
"Hah?"
"Aku mengatakan yang sesungguhnya. Membawa mereka ke RS adalah percuma karena pada akhirnya mereka akan mati juga sambil membawa semua orang yang terlibat pergi bersama mereka ke alam kubur. Lebih baik aku mempercepat prosesnya dan menyelamatkan diriku dari semua imbasnya." Bram tersenyum keji. "Jadi aku mengubur mereka secepatnya."
"Hidup-hidup?" tanya Rainy tercengang. Ia bisa merasakan cengkeraman tangan Arka yang semakin ketat pada lengannya.
"Ah, cuma sebentar saja. Mungkin sejam saja mereka sudah mati. Jadi tidak akan menderita terlalu lama." Jawab Bram dengan santai.
Tiba-tiba Rainy dilanda keinginan kuat untuk membunuh. Apakah aku harus memanggil Lilian untuk menyiksanya? Pikir Rainy, sepenuhnya tergoda oleh kemarahan yang sekejap saja sudah membara dan menguasai hatinya. Beraninya lintah tua ini bilang ia tidak berdarah dingin? Rainy tidak mampu membayangkan bagaimana korban-korban yang sudah nyaris mencapai hembusan nafas terakhirnya itu, malah dirampas haknya untuk bernafas ketika tanah jatuh menimpa dan menutupi seluruh tubuh mereka. Pantas saja khodam-khodam yang ditinggalkan oleh para korban begitu aktif menampilkan diri.
"Apakah kau perlu bantuanku, tuan puteri?" sebuah suara tiba-tiba berdenting dengan riang di tengah ruangan yang penuh ketegangan. Rainy mengutuk diri-sendiri karena tergoda untuk mengingat Lilian barusan. Sekarang dia sudah muncul untuk menjawab panggilan tanpa sadar yang telah Rainy lakukan. Rainy mengabaikannya. Sosok Lilian tiba-tiba muncul di sebelah Bram. Lilian berjalan mengelilingi Bram dengan mata menyipit.
"Mengapa kau selalu bermasalah dengan pria-pria tua sih, Rainy? Jujur saja, mereka membuatku jijik." ujar Lilian dengan cemberut. Tua? Seingatku kau seharusnya ribuan tahun lebih tua dari mereka, Iblis. Pikir Rainy sambil meletakkan tangan kanannya di dahinya. Here's come the troublemaker!
"Aku tidak butuh bantuanmu!" ucap Rainy kesal. Bram yang tidak bisa memahami makna ucapan Rainy, mengerutkan keningnya.
"Bantuan? Apa yang sedang kau bicarakan?" tanya Bram.
"Abaikan. Aku tidak sedang bicara padamu." jawab Rainy.
"Lalu kau sedang bicara pada siapa?" tanya Bram lagi. Mendengar ini, Lilian tersenyum jahil.
"Apakah aku perlu memperkenalkan diri?" tanyanya, membuat Rainy menyipitkan matanya.
"Iblis." jawab Rainy, tak mau repot-repot menyembunyikan keberadaan sosok Lilian. Namun Bram malah tertawa.
"Apa kau mencoba menakut-nakutiku?" tanya Bram dengan geli.
"Apakah berhasil?" tanya Rainy.
"Apa kau pikir aku idiot?" tanya Bram sambil tertawa.
"Emm. Kamu adalah sosiopath. Bukan idiot." sahut Rainy, membuat Bram mengangkat kedua alisnya. Mengapa gadis ini tidak berperilaku seperti orang kebanyakan sih? Dia sungguh sangat menarik. Tapi ini sudah berlarut-larut. Sudah waktunya untuk disudahi. Setelah berpikir begini, Bram mengangkat pistolnya ke arah Rainy dan Arka, sementara anak buahnya segera bergerak mengepung keduanya. Arka langsung menarik Rainy dalam pelukannya, berniat menjadikan tubuhnya sendiri sebagai sasaran tembak agar Rainy tetap aman.
"Sudah waktunya mengucapkan selamat tinggal." ucap Bram sambil mengarahkan pistolnya dan siap menekan pelatuknya.
"Boo!" pekiknya mengagetkan Bram.
Wajah jelita iblis tersebut hanya berada sekitar 15 cm dari wajah Bram, membuat Bram terlonjak kaget, sementara itu, kelima anak buahnya yang tidak bisa melihat Lilian, saling berpandangan dengan bingung. Setelah itu Lilian langsung menyembunyikan dirinya kembali dari pandangan Bram, membuat pria tersebut tak mampu mempercayai matanya sendiri. Apa itu? Halusinasi? Apakah dirinya mulai gila? Tiba-tiba, Lilian kembali muncul di hadapannya.
"Boo!" pekik Lilian untuk kedua kalinya, sebelum menghilang kembali. Kemunculannya yang tiba-tiba, kali membuat Bram terlonjak kaget. Dengan reflek ia mengarahkan pistolnya ke arah Lilian.
"Emm. Kupikir dia memang idiot." komentar Lilian dengan senyum manis menghiasi wajahnya.
Boo!" Lilian kembali menunjukan diri pada Bram, namun kali ini tidak menghilang. Melihat kemunculannya yang tiba-tiba, Bram yang terkejut dengan segera menarik pelatuk pistolnya dan menembakkannya ke arah Lilian. Di belakan Lilian, Rainy dan Arka sudah berjongkok di lantai untuk menghindari peluru nyasar, namun peluru tersebut masuk ke antara 2 mata Lilian dan berhenti dalam kepalanya. Lilian berkedip pelan. Wajahnya nampak tercengang. Darah mengalir dari lubang peluru di antara kedua matanya. Namun sesaat kemudian ia tersenyum menyeramkan. Lalu peluru yang memasuki kepalanya perlahan-lahan terdorong keluar melalui lubang tempat peluru tersebut masuk. Terus keluar perlahan, sampai akhirnya peluru tersebut keluar seluruhnya dan jatuh berdenting di antara kaki-kaki Bram. Bram yang melihat ini terpekik keras dan jatuh terduduk sambil terus memandang ke arah Lilian, mengejutkan kelima anak buahnya yang sudah bersiap-siap untuk menghalangi apabila Rainy dan Arka mencoba melarikan diri.
Terdengar suara keras dari pintu. Setelah pintu tersebut didobrak dari luar, sejumlah orang berpakaian polisi dan bersenjatakan pistol, memasuki gudang dengan paksa. Di bawah ancaman pistol polisi, kelima bawahan Bram langsung mengangkat kedua tangan dan menyerah. Melihat begitu banyak polisi yang datang, mereka menyadari bahwa mereka tidak mungkin bisa melarikan diri. Bagaimanapun mereka hanyalah tukang pukul yang bertugas untuk menculik dan membersihkan mayat yang dibunuh oleh bossnya. Mereka tidak mau menambah tuduhan melawan polisi ke dalam list kejahatan mereka. Namun tidak begitu dengan Bram. Saat itu ia masih duduk di lantai dengan wajah pucat pasi dan berpandang-pandangan dengan Lilian yang memiringkan kepalanya dan tersenyum semakin lebar, memamerkan gigi-geliginya yang tajam-tajam bagaikan gergaji. Bram menjerit keras melihatnya.
"Pergi kau, iblis! Pergi!" jeritnya. Rainy yang sudah kembali berdiri bersama Arka, kembali meletakkan tangan ke atas dahinya melihat aksi Lilian. Raka, Ivan, Musa dan Ace berjalan mendekat dengan seorang polisi muda tampan yang bertubuh tinggi dan tegap. Di sekitar mereka, satu demi satu anak buah Bram di borgol oleh polisi tanpa perlawanan, lalu dibawa keluar dari gudang. 2 orang polisi menarik Bram dari lantai. Saat itu Bram terlihat tidak normal akibat ketakutan. Wajahnya pucat pasi dan matanya nanar. Ia terus melihat ke kiri dan ke kanan, mengkhawatirkan bahwa sosok Lilian yang telah menghilang kembali, akan muncul dan menyerangnya. Kedua polisi itu berhasil membawanya tanpa perlawanan.
Raka langsung menarik Rainy keluar dari dalam pelukan Arka dan memeriksa sekujur tubuhnya.
"Apakah kau baik-baik saja?" tanya Raka dengan khawatir. Rainy mengangguk dan tersenyum mengiyakan. Polisi muda itu tersenyum pada Rainy dan berkata,
"Pekerjaan yang bagus. Aku tahu bahwa kau selalu bisa diandalkan." pujinya, membuat Rainy mecebik kesal sebelum kembali memasang wajah datar.
"Lambat! Mengapa kau baru masuk setelah sekian lama?" protes Rainy pada sang Polisi.
"Aku menunggu sampai kau berhasil mengorek semua pengakuan yang dibutuhkan untuk mendakwanya. Aku tahu bahwa skill interogasimu jauh lebih efektif daripada kemampuan interogasi polisi." sahut si Polisi sambil tersenyum jahil.
"Dia hampir menembakku!" protes Rainy dengan suara dingin menandakan kemarahannya. Tapi si Polisi lagi-lagi hanya tersenyum.
"Aku tahu bahwa kau akan baik-baik saja karena kau selalu punya trik yang bisa membuatmu lolos dari bahaya tanpa terluka sedikitpun." sahut si Polisi dengan tenang.
"Rangga, jangan pernah lagi melibatkan aku dalam kasus-kasusmu! Aku malas berurusan denganmu!" ucap Rainy keras. Ia lalu berbalik dan berjalan menuju pintu keluar, diikuti oleh Rangga yang mengikutinya dengan panik, mencoba meredakan amarah Rainy. Raka memerintahkan Arka dan Musa untuk membantu Polisi menemukan tempat para korban dikubur yang lokasinya adalah di dalam gudang tersebut, lalu bersama Ace, berjalan keluar menyusul Rainy.
Copyright @FreyaCesare