My Beautiful Blue Rain

My Beautiful Blue Rain
Liontin Yang Lain



“Waktu itu, saat ia menemui saya, ia juga memakai liontin kalung yang sama di lehernya. Ia menceritakan bahwa suaminya membuat bukan cuma 1, tapi 2 liontin dengan bentuk yang sama persis; sebagai hadiah bagi putrinya karena telah dilahirkan, dan bagi wanita itu karena telah memberinya seorang putri. Itu sebabnya saya tahu bahwa ada 1 lagi liontin kalung yang sama persis dengan kalung milik saya di dunia ini, yaitu liontin kalung milik wanita itu.” Cerita Batari dengan wajah yang semakin lama terlihat semakin khawatir.


“Apakah selama Kakak berada di desa Ampari, Kak Tari pernah bertemu dengan ibu kandung kakak?” Tanya Raka.


“Tidak.” Batari menggelengkan kepalanya. “Sejak kami berpisah saat saya masih di SMA, saya tidak pernah melihat ibu kandung saya lagi. Saya bahkan tidak tahu siapa dia. Saya tidak tahu namanya, dari mana asalnya dan mengapa ayah kandung saya tidak bersamanya. Saat itu saya terlalu takut dan malu pada keberadaannya. Waktu itu saya merasa tidak sudi bila harus mengakuinya. Itulah sebabnya saya pergi begitu saja tanpa memberitahukan pada siapapun kemana saya pergi. Saya memutuskan kontak dengan semua teman-teman saya, termasuk dengan Kak Zakaria, karena saya takut wanita itu akan menemukan saya lewat mereka.” Batari menatap Mr. Jack dengan hati yang dipenuhi rasa bersalah. Keputusan yang diambilnya telah membuat ia dan Mr. Jack menyia-nyiakan banyak tahun yang seharusnya bisa dihabiskan bersama. Karena itu, Batari merasa sangat menyesalinya dan merasa berutang pada Mr. Jack.


“Tapi… ini sesuatu hal yang baru terpikirkan di kepala saya hari ini, selama saya berbicara dengan polisi.” Kata Batari sambil berpikir. “Saya belum menceritakan hal ini pada Polisi karena ini baru dugaan saya semata…. Dan saya juga tidak memiliki bukti untuk memastikan.” Batari menatap Mr. Jack dan bertanya,


“Apakah kakak ingat? Saat kita masih SMA, di kota dimana kita tinggal sedang dicekam oleh ketakutan karena beberapa ibu hamil di temukan mati dalam keadaan kehabisan darah.”


“Ah, iya! Aku baru ingat sekarang! Kalau kita mencari, mungkin masih ada cuplikan Koran yang memuat beritanya. Terjadi serangkaian kasus pembunuhan terhadap wanita hamil dalam waktu yang berbeda-beda. Korbannya selalu ditinggalkan dalam kondisi yang sama, meninggal dunia dalam keadaan kehabisan darah di atas tempat tidurnya sendiri. Kalau tidak salah dalam 1 tahun terjadi 5 kasus kematian.” Cerita Mr. Jack.


“Kuyang?” Tanya Raka.


“Begitulah gossip yang beredar waktu itu. Tapi tidak ada yang melihat penampakan kuyang sehingga polisi berpendapat bahwa ini adalah sebuah kasus pembunuhan berantai.” Cerita Mr. Jack. “Mungkinkah kasus di desa ampari juga perbuatan pembunuh berantai?” Tanya Mr. jack, menduga-duga. Tapi Batari menggelengkan kepalanya.


“Saya diberitahu bahwa pada salah satu kasus yang terjadi di Desa Ampari, ada saksi yang melihat langsung saat ketika Kuyang tersebut sedang menyerang korban. Beberapa orang yang sedang berjaga malam juga bersaksi melihat kuyang tersebut. Mereka mengejarnya namun tidak berhasil menemukannya.” Kata Batari lagi. Rainy mengangguk.


“Itu benar, Paman. Kuyang di Desa Ampari memang benar-benar ada. Malam itu penduduk desa ampari mengejar sampai kemari.”


“Sampai kemari? Sebegitu jauhnya?” Tanya Mr. Jack dengan heran.


“Benar.” Jawab Raka. “Mereka mengejar Kuyang dengan berlari melintasi hutan, lalu memasuki resort lewat area pantai. Saat tiba di pantai, Kuyang tersebut memasuki pavilion ini.”


“Hah?” Mr. Jack dan Batari tercengang.


“Mahluk itu berhasil melarikan diri dari kejaran penduduk desa dan memasuki pavilion ini, lalu ditemukan oleh Rainy dan Arka. Untungnya Arka berhasil mengusirnya.” Cerita Raka.


“Benarkah? Rainy, apakah kau melihat wajahnya?”Tanya Batari. Rainy mengangguk.


“Aku melihat wajahnya dengan jelas.”


“Ia adalah seorang nenek-nenek berambut awut-awutan yang memiliki gigi taring yang panjang.” Cerita Rainy.


“Apakah wajahnya mirip dengan Batari?” Tanya Mr. Jack. Kata-katanya disambut pukulan di lengannya oleh Batari.


“Wajah wanita yang mengaku sebagai ibuku itu tidak mirip denganku. Jadi bila kau bertemu dengan Kuyang yang wajahnya mirip denganku, kemungkinan Kuyang tersebut adalah aku!” Seloroh Batari kesal. Entah mengapa ia merasa marah mendengar wajahnya disandingkan dengan wajah sang mahluk terkutuk.  Sepertinya Batari mulai mengakhawatirkan bila kuyang tersebut benar-benar memiliki hubungan dengan dirinya.


“Tidak. Nenek kuyang itu sama sekali tidak mirip dengan Kak Batari.” Sahut Rainy menenangkan.


“Syukurlah.” Sahut Mr. Jack tanpa sadar. Mr. Jack mengusap-usap dadanya yang berdetak kencang karena khawatir. Tingkahnya membuat yang lain tersenyum.


“Bisa saja peristiwa pembunuhan berantai pada masa SMA Mr. Jack dulu hanyalah sebuah kebetulan yang tidak ada hubungannya dengan kasus ini. Untuk saat ini kita tidak memiliki banyak petunjuk dan hanya bisa menduga duga. Daripada begitu, lebih baik kita serahkan saja masalah ini kepada Polisi.” Ucap Raka. Rainy mengangguk.


“Tadinya aku masih berpikir ingin membantu penduduk Desa Ampari. Namun setelah kejadian hari ini, aku tidak mau ikut campur. Mencoba main  hakim sendiri? Memangnya mereka pikir mereka siapa? Polisi? Hmph! Terserah saja desa Ampari mau jadi apa. Aku tidak perduli! Kecuali kalau kuyang itu datang lagi kemari… kalau dia berani, lihat saja! Aku akan membakarnya sampai tak tersisa!” Cetus Rainy dengan wajah berkerut kesal. Kata-katanya ini membuat Mr. Jack dan Batari merasa khawatir. Why so brutal?


“Dibakar? Rain, apa kau tidak takut?” Tanya Mr. Jack.


“Tidak.” Sahut Rainy tegas.


“Tapi mahluk itu kan berbahaya, Rain!” Protes Mr. Jack. “Tidak bisa! Kalau kau melihatnya lagi, kau harus lari secepat kilat dan sejauh-jauhnya darinya. Kau mengerti?” Suruh Mr. Jack dengan wajah khawatir. Di sampingnya, Batari mengangguk kuat-kuat. Dimata Rainy keduanya terlihat sangat menggemaskan.


“Tapi paman, Aku juga sangat kuat lho! Aku jago berkelahi dan Arka yang selalu menemaniku ini,” Rainy menunjuk ke arah Arka. “lebih jago lagi berkelahinya!” Ucap Rainy.


“Kuyang itu mahluk yang menghisap darah! Walau kau jago berkelahi, dia tetap lebih berbahaya darimu!” Ucap Mr. Jack dengan nada tinggi. Ini adalah pertama kalinya Rainy mendengar Mr. Jack memarahinya. Membuat Rainy tersenyum geli. Melihat senyum Rainy, Mr. Jack menaikkan  kedua alisnya dan menjadi semakin marah. Ia hampir mengangkat suaranya lagi, namun Batari menutup mulut Mr. Jack dengan telapak tangannya. Menghentikan semburan kata-katanya dengan sangat efektif.


“Bisa nggak kalau tidak berteriak saat kau sedang khawatir? Nanti kau membuat Rainy salah paham dan mengira kau sedang marah.” Tegur Batari tegas. Mendengar ini, Mr. Jack mengangguk. Batari melepaskan tangannya dari mulut Mr. Jack. Mr. Jack menarik nafas panjang dan menatap Rainy dengan bibir cemberut dan sorot mata penuh kekhawatiran. Tak tega melihat pria sebesar Mr. Jack bertingkah layaknya seorang anak yang takut ditinggal pergi oleh ibunya, Rainy mendengus geli. Rainy tak tahu bagaimana caranya untuk menghilangkan kekhawatiran Mr. Jack, jadi ia cuma bisa mengatakan apa yang melintas dalam benaknya.


“Jangan khawatir, paman. Rainy rasa kuyang itu tidak akan berani untuk datang kembali kemari. Malam itu Arka menyambitnya dengan pisau daging dan membuat pisau itu menancap di antara kedua matanya.” Dengan ekspresif, Rainy mencoba menggambarkan kejadian malam itu pada Mr. Jack dan Batari, membuat keduanya menatap Arka dengan penuh kekaguman. Arka yang tiba-tiba menjadi pusat perhatian karena dijual oleh Rainy untuk mengobati rasa takut Mr. Jack, merasa bibirnya berkedut kencang. Seandainya mereka tahu bahwa apa yang bisa dilakukan Arka tidak ada apa-apanya dengan apa yang telah dilakukan Rainy, masihkah mereka akan berpikir bahwa Arka sangat luar biasa? Arka menggelengkan kepalanya perlahan dan memutuskan untuk menulikan telinganya.


Copyright @FreyaCesare