
Jam 4 sore, Ace membawa Rainy, Raka dan Arka meninggalkan Cattleya Resort. Perjalanan ke kota B akan memakan waktu 1 jam sehingga Rainy memutuskan untuk menghabiskannya dengan tidur. Ia bersandar dalam pelukan Raka dan memejamkan mata, 5 menit setelah mobil meninggalkan Cattleya Resort. Beberapa saat kemudian, dalam tidurnya Rainy mendengar suara Ace berkata,
“Boss, kita diikuti.”
“Aku tahu.” Sahut Raka dingin.
“Sepertinya lebih dari 1.” Ucap Ace lagi.
“Emm. Pura-pura tidak tahu saja dulu.” Instruksi Raka.
Percakapan ini membangunkan Rainy sepenuhnya. Ia menegakkan tubuh dan memandang ke belakang dengan penuh antisipasi. Melihat matanya yang berbinar cerah dan wajahnya yang bercahaya, Raka menggelengkan kepalanya. Rainy selalu mengatakan bahwa dirinya bukanlah seseorang yang brutal dan pecinta kekerasan. Namun mengapa setiap kali seseorang mengajak mereka berkelahi, ekspresi gadis itu menjadi begitu senang, layaknya seorang anak yang hendak diajak orang tuanya ke taman bermain?
Mereka terus melaju dengan kecepatan normal melalui jalan luar kota yang kecil dan berkelok-kelok tajam di kawasan pegunungan yang sepi. Jalan tersebut berpagar hutan lebat di sebelah kanan dan jurang di sebelah kiri. Sungguh tempat yang tepat bila ingin membunuh orang dengan kecelakaan lalu lintas sebagai kedoknya. Begitu pikir Rainy. Di belakang mereka terdapat 4 buah mobil sedan berwarna hitam yang turut berjalan pelan. Tiba-tiba, salah satu mobil yang berada di belakang mereka tersebut mengambil jalan ke sebelah kanan dan melaju dengan sangat kencang. Ketika bagian depan mobilnya telah berada di depan mobil yang ditumpangi Ace, Ia hendak memotong secara tiba-tiba. Namun Ace langsung melaju kencang dan mengisi ruang kosong yang tadinya hendak ditempati mobil yang saat ini sedang berada di sebelah mereka itu. Ace bisa membaca niat buruk pengemudi mobil tersebut. Mereka berniat menggunakan mobil mereka untuk mengurung mobil yang Ace kendarai; dari depan, dari samping kanan dan dari belakang, untuk kemudian mendorong dengan paksa mobil tersebut menuju jurang yang berada tepat di sisi kiri. Tentu saja Ace tidak bersedia memberi mereka kesempatan untuk melakukannya. Maaf saja! Aku masih belum menikahi Natasha, jadi aku masih ingin hidup! Begitu pikir Ace dengan geram. Namun mobil yang berada di sebelah kanan mereka tersebut tampak tidak jera. Ia terus mencoba mendahului Ace, bermaksud memotong Ace dari depan. Bukan Ace namanya bila ia membiarkan hal itu terjadi. Setiap kali mobil tersebut mencoba memotongnya, setiap kali itu juga Ace menginjak gas hingga posisi mobil Ace selalu menutupi jalan.
Sepanjang peristiwa tersebut, seringai jumawa muncul di bibir Ace dan matanya berkilat penuh antisipasi. Ini adalah kali pertama Rainy ikut di dalam mobil yang melakukan sesuatu yang mirip balapan liar. Rainy mengamati dengan ketertarikan yang tidak wajar pada ekspresi anak buahnya yang dihari-hari biasanya selalu tampak jinak itu. Ini adalah kali pertama ia melihat Ace berakting layaknya berandalan sejati dan oh, betapa tampannya! Raka mengerutkan keningnya begitu matanya melihat ekspresi Rainy. Tangan Raka mengusap dahinya yang tiba-tiba terasa tidak nyaman.
“Ace, apa yang kamu lakukan? Tinggalkan mereka!” Geram Raka dengan kesal. Teguran ini menyadarkan Ace bahwa ia bukannya sedang berada di balapan liar, tapi ia sedang membawa kedua boss dan seorang rekannya dalam sebuah perjalanan bisnis. Bukan waktunya bermain-main. Bila orang-orang dalam mobil tersebut ingin mencelakakan Rainy cs, seharusnya mereka mencari tahu terlebih dahulu apakah mereka memiliki kemampuan untuk melakukannya..
“Kencangkan sabuk pengaman!” Ucap Ace memperingatkan, sesaat sebelum ia menginjak pedal gas sekuat-kuatnya. BMW M3 berwarna biru yang dikendarainya langsung melaju kencang meninggalkan mobil-mobil pengganggu di belakangnya. Melihat mobil sasarannya melesat pergi, ke empat mobil yang mengikuti Ace segera melaju kencang untuk menyusul. Namun apalah mobil kelas teri mereka bila di bandingkan dengan BMW M3 yang merupakan mobil sport yang menurut iklannya sanggup melesat 0-100 km/jam hanya dalam 4,3 detik. Sebentar saja, Ace meninggalkan mereka jauh di belakang hingga tidak terlihat lagi.
Setelah beberapa menit, Ace memperlambat mobil dan memasuki jalur tol yang lenggang. Setelah melintasi jalan tol sekitar 15 menit, mereka berhenti di rest area. Jalan tol di kawasan itu baru dibuka sekitar 2 tahun saja dan rest area yang terletak di km 50, masih belum berkembang seperti rest area di jalan tol yang telah lama beroperasi sehingga belum ramai dikunjungi oleh pengendara. Foodcourt sama sekali belum tersedia. Hanya terdapat beberapa stand makanan dan minuman serta sebuah minimarket yang disiapkan untuk memenuhi kebutuhan para pengendara mobil yang mampir untuk beristirahat. Rainy ingin mereka berhenti disana sejenak karena ia tiba-tiba merasa lapar, sementara kotak bekal yang dibuatkan Éclair untuk mereka diletakkan Scooby Doo ke dalam bagasi mobil. Rainy sungguh mengkhawatirkan bila jus mangganya sudah berubah menjadi hangat akibat terkurung dalam bagasi terlalu lama. Begitu mobil mencapai bagian luar parkiran, Ace menghentikan mobil dan langsung keluar untuk mengambil kotak bekal dari dalam bagasi. Namun ketika ia sedang membungkuk untuk mengeluarkan kotak bekal yang besar tersebut, 4 buah mobil berhenti dengan tiba-tiba, tepat di depan, samping dan belakang mobil Rainy cs, dengan suara berdecit nyaring.
Ace meletakkan kembali kotak bekalnya ke dalam bagasi dan menutup bagasinya dengan rapat, agar tidak akan ada yang bisa mencelakakan bekal mereka. Ia tidak tahu hukuman apa yang akan ditimpakan kepadanya bila ia membuat isi kotak makanan tersebut tidak dapat dinikmati lagi. Hukuman dari Rainy lebih menyeramkan daripada hukuman yang mungkin diterimanya dari orang-orang yang mengepung mereka itu, sehingga ia lebih rela menghadapi orang-orang tersebut daripada mencelakakan bekal mereka. Ia lalu menegakkan tubuh dan memamerkan postur raksasanya, disertai dengan senyum nakal yang membuat wajah tampannya terlihat sangat brandalan. Pintu-pintu mobil terbuka dan segerombolan preman bertubuh tinggi besar dan berotot mengalir keluar.
“Well, well, well!” Komentar Rainy dengan girang. “Bisakah aku ikut?” Tanyanya dengan riang.
“Tidak!” Tentu saja! Jawaban apalagi yang bisa kau harapkan untuk keluar dari mulut Arka?
Sementara itu diluar, perkelahian sudah berlangsung dengan ramai, dibawah tatapan khawatir beberapa pengunjung yang kebetulan berada di sekitar mereka. Empat buah mobil itu memuntahkan 16 preman dari dalamnya. Sungguh jumlah yang tidak imbang bila dibandingkan dengan Raka cs yang hanya terdiri dari 3 orang. Namun siapa sangka, 16 orang tersebut bukan lawan bagi ketiganya. Sebentar saja 16 orang tersebut telah terkapar di lantai sambil mengaduh kesakitan. Sungguh orang-orang lemah! Bagaimana mereka bisa bertahan di bisnis tukang pukul bila mereka begitu lemah? Sungguh memalukan!
Ace berjalan menuju ke mobil yang berada tepat di depan mereka dan membuka pintunya. Karena kunci mobil masih terpasang di slot kuncinya, maka Ace dengan mudah berhasil memindahkan mobil tersebut dan memarkirnya dengan rapi di parkiran.
Di saat yang sama, Arka bersenang-senang dengan menendangi preman yang mencoba bangkit dari jalanan beraspal tersebut, satu demi satu. Tingkahnya persis seperti orang yang sedang bermain whack a mole, tapi menggunakan kaki. Sementara itu tak jauh dari mobil mereka berada, Raka meletakkan sebelah kakinya di leher salah satu pria yang berlagak sebagai pemimpin para preman. Ia menekan kakinya dengan kuat ke leher pria itu, hingga wajah pria itu memerah dan tangannya bergerak panik, berusaha melepaskan diri dengan mendorong kaki Raka menjauh.
“Siapa yang menyuruhmu menyerang kami?” Tanyanya dengan suara yang mungkin mampu menurunkan suhu ruangan menjadi tinggal 5 derajat celcius. Pria di bawah kakinya menutup mulutnya rapat-rapat. Sebagai hadiahnya, Raka meletakkan semua beban tubuhnya di kaki yang menginjak leher pria tersebut, membuat pria itu tidak bisa bernafas. Salah gerakan sedikit saja, perbuatan Raka dapat mematahkan lehernya. Kali ini pria itu merasakan kepanikan mencengkeram hatinya yang kecil dengan kuat. Tak lama kemudian dengan lancar ia menjawab pertanyaan Raka.
Ace dan Arka menyelesaikan tugasnya secara bersamaan. Keduanya segera kembali ke dalam mobil dimana Rainy masih menunggu.
“Sudah selesai?” Tanya Rainy sambil menaikkan sebelah alisnya. Ace mengangguk.
“Mereka cuma preman jadi-jadian. Lemah!” Beritahu Ace dengan ekspresi jijik, membuat ujung bibir Rainy berkedut. Yes! Yes! Cuma kalian yang paling kuat! Sindirnya dalam hati.
Tak lama kemudian Raka masuk ke dalam mobil. Begitu pintu tertutup, Ace segera menekan pedal gas dan mobil langsung melaju kencang keluar dari rest area. Tepat pada saat yang sama, beberapa petugas keamanan yang berlari-lari dari segala penjuru, sampai di tempat kejadian. Namun mobil yang dikendarai Ace telah melesat seperti angin sehingga mereka tidak bisa melakukan apa-apa, kecuali menelepon polisi dan menolong para preman yang tidak sadarkan diri.
Di kursi depan, Arka menelepon Natasha dan memberitahukan apa yang telah terjadi, sehingga Natasha bisa segera menyiapkan semua yang perlu dilakukan ketika masalah ini sampai ke tangan polisi. Sedangkan di kursi belakang, Rainy mengambil tissue basah dan menggunakannya untuk membersihkan tangan Raka dengan penuh perhatian.
“Apa kau menemukan siapa yang memerintahkan mereka?” Tanya Rainy.
“Hendrik.” Ucap Raka. Ekspresinya ketika mengucapkan nama tersebut sama persis dengan ekspresi Ace ketika mengata-ngatai preman tadi. Rainy hanya mengangguk. Ia telah lama menduga bahwa Hendrik akan melakukan sesuatu kepada dirinya, karena pria itu bukan jenis orang yang akan diam saja bila ia merasa dicelakakan. Justru Rainy merasa heran mengapa Hendrik baru mulai melakukan aksinya sekarang.
“Dia idiot!” Begitu jawaban yang dilontarkan Raka, ketika Rainy menyuarakan rasa herannya. Rainy mengangguk. Benar juga. Tidak ada alasan lain yang cocok kecuali itu. Dalam hati Rainy bertanya-tanya, apakah Adnan adalah anak adopsi? Mengapa ia dan semua keturunannya memiliki inteligensi yang rendah dan kemampuan berpikir yang lemah? Sungguh memalukan!