My Beautiful Blue Rain

My Beautiful Blue Rain
Mayat Di Kamar Lilith



“Ibu, aku hanya mencoba menakut-nakutinya…”


“Menakut-nakutinya? Kau baru saja membuatnya hampir mati dibunuh di jalan tol. Belum sempat dia sembuh, sekarang kau malah membuatnya menyaksikan putrinya disiksa? Dan berkali-kali pula? Apa kau ingin membunuhnya?” Bentak Lilith sebelum Lilian sempat menyelesaikan kata-katanya.


“Itu kan karena aku tidak punya cara lain lagi, bu. Ardi dan Rainy sangat keras kepala. Kupikir kalau Ardi melihat putrinya disiksa, ia akan mengalah. Begitu juga Rainy, mungkin kalau ia melihat ayahnya tersiksa, ia juga akan mengalah. Tapi siapa sangka mereka tidak melemah sedikitpun. Tunggu saja, Bu! Bila kulakukan sedikit lagi, keduanya pasti akan segera bertekuk lutut…” Belum sempat Lilian menyelesaikan kata-katanya, Lilith sudah mengibaskan sebelah tangannya yang berakibat Lilian terlempar jauh dalam kecepatan tinggi dan menghantam dinding tanpa ampun. Tubuhnya kemudian jatuh tepat dalam keadaan terduduk bersandar di dinding. Untuk sesaat Lilian kehilangan kemampuan untuk mengendalikan tubuhnya karena rasa sakit. Ia bukan manusia, jadi dibanting ke arah manapun dan sekeras apapun tidak akan membunuhnya. Namun tetap saja rasanya menyakitkan. Lilian mengerjapkan matanya dan meringis kesakitan. Setelah mengerang pelan, ia kemudian berkata,


“Ibu, kenapa lagi-lagi kau membantingku sih?” keluhnya. Lemparan itu membuat kepala Lilian terputar ke belakang hingga 180 derajat, sebelah pinggulnya bergeser dari tempatnya dan sebelah kakinya tertekuk dalam posisi yang tidak wajar. Lilian mencoba menggerakkan bagian-bagian tubuhnya, namun rasa sakit yang sangat menghalangi gerakannya.


“Ah, tulangku rasanya sudah patah semua.” Keluhnya. Perlahan-lahan Lilian memperbaiki posisi tubuhnya yang tidak benar. Dimulai dari memperbaiki posisi kepalanya dengan memutar lehernya ke posisinya yang benar. Ia kemudian mendorong pinggulnya agar kembali ke tempatnya semula. Setelah itu ia menunduk dan memperbaiki letak kakinya yang patah.


“Ibu, kau mematahkan tulang  fibulaku!” Protes Lilian dengan kesal.


“Apakah aku juga mematahkan lehermu?” Tanya Lilith dengan nada ringan.


“Tentu saja.” Sahut Lilian pahit sambil mengerang.


“Baguslah. Kalau kau masih punya kemampuan untuk berbicara, segera kembali kemari!” Perintah Lilith dengan dingin.


Mendengar kata-kata ibunya, Lilian mendengus antara geli dan miris pada nasibnya. Ia lalu mencoba bangkit berdiri dengan bertopang pada kaki kanannya yang masih bagus. Namun karena kondisi tubuhnya masih belum stabil, ia hanya mampu mengangkat tubuhnya sejauh 20 cm dari lantai sebelum kembali terjatuh ke lantai. Saat jatuh kembali, kepalanya tanpa sengaja menoleh ke arah kiri. Apa yang dilihatnya berada di sebelah kirinya kemudian membuatnya tersentak kaget hingga memekik nyaring.


“Aargh!” Lilian langsung bergerak menjauh karena terkejut. Ternyata ia terjatuh tepat di sebelah maling yang tadi menyatroni kamar Lilith. Sebagian wajah mayat laki-laki tersebut tertutup dengan masker hitam dan matanya terbuka lebar, namun tidak lagi memiliki cahaya kehidupan. Dengan cepat Lilian bisa menebak siapa mayat tersebut sesungguhnya karena ini bukan kali pertamanya Lilith menghabisi nyawa seseorang dalam kamar tersebut. Dalam bulan ini saja, selain mayat di hadapannya itu, ada 2 maling lain yang memasuki kamar Lilith dan mengalami nasib yang serupa. Entah dari mana asalnya, di luar beredar kabar bahwa kamar itu adalah kamar yang menyimpan harta kekayaan keluarga sejak dari beberapa generasi sebelumnya, dan itu mengundang maling untuk datang berkunjung setidaknya  beberapa kali dalam sebulan. Setiap kali mereka datang, Lilith tidak segan untuk menghabisi nyawa mereka dan lalu meninggalkan mereka begitu saja untuk dibersihkan oleh anak-anak Jaya Bataguh, sehingga menyebabkan Rosa gemetar karena panik setiap kalinya. Rosa yang dulunya tidak pernah mengetahui bahwa salah satu kewajiban saat duduk di posisi kepala keluarga itu adalah memperoleh kesempatan membersihkan ‘sampah’ yang ditinggalkan oleh Lilith beberapa waktu sekali, pasti akhirnya menyadari seberapa ‘menyenangkannya’ duduk di atas tahta Kepala Keluarga itu. Served her right!


Lilian menggelengkan kepalanya dan berkata,


Tak membiarkan pikirannya mengembara terlalu lama, Lilian kembali mencoba bangkit dengan perlahan dan kemudian berjalan pelan, sambil menyeret kaki kirinya, menuju ke tempat Lilith. Saat berada di hadapan Lilith, Lilian nyaris melemparkan dirinya kembali ke lantai dan duduk bersimpuh semampunya serta membungkuk dalam-dalam, merendahkan diri agar tidak tambah memicu amarah Lilith.


“Ibu, aku tahu aku salah. Tolong jangan marah lagi ya?” Pintanya dengan suara serius. Melihat hawa dingin yang keluar dari tubuh Lilith, Lilian menyadari bahwa kali ini ibunya itu benar-benar sangat marah sehingga ia tidak berani bersikap manja atau kurang ajar.


“Apa kau sudah menyadari dimana salahmu?” Tanya Lilith dengan nada yang sangat dingin. Matanya menyipit ke arah Lilian, sementara bibirnya sampai membentuk garis lurus karena dikatupkan rapat-rapat. Tangannya masih terlipat di depan dada dan kaki kirinya bersilang di atas kaki kanannya, namun tubuhnya terlihat sangat tegang dan kaku. Membuat hati Lilian bertambah menciut. Lilian sangat paham bahwa Lilith memandang penting keberadaan Rainy dan Ardi karena itu ia tahu bahwa kali ini ia sungguh telah melampaui batas.


“Tidak bisakah kau menggunakan otakmu? Bahkan iblis kelas rendah tahu bagaimana caranya menggunakan kesabaran untuk menyesatkan manusia. Mengapa kau yang kelasnya berada jauh lebih tinggi dari mereka, hanya punya otak yang sama cerdasnya dengan seekor udang?” Tanya Lilith, masih belum puas mengomel.


Lilian hanya bisa terdiam. Hilang sudah semua kelancangan yang biasanya ditampilkannya di hadapan Rainy, berganti dengan kepatuhan dan rasa takut. Ia menundukkan kepalanya dalam-dalam, berharap ibunya tidak akan melihat ekspresi wajahnya, khawatir ia akan menemukan hal lain lagi yang akan membuatnya bertambah murka.


“Mohon ampuni aku, Bu. Aku berjanji bahwa mulai sekarang, aku akan lebih berhati-hati.” Ucap Lilian dengan suara menghiba.


“Ini adalah terakhir kalinya aku memberimu kesempatan. Kalau sampai Ardi kehilangan nyawanya sebelum kita berhasil membuatnya menandatangani Buku Perjanjian, aku akan mengirimmu kembali ke neraka dan membiarkanmu membusuk disana selama 5.000 tahun! Kau dengar?!” Ancam Lilith. Mendengar ancaman ibunya, Lilian gemetar ketakutan.


“Aaah? Jangan begitu, Bu! Aku janji akan lebih berhati-hati dan tidak akan mengulanginya lagi! Tolong jangan kirim aku kembali!” Pinta Lilian menghiba.


“Saat ini, hanya nyawa Ardi yang bisa menolongmu. Karena itu, tunggu saja baik-baik sampai kabar dari Rumah Sakit tiba.” Ucap Lilith. Lalu dengan kebasan tangannya, Lilith membuat pintu di belakang Lilian terbuka, dan ia lalu kembali melemparkan putrinya tersebut, kali ini keluar dari dalam kamarnya.


Karena sangat terkejut Lilian bahkan tidak mampu bersuara sama sekali. Ia tidak menyangka setelah dilempar hingga mengalami patah tulang di sana-sini, ia masih akan dilemparkan kembali untuk yang kedua kalinya. Lilian yang terkapar tak berdaya di lantai, mengerang keras. Ia menarik nafas panjang dan menekuri langit-langit koridor yang berwarna putih dengan ukiran sederhana di seluruh pinggirannya. Terluka bagi iblis bukanlah sesuatu yang berbahaya. Patah tulang akan segera pulih hanya dalam waktu satu atau dua jam saja. Namun bukan berarti tidak akan terasa sakit. Belum lagi keadaan itu membuat Lilian merasa sangat sebal. Saat ini, setelah dilempar kesana dan kemari oleh ibunya, Lilian dipenuhi rasa kasihan pada diri sendiri dan memutuskan untuk melakukan protes tanpa suara pada ibunya dengan membiarkan dirinya tetap terbaring di lantai itu sampai seluruh cedera di tubuhnya sembuh. Mungkin bila melihat Lilian melakukan itu, Lilith akan sedikit merasa bersalah padanya, terutama karena selama ini Lilian adalah putri kesayangannya. Begitulah harapan yang terlintas di benak Lilian.Namun sayangnya, itu hanyalah mimpi belaka. Karena tidak lama setelah pintu kamar Lilith tertutup, pintu tersebut terbuka kembali dan sesuatu yang berukuran cukup besar terlempar cepat dan jatuh tepat di atas tubuh Lilian. Lilian merasa tubuhnya yang masih lemah, sekarang ditubruk oleh truk hingga tidak bisa bernafas. Untuk sesaat ia hanya bisa menutup matanya untuk membiarkan rasa pusing yang tiba-tiba menerpa kepalanya berlalu. Setelah rasa pusingnya menghilang, barulah Lilian membuka matanya. Dengan muak ia menyadari bahwa tubuhnya sedang ditindih oleh mayat yang barusan ditemukannya di kamar ibunya, dalam posisi yang sangat tidak pantas dilihat. Sungguh sangat menjijikan!