My Beautiful Blue Rain

My Beautiful Blue Rain
Maya Bay



Lilith mengenakan sebuah dress midi bermotif abstrak dalam paduan warna biru, kuning, oranye, pink, peach dan ungu, di atas kain katun lembut berwarna putih. Panjang dressnya mencapai betis, dengan lengan balon dan kerah V yang rendah sehingga menampilkan belahan dadanya yang indah. Pada bagian depannya terpasang sederet kancing bungkus bergaya klasik, sedangkan pada bagian pinggang terdapat potongan membentuk ban pinggang, yang memamerkan pinggang Lilith yang ramping. Bagian bawah dress dibagi 2. Bagian atas yang panjangnya mencapai lutut berbentuk A, sedangkan bagian bawahnya berbentuk rimpel panjang yang memberikan volume pada roknya. Rainy mengenalinya sebagai rancangan dari Zimmermann. Rambut hitam Lilith di kepang lengket dan ujungnya di sampirkan ke bahu kirinya. Anak-anak rambut yang mengikal membingkai wajahnya yang tak kalah indah dengan pemandangan di belakangnya. Sandal yang bertaburan permata menghiasi kakinya yang ramping dan mulus. Sebuah gelang emas yang dihiasi dengan sebuah lonceng mungil melingkari pergelangan kaki kirinya, berdenting pelan di setiap ayunan langkahnya. Lilith tampak seperti Boho Princess yang menjelma dari foto-foto di majalah.


"Nice dress." komentar Rainy.


"Tentu saja!" jawab Lilith sambil tersenyum. "Apakah kau sudah melihat dress yang sedang kau kenakan?" tanya Lilith sambil mengagumi penampilan Rainy. Rainy menunduk dan baru menyadari bahwa ia sedang mengenakan dress. Rainy memandang pantulannya di atas permukaan air laut yang jernih. Ia sedang mengenakan sebuah dress midi tanpa lengan dan berbentuk A-line berwarna putih, yang dihiasi banyak renda berwarna putih tulang yang saling bersilangan layaknya jaring, menyebar dalam jarak 10 cm setiap rendanya. Seperti dress yang dikenakan Lilith, Dress yang Rainy kenakan juga memiliki rimple yang besar mulai dari lutut sampai ke bagian tengah betisnya. Kerahnya dibuat dari renda tipis yang menutup leher Rainy dengan indah. Tak seperti Lilith yang mengenakan sandal, Rainy telanjang kaki.


"Zimmermann?" Tanya Rainy, menyebutkan nama salah satu Desainer pakaian internasional yang di duganya merancang dress yang sedang mereka kenakan. Rainy mengenalinya karena ia baru melihat kedua dress itu saat sedang browsing internet beberapa hari yang lalu, dan terpikir untuk membelinya.


"Benar! 2 dress itu tergantung dalam lemari ketidaksadaranmu, menggoda untuk dipakai. It's simple but sweet, the way you like it." jawab Lilith.


"Kau mengintip ke dalam pikiranku?" Rainy menyipitkan mata dan berkata dingin.


"Only a little bit? Jangan marah! Karena aku memasuki mimpimu, secara otomatis aku bisa melihat berbagai hal acak yang melayang-layang tanpa tujuan di dalamnya. Bukan sesuatu yang serius." jelas Lilith.


"Berbagai hal acak yang melayang-layang tanpa tujuan dalam kepalaku? Kau mengatai isi kepalaku random dan tidak bertujuan?" ulang Rainy tidak senang. Selama hidupnya, Rainy hanya punya 1 tujuan, yaitu menyingkirkan Lilith dari kehidupannya. Dan seluruh aksinya diarahkan untuk mencapai tujuan tersebut. Rasanya sungguh tidak enak didengar ketika Lilith sendiri yang memberitahunya bahwa walaupun Rainy merasa diri selalu fokus dan terarah, namun ternyata isi kepalanya tetap dipenuhi oleh kekacauan.


"Hei, kenapa serius banget sih? Setiap manusia selalu memiliki hal serupa itu dalam kepalanya. Bukan sesuatu yang harus membuatmu kesal." tegur Lilith. "Kau ini ada kalanya sangat kekanakan." tambahnya geli, membuat Rainy mencibir kesal.


Lilith mengulurkan tangan untuk menyentuh rambut Rainy yang terurai panjang mencapai pinggang. Rambut Rainy yang tadinya berwarna hitam pekat, sekarang memiliki kilauan berwarna biru setiap terkena cahaya matahari, membuat kulit Rainy tampak berkilauan.


"This is the right color! Kau harus mewarnai rambutmu dalam warna ini. Lagipula sangat cocok dengan kepribadiannya yang dingin. My Beautiful Blue Rainy. So pretty!" puji Lilith dengan mata penuh kekaguman. Rainy hanya memandangnya tanpa ekspresi.


"Mengapa kau membawaku kemari?" tanya Rainy dengan dingin. Sikap dingin Rainy tidak membuat senyum Lilith berkurang.


"Aku sangat merindukanmu. Itu sebabnya aku datang. Lagipula bukan aku yang membawamu kemari. Tempat ini adalah tempat yang kau ciptakan dalam mimpimu. Your save zone." jelas Lilith.


"Terus terang, saat pertama kali melihatnya membuatku cukup terkejut." ucap Lilith lagi.


"Why?" tanya Rainy.


"Kukira your save zone adalah sebuah toko pastry." Seloroh Lilith geli.


Maya Bay adalah sebuah teluk yang terdapat di Negara Thailand yang karena begitu indahnya, Rainy menjulukinya sebagai bagian dari surga yang hilang. Rainy pertama kali melihatnya dalam film The Beach yang di bintangi oleh Leonardo Dicaprio, dan jatuh cinta pada teluk itu. Rainy telah berkunjung beberapa kali ke teluk tersebut, namun sayangnya, Maya Bay yang didatanginya saat itu dipenuhi oleh wisatawan, sehingga membuat tempat tersebut kehilangan kesurgawiannya. Tapi Maya Bay dalam imajinasi Rainy adalah sebuah kesempurnaan. Sepi, tenang dan tidak terjamah manusia lain. Surga miliknya sendiri. Sungguh sangat menyebalkan bagi Rainy karena saat ini ia harus berbagi pantai ini dengan si penjajah, Lilith. Untungnya keberadaan Lilith disana tidak mengurangi keindahannya.


"Aku bisa mengerti mengapa kau sangat mencintai pantai ini. Aku harus membuat replikanya di Neraka. Biar kau betah disana." seloroh Lilith.


"Bahkan ke surgapun, bila kau yang membawaku, aku tidak akan pernah bersedia." sahut Rainy tegas. Ia mulai melangkah pelan menyusuri pantai sambil mengagumi pemandangan di sekitarnya. Pelan-pelan Rainy merasa ketegangan di tubuhnya mulai berkurang. Apabila nanti Rainy berhasil menguasai kemampuan untuk keluar dan masuk dari Lucid Dream sekehendak hati, setiap kali moodnya memburuk, ia akan kembali ke tempat ini.


Melihat Rainy melangkah perlahan, Lilith segera mengikutinya.


"Seberapa sulitnya sih bersikap manis padaku?" tanya Lilith, sedikit kesal pada keketusan Rainy.


"Seberapa sulitnya sih untuk menghilang dari hidupku selamanya?" tiru Rainy dengan suara datar.


"Waaah, perbandingan itu sama sekali tidak adil. Kau sadar itu kan?" Protes Lilith sambil tertawa.


"Memangnya kau pernah bersikap adil?" ejek Rainy.


"Semua tentangku adalah adil." Tegas Lilith. "Aku memberimu sesuatu dan kau memberiku sesuatu sebagai balasannya."


"Bahkan walau kau berikan seluruh dunia ini padaku, itu tidak akan pernah sebanding untuk ditukar dengan jiwaku." tolak Rainy, membuat Lilith menggelengkan kepalanya dengan lagak kecewa.


"Hanya kau yang berpikiran seperti itu karena di dunia ini, banyak yang telah menukar jiwanya padaku dengan harga yang jauh lebih rendah." komentar Lilith lagi.


"Aku tidak perduli dengan orang lain. Aku tidak bertanggung jawab untuk memberikan mereka pencerahan." balas Rainy.


"Dasar gadis tidak berperasaan." ejek Lilith sambil tersenyum.


Mereka terus berjalan pelan menyusuri pantai sampai langkah mereka terhenti tepat di hadapan sebuah villa mungil.


Copyright @FreyaCesare