My Beautiful Blue Rain

My Beautiful Blue Rain
Breakfast With Rainy



Hari Minggu pagi itu Rainy sarapan pagi bersama Ayah dan Ibunya yang baru saja datang dari luar kota, di rumah pribadi mereka. Rainy yang biasanya sarapan bersama timnya setelah latihan pagi, pagi itu meninggalkan timnya begitu saja dan pulang ke rumahnya dengan mengendarai BMW C650 GT berwarna hitam yang merupakan motor matic tunggangan gadis itu saat masih SMA. Rainy tak menduga bahwa neneknya telah memastikan agar motor tersebut selalu terawat dengan baik walaupun telah lama tidak digunakan oleh Rainy, sehingga ia tidak akan mengalami kesulitan saat ingin mengendarainya kembali.


Tapi tentu saja ketika Ibunya menemukan bahwa Rainy datang dengan menggunakan motor yang bertubuh besar itu, ia memperoleh omelan sebagai kata sambutan. Seperti biasa, Rainy hanya tertawa mendengarnya. Siapa suruh ia mencintai motor tersebut melebihi cintanya pada kendaraan lainnya. Melihat percakapan istri dan putri kesayangannya itu, Ardi hanya tersenyum sambil menggelengkan kepalanya. Hatinya merasa bahagia bisa melihat tawa Rainy.


"Rain, kenapa sih kau memberikan semua sahammu? Itu kan sesuatu yang sudah disiapkan oleh Niwe untukmu. Apa gak sayang?" tanya Ardi disela-sela suapannya. Mendengar pertanyaannya, Rainy hanya mengangguk.


"Gak sayang." ucapnya tegas. "Terhadap harta yang cuma akan menimbulkan masalah daripada manfaat seperti itu, Rain lebih suka menyingkirkannya secepat mungkin." mendengar jawaban putrinya, Ardi mengangguk-anggukan kepalanya. Putrinya memang pintar!


"Emm. Papa setuju. Anak papa memang paling bijaksana." puji Ardi.


"Makanya, mulai sekarang Papa harus kembali memberi Rain uang saku! Kan sekarang Rain sudah tidak punya saham yang bisa memberi pemasukan lagi." seloroh Rainy.


"Hmmph! Memangnya kau pikir Papa tidak tahu berapa banyak properti yang kau miliki? Setiap kali kau akan berulang tahun, Niwe dan Ninimu selalu sibuk membeli properti yang ini dan yang itu untuk hadiah ulang tahunmu. Semua properti itu apabila dijumlahkan, nilainya sudah melebihi 5x lipat nilai Jaya Enterprise!" jawab Ardi dengan sebal. Terhadap anak perempuan satu-satunya ini, orangtuanya sungguh terlalu berlebihan. Mereka memanjakannya sedemikian rupa dan memperlakukannya berbeda dari cucu-cucu mereka yang lain. Untungnya Jaya Bataguh dan Marlena masih berpikir panjang sehingga merahasiakan semua pemberiannya untuk Rainy dari anggota keluarga mereka yang lainnya. Ardi tidak bisa membayangkan bakal sebesar apa lagi kebencian yang dirasakan saudara-saudara, serta keponakan-keponakannya pada Rainy bila mereka mengetahui semua itu.


"Ah, Papa! Lain dong! Kalau pemberian dari Papa, seberapapun kecilnya nilainya, pasti akan membuat Rain sangat bahagia menerimanya." seloroh Rainy lagi.


"Rain, anak-anak lain diluar sana merasa paling bahagia bila bisa memberikan uang saku buat orang tuanya. Kenapa kamu yang sudah sebesar dan sekaya ini, malah berharap diberi uang saku oleh orangtuamu? Apa gak kebalik, Rain?" tanya Ibunya dengan geli. Rainy menggeleng tegas.


"Yeeee! Kan Rain juga sudah memberikan sebagian saham Rain buat Papa! Rain tidak hanya memberikan uang saku lho, ma; tapi Rain memberikan sumber uang saku! Itu berarti Rain lebih hebat dari anak-anak orang lain kan!" protes Rainy keras.


"Terus kenapa masih minta uang saku lagi?" tanya Ibunya.


"Hehe... Biar serasa masih dimanjain sama mama dan papa gitu. Hehe." Rainy memasang wajah polosnya yang paling menggemaskan, membuat orangtuanya tertawa geli. Ardi dan Ratna tahu bahwa anak perempuan mereka sehari-harinya selalu memasang wajah dingin dan jarang tersenyum apalagi tertawa bila berada di luar rumah. Untungnya Rainy selalu ingat untuk menanggalkan wajah besinya di depan pintu sebelum memasuki rumah sehingga, walaupun khawatir pada kondisi kejiwaan putrinya yang tampak terbebani oleh masalah perjanjian keluarga dengan Lilith, mereka masih bisa menarik nafas lega mengetahui bahwa dihadapan mereka, Rainy masih bisa bersikap sama seperti Rainy saat sebelum semua masalah ini membebaninya. Ardi dan Ratna hanya berharap bahwa perilaku yang Rainy tunjukan di hadapan mereka bukanlah sebuah sandiwara belaka.


Makan pagi mereka berlangsung dengan penuh senda gurau. Untuk pertama kalinya sejak kembali ke rumah, Rainy menikmati waktu yang santai dan menyenangkan dengan kedua orangtuanya. Itu sebabnya ketika asisten rumah tangganya memberitahu bahwa Raka datang mencarinya, Rainy langsung mengerutkan keningnya dengan kesal. Sayangnya ekspresi kesalnya justru sangat menggemaskan di mata Raka sehingga membuat pria itu tersenyum lebar.


"Selamat pagi, Oom. Selamat pagi, tante." Raka memberi salam pada kedua orang tua Rainy. Lalu ia menoleh pada Rainy dan lagi-lagi memberinya senyum hangat. "Rain." Sapanya.


"Ngapain kamu kesini?" tanya Rainy kesal.


"Rain, kog gitu sih?" Tegur Ratna pada putrinya. "Raka sudah sarapan belum?" tanya Ratna. Raka menggeleng pelan.


"Lho, kenapa kok belum? Kalau begitu sekarang sarapan sama-sama kita ya." suruh Ratna, sambil memerintahkan Asisten rumah tangga mengambilkan peralatan makan untuk Raka.


"Iya, tante. Alhamdullilah dapat sarapan gratis." seloroh Raka.


"Emang di rumah gak ada yang masakin ya, Raka?" tanya Ratna.


"Gak ada, tante. Mama lagi ikut Papa dinas ke luar kota sementara si mbok masakannya nggak enak. Makanya Raka nggak nyuruh si Mbok bikin sarapan. Untungnya Raka ingat Tante dan Oom baru pulang kemarin. Jadi karena ada perlu dengan Rainy, sekalian saja Raka kesini buat jenguk Oom sama Tante, dan biar dapat sarapan gratis." jawab Raka dengan riang.


"Norak amat sih. Ngapain kesini cuma buat numpang sarapan?" Protes Rainy dengan kening berkerut.


"Eh, Rain, nggak boleh gitu ah! Nggak papa dong kalau Raka sarapan sama kita. Kan Raka sudah mama anggap anak mama sendiri." tegur Ratna yang disambut oleh cibiran bibir Rainy. Sementara Ardi dan Ratna tersenyum senang melihat interaksi keduanya.


Bukan rahasia lagi kalau kedua orangtua Rainy dan kedua orangtua Raka berharap agar Rainy dan Raka bisa berjodoh. Kedekatan mereka yang sudah dimulai sejak mereka masih sangat belia membuat para orangtua ini memiliki angan-angan yang indah bagi keduanya. Sayangnya Rainy yang dulunya sangat bergantung pada Raka, saat dewasa entah mengapa malah tampak enggan menghabiskan waktu berdua saja dengan pria itu sehingga membuat para orangtua mencemaskan akhir dari hubungan mereka. Itu sebabnya melihat sikap Raka terhadap Rainy yang tidak pernah berubah membuat Ardi dan Ratna merasa gembira.


"Mengapa mencariku di hari libur pagi-pagi begini?" tanya Rainy.


"Emm." Raka menelan makanan yang sedang dikunyahnya terlebih dahulu sebelum menjawab. "Aku baru mendapat kabar bahwa kantor baru Divisi VII sudah siap ditempati. Kita bisa pindah kapan saja kau inginkan." ucap Raka. Di seberang mereka, Ardi dan Ratna mendengarkan dengan tertarik.


"Memangnya kantor Divisi VII kalian pindahkan kemana?" tanya Ardi ingin tahu. Mendengar pertanyaan ayahnya, walaupun wajahnya tetap tanpa ekspresi, namun mata Rainy langsung berbinar-binar.


"Hari ini Papa dan Mama ada acara nggak?" Tanya Rainy.


"nggak ada." jawab Ardi sambil menggeleng.


"Kalau begitu bagaimana kalau setelah ini Papa dan Mama ikut kami untuk melihat kantor Divisi VII yang baru?" ajak Rainy yang langsung disambut dengan anggukan setuju dari kedua orang tuanya.


Copyright @FreyaCesare