My Beautiful Blue Rain

My Beautiful Blue Rain
Kasus Pertama Baladewa



"Minta ampun nggak?" tanya Rainy.


"Ampun, Rain! Tolong ampuni aku!" pinta Raka sambil tertawa geli.


"Apa kau akan kembali ke kamarmu sendiri?" tanya Rainy dengan nada mengancam.


"Bisa tidak kalau aku tidur disini saja malam ini?" pinta Raka.


"Enak saja! Nggak bisa!" tolak Rainy sambil kembali menggelitiki Raka.


"Hahaha... Tapi... Tapi... Hahaha... Bagaimana kalau... Kuyangnya datang lagi?" tanya Raka di sela-sela tawanya.


"Datang ya datang saja! Aku tidak takut." sahut Rainy dengan angkuh. Rainy melepaskan Raka dan duduk kembali ke atas ranjang. Raka juga bangkit dari posisi berbaringnya dan ikut duduk disampingnya.


"Apa benar kau tidak merasa takut?" tanya Raka dengan serius.


"Kenapa harus merasa takut?" tanya Rainy asal.


"Memangnya kau tahu bagaimana cara untuk melawannya?" tanya Arka.


"Aku bisa mencoba membakarnya dengan apiku." cetus Rainy sambil mengangkat sebelah tangannya dan memandanginya dengan seksama.


"Bukankah menurutmu apimu mungkin tidak dapat melukainya?" ucap Raka mengingatkan.


"Hanya asumsi. Belum dicoba sama sekali. Tak ada salahnya di coba. Bila gagalpun tidak akan mati." bantah Rainy.


"Kok bisa?" tanya Raka.


"Apa kau lupa pada mahluk yang menunggui rumah Niwe? Dia tidak akan membiarkan sesuatu yang buruk terjadi padaku. Bila aku benar-benar berada dalam bahaya, dia atau anaknya pasti akan muncul untuk melindungiku." Ucap Rainy menjelaskan.


"Itu namanya berjudi. Kau tidak boleh melakukannya!" protes Raka dengan wajah cemberut.


"Lalu harus bagaimana?" tanya Rainy.


"Pokoknya selama kau belum menemukan cara yang tepat untuk membunuh Kuyang, kau tidak boleh gegabah!" tegas Raka.


"Lalu bagaimana?" tanya Rainy lagi.


"Mari besok kita tanyakan pada Guru Gilang." ajak Raka.


"Baiklah." Rainy mengangguk.


"Jadi malam ini aku akan tidur disini." ucap Raka. Ia kembali melemparkan tubuhnya ke ranjang dan menutupinya dengan selimut. Rainy menarik nafas panjang. Sesungguhnya ia tidak khawatir bila harus tidur di atas ranjang yang sama dengan Raka, karena selama bertahun-tahun mengenal Raka, pria itu tidak pernah melampaui batas. Namun ia justru mengkhawatirkan perilakunya sendiri. Belakangan ini Rainy merasa Raka terlalu menggoda. Setiap kali berdekatan dengannya, Rainy merasa tubuhnya bergejolak dan panas dingin. Sungguh mengkhawatirkan!


Rainy mengulurkan sebelah kakinya dan menendang kaki Raka yang tertutup selimut dengan kesal. Ia kemudian bangkit dari ranjang dan masuk ke kamar mandi. Rainy butuh obat tidur untuk bisa tidur dengan nyenyak malam ini.


***


"Selamat pagi." ucap Raka. "Kita akan kedatangan 2 tamu hari ini dan keduanya akan jadi kasus pertama untuk Baladewa. Apakah kalian sudah siap?" tanya Raka.


"Siap!" jawab Tim Baladewa dengan penuh semangat.


"Buktikan itu pada saya ya! Jangan cuma lips service saja." komentar Raka.


"Musa, kau yang akan memimpin. Miranda dan Julian, back up Musa dengan sebaik mungkin. Ingat, tak perduli seberapapun groginya kalian, kalian tidak boleh menunjukan perasaan kalian, baik lewat ekspresi wajah, maupun lewat perilaku. Kalau kau tidak merasa percaya diri, just fake it! Beraktinglah percaya diri. Mengerti?"


"Mengerti!"


***


Tamu pertama datang tepat pukul 10 pagi diantar oleh sebuah mobil Alphard berwarna silver. Tamunya adalah seorang wanita bertubuh kurus, tinggi dan berwajah sendu. Menurut informasi yang berhasil di kumpulkan oleh Lula, ia adalah istri seorang pengusaha yang cukup sukses di bidang properti, berusia 37 tahun dan bernama Herdianti. Miranda membukakan pintu untuknya dan mengantarkannya ke ruang duduk, dimana Musa dan Julian telah menunggu. Setelah saling memperkenalkan diri dan berbasa-basi sesaat, Herdianti diminta untuk menceritakan alasan kedatangannya.


"Setiap malam saya selalu bermimpi buruk. Dalam mimpi, saya dicambuki, dipaksa minum lava yang membuat mulut dan tenggorokan saya meleleh, lalu kemudian dibunuh dengan ditusuk berkali-kali sampai mati. Tapi saya tidak pernah melihat siapa yang telah membunuh saya. Mimpi ini selalu datang setiap malam membuat saya merasa takut untuk tidur. Yang lebih menyakitkan lagi, terkadang saya sadar bahwa saya sedang bermimpi. Bila sudah begitu saya akan memaksa diri untuk bangun. Saya bangun dan membuka mata. Namun seperti terbius, saya tertidur kembali dan mimpi yang sama terulang. Dan terulangnya bisa terjadi berulang kali dalam 1 malam. Sekarang tidur merupakan sebuah kegiatan yang menakutkan untuk saya. Namun karena sudah kelelahan, seringkali saya tidak bisa menahan diri dan jatuh tertidur." wanita itu memandang kearah ketiga orang di hadapannya dengan penuh pengharapan. "Tolonglah saya! Saya ingin bisa hidup normal dan tidur nyenyak tanpa diganggu oleh mimpi buruk."


Musa yang duduk diantara kedua rekannya, sejak tadi memasang wajah dingin. Ia duduk dengan punggung tegak, kepala agak terangkat tinggi dan wajah yang kaku tanpa senyuman. Semua yang sedang menonton pertemuan mereka lewat monitor besar yang diletakkan di ruangan Rainy mengerutkan bibirnya dengan geli. Mereka tahu bahwa musa sedang berusaha keras meniru perilaku Rainy ketika berhadapan dengan klien dan untuk sementara, tampaknya cukup berhasil.


"Ibu, sudah berapa lama anda bermimpi buruk?" tanya Musa.


"Sudah 2 tahun ini." Jawab herdianti.


"Apakah anda ingat kapan awalnya anda mulai bermimpi buruk?" Tanya Musa lagi.


"Saya mulai dihantui mimpi buruk sekitar bulan juli 2 tahun yang lalu. Saya waktu itu baru kehilangan bayi saya. Bayi saya lahir dalam keadaan tidak bernyawa." Herdianti menarik nafas panjang. "Semenjak itu saya selalu bermimpi buruk. Awalnya hanya seminggu sekali. Lalu setiap 3 hari sekali. Namun sudah 1 tahun ini, mimpi ini berlangsung setiap malam, membuat saya merasa hampir gila." jawab Herdianti.


"Ibu, apakah anda memiliki dugaan mengapa anda mengalami mimpi buruk?" tanya musa. Herdianti menggelengkan kepalanya.


"Saya tidak tahu."


"Apakah suami ibu mengetahui masalah ini?" tanya Musa.


"Dia tahu. Tapi dia tidak perduli. Katanya mimpi buruk terjadi karena ibadah saya tidak baik sehingga saya selalu diganggu setan." jawab herdianti.


"Apakah ibu setuju dengan pandangan ini?" lanjut Musa.


"Saya akui bahwa ibadah saya memang masih kurang baik. Tapi suami saya malah lebih buruk ibadahnya dari saya. Mengapa suami saya baik-baik saja sedangkan saya terus diganggu oleh mimpi buruk?" tanya Herdianti, mulai merasa berang.


"Kalau saya boleh tahu, bagaimana hubungan anda dengan suami?" tanya Miranda dengan lembut. Mendengar pertanyaan ini, sesaat herdianti tampak tertegun. Lama ia hanya menunduk dan menekuri lantai. Namun kemudian ia berkata perlahan,


"Saya pikir suami saya berselingkuh." ucap herdianti perlahan. Mendengar ini, Musa, Miranda dan Julian saling berpandangan.


"Apakah ibu punya buktinya?" tanya Julian dengan hati-hati.


"Hati saya yang mengatakannya. Hati wanita tidak bisa dibohongi!" ucap Herdianti dengan suara meninggi. Suamiku berselingkuh, pikirnya. Mengapa tidak ada yang mengasihaniku?