
Ketika mobil yang dikendarai Ace memasuki pintu gerbang rumah milik Hasmi, waktu telah menunjukan pukul 19.00. Rainy, Raka dan Arka memanjat keluar dari mobil, lalu memandang rumah besar yang berdiri megah di hadapannya itu. Itu adalah sebuah rumah 3 lantai bergaya modern yang eksteriornya diterangi oleh banyak lampu temaram. Rainy mengangkat kepala dan melihat bulan yang bundar tampak sangat besar.
"Purnama." suara Raka terdengar dari sebelah kirinya. Pria itu telah berdiri sangat dekat dengannya.
"Emm." Rainy mengangguk.
"Will it hinder you?" tanya Raka.
"It's fine." Rainy berbalik dan berjalan menuju pintu depan rumah, diikuti oleh Raka dan Arka. Ketika ia hampir mencapai pintu, tiba-tiba ruang kosong di hadapannya menjadi bergelombang, membuat Rainy menghentikan langkahnya dengan tiba-tiba. Udara yang dingin menusuk tiba-tiba menyergap, mengalirkan teror hingga meresap masuk ke dalam tulang. Sesosok anak kecil muncul sesaat dihadapan mereka, lalu kembali menghilang. Bagaikan hologram yang berkedip-kedip tak stabil, sosok anak itu muncul dan menghilang, muncul lagi, lalu menghilang kembali. Terus begitu secara berulang-ulang.
"It's weak." ucap Raka pelan.
"Emm. Seandainya tidak sedang bulan purnama, mungkin ia tak dapat menampakan diri." jawab Rainy.
Menarik nafas panjang, Rainy menutup matanya. Waktu ia kembali membuka mata, sosok anak laki-laki tersebut menjadi lebih jelas dan nyata.
Anak laki-laki tersebut bertubuh mungil. Sosoknya mirip anak yang baru berusia 9 tahun. Rambutnya yang hitam dan lurus dipotong dengan model mangkok. Anak tersebut mengenakan sweater lengan panjang berwarna Navi dan celana jeans berwarna gelap. Wajah, pakaian dan telapak kakinya yang tanpa alas kaki terlihat kotor kehitaman. Ia berdiri diam dan menatap Rainy tanpa suara. Ekspresinya yang dingin dan matanya yang menyorot tajam tampak tidak sesuai dengan usia yang ditunjukan oleh wajah dan ukuran tubuhnya, memberikan kesan yang amat menyeramkan.
Di sebelah Rainy, tubuh Raka menegang. Menyadari perubahan pada diri Raka dan langkah Rainy yang terhenti tiba-tiba, Arka mengerutkan keningnya. Sebelah tangannya langsung memegang lengan Rainy bersiap menariknya mundur agar Arka dapat melindunginya, tapi Rainy menoleh pada Arka dan menggelengkan kepala. Rainy menepuk tangan Arka yang mencengkeram lengannya, sambil mengangguk menenangkan. Arka menatapnya sesaat. Melihat bahwa gadis itu tidak menunjukan ekspresi takut atau khawatir, Arka kemudian melepaskan tangannya.
Rainy melangkah maju untuk lebih mendekati anak tersebut.
"Hallo. Apakah kau sedang menungguku?" tanya Rainy pada si anak. Anak tersebut mengangguk. Rainy berjongkok di hadapannya agar matanya bisa sejajar dengan anak tersebut dan bertanya,
"Mengapa kau menungguku?"
Tapi si anak hanya memandangnya dalam diam, tidak menjawab.
"Hmmm? Bisakah kau memberitahuku, mengapa kau menunggu aku?" ulang Rainy.
Sebuah ekspresi kecewa tampak di wajah si anak, membuat wajahnya tampak lebih manusiawi dan tidak lagi menyeramkan.
"Kau lupa padaku." tuduhnya dengan suara yang kekanakan. Kata-katanya mengingatkan Rainy pada cerita pak Sutrisno tadi sore, tentang Rainy kecil yang menyapa seorang anak yang tidak terlihat di hadapan Sutrisno. Anak ini pastilah anak yang diceritakan Sutrisno itu.
"Ah! Maafkan aku. Waktu itu aku masih terlalu kecil untuk bisa mengingatmu." jawab Rainy, merasa bersalah. Mendengarnya, si anak menunduk sedih.
"Tapi aku tidak pernah lupa." bisiknya pelan. Rainy mengangkat tangannya dan mengelus kepala si anak.
"Mulai sekarang aku tidak akan lupa lagi." janji Rainy. Si anak mengangkat kepalanya dan menatap Rainy dengan curiga.
"Kalian manusia, mudah sekali lupa pada janji yang kalian buat sendiri." tuduhnya.
"Emm. Kalian, mahluk tak kasat mata, mudah sekali marah-marah." goda Rainy. Godaannya memperoleh cemberutan sebagai jawabannya. Rainy mengulurkan kedua tangannya dan mencubit kedua pipi si anak dengan gemas.
"Baiklah, aku janji! Jangan marah lagi ya." ucap Rainy. Di belakang Rainy, wajah Raka memucat dan keringat dingin menetes di keningnya. Rainy, bisa nggak kalau tidak memperlakukan mahluk tak kasat mata layaknya anak tetangga yang tinggal di sebelah rumah? Tanyanya dalam hati.
Si anak menepis tangan-tangan nakal Rainy dari wajahnya.
"Jauhkan cakarmu dari wajahku!" bentaknya. "Kau sudah dewasa, tapi tingkah mu masih sama saja!" Rupanya ketika bertemu dengan dirinya dahulu, Rainy kecil juga mencubit pipinya seperti itu.
"Cih. Pemarah sekali." gerutu Rainy. "Apakah kau tinggal disini?" tanpa Rainy. Si anak mengangguk.
"Mengapa auramu lemah sekali?" tanya Rainy lagi.
"Aku hanya lelah." sahut anak tersebut.
"Benarkah? Sekarang sedang purnama. Berjemurlah." suruh Rainy. Anak tersebut mengangguk.
"Apa kau mau bertemu Laura?" tanyanya kemudian.
"Emm. Apa kau bisa memberitahuku apa yang terjadi pada Laura?" tanya Rainy.
"Menjijikan!"
"Yang terjadi padanya sangat menjijikan!"
"Menjijikan bagaimana?"
"Nanti kau akan tau sendiri." sahut si anak. Rainy menyipitkan mata dan menggerutu dalam hati, 'sok keren! Apa susahnya sih menceritakannya langsung padaku?!' Namun Rainy menahan lidahnya.
"Baiklah." ucap Rainy. Ia bangkit lalu berjalan kembali menuju pintu depan, dengan Raka dan Arka mengikuti di belakangnya. Saat sampai di depan pintu, Rainy berbalik dan bertanya.
"Hei, peri rumah, siapa namamu?"
"Aku bukan peri rumah!" protes anak itu nyaring sambil melambaikan kepalan tangannya. "Beraninya kau lupa pada namaku! Namaku Tama! Awas kalau kau lupa lagi!"
"Emm. Aku tidak akan lupa lagi." Sahut Rainy.
Saat Rainy berbalik kembali, pintu di depannya tiba-tiba terbuka. Seorang wanita muda tersenyum pada mereka dan berkata dengan hormat,
"Ibu Rainy?" sapanya. Rainy mengangguk. "Pak Sutrisno telah menunggu ibu. Mari saya antar."
Wanita tersebut membawa Rainy, Raka dan Arka naik menuju ke lantai 2, ke sebuah ruang TV yang tidak terlalu besar, namun sangat nyaman. Sutrisno sedang duduk di sebuah sofa bersama seorang gadis remaja bertubuh kurus dan terlihat lemah. Ketika melihat mereka memasuki ruangan, Sutrisno berdiri untuk menyambut mereka, namun gadis tersebut tetap duduk di tempatnya, tak bergerak dan tidak bersuara.
"Nak Rainy, Nak Raka." Sutrisno menyalami mereka satu persatu. Ia memandang Arka dan bertanya,
"Ini....?"
"Dia Arka, sepupu saya dan salah satu pegawai di Divisi VII." jawab Rainy.
"Oh begitu. Senang berkenalan dengan anda, Nak Arka." ucapnya ramah. Sutrisno menyalami Arka dengan hangat. Tampak sama sekali tidak terpengaruh oleh aura Arka yang gelap dan berbahaya.
"Sebelumnya saya sudah bertemu dengan sepupu anda, Nak Ivan. Keluarga Jaya Bataguh benar-benar dikaruniai gen yang bagus ya. Semua anggota keluarganya berparas indah." komentar Sutrisno.
"Terimakasih, pak. Tapi Ivan adalah anak adopsi dan Arka adalah sepupu saya dari pihak nenek. Mereka berdua tidak memiliki hubungan darah dengan Jaya Bataguh." ucap Rainy datar. Raka menutup matanya dan menghitung dari belakang untuk mengendalikan diri. Hal pertama yang akan dilakukannya besok adalah mendaftarkan Rainy ke kursus kepribadian! Untuk orang secerdas Rainy, mengapa EQnya buruk sekali?
"Ah, jadi ternyata begitu...." Sutrisno tergagap. Sama sekali tidak menyangka upayanya untuk berbasa-basi berakhir dengan canggung. Yang membuat lebih canggung lagi adalah ekspresi datar yang terpasang di wajah Rainy dan Arka, membuat Sutrisno merasa kesulitan untuk membaca emosi mereka. Sebenarnya mereka merasa tersinggung atau tidak sih?
"Pak Sutrisno, apakah mbak ini Laura Hanna?" Tanya Raka, mencoba memecah kecanggungan dengan mengalihkan perhatian. Mendengarnya, Sutrisno bersyukur dalam hati pada upaya Raka tersebut dan mengikuti teladannya, mengalihkan perhatian pada gadis yang masih duduk diam di sofa.
"Benar. Ini Laura. Laura, kenalkan, ini adalah Bu Rainy, ini Pak Raka dan yang ini Pak Arka." Sutrisno memperkenalkan. Rainy menaikkan alisnya ketika mendengar Sutrisno mengganti caranya memanggil mereka ketika diperkenalkan kepada Laura. Sesungguhnya ia sangat benci disapa dengan sebutan 'ibu'. Membuatnya merasa sudah sangat tua.
Sutrisno lalu mempersilahkan Rainy, Raka dan Arka untuk duduk. Setelah mereka duduk, Sutrisno berbicara pada Laura.
"Laura masih ingat pembicaraan kita tadi kan, bahwa kakek sudah mengundang orang yang bisa menolong Laura?" Laura mengangguk membenarkan. "Nah, mereka inilah orang-orang tersebut." Sutrisno menunjuk ke arah Rainy. "Bu Rainy adalah seorang indigo."
"Kakek, aku mengalami gangguan jiwa, bukan kerasukan setan." ucap Laura datar.
"Kakek sudah melihat sendiri sosok mahluk yang menyerang mu semalam. Kakek tidak lagi percaya bahwa apa yang kau alami murni hanya karena gangguan jiwa." jelas Sutrisno. Laura menundukan kepalanya.
"Seharusnya kakek tidak melihat itu. Seharusnya kakek tidak membuka pintu pada saat itu!" keluhnya dengan suara bergetar.
"Sudah terlambat! Aku sudah melihatnya! Bu Rainy juga sudah datang kemari, jadi kau menurutlah dan biarkan Bu Rainy membantumu ya?!" bujuk Sutrisno. Laura mengalihkan pandangannya ke arah Rainy. Wajahnya yang tirus dan pucat tampak penuh kecurigaan dan kekhawatiran.
"Apa kau sungguh bisa menolongku?" tanya Laura pelan.
"Tergantung." sahut Rainy tanpa ekspresi..
"Tergantung apa?" tanya Laura lagi.
"Tergantung apakah kau bersedia bekerja sama atau tidak."
Copyright @FreyaCesare