
"Boss, anda memanggil saya?" Tanya Ace riang.
"Emm, Ace. Kemarilah." panggil Rainy. Ace berjalan mendekat. Ia menatap dengan tertarik pada Musa yang masih terkapar di lantai. Namun dengan segera ia kembali mencurahkan perhatiannya pada Rainy.
"Ya, Boss? Ada yang bisa saya bantu?" tanya Ace.
"Nothing, Ace. I just kind of miss you."
"Ah, Boss! Anda membuat saya malu!" ucap Ace riang sambil tersipu-sipu. Melihat pria dewasa bertubuh tinggi besar berotot memasang wajah tersipu-sipu layaknya gadis remaja, walaupun hanya bercanda, sungguh membuat Rainy merasa tidak nyaman. Namun tidak demikian dengan Musa. Penampilan Ace yang gagah dan aura menyenangkan yang terpancar dari tubuhnya, ditambah sikapnya yang tidak segan mengekspresikan sisi femininnya tampak sangat menyilaukan di mata Musa. Apalagi ketika Ace menunduk dan bertanya padanya,
"Apakah kau tidak apa-apa?" dengan wajah yang menunjukan kekhawatiran, membuat Musa terperangah. Ia hanya mengangguk dengan wajah bodoh dan menuruti perintah Ace untuk bangkit, ketika Ace membantunya berdiri. Ace menatap Musa dengan bingung.
"Boss, apakah otaknya korslet?" tanya Ace pada Rainy dengan khawatir.
"Emm. Sepertinya dia terpesona pada ketampananmu, Ace." Jawab Rainy datar. Ketika mendengar kata-kata Rainy, Musa tersadar. Ia menggelengkan kepalanya kuat-kuat.
"Aku masih suka perempuan!" protesnya keras.
"Aku tidak pernah bilang bahwa kau tidak suka perempuan." sahut Rainy datar.
"Tapi kau bilang aku suka laki-laki..."
"Benarkah?"
"Benar!" itu yang tadi kau katakan, begitu yang ingin disampaikan Musa. Namun belum sempat ia menyelesaikan kalimatnya, Rainy menarik nafas nyaring, dan berkata dengan mata terbelalak lebar.
"Oh, jadi kau suka pada laki-laki? Oh, wow! Aku baru tahu lho!" selorohnya dengan ekspresi yang dibuat-buat. Musa menutup matanya, berusaha menahan kesabarannya. Ia datang kemari karena sebuah misi. Ia tidak bisa membiarkan emosinya lepas kendali karena lidah Rainy. Sabar! Sabar! Sabar! Perintah dalan hati sambil mengelus-elus dadanya.
Interaksi antara Musa dan Rainy membuat yang lain tersenyum geli. Ace sudah mengalami sendiri bagaimana mahir bossnya yang nyaris selalu memasang ekspresi datar itu mempermainkan orang lain dengan kata-katanya. Namun melihat orang lain mengalami hal yang sama, tak urung membuatnya merasa geli.
"Aku hanya terpesona pada auranya." Ucap Musa kemudian, mencoba menjelaskan. "Bagaimana seseorang bisa memiliki aura yang begitu bersih dan membuat nyaman, serta ditakuti oleh yang tidak kasat mata?" Musa mendekati Ace dan memandangnya dengan penuh pengharapan. "Maukah anda mengajari saya?" tanyanya pada Ace, membuat Ace menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal karena tidak tahu harus menjawab apa.
"Kau tidak bisa mempelajarinya karena aura itu adalah bakat yang dibawa Ace dari lahir." Ucap Rainy, menghancurkan harapan Musa. Bagaikan bunga yang tiba-tiba layu, ekspresi wajahnya langsung menjadi muram dan merana. Tapi kemudian, seolah tersadar oleh sesuatu, ia mengangkat kepalanya kembali dan bertanya,
"Kak Ace? Kau siapa?"
Yang ditanya memasang wajah bingung.
"Aku Ace..."
"Aku salah satu pegawai kepercayaannya." jawab Ace dengan bangga, membuat bibir Rainy berkedut pelan. This Scooby Doo... Kapan Rainy pernah bilang bahwa Rainy mempercayainya? Dengan otak Scooby Doo nya, Rainy bahkan tidak bersedia mempercayakan Cake buatan Mr. Jack untuk dibawa olehnya karena takut ia akan menjatuhkannya!
Musa berbalik dan memandang Rainy,
"Mbak Rainy, tolong terima saya untuk bekerja sebagai pegawai mbak." pintanya, penuh determinasi. Rainy memandangnya dengan terperangah. Mengapa dari mengusir mahluk tak kasat mata, sekarang melompat ke mencari pekerjaan? Bisa gak sih perilakumu jangan terlalu random begitu? Sudah begitu sejak tadi Musa dengan tanpa filter menyebut dirinya 'aku' di hadapan Rainy dan tidak segan berteriak kepadanya. Kalau seorang seperti Musa menjadi pegawainya, takutnya ia hanya akan bertahan sehari sebelum Rainy melemparnya keluar.
"No." sahut Rainy tanpa basa-basi. Ekspresi Musa kembali luluh lantak akibat penolakan tersebut. Ia hampir menerjang ke depan untuk bisa memeluk kaki Rainy namun kemudian ia melirik pada Arka yang siap sedia menendangnya kapan saja ia berani mendekat. Menahan diri, Musa memutuskan untuk melemparkan diri ke lantai dan menghiba.
"Mbak Rainy, kasihanilah saya! Semenjak keluar dari RSJ saya kesulitan untuk mencari pekerjaan. Saat memperoleh pekerjaan, saya sulit berkonsentrasi karena makhluk-makhluk terkutuk itu terus mengganggu saya. Semua orang menganggap saya gila dan berbahaya dan memecat saya begitu saja tanpa perduli apakah saya bisa makan atau tidak..."
"Kau terlihat lebih sehat dan berisi ketimbang saat berada di RSJ." potong Rainy. Tubuh Musa memang tidak bisa dikategorikan gemuk, namun saat di RSJ ia hanyalah seonggok tulang kerangka yang dilapisi oleh kulit.
"Saya masih punya sedikit uang untuk makan, tapi sebentar lagi akan habis. Karena itu tolong terimalah saya bekerja disini!" sahut Musa mendesak.
"Kenapa aku harus menerimamu?" Tanya Rainy.
"Karena... Karena anda baik hati dan berjiwa penolong?" jawab Musa kehabisan akal. Kalimatnya membuat Rainy menyipitkan matanya dengan kesal. Bisa gak sih untuk lebih terdengar tulus saat memuji?
"No!" Sahut Rainy kembali dengan tegas. Kata-katanya membuat Musa panik. Ia bangkit dari bersimpuhnya dan kembali mencoba melemparkan dirinya ke kaki-kaki Rainy. Namun kali ini Dengan baik hati Arka tidak menendang pria tersebut, melainkan melangkahkan kakinya hingga ia berdiri tepat di antara Rainy dan Musa. Hal ini menyebabkan tubuh Musa yang terlanjur bergerak maju, jatuh menabrak kaki Arka. Tak memperdulikan rasa sakitnya, Musa malah memeluk kaki Arka dan kembali menghiba.
"Mbak Rainy, saya bisa melakukan banyak hal. Saya bisa mengetik, saya bisa juga melakukan pekerjaan kasar! Saya bisa jadi supir, atau kalau memang mbak Rainy ingin saya jadi pesuruh atau tukang kebun, saya bisa! Saya mau mengerjakan apa saja, yang penting tolong ijinkan saya bekerja disini! Saya cuma butuh berada di sekitar kak Ace supaya saya bisa bebas dari gangguan makhluk-makhluk tak kasat mata itu, sehingga bisa hidup dengan lebih tenang!" tangisnya, lagi-lagi tanpa air mata. Membuat Rainy menempelkan tangannya di dahi karena sakit kepala yang muncul akibat mendengar semua rengekan Musa.
Di sebelah Rainy, Raka menyikutnya pelan.
"Sebaiknya kau menerimanya." Suruh Raka. Rainy mengangkat wajahnya dan menatap pria itu dengan pandangan bertanya-tanya.
"Why?"
"Akan kujelaskan nanti, tapi aku janji kau akan menyukai alasannya." sahut Raka dengan senyum penuh percaya diri. Rainy memandang wajah tampan pria yang duduk di sampingnya itu dengan tatapan skeptis.
"Orang ini memiliki mood yang terlalu mudah naik dan turun. Temperamennya aneh dan suara kerasnya menyakiti kepalaku. Aku tidak mau punya pegawai seperti dia!" tolak Rainy.
"Jangan khawatir, setelah menjalani pelatihan ia akan jadi orang yang sama sekali berbeda." janji Raka pelan. Rainy menyipitkan matanya pada Raka dengan tatapan tak yakin namun Raka membalas tatapannya dengan senyum menenangkan. Melihat keyakinan di mata Raka, Rainy menarik nafas panjang dan menoleh kembali pada Musa yang sejak tadi mendengarkan percakapan keduanya. Melihat Rainy menoleh padanya, Musa yang masih dalam keadaan duduk bersimpuh di lantai sambil memeluk kaki Arka, menegakkan tubuhnya dan memasang senyum terbaiknya. Matanya berbinar-binar menanti keputusan Rainy. Tampangnya mirip seekor anjing yang sedang menunggu diberi tulang oleh pemiliknya. Melihat ini, Rainy kembali menarik nafas panjang, menyerah pasrah.
"Kau diterima bekerja disini." putusnya kemudian.
Copyright @FreyaCesare