My Beautiful Blue Rain

My Beautiful Blue Rain
Sang Pemusnah



Tiba-tiba belati yang mulai meluncur turun dan siap menusuk jantung Mamut ditendang menjauh dari tangan Datuk Ekot. Semua yang ada di dalam kuil tersebut terpana melihat seorang anak perempuan mungil tiba-tiba muncul dari atas, mendarat di atas perut Mamut, dan saat itu sedang berdiri dengan berkacak pinggang di depan mereka.


Anak itu mungkin masih berusia sekitar 3 tahun. Namun daripada dibilang seorang anak kecil, penampilannya lebih cocok dikatakan sebagai seorang perempuan yang ukurannya dikecilkan. Rambutnya berwarna hitam berkilauan terlihat bergantungan membingkai wajahnya dalam gulungan keriting yang menggemaskan, dengan panjang yang mencapai pinggang. Wajah mungilnya yang sedikit chubby dihiasi sepasang mata berwarna hitam yang sangat besar dengan bulu mata yang lebat dan panjang, hidung mungil yang tinggi dan bibir merah yang menggemaskan. Ia mengenakan sebuah gaun hitam bergaya eropa dan sepasang sepatu satin berenda dengan warna senada. Model pakaian yang tidak pernah dilihat oleh warga Long Isang sebelumnya sehingga membuat mereka terpana. Ia terlihat bagai replika kecil Lilith, lengkap dengan semua pesona dan keangkuhan yang membuat Rainy dapat menduga dengan mudah dari mana mahluk kecil itu berasal.


Pesona yang dipancarkannya itu, bila dipasang pada wajah seorang anak yang masih sangat muda akan menghasilkan tampilan yang begitu menggemaskan. Namun sekali melihatpun, warga Long Isang menyadari bahwa yang ada di hadapan mereka bukanlah sosok manusia biasa. Tatapan matanya sangat dingin dan aura yang ia keluarkan dari tubuhnya membuat yang melihatnya mau tidak mau gemetar karena rasa takut.


Gadis kecil itulah yang tadi menendang pisau dari tangan Datuk Ikot. Saat ini, sambil berdiri berkacak pinggang di atas dada Mamut, ia membuka mulutnya dan suara seorang anak kecil yang menggemaskan terdengar ke seluruh penjuru ruangan.


"Dasar manusia rendah! Berani-beraninya kalian mencoba mempersembahkan mahluk yang sudah rusak ini kepada dewa. Apa kalian pikir kami bodoh!" murkanya.


Seorang anak berusia 3 tahun memarahi orang dewasa dengan kalimat yang kasar namun dengan suara yang terdengar sangat menggemaskan, normalnya mungkin akan membuat beberapa orang masih bisa tertawa melihatnya. Namun aura yang dikeluarkan bersamaan dengan kata-katanya membuat warga desa merasakan rasa takut yang amat kuat hingga ke tulang sumsum mereka. Membuat mereka meyakini bahwa mereka benar-benar sedang berhadapan dengan perwujudan dewi. Jadi begitulah caranya gadis kecil itu mentasbihkan dirinya sebagai dewa di hadapan warga Long Isang.


"Lagipula, ia bukan milik kalian untuk dipersembahkan!"


Gadis kecil itu memandang ke bawah kakinya, ke arah Mamut yang membelalakan mata ke arahnya dengan penuh rasa takut. Gadis kecil itu mengulurkan ujung kakinya untuk mengangkat dagu Mamut.


"Walaupun kau tidak berguna, kau adalah hadiah dari Umaku yang dibayarnya dengan nyawanya sebagai gantinya. Jadi aku tidak akan menyia-nyiakanmu." ucap gadis kecil itu lagi, membuat mata Rainy langsung membesar karena terkejut.


Gadis kecil itu melipat sebelah tangannya ke dada dan memegang dagunya sendiri dengan ujung jarinya. Matanya mengamati Mamut dengan sangat serius.


"Tapi dia benar-benar membuatmu berubah menjadi manusia tidak berguna ya?! Salahmu sendiri sih! Berani-beraninya mahluk kotor sepertimu menginginkan wanita yang paling dicintai oleh para dewa untuk dijadikan milikmu!"


kali ini, gadis kecil itu menginjak lalu menekankan sebelah kakinya tepat di tengah-tengah wajah Mamut dengan ekspresi yang menunjukan kekesalan.


"Muka seperti kodok beraninya mau merebut cinta Burung Enggang. Kau membuatku harus kehilangan Umaku! Dasar mahluk rendah!" hinanya dengan dingin, sama sekali tidak memperdulikan puluhan pasang mata yang sedang memperhatikan semua tindak-tanduknya.


Tak lama kemudian dia melepaskan kakinya dari wajah Mamut dan setelah menarik nafas panjang, ia berkata,


"Tapi karena kau adalah hadiah Uma untukku, mari memperbaikimu sedikit biar kau jadi bisa lebih bermanfaat."


Lalu, di depan mata semua orang yang ada di tempat itu, kaki dan tangan Mamut yang telah tinggal sedikit saja itu, tiba-tiba memanjang. Ia masih mempertahankan bentuknya semula, hanya di buat memanjang, diberi lekukan yang tepat di bagian yang seharusnya terdapat sikut dan lutut, namun sampai berhenti memanjang, ukurannya tak mengecil di ujung sehingga berbentuk lurus seperti sebatang kayu yang telah diketam menjadi persegi panjang. Lalu tidak ada telapak tangan atau telapak kaki untuk menutup bekas potongannya sama sekali. sungguh sangat aneh!


"Bangunlah!" perintah gadis kecil itu sambil memindahkan dirinya sendiri dari dada Mamut ke bagian pahanya.


Dengan gerakkan yang kaku, Mamut berupaya untuk bangun dan duduk. Pria itu mengangkat kedua tangannya yang saat itu sudah memiliki panjang yang normal, namun bentuk yang sama sekali tidak benar. Tangannya berbentuk lurus dan rata dari atas ke ujung, mirip sebuah balok kayu panjang. Begitu juga kedua kakinya yang dari tempatnya bertumbuh kembali sampai ke ujung, memiliki ukuran yang lurus dan sama panjang. Dia sama sekali tidak mirip manusia.


"Apa? Kau tidak puas?" gadis kecil itu mengangkat kedua alisnya begitu melihat respon Mamut.


"Tapi potongan itu adalah hadiah untukmu dari wanita pujaanmu! Kau harus menghargainya!" selorohnya lagi walaupun tak lama kemudian, gadis kecil itu akhirnya mengerutkan wajahnya sendiri.


"Ugh! Tapi kau benar-benar jelek! Melihatmu sungguh menyakitkan mata!" nilai gadis kecil itu sambil menggelengkan kepalanya dengan ekspresi jijik.


Sambil melipat tangan di dada dan bertopang dagu, gadis kecil itu menatap Mamut dengan seksama. Karena ia masih berdiri di atas pangkuan Mamut, sebelah ujung sepatunya memukul-mukul paha Mamut pelan, tampak sedang berpikir keras. Sesaat kemudian, senyum nakal mengembang di bibir mungilnya. Ia menjentikkan ujung jarinya ke atas kening Mamut. Dimulai dari tempat yang disentuh oleh ujung jari gadis kecil itu, rambut halus berwarna hitam mulai tumbuh dan menyebar dengan cepat menutupi seluruh tubuh Mamut. Rambut tersebut tumbuh panjang hingga mencapai 15 cm, membuat figur manusia Mamut menghilang, berganti dengan sesosok mahluk yang menyerupai gorilla kurus yang tidak berwajah dan tidak memiliki telapak tangan dan kaki. Yang terlihat dari wajahnya hanya tinggal sepasang mata bulat yang menyala merah, menyeruak di antara rambut yang menutupi. Si gadis kecil menepuk tangannya dengan girang.


"Nah, kalau begini kan lebih enak dilihat! Dan bulu-bulumu ini juga nyaman untuk di pegang." tiba-tiba si gadis kecil melompat dari pangkuan Mamut dan berpindah ke atas bahunya.


"Ayo, binatang peliharaanku, mari kita tinggalkan keluargamu yang menjijikan ini! Mereka bukan lagi bangsamu! Mulai sekarang kau akan menjadi pelayanku!"


"Oh, dan kalian!" tuding Si gadis kecil yang saat ini sudah duduk dengan nyaman di atas bahu Mamut, dengan sebelah tangan mencengkeram rambut Mamut, namun sebelah tangannya menunjuk ke arah Datuk Ekot dengan tiba-tiba, Membuat pria tua itu gemetar semakin hebat.


"Karena kalian sudah berani mencoba menipu Dewamu, kalian tetap duduk dan diam disini menunggu hukuman kalian yang akan segera tiba!" ancam gadis kecil tersebut sambil tak lupa menebarkan auranya yang menekan ke segala penjuru ruangan.


Warga desa langsung kembali berlutut dengan gemetar. Tak berani mengeluarkan suara sedikitpun. Mereka hanya bisa memandang, ketika Mamut terus berjalan terseok-seok, keluar dari kuil, dengan si gadis kecil menumpang di atas bahunya.


'Pertunjukan yang luar biasa.' pikir Rainy. Ia dan Datuk Sanja berjalan mengikuti Mamut, keluar dari desa. Ketika sampai di tepi hutan, langkah Mamut terhenti. Ia tampak sedikit membungkukkan tubuhnya, seolah menciut oleh rasa takut. Suara rintihan rendah terdengar dari mulutnya. Di hadapannya, Lauri berdiri tegak, menghalangi Mamut untuk melangkah maju. Gadis kecil itu mengangkat kepalanya dan memandang Lauri dengan mata berbinar. Sementara Lauri menatapnya dengan ekspresi dingin yang menjaga jarak.


"Angah!" panggil si gadis kecil itu dengan manis, membuat kening Lauri berkerut.


Ia menatap ke arah si gadis kecil dengan lebih seksama. Untuk seseorang yang tidak pernah dia jumpai sebelumnya memanggilnya Angah dengan akrabnya, padahal ia tidak merasa pernah melihatnya, mungkin hanya bisa terjadi ketika si gadis kecil salah mengenali orang. Tapi untuk seorang gadis kecil yang duduk di atas bahu sesosok mahluk aneh yang tidak pernah dilihatnya sebelumnya dan tampak tidak memiliki rasa takut maupun kekhawatiran ketika bertemu dengan orang yang asing, Lauri dengan sangat intuitif bisa menebak identitas gadis kecil itu dengan mudah.


"Kau.... Apakah kau bayi Kak Mawinei?" tanya Lauri. Gadis kecil itu mengangguk kuat-kuat. Senyum manis menghiasi wajahnya. Tiba-tiba merasa tenggorokannya kering, Lauri menelan ludahnya.


"Kau... Sudah sebesar ini?" tanyanya. Bayi Mawinei harusnya belum berusia 2 bulan.


"Em. Uma baruku tidak suka anak yang tidak bisa mengurus diri sendiri. Jadi aku dibuat lebih cepat besar." sahut anak tersebut dengan nada yang akrab.


"Bagaimana, Angah? Apakah aku cantik?" tanya gadis kecil itu.


Lauri mengangguk pelan, dengan mata berkaca-kaca. Membuat Rainy menyipitkan matanya.


"Siapa namamu?" tanya Lauri.


"Lilian."


"Lilian. Nama yang bagus."


"Tentu saja!" Lilian tersenyum ceria. "Pergilah, Angah. Mereka sudah menunggu. Balaskan dendam untuk Umaku juga ya." Suruh Lilian kecil yang dijawab oleh Lauri dengan anggukan.


Lilian lalu menarik rambut Mamut dan menyuruhnya untuk melanjutkan perjalanan. Dengan hati-hati, Mamut berjalan mengitari Lauri dan baru tampak bisa melangkah dengan leluasa, setelah Lauri berada di belakangnya. Lauri berbalik dan memandang ke arah pasangan aneh tersebut.


"Lilian..." panggilnya.


"Ah?" Lilian menoleh. Rambut ikalnya yang berterbangan ditiup angin menjadi bingkai yang sangat indah di wajahnya.


"Jangan menemui Maharati." pinta Lauri.


"Aku tahu! Jangan khawatir, Angah. Energi ulak tidak menyenangkan untukku. Aku juga tidak mau dekat-dekat!" Sahut Lilian.


Ia kemudian melambaikan tangannya dan kembali menoleh ke depan. Lauri terus memandangi punggung mereka yang semakin menjauh, sampai kedua pasangan aneh itu menghilang di antara rerimbunan pepohonan. Baru setelah itu Lauri berbalik. Wajahnya kembali membeku dalam ekspresi dingin. Hawa membunuh memancar dari tubuhnya ke segala penjuru arah mata angin. Membuat warga yang masih dengan patuh menunggu di dalam kuil, semakin gemetar karena ketakutan. Beberapa malah telah pingsan karena tak mampu menahan emosi mereka.


Dengan langkah tegas, Lauri memasuki desa Long Isang, membakar semua yang dilewatinya tanpa tersisa. Hari itu, desa Long Isang yang besar dan tidak pernah terkalahkan, habis terbakar api beserta seluruh penghuninya. Kehancurannya menjadi awal dikenalnya nama Panglima Lauri, sang pemusnah.