigitnya. Namun begitu ia selesai membelah obat tersebut menjadi 2, rasa pahit yang tidak pernah Rainy rasakan sebelumnya, langsung menyebar dengan ke seluruh penjuru mulutnya. Tak dapat menahan diri, Rainy hampir meludahkan obat tersebut keluar. Namun tangan Datuk Sanja langsung membekap mulut Rainy dengan telapak tangannya yang besar. Mata Rainy terbelalak lebar dan langsung berusaha melepaskan diri dari tangan-tangan Datuk Sanja. Ia mencoba memukul-mukul tangan Datuk Sanja yang menutup mulutnya, namun kekuatan orangtua itu bukan sesuatu yang bisa Rainy tandingi.
“Telan! Hanya ada satu obat untuk setiap orang, jadi walaupun kau tidak menyukai rasanya, kau harus menelannya!” Ucap Datuk Sanja dengan suara tegas. “Aku berikan air untuk membantumu menelannya, namun jangan coba-coba untuk meludahkannya keluar! Bila kau melakukannya, aku akan menyuruhmu untuk mengambilnya dari tanah dan menelannya! Apa kau dengar?” ucap Datuk Sanja lagi. Rainy mengangguk dengan susah payah. Walaupun ia sangat ingin mengeluarkan obat tersebut, ia tahu bahwa ia tidak boleh melakukannya karena tanpa obat ini, ia tidak bisa menyelamatkan Arka.
Tiba-tiba dalam tangan Datuk Sanja telah muncul sebuah botol air mineral yang sama dengan yang tersimpan dalam tas LV pemberiannya. Datuk Sanja menyerahkan botol tersebut ke tangan Rainy, dan setelah melihat Rainy berhasil membuka kunci botolnya, Datuk Sanja melepaskan tangannya dari mulut Rainy. Rainy langsung menyiramkan air mineral dari botol tersebut ke dalam tenggorokannya, berusaha untuk mengirimkan pecahan obat yang sangat pahit itu langsung ke dalam tenggorokannya dan membasuh jejaknya dari lidah Rainy sampai bersih. Sayangnya walau Rainy telah menghabiskan seluruh isi botol tersebut, namun rasa pahit itu tidak juga menghilang. Rainy mengerutkan seluruh wajahnya dalam ekspresi tidak suka dan menatap Datuk Sanja dengan penuh kekesalan. Namun bukannya merasa bersalah, melihat ekspresinya, Datuk Sanja malah tertawa terbahak-bahak.
“Apakah sangat pahit?” Tanya Datuk Sanja dengan senyum mengejek. “Tentu saja sangat pahit. Kau yang benci rasa pahit sejak kecil, malah menggigit obat yang super pahit itu. Pasti sangat menyenangkan kan?” Lanjut Datuk Sanja. Rainy melotot kesal padanya. Wajah Datuk Sanja terlihat begitu puas dan bahagia. Ia merasa belum pernah seumur hidupnya bertemu dengan orangtua sejahil Datuk Sanja. Rainy bersumpah, bila mampu, ia akan menjauh sejauh-jauhnya dari Datuk Sanja dan berusaha untuk tidak terlibat dengannya dalam keadaan sesulit apapun. Sebab Rainy takut bila ia terus berhubungan dengan Datuk Sanja, suatu saat kelak, Rainy tidak akan mampu menahan diri dan mengajak Datuk Tua itu berkelahi.
Rupanya sudah merasa puas menggoda Rainy, Datu Sanja mengeluarkan sebuah kaleng kecil berlabel sebuah permen buatan jerman yang sangat populer, dalam rasa caramel. Rainy langsung meraihnya kalengnya, membuka tutupnya dan mengambil 1 buah yang langsung dilemparkan masuk ke dalam mulutnya. Rasa manis caramel langsung menyebar ke segala penjuru mulutnya. Setelah beberapa detik, rasa pahitpun menghilang seluruhnya. Rainy menarik nafas lega. Ia menutup kembali kaleng permen di tangannya dan dengan tanpa perasaan sungkan memasukkan kaleng permen tersebut ke dalam kantung celana jeansnya. Melihat tingkahnya, Datuk Sanja hanya mengangkat kedua alisnya dan tampak tidak ambil perduli seolah-lah ia sudah terbiasa dengan keantikan Rainy.
“Apakah sekarang kau sudah siap?” Tanya Datuk Sanja. Rainy mengangguk.
“Ingatlah pesanku: 1. Begitu sampai disana, upayakan dirimu tidak terlihat oleh siapapun. Antidote yang kuberikan padamu bukan hanya untuk melindungimu dari racun, tapi juga untuk membuat auramu menghilang sehingga mereka tidak bisa melihat apapun. Namun kalau kau bertemu langsung dengan mereka, mereka akan tetap mampu melihatmu. Itu sebabnya kau harus membuat dirimu tidak terlihat di depan mata mereka. Yang kedua, Tak perduli ketemu atau tidak, begitu stopwatchmu menunjukankan bahwa kau tidak meliliki waktu lagi untuk melarikan diri bersama saudaramu, langsung aktifkan kalungmu dan berpikirlah bahwa kau akan pulang kemari. Sebab bila kau memaksa untuk melewati 1 jam, tubuhnu tudak akan mampu menahannya dan kau bukan hanya akan kehilangan kesadaranmu, tapi juga kehilangan kebebasanmu dan jadi tawanan tambahan iblis. Ingat itu baik-baik!”