
"Guru, Datuk tinggal di rumahnya dengan siapa?" tanya Rainy.
"Dulu Datuk Sanja tinggal di rumah itu bersama Datuk Bawi. Tapi semenjak Datuk Bawi meninggal dunia, Datuk lebih suka tinggal di gua di belakang air terjun dan rumahnya dibiarkan kosong." jawab Guru Gilang.
"Air terjun?" tanya Rainy. "Di sungai?" Guru Gilang mengangguk.
"Ada rumah, tapi mengapa beliau memilih tinggal di gua?" tanya Rainy lagi dengan heran.
Mungkin beliau tidak suka bila harus tinggal sendirian di rumahnya." ucap Guru Gilang. "Syukurlah sekarang ada kalian. Mungkin beliau akan kembali tinggal di rumah."
Setelah melintasi cottage-cottage mungil tersebut, akhirnya mereka sampai di depan sebuah rumah. Rumah tersebut terdiri dari 2 lantai, berukuran cukup besar dan seluruhnya di cat dalam warna putih dengan atap berwarna hitam. Di depannya terdapat sebuah taman bunga yang tanamannya dibiarkan tumbuh merambati dinding hingga ke atap, memberi efek seolah rumah tersebut 'tumbuh' di sela-sela tanaman rambat. Bunga-bunga mawar rambat yang berukuran mungil dan berwarna merah muda memberikan tampilan romantis pada salah satu dinding bagian depan rumah sampai ke balkon lantai 2. Rainy yakin bahwa Romeo tidak akan berani memanjat tanaman rambat yang satu ini untuk bisa naik sampai ke balkon dan menemui juliet, karena duri-durinya tampak panjang dan tajam-tajam. Di setiap sudut, bunga tampak memgembang indah. Peony, mawar, tulip, camelia dan berbagai jenis anggrek menguasai seluruh sisi taman. Hanya jalan setapak berbatu menuju ke teras rumah yang tampak bersih dari tanaman.
"Ini dia, rumah Datuk." tunjuk Guru Gilang. Rainy menatap rumah tersebut dengan terpana. Namun tak lama kemudian keningnya berkerut.
"Er... Guru, apakah kami harus tinggal disini?" tanya Rainy pelan. "Tidak bisakah kami tinggal di cottage kecil saja?"
"Mengapa kau ingin tinggal di cottage kalau ada rumah ini?" heran Guru Gilang.
Rumah ini terlalu besar sedangkan saya dan mama tidak terbiasa mengurus pekerjaan rumah sendiri. Kalau kami harus membersihkan rumah ini, jangan-jangan kami tidak akan punya waktu untuk melakukan apapun sealin bersih-bersih." ucap Rainy dengan serius, membuat Ratna menganggukkan kepalanya, sedangkan Ardi dan Raka tersenyum geli.
"Jangan khawatir. Ada pelayan yang bertugas untuk mengurusi rumah ini kok." sahut Guru Gilang sambil tersenyum.
"Benarkah?" bukankah hanya para leluhur yang tinggal di dunia kecil ini? Jangan katakan bahwa salah satu leluhur memilih bekerja sebagai pelayan disini?
"Benar! Ayo, masuklah. Nanti kau akan tahu juga." ajak Guru Gilang. Dengan patuh Rainy, Ardi, Ratna dan Raka mengikuti Guru Gilang.
Mereka hampir mencapai pintu depan yang memiliki pintu ganda, ketika kedua pintunya tiba-tiba terbuka lebar dan seorang pria bertubuh tinggi besar, mengangkat sebuah kursi panjang berwarna putih keluar dari dalam rumah. Guru Gilang langsung menepi, begitu juga Rainy dan yang lainnya. Pria itu berjalan cepat seolah-olah kursi panjang yang membebani bahunya tersebut sama sekali tidak membuatnya merasa keberatan.
"Ah, Guru Gilang sudah datang!" sapanya pada Guru Gilang tanpa menghentikan langkahnya yang panjang-panjang.
"Tardi." Sapa Guru Gilang sambil menganggukkan kepalanya. Melihat cara keduanya bertukar sapa, Rainy bisa menebak bahwa pria yang disapa Guru Gilang dengan panggilan Tardi ini adalah generasi yang lebih muda dari Guru Gilang.
Tardi terus melangkah maju dengan bangku panjang di bahunya. Melihat ekspresinya yang ceria membuat Rainy langsung teringat pada Ace. Tampaknya keduanya adalah manusia yang sejenis. Rainy memandangi Tardi saat pria itu lewat di depannya. Siapa sangka, setelah beberapa langkah, Tardi berkata,
"Hm?" lalu melangkah mundur ke belakang, masih dengan bangku panjang di bahunya. Ia kemudian berhenti di depan Rainy sambil memandanginya dengan ekspresi tertarik. Tardi bertubuh tinggi besar. Tingginya mungkin hampir mencapai 2 meter. Kulitnya terang dan rambutnya yang ikal, memiliki potongan ala aktor cina tahun 80 yang sedikit gondrong dan di sisir ke belakang. Wajahnya tampan, dengan mata yang sedikit kecil, hidung yang tinggi dan bibir yang tipis. Senyum jahil menghiasi wajahnya. Entah mengapa auranya membuat Rainy langsung menyukainya. Mungkin benar kata orang bahwa pertalian darah bisa membawa rasa kedekatan.
"Apakah kau Rainy?" tanya Tardi. Rainy sedikit membungkukkan tubuhnya dan menunduk untuk memberi hormat sambil menangkupkan kedua tangannya di dada.
"Rainy memberi salam pada Datuk." Rainy pasti akan mencium tangannya andai saja Tardi tidak sedang dalam keadaan mengangkat bangku panjang di bahunya. Tak perduli seberapapun mudanya wajah Tardi, ia adalah leluhurnya. Mencium tangannya adalah bentuk hormat Rainy, sebagai generasi yang lebih muda kepadanya.
Di sebelah Rainy, Ardi, Ratna dan Raka juga melakukan hal yang sama.
"Emm. Jangan terlalu formal. Santai saja! Santai saja!" Tardi mengibaskan sebelah tangannya yang bebas.
"Ini adalah Tardi, no. 79." ucap Guru Gilang memperkenalkan.
"Benar. Aku Tardi, si nomor 79." ucap Tardi sambil tersenyum. "Apakah ini kedua orangtuamu? Kalian melahirkan anak yang luar biasa cantik! " puji Tardi sambil mengacungkan jempolnya. "Dan apakah ini calon pengantin prianya?" tanyanya ketika matanya berhenti pada sosok Raka. "Tampan! Sangat tampan! Kau pintar memilih suami!" pujinya lagi.
"Datuk, apa tidak berat?" tanya Rainy sambil menunjuk ke arah bangku yang ada di bahu Tardi. Tardi menoleh ke arah yang di tunjuk Rainy seolah-olah ia lupa bahwa ia sedang mengangkat sesuatu di bahunya.
Tiba-tiba seorang pria lagi muncul dari dalam rumah sambil membawa bangku panjang berwarna putih yang sama. Ia tampak terkejut ketika melihat ujung sebuah kursi panjang menggantung tepat di depan pintu yang terbuka sehingga mengakibatkan ia tidak bisa keluar.
"Tardi, kau sedang apa? Aku tidak bisa lewat nih!" panggil pria itu dengan nada kesal.
"Itu adalah Tara, nomor 78. Mereka kembar 3." ucap Guru Gilang memperkenalkan. Rainy tak pernah tahu bahwa ada triplet yang pernah lahir dalam keluarga.
"Ah, maaf!" sahut Tardi yang sambil melambaikan tangan pada Rainy, Ardi, Ratna dan Raka, langsung melangkah maju dan berjalan ke arah taman. Di belakangnya, seorang pria akhirnya muncul dari bawah sebuah kursi panjang. Pria ini yang tadi diperkenalkan oleh Guru Gilang sebagai Tara, memiliki postur tubuh yang sama dengan Tardi. Hanya saja, dibandingkan Tardi yang ceria, Tara memiliki karakter yang terlihat lebih kalem. Wajahnya juga tidak identik dengan Tardi walaupun sama tampannya.
"Guru." Sapanya sopan pada Guru Gilang. Guru Gilang balas mengangguk. Ketika mata Tara bertemu pandang dengan mata Rainy, langkahnya langsung terhenti.
"Rainy?" tanyanya tanpa basa-basi. Dengan sopan Rainy kembali membungkukkan tubuhnya, menangkupkan kedua tangannya di dada dan menundukkan kepalanya. Orangtuanya dan Raka mengikuti teladannya.
"Rainy memberi hormat pada Datuk." ucapnya dengan manis. Mendengar ini, Tara tersenyum.
"Emm." Tara balas mengangguk. "Masuklah. Biarkan aku meletakkan kursi ini dulu ya." pria itu kemudian langsung melangkah maju menyusul Tardi. Di pintu depan, sebuah kursi panjanh berwarna putih lainnya sedang diangkat, kali ini oleh seorang wanita.
"Dia Tari. Kembaran Tardi dan Tara. Nomor 77." ucap Datuk Sanja memperkenalkan. Tari bertubuh tak kalah tinggi besar dengan saudara-saudaranya. Tubuhnya berotot dan tampak sangat kuat. Namun wajahnya tidak sebanding dengan otot-otot ditubuhnya yang terlihat mengintimidasi. Wajahnya mungil, dengan mata besar, hidung dan bibir mungil dan tulang pipinya yang tinggi. Dibandingkan dengan Ace, Tari adalah perwujudan yang sempurna dari sebutan 'Barbie berotot'.
Saat mendengar suara Guru Gilang, mata Tari langsung terarah kepada Rainy. Ia memgabaikan Guru Gilang dan langsung menyapa Rainy dengan mata berbinar-binar dan wajah yang yang penuh senyum.
"Rainy memberi hormat kepada Datuk." lagi-lagi Rainy dan yang lainnya mengulangi tindakan memberi hormatnya kepada leluhurnya. Tari mengibaskan tangannya.
"Sayang sekali aku tidak bisa memelukmu karena bangku ini." ucap Tari dengan penuh penyesalan. "Biar kuletakkan ini ditempatnya terlebih dahulu."
"Bangku-bangkunya mau di bawa kemana?" tanya Guru Gilang.
"Ke taman bunga. Nuri memerintahkan untuk mengaturnya di taman karena pernikahannya akan dilangsungkan di taman." Sahut Tari sambil berjalan menyusul kedua saudara kembarnya.
"Guru, mereka bertiga memiliki fisik yang luar biasa. Saya tidak tahu bahwa keluarga kita memiliki tipe ini dalam genetiknya." komentar Rainy. Guru Gilang menggelengkan kepalanya.
"Kita tidak punya." sahutnya. "Ibu triplets adalah seorang atlit angkat besi."
"Eh?" Rainy terpekik pelan karena kaget. Tapi kemudian ia menganggukkan kepalanya. "Pantas saja"
"Tari adalah cerminan dari ibu mereka saat masih muda. Berotot namun berwajah seperti boneka." ucap Guru Gilang.
"Apakah ayah mereka sama tingginya?" tanya Rainh ingin tahu.
"Ayah mereka 10 cm lebih pendek dari istrinya."
"Ah."
"Tapi ayah mereka sangat memuja istrinya. Ia menganggap wanita gagah adalah lebih menarik daripada gadis kurus seperti dirimu." ledek Guru Gilang membuat Rainy dan yang lainnya tersenyum geli.
Saat akhirnya mereka mencapai pintu, suara nyaring seorang pria terdengar menyambut mereka dengan penuh tawa.
"Ardi! akhirnya kau sampai disini juga!"