
Akad nikah akan dilangsungkan di taman, di depan rumah besar Datuk Sanja. Sebuah panggung mungil dengan latar belakang yang didekorasi apik dengan bunga-bunga hidup berwarna putih tampak cantik menghiasi lokasi akad. Sebuah meja bertaplak meja putih di apit oleh 2 pasang kursi berhiaskan bunga yang elegan. Di depan panggung, sejumlah kursi panjang berwarna putih di susun dalam 2 baris ke belakang, mirip penataan kursi di bioskop. Di gang yang ada di antara 2 baris kursi tersebut, sejumlah pot bunga menghiasi sisi kiri dan kanan gang. Dekorasi ini tidak bisa dibandingkan dengan dekorasi saat acara pertunangan Rainy dan Raka, namun lokasinya yang berada tepat di tengah taman bunga meningkatkan keindahan dekornya menjadi berkali-kali lipat. Matahari bersinar cerah namun tidak terasa panas. Angin bertiup sepoi-sepoi, membuat gaun dan rambut para wanita berkibaran dengan indah. Untuk persiapan yang hanya berlangsung dalam beberapa jam saja namun bisa menghasilkan dekor seperti ini dengan menggunakan semua perabotan yang ada sudah sangat luar biasa.
Nuri, Clarissa dan Ratna membawa Rainy untuk duduk di sebuah sofa, ruang tamu. Saat itu hampir semua orang sudah berkumpul di taman untuk menyimak detik-detik Raka mengucapkan akad nikah sehingga di ruang tamu hanya ada Lara yang sejak tadi tidak terlihat. Saat itu Lara sedang memandangi Rainy dengan tersenyum. Untuk sesaat mereka saling berpandangan.
"Pembohong." cela Rainy tanpa ampun. Walaupun ia tahu bahwa Lara adalah salah satu leluhurnya yang sudah berusia lebih dari 140 tahun, namun Rainy tidak merasa sungkan untuk bersikap seperti biasanya terhadap Lara. Mungkin karena sejak awal ia sudah merasakan kedekatan dengan wanita itu sehingga Rainy merasa cukup mengenal pribadi Lara. Wanita itu selalu bersikap murah hati dan tulus pada dirinya sehingga membuat Rainy merasa nyaman di dekatnya. Mendengar tudingan Rainy, Lara hanya bisa mengangkat bahu sambil tertawa.
"Aku juga terpaksa. Kalau boleh, aku juga tidak mau melakukannya padamu. Tolong maafkan aku, ya?" sahut Lara dengan perasaan tak berdaya. Ia sangat menyukai Rainy dan tidak mau bila gadis itu marah padanya. Karena itu yang bisa Lara lakukan saat ini hanyalah meminta maaf dengan tulus pada Rainy.
"Apa lagi yang kau sembunyikan dariku?" tanya Rainy dengan nada datarnya yang biasanya.
"Bahwa aku menyukai kakakmu...." ucap Lara pelan.
"Itu sih aku juga tahu!" tukas Rainy dengan jumawa.
"Hah?" Lara terpana.
"Seluruh Divisi VII sudah tahu." beritahu Rainy dengan nada yakin sehingga membuat wajah Lara memerah karena malu.
"Selamat berjuang! Aku tidak yakin berapa lama kau harus berusaha atau apakah usahamu itu akan berhasil mengingat sifat Arka, namun yakinlah bahwa sebagai adiknya, aku akan selalu mendukungmu!" seloroh Rainy. Mendengar ini Lara mengangguk.
"Emm. Terimakasih, Rain." ucapnya sambil tersenyum dengan sangat manis.
"Ssst! Rainy, duduk yang manis! Penghulu dan papamu dan para saksi sedang menuju kemari!" tegur Nuri yang sejak tadi mengawasi dari pintu. Clarissa dan Lara langsung bergerak untuk merapikan penampilan Rainy untuk yang terakhir kalinya sebelum menyingkir dari sisi gadis itu agar ia bisa segera memulai prosesi pernikahannya.
Yang menjadi penghulu hari itu adalah Datuk Sanja, dengan Guru Gilang dan Arai berperan sebagai saksi. Saat Rainy meminta ijin secara formal kepada kedua orangtuanya untuk dinikahkan kepada Raka, Ardi menjawab dengan suara serak karena berlinangan air mata haru, sementara di sebelahnya, Ratna sudah menghabiskan 20 lembar tissue untuk menghapus air matanya padahal waktu baru berlalu beberapa menit saja. Untungnya, walaupun turut berkaca-kaca, Rainy melalui prosesi tersebut dengan lancar.
Lalu tahu-tahu Datuk telah selesai membimbing Raka mengucapkan akad nikah dan tahu-tahu Rainy sudah di jemput dari dalam rumah untuk didudukan bersama-sama di kursi pelaminan, tepat di sebelah Raka, untuk mendengarkan petuah pernikahan dari Datuk Sanja. Tak ada buku nikah untuk di tanda tangani. Mereka akan melakukannya nanti, pada saat pernikahan yang telah disiapkan Ratna dan Rini dilaksanakan. Saat ini yang penting bagi keduanya bahwa mereka telah menikah dan sejak saat itu menjadi satu keluarga yang sesungguhnya.
Rainy menatap Ke arah Raka yang hanya mengenakan kemeja berwarna putih dan chinos berwarna hitam yang sederhana dari balik bulu matanya, saat ia memegang tangan kanan Raka dengan kedua tangan mungilnya dan mencium punggung tangan suaminya tersebut. Saat itulah ia menyadari bahwa tangan Raka terasa sangat dingin seperti es. Apakah Raka juga merasa gugup? Pemikiran ini membuat senyum Rainy mengembang tanpa Ia sadari. Saat itu juga suara nafas tertahan terdengar dari berbagai penjuru. Senyum langka Rainy lagi-lagi membuat mereka yang baru pernah melihatnya merasa silau oleh keindahannya. Raka merasa hatinya mengembang penuh rasa bangga.
'Istriku!' pikirnya dengan bahagia. Senyum lebar menghiasi wajahnya dan membuat ia dan Rainy saat itu terlihat begitu indah.
"Tidak adil! Mereka hanya anak-anak kecil! Aku juga ingin menikah!" keluh salah seorang leluhur pria Rainy.
"Emm. Tidak ada yang melarangmu untuk menikah. Segera setelah urusan dengan Lilith selesai, kau bisa mencari 1 atau 2 atau bahkan 4 wanita untuk kau nikahi. Tapi apa bisa kau menemukan istri yang secantik cucu kita ini?" tanya leluhur pria lain yang duduk di sebelah kirinya.
"Sepertinya itu cukup sulit. Rainy sungguh secantik bidadari!" sahut leluhur yang lain lagi.
"Benar! Genetik keluarga kita sungguh luar biasa!" leluhur yang lain lagi turut menimpali.
Begitulah para leluhur sibuk memuji anggota keluarga termuda mereka dengan penuh rasa bangga. Keceriaan dan kebahagiaan mereka menyebar keseluruh sudut dunia kecil tersebut dan membuat hari itu menjadi terasa sangat menyenangkan.
Karena sudah menjelang maghrib, Setelah mencuri sebuah ciuman dari istri barunya, Raka berpamitan untuk sholat berjemaah di Masjid. Rainy menggunakan kesempatan itu untuk mandi dan berganti pakaian dengan gaun malam berwarna putih yang disiapkan Lara untuknya. Rainy mencuci rambutnya yang dinodai hair spray lalu kemudian mengeringkannya dengan Hair dryer. Saat ia keluar dari kamar mandi, Raka sudah duduk menunggunya di atas kursi di depan meja makan yang dipenuhi pastry, buah-buahan dan jus dingin.
Melihat Raka, langkah Rainy langsung terhenti di depan pintu kamar mandi. Pemuda itu sudah berganti pakaian dengan set piyama berwarna hitam. Dan bila menilik dari rambutnya yang basah, ia pasti sudah mandi entah di kamar mandi yang mana. Raka tersenyum manis dan mengulurkan sebelah tangannya ke arah Rainy tanpa suara. Secara otomatis Rainy melangkahkan kakinya tanpa ragu menuju ke sisi suaminya berada.
Saat Rainy hampir mendekat, Raka bangkit berdiri dan mengulurkan tangan untuk meraih pinggang Rainy. Raka langsung menarik Rainy masuk ke dalam pelukannya. Pria itu menyurukkan wajahnya ke dalam cekungan antara bahu dan leher Rainy, menghirup wangi tubuh gadis itu yang terasa membiusnya.
"Istriku!" bisik Raka tepat di telinga Rainy. "Akhirnya kau adalah milikku!"
Nafasnya yang hangat membuat Rainy tersipu. Ia mengulurkan tangan dan balas memeluk Raka, membiarkan pemuda itu melakukan apapun yang selama ini tak pernah berani dilakukannya pada tubuh Rainy. Tak lama kemudian yang terdengar hanyalah desah4n-des4han nafas yang memburu, sedangkan malam yang masih muda, mengintip dari sela-sela gordyn jendela dengan malu-malu.
***
Pukul 7 pagi. Datuk Sanja, Ardi, Ratna, Nuri, Arai, Fahri, Clarissa, Guru Gilang, Lara dan Daka, putra bungsu Guru Gilang, duduk berkumpul mengelilingi meja makan besar bergaya Prancis yang mampu menampung 12 orang sekaligus. Di atas meja, sarapan pagi yang berlimpah sudah menunggu. Pastry, nasi Goreng udang khas Ungu, nasi bakar dan dendeng tumbuk bakar, sosis frankfurt yang besar-besar, Salad sayuran dan sejumlah buah-buahan tropis memenuhi meja. Di salah satu meja dorong berisikan beberapa macam minuman hangat dan dingin.
"Wow! Menunya luar biasa!" puji Nuri. "Terimakasih, Ungu." sambungnya kemudian.
Suara Ungu langsung menjawab dengan manis,
"Sama-sama, Nuri."
"Makanan sudah siap disantap. Namun 2 suami istri baru itu rupanya belum juga bangun." ucap Nuri sambil tersenyum. "Apakah sebaiknya kita membangunkan mereka, Datuk? Tidak baik untuk melakukan terlalu banyak aktivitas berat tanpa makan sama sekali." Matanya berkilat nakal.
"Angah, biarkanlah mereka tidur lebih lama lagi. Mereka pasti sangat kelelahan." bujuk Clarissa yang bisa menebak niat Nuri dari caranya tersenyum. Ia menatap pada Ardi dan Ratna dan memberikan senyuman permohonan maafnya. Permohonan maaf karena sebentar lagi, putri tunggal dan menantu baru mereka akan jadi korban keusilan Nuri. Ardi dan Ratna hanya tersenyum. Mereka tidak keberatan sama sekali.
"Tapi tidur dan beristirahat saja tidak cukup." bantah Nuri. Untuk bisa melakukannya secara intensif, mereka butuh asupan makanan!" ucap Nuri tegas. "Linda." panggil Nuri.
"Iya, Angah." suara seorang wanita setengah baya menjawab dengan nada tenang. Sesosok tubuh berpakaian pelayan berwarna hitam dengan celemek putih dan memakai sebuah topi mungil berwarna putih, memasuki ruang makan dari arah dapur dan berdiri di belakang kursi yang Nuri duduki. Kedatangannya kontan membuat mata Ardi dan Ratna terbelalak sangat besar.
"Siapkan keranjang sarapan dan kirimkan kepada pengantin di kamar mereka." perintahnya. Linda menganggukan kepalanya, sebelum kemudian kembali menghilang di balik pintu dapur.
***
Rainy baru terlelap saat subuh tiba dan saat ini terbangun karena tubuhnya terasa sangat tidak nyaman. Malam tadi, Rakanya yang lembut dan penyayang berubah menjadi serigala jahat dan menyiksa Rainy sampai adzan subuh terdengar. Rainy merasa punggung dan kedua kakinya sangat pegal sehingga ia tidak ingin bergerak dari ranjang. Di sampingnya, si serigala jahat, sudah kembali berubah jadi kucing malas yang manja. Raka tidur sangat lelap dengan senyum puas masih terukir di bibirnya. Membuat Rainy merasa ingin menggigit bibir tersebut dengan gemas untuk membalaskan dendamnya. Namun belum sempat ia bergerak mendekati Raka, sebuah ketukan di pintu kamar menghentikan gerakannya.
"Kak Rainy dan kak Raka, apakah ada yang sudah bangun? Saya datang mengantarkan sarapan untuk kakak berdua." suara seorang wanita setengah baya terdengar dari balik pintu yang terkunci. Rainy mengerutkan keningnya dengan heran. Ia tidak pernah mendengar suara ini sebelumnya dan dari seluruh leluhurnya, tidak ada yang pernah memanggilnya dengan sebutan Kakak.
Setelah melepaskan tangan Raka yang masih memeluk pinggangnya dan merapikan selimut untuk menutupi tubuh telanjang suaminya, Rainy bangkit dari ranjang. Ia meraih baju tidurnya yang tergeletak di lantai dan memasangnya dengan tergesa. Rainy menyempatkan diri untuk mengintip ke meja rias untuk memastikan bahwa penampilannya pantas untuk dilihat orang lain. Setelah itu ia berjalan dengan cepat menuju ke pintu. Rainy memutar kunci dan membuka pintu kamar separuhnya saja. Namun apa yang menunggunya di depan pintu kamar, membuat Rainy tanpa bisa menahan diri, menjerit sekeras-kerasnya.