My Beautiful Blue Rain

My Beautiful Blue Rain
Meet The Team : The Psychopath



"Kalian berdua, jangan panggil aku dengan sebutan 'Bu'. Aku merasa sudah berusia 40 tahun ketika mendengarnya." Ucap Rainy.


Ace dan Natasha saling berpandangan sebelum kemudian Natasha bertanya,


"Lalu bagaimana kami harus memanggil..." Ia nyaris menyebut kata 'Ibu', namun di saat-saat terakhir berhasil menghentikan lidahnya.


"Apapun selain 'Ibu'." Sahut Rainy.


"Boss...?" cetus Ace.


"Em. That's fine." jawab Rainy.


"Baik, Boss!" sahut Ace dan Natasha berbarengan dengan wajah penuh senyum. Mengabaikan keduanya, Rainy menoleh pada satu-satunya anggota team yang belum disapanya.


Di samping Ace berdiri seorang pria yang sangat tampan. Ketampanannya bahkan melampaui ketampanan Raka dan Ivan yang dipuji oleh banyak orang. Ia bertubuh tinggi dan ramping, dengan warna kulit yang terang. Rambut hitamnya yang lurus dan berkilau, panjang mencapai bahu dan diikat dengan sebuah karet rambut sederhana berwarna hitam di belakang kepalanya. Alisnya tebal, dengan mata yang menyorot tajam, tulang pipi yang tinggi, dagu yang membentuk segitiga terbalik, hidung tinggi yang ramping dan bibir mungil yang saat itu sedang terkatup rapat. Tinggi tubuhnya mencapai lebih dari 180 cm dan tubuh rampingnya di balut sweater hitam serta celana jeans hitam yang menonjolkan kakinya yang panjang. Ia begitu tampan, namun aura yang keluar dari tubuhnya begitu dingin dan hampa. Tak ada aura negatif maupun positif, hanya kehampaan.


Nama pria ini adalah Arka. Merupakan cucu dari adik bungsu Lena yang tak pernah dijumpai Rainy sebelumnya. Konon di masa lalu, untuk bisa menikahi istrinya, ayah Arka melarikan diri dari rumah dan memutuskan kontak dengan seluruh keluarga besarnya. Lena baru mengetahui kabar tentang mereka, ketika sudah terlambat.


Arka adalah anak pertama dari 2 bersaudara. Ia dan adik perempuannya yang masih berusia 12 tahun dibesarkan dalam keluarga kelas menengah. Arka adalah anak yang tenang, berprestasi dan diprediksi akan memiliki masa depan yang gemilang. 5 tahun yang lalu, Arka yang masih duduk di kelas 3 SMU pulang kemalaman setelah menghabiskan waktu di perpustakaan kota, mencari buku-buku yang ia butuhkan. Saat memasuki rumah, Arka menemukan kedua orangtuanya dalam keadaan bersimbah darah di ruang keluarga. Mereka menderita luka bacokan di berbagai tempat. Ibunya telah kehilangan nyawanya, namun ayahnya masih dalam keadaan sadar. Saat Raka mencoba menolongnya, dengan sisa tenaganya, ayahnya mendorong Raka menjauh dan menunjuk ke arah kamar adiknya. Menyadari bahwa ia belum melihat adiknya, Arka bergegas menuju kamar adiknya.


Saat ia mendekat, ia bisa mendengar suara gelak tawa beberapa pria, ditingkahi dengusan nafas dan erangan dari dalam kamar. Tangan Arka langsung mengambil patung logam yang terpajang di atas meja tidak jauh darinya dan tanpa suara, membuka pintu kamar. Di sana ia melihat 2 orang pria sedang berdiri di sekitar ranjang, sementara seorang pria sedang memperkosa adiknya.


Sementara itu, pria yang sedang memperkosa adiknya, menyadari bahwa seseorang sedang menyerang kedua rekannya, mengambil celurit yang terletak di sisi tubuh adik Arka dan bangkit untuk melawan Arka. Ia menebaskan celurit ke arah Arka, namun dengan gesit Arka menghindar. Kedua tangannya bergerak cepat untuk menangkap pergelangan tangan pria tersebut yang sedang memegang celurit dan dengan sigap merebut celurit tersebut.


Dengan celurit berpindah tangan, Arka mengambil kesempatan untuk berhenti sesaat dan memeriksa keadaan adiknya. Namun ia melihat leher adiknya telah bersimbah darah akibat luka memanjang yang disebabkan oleh benda tajam di lehernya. Melihat celurit di tangannya masih bernoda darah, Arka menyadari bahwa benda ditangannya adalah senjata yang digunakan untuk membunuh adiknya, dan besar kemungkinan juga digunakan untuk membunuh ibunya serta melukai ayahnya. Menguatkan genggaman tangannya pada gagang celurit, Arka kembali menoleh pada si pemerkosa. Saat itu si pemerkosa sudah memegang sebuah parang dan mengambil ancang-ancang untuk menebasnya. Namun Arka bergerak dengan lebih cepat. Ia menghindar tebasan parang yang terarah padanya dengan gesit dan langsung menyarangkan celurit ke tubuh penyerangnya tanpa ampun.


Tebasan pertama mengenai punggung sebelah kiri si pemerkosa. Akibatnya si pemerkosa roboh ke atas tubuh temannya yang saat itu masih teronggok tak sadarkan diri di lantai. Tak berhenti sampai disitu, Arka menyarangkan tebasan kedua, ketiga, keempat dan seterusnya ke tubuh si pemerkosa, sehingga bukan hanya tubuh si pemerkosa yang tercabik-cabik oleh celurit, temannya yang berada di bawah tubuhnya turut terkena tebasan celurit tersebut. Setelah menebas sebanyak 20x, Arka bangkit berdiri. Ia melemparkan celurit di tangannya ke lantai begitu saja, lalu dengan tenang mengambil telepon genggam dari dalam saku celananya. Dengan wajah bersimbah darah, Arka menelepon polisi dan melaporkan kejadian tersebut. Sayangnya, saat Polisi datang bersama ambulance, Ayah Arka telah kehilangan nyawanya. Sementara itu salah 1 perampok masih dalam keadaan hidup, namun seminggu kemudian meninggal dunia akibat gegar otak berat.


Kasus tersebut mengejutkan seluruh kota. Kasus perampokan dengan pembunuhan telah beberapa kali terjadi di kota itu dalam jangka waktu yang berdekatan dan meresahkan masyarakat. Namun baru kali itu seseorang bukan hanya melawan, namun berhasil menghabisi semua pelakunya. Arka tidak saja membunuh si perampok dengan tebasan celurit yang bertubi-tubi, namun juga mengakibatkan gegar otak berat pada kedua perampok lainnya yang berujung dengan kematian. Polisi segera mengamankan Arka sebagai saksi, namun berniat menjadikannya tersangka dengan tuduhan pembunuhan. Saat itu seluruh kota terbagi dalam 2 opini; yang satu pihak memberikan tepuk tangan dan menuntut Raka untuk dibebaskan dari semua tuduhan karena ia hanya membela diri, sementara itu pihak lain menuntut Arka untuk dihukum karena bukan hanya melakukan penghakiman sendiri, ia juga melakukannya dengan darah dingin.


Lena mengetahui keberadaan Arka, sekaligus nasib keponakannya yang telah lama menghilang saat ia sedang melihat berita di TV. Memandang wajah Arka yang bak pinang di belah 2 dengan adik bungsunya, membuat Lena bisa dengan segera memastikan identitasnya. Lena segera mengirimkan tim pengacara terbaiknya untuk mengeluarkan Arka dari rumah tahanan kepolisian.


Saat itu Kepolisian sedang berada dalam keadaan yang dilematis. Peristiwa itu terekam sepenuhnya oleh CCTV yang terletak di ruang tengah. Kebetulan CCTV mengarah ke kamar tersebut dan merekam perlawanan Arka lewat pintu kamar yang terbuka. Dari sana bisa terlihat bahwa Arka jelas sedang membela diri. Namun dari sana juga polisi bisa melihat bagaimana Arka menghabisi para perampok tersebut dengan darah dingin. Belum lagi hasil tes Psikologi yang dilakukan terhadap Arka menunjukan bahwa pemuda tersebut adalah Psikopat. Ingin melepaskannya namun tak berani melepaskannya, para pimpinan kepolisian tak bisa mengambil keputusan. Saat itulah, Lena menggunakan koneksinya dan merampas hak untuk memutuskan dari tangan Polisi. Tepat 2 minggu setelah kejadian, Arka bisa berjalan keluar dari kantor polisi sebagai manusia bebas. Semua kejadian ini tertuang jelas dalam file mengenai Arka.


Membaca sejarah hidup Arka yang mengenaskan membuat Rainy dipenuhi rasa sedih dan simpati pada nasib Arka dan anggota keluarga lain yang tidak pernah dijumpainya itu. Rainy sama sekali tidak merasa bahwa apa yang dilakukan Arka adalah salah karena Rainy berpendapat apabila ia berada di posisi Arka, iapun akan melakukan hal yang sama, bahkan mungkin lebih buruk. Orang lain mungkin takut akan hasil tes Psikologi yang menyatakan bahwa Arka adalah seorang Psikopat, namun Rainy percaya bahwa bila Lena berani menempatkan Arka ke dalam support teamnya bisa dipastikan bahwa neneknya itu telah sepenuhnya yakin bahwa Arka tidak memiliki kecenderungan untuk membahayakan orang lain tanpa alasan yang jelas. Karena itulah Rainy berniat untuk menyambut Arka dengan tangan terbuka dan memperlakukannya layaknya saudara kandungnya sendiri.


Setelah memutuskan hal ini, Rainy mengangkat kepalanya untuk menatap Arka dan melakukan hal yang nyaris tidak pernah dilakukannya, kecuali di depan Mr. Jack kemarin; tersenyum dengan sangat manis.


"Hallo, Cousin. Welcome home." sapanya.


Copyright@FreyaCesare