My Beautiful Blue Rain

My Beautiful Blue Rain
Kakak Laki-Laki Buat Rainy II



“Arka, setiap kali kau merasa marah pada Rainy, tolong ingatlah bahwa semua yang Rainy lakukan dan katakan, adalah idenya sendiri. Papa dan Mama tidak pernah ikut ambil bagian dalam menciptakan  rasa percaya dirinya yang berlebihan dan berbagai pemikiran eksentriknya itu.” Ucap Ardi membela diri bahkan sebelum seseorang menudingkan jari padanya. Tadinya ia selalu memandang sebelah mata pada keantikan perilaku putrinya. Namun sekarang setelah ia memperoleh seorang putra yang luar biasa istimewanya, ia tidak ingin citranya rusak di hadapan putra barunya karena lidah Rainy yang tidak memiliki filter. Bisa-bisanya ia mengatai Arka autistik di depan orangnya langsung. Lagipula, bukankah Rainy adalah residen Psikologi? Bagaimana mungkin ia tidak bisa membedakan perilaku mana yang merupakan manifestasi dari gejala dan yang mana yang hanya merupakan perilaku yang kemunculannya disengaja? Arka jelas-jelas hanya memiliki perangai yang pendiam, dingin dan introvert. Untuk seseorang yang hidup dengan dibebani oleh trauma masa lalu, menarik diri adalah perilaku yang biasa muncul saat kenangan terindahnya berubah menjadi racun yang tidak terobati. Tidak perlu juga untuk secara berlebihan menyikapinya! Pikir Ardi, semakin lama semakin merasa kesal.


Di sebelahnya, Rainy memandang ayahnya dengan mulut terbuka. Mengapa bapak yang satu ini tanpa ragu-ragu menjualnya begitu saja? Apa karena sekarang ia sudah punya anak laki-laki sehingga ia tidak lagi memerlukan anak perempuan? Hmph! Dasar pengkhianat!


“Arka, tentang kau menjadi anak angkat kami, kita perlu memberitahukan ini pada keluarga besar dan teman-teman baik keluarga kita.” Ucap Ratna.


“Apa yang mau mama lakukan?” Tanya Rainy ingin tahu.


“Kita perlu membuat pesta kecil dengan mengumpulkan keluarga dan teman-teman.” Jelas Ratna yang berpikir ingin  memamerkan anak lelakinya yang tampan pada banyak orang.


“Ditolak! Arka tidak menyukai keramaian, apalagi pesta yang dibuat khusus untuknya.” Tegas Rainy, berniat melindungi kakaknya yang sangat sensitif pada orang asing.


“Lalu bagaimana?” Tanya Ratna tak yakin.


“Lakukan saja saat pernikahan Rainy kelak.” Saran Rainy.


“Hah? Tapi itu terlalu lama, Rain.” Tolak Ratna.


“Kalau terlalu lama, majukan saja tanggal pernikahannya!” Tawar Rainy cepat.


***


Pembicaraan tentang memajukan tanggal pernikahan terjadi keesokan harinya di sebuah restaurant keluarga langganan Rini. Rainy, Ratna, termasuk juga kakak barunya, Arka, mengadakan kencan makan siang dengan Raka dan keluarganya. Rini yang merasa sudah lama tidak memeluk calon menantunya, begitu melihat Rainy melewati pintu untuk memasuki ruangan, langsung merentangkan tangan dan menarik Rainy dalam pelukannya.


“Rain, coba kulihat wajahmu! Ah, mengapa jadi kurus begini?” Jerit Rini kemudian. Suara jeritannya terdengar seolah-olah seseorang telah melakukan sesuatu yang buruk dan Rini memergokinya tanpa sengaja. Rini adalah Ratu drama. Ia adalah seorang pengusaha sukses yang bertangan dingin, namun sikap dinginnya hanyalah muncul di ruang kantor. Di hadapan keluarganya, terutama di depan calon menantunya yang menggemaskan, ia meninggalkan kegarangannya di kantor, dan berubah menjadi penggemar Rainy. Sikapnya membuat semua orang tertawa.


“Dimana Raka dan Oom Aditya?” Tanya Rainy, begitu melihat bahwa Rini hanya berada disana sendirian.


“Sebentar lagi mereka datang.” Rini kemudian mempersilahkan mereka duduk.


“Ardi tidak ikut?” Tanya Rini ketika menyadari bahwa Ardi tidak terlihat.


“Suamiku juga sedang dalam perjalanan kemari. Mungkin ia akan datang bersamaan dengan Raka dan Aditya.” Beritahu Ratna. Rini memandang Arka yang duduk tepat di sebelah kiri Rainy dengan tertarik.


“Apakah ini kakak barumu?” Tanya Rini sambil menatap ke arah Arka dengan penuh penilaian. Semalam Ratna sudah menceritakan lewat telepon dengan penuh semangat bahwa ia baru saja mengangkat seorang anak laki-laki untuk menjadi kakak Rainy. Tadinya Rini bertanya-tanya dari mana kakak baru Rainy ini. Namun begitu menatap wajah Arka, Rini segera mengenalinya.


“Benar, bu.” Arka mengangguk sopan.


“Panggil beliau dengan sebutan tante, Arka. Beliau adalah sahabat karib mama sejak kecil.” Suruh Rainy. Arka mengangguk dan dengan patuh memanggil “tante Rini’. Suaranya kental dengan  nada penuh hormat. Membuat Rini mengangguk senang.


“Arka bukanlah orang asing dalam keluarga kami. Ia adalah cucu adik bungsunya ibu mertuaku. Jadi ia adalah sepupu Rainy dari pihak nenek.” Beritahu Ratna sambil menepuk lengan putra barunya dengan hangat.


“Ah, begitu.” Rini mengangguk mengerti. “Kau sungguh sangat tampan!” Puji Rini. Ia lalu menoleh pada Ratna dan berkata, “Waaah Ratna, putrimu luar biasa cantik. Sekarang putramu juga luar biasa tampan! Kelak rumahmu akan dipenuhi oleh cucu-cucu yang berparas layaknya boneka!” Ujarnya dengan nada iri, membuat Ratna tersenyum bangga.


“Tentu saja! Aku sungguh tidak sabar menunggu saat itu tiba.” Seloroh Ratna. Mendengar ini, Rainy memutar bola matanya.


“Daripada menunggu cucu dari kami yang entah baru akan datang kapan, mengapa mama dan tante Rini tidak memberi kami adik baru saja? Kan mama dan tante Rini masih cukup muda dan masih mungkin untuk hamil kembali.” Suruh Rainy dengan serius.


“Yang benar saja! Kami berdua sudah hampir 50 tahun. Sudah tidak produktif lagi!” Tolak Ratna keras.


“Lagipula kalau kami menginginkan anak kedua, sudah dari dulu kami membuatnya. Kalau baru sekarang sih namanya terlalu sangat terlambat.” Sahut Rini.


“Kenapa tante dulu tidak mau menambah anak kedua?” Tanya Rainy dengan penuh rasa ingin  tahu.


“Aku dan Oommu terlalu sibuk. Aku tidak ingin anak-anakku dibesarkan tanpa kasih sayang dari orang tuanya karena kami tidak punya waktu bagi mereka. Itulah sebabnya, setelah melahirkan Raka, aku terpaksa melepaskan ide untuk menambah anak agar mengurangi jumlah anak yang menjadi korban kesibukan orangtua.” Jawab Rini. “Tapi kau tidak perlu begitu!” Ucap Rini pada Rainy dengan cepat. “Raka sangat mampu untuk mengendalikan semua usaha kalian jadi kau bisa dengan tenang melahirkan dan merawat cucu-cucuku di rumah. Aku ingin cucu perempuan yang secantik dirimu dan cucu laki-laki yang mirip Raka!” Diam-diam Rainy dan Arka saling berpandangan. Rainy ingat ia pernah memberitahu Arka bahwa selama keluarga Jaya Bataguh masih berada di bawah kekuasaan Lilith, Rainy tidak sudi melahirkan anak, agar anaknya tidak menjadi objek baru bagi Lilith. Namun tentu saja mereka tidak akan memberitahu Rini mengenai hal ini. Melihat bagaimana ia begitu penuh harap akan keberadaan cucu-cucunya, akan lebih baik bila mereka menutup mulut rapat-rapat. Mereka tidak ingin mengundang masalah yang tidak perlu.


Tiba-tiba telepon genggam Ratna berbunyi dengan nyaring. Ratna mengambil telepon genggamnya dari tas tangan yang dibawanya dan begitu melihat bahwa yang menelpon adalah suaminya, ia tersenyum dan langsung mengangkat teleponnya.


“Hallo?” Senyum tiba-tiba menghilang dari wajah Ratna. Ekspresinya seolah-olah ia baru  mendengar berita yang sangat menakutkan, membuat Rainy dan Arka tercengang. Saat Ratna menutup teleponnya, ia tampak tak bisa berkata-kata.


“Ada apa, ma?” Tanya Rainy heran.


“Papamu…” Ucap Ratna terbata.


“Ada apa dengan papa?” Tanya Rainy lagi.


“Papamu mengalami kecelakaan lalu lintas.”